Cerita Bersambung

Surat Cinta untuk Pithagiras yang Lupa Ditulis (19)

Surat Cinta untuk Pithagiras yang Lupa Ditulis

AKU telah diberi kesempatan berkali-kali bertemu denganmu. Tanpa rekayasa, tanpa unsur kesengajaan hendak bersua denganmu. Terjadi begitu saja! Tapi, semua kesempatan itu terbuang percuma. Aku lemah. Aku tak berdaya ketika berhadapan denganmu. Lalu, aku membiarkan semuanya menjadi sia-sia. Tapi, tak guna pula disesali. Kehidupan toh terus berlangsung dan aku tak boleh hanya berdiam dan tenggelam dalam bayang masa silam. Aku pun mulai menyadari kebodohanku. Aku selama ini terlalu terbius oleh pesonamu, terperangkap dalam kenangan-kenangan manis bersamamu di masa kecil. Tapi kenyataan sudah berbeda. Waktu telah mengubah semuanya. Dulu dan sekarang tak kan sama. Aku menyerah. Tak mungkin aku mengharapkanmu lagi.

Riil. Aku kalah segalanya darimu, Pitha. Setamat SMA, aku tak langsung kuliah. Ketika aku kuliah juga akhirnya, engkau sudah menjadi kakak tingkatku. Satu kampus memang, tetapi beda fakultas. Di kampus ini kita beberapa kali bertemu ya Pitha. Rasanya, tak mungkin pula engkau lupa. Tapi, tetap saja pertemuan-pertemuan yang tak patut diingat-ingat. Pertemuan kita adalah pertemuan antara dua orang yang asing satu sama lainnya. Hahaa….

Duh, dari mana aku mulai ya.

Aku tak perlu cerita kuliah, aktivitas di kampus dan luar kampus, teman-teman seangkatan, kakak tingkat atau adik tingkat ya. Termasuk, tak perlu juga aku kisahkan tentang taksir-menaksir antara mahasiswa dan mahasiswi yang kemungkinan aku terlibat di dalamnya ya.

Ada guyonan yang lazim beredar kalangan kampus. Mahasiswa itu pertama-tama  pertanyaannya adalah “Siapa saya?”. Ini pertanyaan eksistensi.  Lalu, di pertengahan, katakanlah, dari semester tiga hingga semester enam, pertanyaannya berubah menjadi, “Siapa dia?” Ini pertanyaan mengarah ke pencarian atau eksplorasi. Ya, termasuk yang dicari itu jodoh. Hehee…  Di tingkat akhir, setelah pencarian mentok dan tak juga menemukan apa yang dicari, pertanyaan pun menjadi penyataan pasrah dan sikap menerima: “Siapa saja!”

Wahahaa… terserahlah bagaimana penilaianmu terhadapku, Pitha, apakah aku mengalami nasib serupa atau berbeda dengan guyonan tersebut; setelah aku tuturkan peristiwa demi yang aku alami. Kau boleh tertawakan aku nanti. Atau kau ejek-ejek juga tak apa. Aku rela saja. Tapi, yang penting engkau masih mau membaca suratku ini.

***

Setelah berusaha menjadi mahasiswa baik-baik saja selama dua tahun sembari beraktivitas di organisasi intrakampus saja, baik di tingkat fakultas maupun tingkat universitas, tiba-tiba saja di antara lautan makhluk yang cantik-cantik di kampus, aku menemukan, eh… bersua seorang mahasiswi. Sejak pertama jumpa, aku langsung tersirap oleh semua yang ada padanya. Senyumnya, tawanya, kelembutan, sikap cerianya, sikap manjanya, caranya menyapa dan mengajak bicara, penyambutan, … semuanya membuatku betah berdekat-dekatan,  berlama-lama memandang-mandangnya, berbicara panjang-lebar tentang apa saja.

Jujur, gadis ini mengingatkanku padamu, Pitha. Tingkah polahnya membangkitkan kenanganku tentangmu saat kita masih bocah dulu. Ya, dulu ketika kita masih sering bercakap-cakap dan berdekat-dekatan tanpa rasa risi, tanpa dibebani oleh sebuah rasa yang dikemudian hari justru membuat jarak di antara kita. Kedekatan kita dulu pada mulanya nyatanya tak pernah bisa kita – aku, terutama – menjadi lebih rapat di kemudian hari meskipun kita dipersuakan berkali-kali dalam berbagai kesempatan.

Dia memiliki banyak kemiripan denganmu. Seolah ia hadir sebagai duplikat darimu.

Benar-benar kebetulan. Aku pun sempat sesak nafas ketika ia menyebutkan namanya saat ia memperkenalkan dirinya padaku sebagai kakak tingkat dalam acara sosialisasi unit kegiatan mahasiswa (ukm) tingkat universitas kepada mahasiswa baru.

“Vitalita Dania,” ujarnya sembari menyambut uluran tanganku lalu bergenggaman tangan.

“Vita…?” Ada nada kaget dalam suaraku.

“Vitalita Dania lengkapnya,” jawabnya.

“Oh, bagus sekali namamu,” kataku mulai belajar menggombal.

“Ya, baguslah. Kesayangan mama-papaku ,” sahutnya dengan kenes.

“Iyalah. Nanti jadi kesayangan Kakak  juga ya.”

“Hii… ogah!”

“Kakak manggil Vita gitu ya?”

Basing5…”

>> BERSAMBUNG

5 basing: terserah, bebas

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top