Cerita Bersambung

Surat Cinta untuk Pithagiras yang Lupa Ditulis (20)

Surat Cinta untuk Pithagiras yang Lupa Ditulis

HARI-HARI terasa selalu menyenangkan semenjak aku mengenal Vitalita. Sebagaimana namanya, kehidupan menjadi lebih indah, apa saja yang ada padanya, yang melekat padanya, atau tersentuh olehnya menjadi cantik di mataku.  Dan, aku lebih punya semangat untuk kampus. Kuliah sih jelas wajib. Pesan petinggi jurusan, fakultas,  universitas, dan pembimbing akademis kampus, termasuk dosen dan orang tua mahasiswa jelas: Cepatlah menyelesaikan kuliah. Aktivitas jangan sampai mengganggu kuliah.  Tapi, kami yang mengaku aktivis kadang punya prinsip sebaliknya:  Kuliah jangan sampai mengganggu aktivitas.

Eh, tapi sekarang, di atas semua itu, di atas aktivitas dan kuliah itu, aku kini  merasa punya fokus perhatian yang lain yang tidak boleh kuabaikan begitu saja.  Aku sangat peduli dengan Vita. Ya, sekarang aku panggil saja dia dengan Vita. Vita kini menjadi tambatan hatiku. Vita adalah segalanya, Sejak ada Vita, aku merasa hidup sebagai mahasiswa menjadi  sempurna. Di sela-sela kuliah dan beraktivitas itu, yang paling aku perioritas adalah mencari Vita, menungguinya kalau dia lagi kuliah atau malah sengaja mengambil mata kuliah yang dia juga ikut kuliah di situ. Modus benar kayaknya. Tapi, tak masalah. Semua itu memang harus aku lakukan. Aku telah menemukan Vitaku. Dan kali ini, tak akan kulepas lagi. Tak mau aku kehilangan lagi.

Telah aku katakan pada Vita betapa aku menyayanginya, ingin menjaganya dengan sepenuh hati, dan ingin menjadikannya tambatan hati. Entah dari mana keberanianku muncul sehingga bisa menyatakan itu padanya. Vita diam saja. Sulit bagiku menerjemahkan apa sebenarnya perasaannya padaku.

Waktu itu kantin tidak terlalu ramai. Kami juga memilih tempat yang  agak ke pojok yang agak lengang sehingga kami bisa bicara lebih enak tanpa gangguan sesiapa pun. Kalau ibu atau pelayan kantin biar saja. Aku berharap tidak  ada mahasiswa yang kenal  dengan kami dan kami memang sengaja memilih kantin  yang tidak di lingkungan fakultas. Tapi, tidak urung ada saja pandangan-pandangan curiga seakan kami melakukan perbuatan dosa.

Bodok amat.  Aku lagi serius ini. Ini soal masa depan.

Setelah sejenak sama-sama terdiam, aku teruskan, “Ya, biar Vita tahu isi hati Kakak yang sebenarnya. Tak usah dijawab sekarang. Memang perlu waktu juga untuk meyakinkan Vita mengenai kesungguhan Kakak atas hubungan kita ini. Kakak juga tak bisa memaksa. Biarlah semua berjalan alamiah saja. Yang perlu Vita tahu, Kakak tak pernah main-main dengan apa yang sudah Kakak katakan. Mulai sekarang, kalau ada apa-apa kasih tahu Kakak ya. Barangkali bisa kakak bantu.”

Vita mengangguk. Tapi, masih manyun.

“Hehh… sudah seriusnya.”

Aku tertawa. Vita pun tersenyum manis.

Nah, ada apa ini. Mesti ada sesuatu…

“Kak, tulisin, Kak?” ujar Vita masih dengan senyumnya.

“Apanya yang ditulis?”

“Ya, apa yang Kakak bilang ke Vita tadi.”

Wadaw, judulnya Kakak disuruh ngarang gitu ya.”

“Iya, Kak. Kakak kan biasa nulis-nulis…”

“Beraat ini…”

“Masa minta kayak gitu aja berat. Ini belum apa-apa lo. Katanya, Kakak siap membantu, siap melakukan apa saja untuk Vita. Baru saja ngomong, sudah mulai lupa.” 

“Iihh…,” aku jadi gemas lalu menowel hidung bangirnya dan mengacak rambutnya.

“Ihh… Mau nggak?”

“Iya, siyaap… demi Vita tersayang.”

“Gitu dong. Tulisan itu kan bisa jadi tanda… bisa Vita baca-baca…”

>> BERSAMBUNG

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top