Human

Tersesat di Jalan yang Benar

Oleh Maulana Mukhlis

Anak Kampung

Namaku Maulana Mukhlis, seorang anak kampungyang lahir di bilangan Lampung Timur, tahun 1978 atau 43 tahun yang lalu. Tahun 1996, ketika aku lulus pendidikan menengah di Madrasah Aliyah Al-Hidayah Raman Utara Lampung Timur, sama sekali tidak tahu akan melakukan apa untuk kelanjutan studi setelah kelulusan ini. Guru-guruku semasa di madrasah-pun tidak ada yang pernah menjelaskan bahwa ada jenjang pendidikan yang lebih tinggi setelah madrasah aliyah. Sehingga aku hanya melakukan tugas dan kewajban sebagai seorang siswa tanpa melekat mimpi dan cita-cita. Karena itu, saat dinyatakan lulus dari madrasah aliyah pada Juli 1996, aku gagap. Mau ke mana aku setelah ini?

Inilah hikmah bahwa kita harus mempercayai (iman) pada qodho dan qodarsebagai sesuatu yang ghaib. Masa depan adalah sesuatu yang ghaib, jika aku tahun 1996 itu tahu apa yang akan terjadi saat ini, mungkin aku bisa menskenariokan takdir lebih indah dari apa yang terjadi saat ini. Dari tahun 1996, ketika aku lulus dari madrasah aliyah inilah, cerita ini aku mulai.

Di Antara Dua Pilihan

Berbeda dengan orang kota,  di kampung-ku saat itu, tidak ada akses informasi semudah saat ini. Dalam keadaan bingung, dua orang paman datang ke rumahku memberi gambaran dan informasi sesuai latar belakang pendidikannya masing-masing saat mendengar kabar Maulana Mukhlis, sang kemenakan telah menyelesaikan studinya di madrasah aliyah.

“Le, sebaiknya kamu ikut aku saja,” ujar Paman.

“Ke mana, Lek?” tanyaku.

“Nanti tak daftarin ke Pondok Paman di Jawa Timur,” jelas Paman.

“Aku pikir-pikir dulu, Lek!”

“Jangan lama-lama mikirnya!”

Aku mengangguk.  Hampir saja kuterima tawaran Paman dari pihak Bapak yang memang sudah nyantri di Pesantren Al-Falah Ploso Kediri Jawa Timur bertahun-tahun lamanya.

Ketika datang Paman dari pihak Ibu.

“Le, kamu sudah selesai sekolahnya?”

“Sudah, Om,”

“Apa rencanamu setelah ini?”

“Belum tahu, Om. Tetapi kemungkinan  aku mau mondok saja di Jawa ikut Lek Bana,”jawabku.

“Loh, kok malah mondok? Piye, to?  Hari ini kamu ikut Om ke Bandar Lampung. Kita mendaftar di Universitas Lampung!” ujar Om Thoha Maksum yang kebetulan saat itu menjadi mahasiswa semester akhir di Prodi Peternakan Universitas Lampung.

Yang awalnya tidak mempunyai gambaran apapun tentang mau ke mana setelah lulus madrasah aliyah, kini aku dihadapkan pada dua pilihan. Mondok, ikut saran Lek Bana (paman dari pihak Bapak), atau mendaftar kuliah di Universitas Lampung,ikut saran Om Thoha (paman dari pihak Ibu).

Berangkat ke Kota

Motor Honda Astrea keluaran tahun 1990 melaju pelan dari kampung menuju Bandar Lampung, membawa seorang anak kampung yang sama sekali tidak tahu apa itu kuliah, tidak tahu apa itu jurusan, tidak tahu apa itu Universitas Lampung. Om Thoha tidak memberi pilihan apapun selain membawaku naik motor sekira 3 jam-an hingga kemudian di senja yang sedikit mendung tiba di kos-kosan mahasiswa bilangan Jalan Abdul Kadir Rajabasa.

“Le, kamu  anak laki-laki pertama yang akan menjadi  contoh bagi adik-adikmu.  Nanti Om anter ke kampus membeli formulir Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), kamu harus kuliah,” ujar Om Thoha kala itu.

 Anak kampung yang tidak pernah ke kota ini,  bahkan tidak pernah membayangkan seperti apa Universitas Lampung  itu.  Apa tah lagi, bermimpi untuk bisa diterima di sana.  Setelah membeli formulir, Om Thoha yang kemudian mengisinya. Akusama sekali tidak tahu jurusan apa yang dipilihkan Om Thoha saat itu.

