Kota Liwa dan Sejarah Masuk Islam ke Lampung

Oleh Gufron Aziz Fuadi

SUDAH cukup lama tidak ke Krui dan Liwa, ada mungkin 7 tahunan. Beberapa minggu yang lalu kebetulan istri nawari untuk ngisi beberapa acara di Krui sambil lihat sunset dari pantai Sunset Beach Hotel.

Berangkatnya melalui Tanggamus karena istri senang bila bisa mampir dan salat di masjid Way Kerap yang air wudhunya dingin dan mengalir terus tak pernah ditutup pancurannya. Maka pulangnya lewat Liwa karena ingin mampir dan melihat Kebun Raya Liwa dan kemudian, Masjid Aminatul Jannah, masjid di atas awan Kecamatan Sumber Jaya  juga ingin membuktikan betul tidak jumlah tikungan dari Krui sampai Liwa jumlahnya 152 tikungan.

Sambil perjalanan Krui–Liwa saya ceritakan apa yang saya tahu tentang kota Liwa, selain sebagai ibu kota kabupaten Lampung Barat dan gempa Liwa.

Nama Liwa tak bisa dipisahkan dengan perkembangan Islam di Lampung. Berbagai catatan mengatakan bahwa Islam masuk Lampung melalui tiga jalur. Pertama melalui Palembang terus ke Minanga Komering. Kedua dari Banten terus ke Lampung Selatan dan Lampung Timur.  Dan ketiga  dari kerajaan Pagaruyung melalui Bengkulu terus ke kerajaan Sekala Brak (Bekhak), Lampung Barat.

Islam dibawa ke Kerajaan Sekala Brak oleh empat putra Raja Pagaruyung Maulana Umpu Ngegalang Paksi. Fase ini menjadi bagian terpenting dari eksistensi masyarakat Lampung.

Kedatangan keempat umpu ini tepat disaat kemunduran  Kerajaan Suku Tumi, Sekala Brak Kuno yang merupakan penganut Hindu Bairawa/animisme.

Empat putra Maulana Umpu Ngegalang Paksi adalah Umpu Bejalan Di Way, Umpu Belunguh, Umpu Nyerupa, dan Umpu Pernong. Umpu berasal dari kata ampu tuan (bahasa Pagaruyung), sebutan bagi anak raja-raja Pagaruyung Minangkabau.

Di Sekala Brak, keempat umpu tersebut mendirikan suatu perserikatan yang dinamai Paksi Pak yang berarti empat serangkai atau empat sepakat.

Para Umpu tersebut menyebarkan Islam secara damai di Sekalaberak dan diterima secara antusias terutama oleh masyarakat rendah kasta Sudra yang selama ini mengalami diskriminasi dan penindasan. Setelah pengikutnya banyak dan mantan kastra Sudra yang memeluk Islam mulai berani menyatakan HAM dan menentang kebijakan kerajaan yang diskriminatif dari ratu Sekerumong (Sekhehumong) maka kerajaan mulai melakukan tindakan represif kepada penganut agama Islam agar mereka kembali ke agama atau kepercayaan nya semula.

Tindakan represif ini akhirnya memicu perlawanan dan peperangan yang berakhir dengan tewasnya Ratu Sekerumong dan runtuhnya kerajaan Sekalabrak Hindu/animisme serta berakhirnya dominasi Suku Tumi.

Penerus Ratu Sekerumong,  Kekuk Suik beserta pengikut setianya berhasil melarikan diri ke daerah Pesisir Krui, dan pengejaran terhadapnya berhenti di suatu tempat dengan ditancapkannya bendera al Liwa’. Penancapan atau pemancangan bendera al Liwa’ ini sekaligus menandai era baru Kerajaan Sekala Brak menjadi kerajaan yang bercorak Islam.

Dan, daerah dimana ditancapkan bendera al Liwa’ itu kemudian dikenal dengan nama Liwa yang sekarang menjadi ibu kota Kabupaten Lampung Barat.

Sebagaimana kita ketahui bahwa selain Ar-roya, ada juga bendera yang disebut Al-liwa. Perbedaan keduanya hanya pada warna. Ar-roya berwarna hitam dengan tulisan putih, sedangkan Al-liwa berwarna putih dengan tulisan hitam.

Bendera ini biasanya digunakan sebagai bendera perang atau bendera negara.

Jadi, sebenarnya bendera tauhid atau al liwa dan ar-roya bukan sesuatu yang baru di bumi Nusantara. Bendera ini sebagaimana istilah khilafah, sudah ada dan digunakan oleh kerajaan Islam sejak abad ke-14, paling tidak dimulai oleh Sultan Agung Mataram.

Meskipun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa nama kota Liwa berasal dari ucapan mit meli iwa. Mengingat konon dulu daerah Liwa adalah daerah penghasil ikan atau pasar ikan. Sehingga kalau orang mau atau dari daera tersebut ditanya mau kemana atau dari mana, jawabnya: Jak/aga mit meli iwa, mau beli ikan atau dari beli ikan. Kemudian disingkat menjadi mit liwa dan akhirnya hanya menjadi Liwa saja.

Entah mana yang benar, tapi feeling saya lebih cenderung dengan pendapat pertama.

Untuk menambah wawasan dan mengembangkan imajinasi kita tentang masuknya Islam ke Sekala Brak, saya rekomendasikan untuk membaca novel sejarah, Perempuan Penunggang Harimau karya adik kelas saya di kampus, Muhammad Harya Ramdhoni.

Nah, karena keasyikan cerita tentang kota Liwa akhirnya lupa menghitung jumlah tikungan antara Liwa dan Krui.

Semoga lain kali…

Wallahua’lam bi shawab. []