Oleh Rilda A.Oe. Taneko
DARI Rawalaut, Mama ikut Papa pindah ke hutan, ke komplek dosen Universitas Lampung yang baru saja dibangun.
Tidak banyak orang yang mau pindah ke sana. Alasannya, selain masih hutan, juga rawan kriminal dan begal.
Tapi, meski lahir dan besar di Jakarta, Mama tidak surut. Ia tinggalkan rumah pemberian ayahnya di kota, dan masuk ke hutan.
Mama tidak surut karena ia merasa bagian dari pembangunan Universitas Lampung.
Universitas yang pendiriannya digagas oleh pamannya sendiri, Datuk Zainal Abidin Pagaralam. Yang tanahnya dibeli dari mertua sepupunya, Oom Harun Rivai Oelangan. Yang logonya digambar oleh suami sepupunya, Wak Rodiaty Rivai Oelangan (Wak Rozali Daud).
Mama tidak surut karena bibinya, Atu Galih Ratoe Oelangan –anak perempuan tertua Demang Oelangan, menikah dengan keluarga tua dan keluarga besar di Rajabasa –yang juga menyumbang tanah keluarga untuk pembangunan Terminal Rajabasa.
Mama merasa seperti pulang kampung dan merasa aman.
Tapi Mama kalah dengan nyamuk hutan. Mama terkena malaria. Bertahun-tahun ia menderita, tanpa sedikit pun mengeluh. Setiap kali malarianya datang, kami hidupkan lilin-lilin dan membungkusnya dengan selimut. Berjam-jam Mama mengigil kedinginan, giginya bergemeretuk dan tubuhnya gemetar hebat.
Meski begitu, Universitas Lampung adalah keluarga barunya. Tetangga-tetangga yang rukun, muda, intelektual, penuh idealisme dan bersemangat membangun Unila: dari hanya satu-dua gedung, menjadi puluhan. Dari hanya satu-dua sarjana menjadi puluhan doktor dan profesor.
Bergantian, tetangga kiri-kanan pergi ke luar negeri untuk bersekolah, lalu semua kembali membaktikan ilmu di Unila.
Sebuah keluarga besar yang kerap berkumpul–bukan per jurusan atau per fakultas, melainkan seuniversitas. Karena hanya sedikit dosen yang ada, karena semua telah menjadi keluarga.
—
Aku masih kecil sekali ketika kami pindah ke hutan, ke komplek dosen Universitas Lampung.
Hutan yang gelap. Kadang ada ular menjelanak dari rerimbunan pokok kopi ke rumah-rumah kami. Kadang ada bola api yang terbang di antara pepohonan kelapa. Ribuan cacing-cacing tanah yang ke luar sehabis hujan di tanah becek. Kupu-kupu gajah dan capung yang ramai beterbangan di atas ilalang. Mata air yang mengalir jernih di hutan bambu.
Bagi anak kecil sepertiku, hutan adalah surga yang menawarkan petualangan.
Meski semuanya terbatas dan kadang menakutkan, sungguh aku merasa beruntung bisa tumbuh di sebuah komplek universitas yang baru berdiri. Aku bisa bebas bermain di alam, sekaligus merasakan api semangat di sekitarku: semangat mengejar ilmu, semangat untuk bertumbuh dan terus maju.
Hingga Unila besar. Hingga Unila besar.
—
Kini orang-orang tua kami, dosen-dosen perintis Unila ini, telah pensiun, sepuh dan beberapa berpulang. Mereka doktor dan profesor pertama Unila di bidang keilmuannya. Mereka telah mengabdikan diri dan ilmu untuk kemajuan Unila. Betahun-tahun, seumur hidup mereka.
Dari satu-dua gedung menjadi puluhan.
Dari satu-dua sarjana menjadi puluhan doktor dan profesor.
Tapi hari ini, setelah masjid kompleks perumahan kami dirobohkan, berita lain yang mengejutkan pun datang.
Tetap tegar, Universitas Lampung. Manusia hanya datang dan pergi, gedung bisa dibangun dan berganti, yang abadi adalah nama dan ilmu yang telah kau sebarkan. You are far bigger than this. []
—————-
Rilda A.Oe. Taneko, novelis, alumnus FISIP Universitas Lampung, sekarang
tinggal di Inggris