“Sudah, tenang saja. Sekarang kamu tinggal baca-baca materi pelajaran sekolah dulu agar bisa mengejakan soal-soal ujian nanti,” begitu kata Om Thoha dan kemudian pergi bersama para teman sejurusannya di Fakultas Pertanian. Mereka kelak, menjadi seniorku yang kemudian bersahabat karib hingga saat ini.

Jika banyak anak sebayaku yang ikut bimbingan belajar dan kulihat itu dari wara-wiri mereka pagi sore berangkat pulang les, akuhanya berdiam di kostnya Om Thoha.  Akusendiri hanya belajar di  kost. Kebetulan saat itu ada Mas Anang, adik temannya Om Thoha satu kost yang juga akan ikut UMPTN dan ikut bimbingan belajar.Darinyalah, aku curi-curi bacaan soal dan jawaban dalam modul yang sudah dijawab di tempat les. Aku memanfaatkan kesempatan itu  dengan meminjam  dan mempelajari modul-modulnya. Aku berterima kasih kepadanya dan sekaligus bermohon maaf karena akhirnya takdir kami justru berbeda. Mas Anang tidak diterima, sedangkan aku yang hanya nebeng justru diterima.

Waktu ujian tiba, dua hari aku mengerjakan soal-soal tes UMPTN  tanpa beban sama sekali. Sesekali melirik kanan-kiri untuk melihat apakah jawaban kami sama. Usai ujian, kulupakan cerita itu, kulupakan soal-soal ujian itu, kembali ke kampung dan melanjutkan kehidupan anak muda sebagai santri.

Di Terima di FISIP Universitas Lampung

Pagi itu, seorang guru di madrasah aliyah, namanya Pak Jumari yang rumahnya berjarak sekira 4 kimometer tergopoh-gopoh datang ke rumah orang tuaku.

“Assalamualaikum,” ujar Pak Jumari

“Walaikum salam,” jawab Mamakku.

“Selamat njih, Bu. Nak, Maulana Mukhlis diterima di Universitas Lampung.

Itulah hal lucu yang  terjadi,  di mana informasi diterimanya aku di Univeritas Lampung  justru datangdari guru sekolah.  Dan, sampai hari ini aku adalah orang pertama  dan satu-satunya yang diterima di Universitas Lampung dari madrasah aliyahku.  Bahkan sampai Madrasah Aliyah-kuberada pada posisi hidup segan mati tak mau, saat ini.

     Dan, saat itu juga,  aku baru  mengetahui  bahwa  Om Thoha mendaftarkanku di Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Di sinilah cerita “tersesat di jalan yang benar” itu aku mulai. Di kampus orange FISIP inilah, aku yang mulai menjejak masa depan, menapaki hari-hari baru sejak tanggal 27 Juli 1996. Seperti orang buta, kumulai  hari itu dengan meraba-raba apa yang akan terjadi setelah ini, karena sama sekali tidak mengetahui seperti apa kehidupan kampus itu.

Tentu saja anak kampung itu kaget bukan kepalang.

     Mengapa kaget? Aku yang memiliki backgroud madrasahlalu masuk ke dalam lingkungan baru di mana aku melihat banyakperempuan tidak memakai  jilbab bahkan memakai pakaian ketat dan celana jeans, membawa mobil, membuatku shock.  Perlahan, akumulai belajar memahami segala perbedaan ini. 

Hal lucu lain yang terjadi, adalah hadir sebuah kebanggaan atas gelar ‘mahasiswa’ yang kusandang kala itu.  Kebanggaan yang luar biasa yang kuwujudkan dengan selalu mengenakan jaket almamater kemana pun pergi, terutama ketika waktu libur tiba dan aku harus kembali ke kampung. Universitas Lampung, adalah nama besar yang kemudian membawa sebuah kebanggaan karena akulah orang pertama di kampungku, orang pertama dan satu-satunya dari madrasah aliyahku yang bisa memperoleh ‘kehormatan’ ini.

Aku ‘tersesat’ dalam kehidupan kampus yang sama sekali tidak pernah kubayangkan dinamikanya.  ‘Jalan yang benar’ karena pada akhirnya, dari sinilah masa depanku terajut hingga hari ini, ketiga gelar guru besar insya Allah akan kuraih beberapa waktu lagi.

Berkenalan dengan  Banyak Organisasi

Menjadi mahasiswa baru, memiliki pengalaman yang tak mungkin bisa kulupakan. Di sana berbagai organisasi diperkenalkan.  Tidak itu saja, beberapa senior mulai mengajak ikut pertemuan-pertemuan baik di luar maupun di dalam kampus.  Barulah aku mengetahui bahwa di kampus ada banyak sekali oraganisai yang bisa diikuti, ada HMI, ada PMII, ada juga KOSGORO.Termasuk saat senior mengajak  ke sebuah pertemuan lain, saat itu akubaru tahu kalau  diajak menulis, meski hanya menulis surat pembaca.

