Oleh Bandung Mawardi
Judul : Money: Hikayat Uang dan Lahirnya Kaum Rebahan
Penulis : Yuval Noah Harari
Penerjemah : Haz Algebra
Penerbit : Global Indo Kreatif, Manado
Cetak : 2020
Tebal : 166 halaman
ISBN : 978 602 53696 8 1
BUKU terbaca saat wabah membikin merana. Pusat atau ujung kemeranaan itu uang. Wabah mengakibatkan situasi ekonomi berantakan. Pekerjaan dan gaji mendadak perkara rumit. Di rumah, orang-orang berlindung dari penularan tapi mengalami episode “buruk” berkaitan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok dan kesehatan. Uang habis atau semakin berkurang, dari hari ke hari. Wabah itu petaka menguak pemahaman uang di abad XXI.
Yuval Noah Harari cerewet mengisahkan dan menjelaskan uang, tak lupa menaruh alinea-alinea tentang wabah. Ia sengaja tak menautkan erat wabah dan uang berlatar 2020 saat ratusan negara kelimpungan. Buku terbit 2018, hadir dalam edisi bahasa Indonesia saat Indonesia terkena wabah, 2020. Yuval Noah Harari mengandaikan umat internet mengizinkan Google untuk membaca semua email dan mengikuti segala peristiwa para pengguna. Dugaan mungkin terbukti: “…. Google memberi peringatan kepada kita agar waspada akan datangnya wabah sebelum itu disadari oleh dinas kesehatan konvensional.” Pengandaian tak terjadi. Wabah itu sampai ke Indonesia tapi pejabat-pejabat penting mengatakan “belum masuk” atau menganggap itu “masalah enteng” dibandingkan dengan Wuhan (Tiongkok).
Konon, algoritma menjadi penjawab atau penentu bagi nasib manusia dan dunia bila mau mengeluarkan ongkos dan kehilangan “kedirian”. Wabah sulit dibendung, mendatangi ratusan negara. Duit negara digunakan dalam penanggulangan, memberi makan ratusan juta orang, mengadakan pelbagai obat atau alat kesehatan. Negara-negara dikacaukan dan dimeranakan dalam masalah uang. Kita di rumah pun berpikiran uang bila ingin hidup di keseharian tak terlalu siksaan alias “neraka”. Bantuan demi bantuan berdatangan tapi belum jua memastika setelah wabah rampung orang-orang bisa bekerja (lagi) atau mencari rezeki. Wabah semakin membuat uang terlalu penting.
Pada masa sebelum wabah, sistem-sistem baru diciptakan memanjakan dan membelenggu manusia. Algoritma “berkuasa” dengan kerincian, kebenaran, dan ketepatan. Google dengan modal dan teknologi ampuh bermaksud membangun basis data raksasa tentang kesehatan manusia. Misi terlalu muluk tapi bisa mewujud. Orang-orang diajak memikirkan kesehatan sambil berhitung uang dimiliki demi sehat. Google berperan memberi olahan dan asupan data agar orang mengerti kesehatan, dari hari ke hari.
Kerja besar juga dilakukan 23andMe dengan pimpinan Anne Wojcicki, mantan istri pendiri Google (Sergey Brin). Penamaan institusi berkaitan dua puluh tiga pasang kromosom berisi genom kita. Orang berduit bisa menghubungi 23anMe dengan tarif tak lebih $99. Meludahlah ke dalam tabung! Nah, tabung itu dikirim ke Mountain View, California. Di ludah, ada DNA bakal terbaca. Hasil dikirimkan ke konsumen memuat daftar potensi risiko kesehatan. Kita di Indonesia belum berpikiran jauh tapi wabah telah melanda: memberi kekacauan dan kesedihan atas kesehatan, uang, dan keluarga. Kini, uang bisa habis-habisan demi kesehatan.
Yuval Noah Harari menjelaskan lakon abad XXI, tak lupa melempar pembaca ke masa silam. Perjalanan ke masa lalu memunculkan tokoh bernama Adam Smith. Mark Skousen (2005) menganggap buku The Wealth of Nations itu referensi atas formula universal untuk meraih kemandirian finansial dan kemakmuran. Buku terbit 9 Maret 1776 menjanjikan dunia baru bagi semua orang. Yuval Noah Harari pun mengakui buku itu “mungkin manifesto paling penting sepanjang zaman.” Pengaruh pemikiran-pemikiran Adam Smith terasa sampai sekarang. “Kita semua hidup dalam sebuah dunia kapitalis menerima argumentasi Adam Smith sebagai kebenaran,” tulis Yuval Noah Harari. Ide paling revoluisoner adalah dorongan egois manusia meningkatkan keuntungan pribadi bagi kekayaan kolektif.
Pada masa lebih jauh, uang belum dicantumkan dalam buku-buku seribu halaman dan seminar-seminar kaum terpelajar. Pada abad XX dan XXI, kita sering dipusingkan pemahaman uang. Di buku berjudul Bobos in Paradise: Surga Para Borjuis Bohemian (2002), kita membaca tatanan dan sikap hidup manusia dalam memuliakan dan melecehkan uang. Semua terasa rumit oleh kemunculan kaidah-kaidah baru meminta mufakat dari pelbagai negara. Yuval Noah Harari mengingatkan kita bahwa permufakatan uang memang meminta pengakuan ratusan negara melalui perdagangan dan kolonialisme, berlangsung selama ratusan tahun. Uang itu kebenaran bagi miliaran orang berbeda etnis, agama, dan bahasa. Abad demi abad, uang berhasil menjadi kebenaran universal.
Yuval Noah Harari memberi contoh Indonesia dalam sejarah tercipta oleh uang VOC mendanai penaklukkan Indonesia. Perusahaan saham gabungan di Belanda sanggup menguasai Indonesia selama 200 tahun, sebelum dikelola oleh negara Belanda. Kekuatan uang mencipta Indonesia adalah koloni. Para saudagar, pejabat, dan warga Belanda memanen uang dari Indonesia, setelah bermain uang dalam penaklukan dan persaingan mengalahkan pelbagai negara mengidamkan Indonesia. Sejarah teringat menambahi sedih Indonesia abad XXI diterpa wabah, memicu masalah-masalah memusat ke uang. Begitu.
———-
Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jateng