Aku tahu, di FISIP inilah pelajaran kepemimpinan dan kekuasaan diajarkan, dan di organisasi-organisasi itulah sedianya kami diasah untuk siap memimpin dan pantas berkuasa. Tapi sayang beribu sayang, takdirku ternyata tidak di situ; bukan di organisasi ekstra kampus yang sejatinya menawarkan berjuta peluang dan kesempatan untuk masa depan.

MajalahMahasiswa Republica FISIP Unila kemudian kupilih sebagai tempat persinggahan, di sinilah kemudian aku memutuskan untuk ikut  serta mengisi hari-hari dan berikutnya menjadi salah satu kesyukuranku.

Tak lama setelah aku beraktifitas di  Republica, aku juga  diterima di Surat Kabar Mahasiswa Teknokra Universitas Lampung yang kemudian praktis menjadikanku  aktivis pers mahasiswa.  Cerita tentang bagaimana aku hidup lima tahun dalam dunia kepenulisan kampus tentu menjadi cerita tersenndiri dalam buku lain. Hal inilah menyebabkan aktivitasku di kampus orange untuk kuliah hanya sekitar 15% sementara di  SKM Republica FISIP dan SKM Teknokra Teknokra lebih dari 85%. Di kedua pers mahasiswa inilah, kesempatan mewawancarai banyak orang besar, digugat karena pemberitaan yang kadang liar, serta kesempatan mengikuti kegiatan pers mahasiswa di kampus besar Pulau Jawa kurasakan dengan segala suka dukanya.

Aku bersyukur, padatnya aktivitas di LPM Republica maupun di SKMTeknokra tidak mengganggu kuliahku di FISIP. Bahkan aku dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu dengan nilai IPK yang sangat memuaskan (3,57) dan kemudian menjadi wisudawan terbaik pada periode kelulusanku Juni 2001. Bahkan, sebelumlulus, kemampuan menulisku sudah dimanfaatkan oleh sebuah sebuah NGO besar di Bandar Lampung dengan memintaku bergabung dalam sebuah project peningkatan partisipasi masyarakat mulai tahun 1999. Di SKM Teknokra ini jugalah, Tuhan mempertemukanku dengan seorang wanita hebat nan menawan, Dewi Hendrawati Triesnaningtyas, dan memberikan tiga orang putra putri.

Tersesat di Jalan Yang Benar

Seorang Maulana Mukhlis, tersesat dari ketidaktahuan. Menjadi  seorang mahasiswa  di Jurusan Ilmu Pemerintahan tanpa kesengajaan.Ketersesatan yang hari ini sangat kusyukuri.  Ketersesatan yang membawa hikmah untuk masa depanku. Ketersesatan yang membawakumenjadi dosen di almamaternya, FISIP Universitas Lampung hingga kini. Akulah satu-satunya mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan angkatan 1996 yang ditakdirkan menjadi dosen di kampus orange ini.

Seorang Maulana Mukhlis juga tersesat  di aktivitas kewartawanan  yang mungkin sama sekali tidak pernah dimimpikan dan jauh dari linieritas ilmu pengetahuan di jurusan Ilmu Pemerintahan.  Ketersesatan yang membekaliku mampu menulis artikel, jurnal  dan sebagainya hingga ketika sebagian dosen puyeng menulis jurnal maupun buku, bersyukur hal itu tidak terjadi padaku.  Itulah pengalaman kewartawanan yang kuperoleh dari ketersesatanku di LPM Republica (sebagai pemimpin umum tahun 1998-1999) dan SKM  Teknokra (sebagai pemimpin usaha tahun 1999-2000).

Namun, beruntung, karena ternyata aku tersesat di jalan yang benar. Jalan yang kemudian  kemudian mengantarkankupada sesuatu yang kucapai di hari ini. []

———————-

Dr. H. Maulana Mukhlis, S.Sos, M.IP., lahir di Raman Aji, Lampung Timur, 30 April 1978. Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Unila ini menyelesaikan S1 dan S1 Ilmu Pemerintahan FISIP Unila dan S3 Ilmu Pemerintahan di Universitas Padjadjaran.

* Ditulis untuk buku Romantika Kampus Oranye: Dinamika FISIP Univversitas Lampung dari Kisah Alumni (proses terbit).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top