Human

Socius dan Logos

Oleh Budiyanto Dwi Prasetyo

SAYA masih menyimpan buku karangan Mircea Aliade berjudul Sacred dan Profane, The Origine of Religion. Buku itu saya beli di pasar buku shopping centre Yogyakarta 21 tahunsilam. Di dalam buku itu Aliade bercerita tentang tempat-tempat sakral yang melekat bagi individu-individu tertentu. Tempat tersebut bisa apa pun. Bagi saya, salah satu tempat sakral yang mempengaruhi hidup saya adalah kampus FISIP Unila.

Di akhir 2021 saya berkesempatan mengunjungi tempat sakral ini. Bangunannya bikin pangling. Semuanya megah. Paling mencolok adalah warna dinding gedung-gedung fakultas tukang demo ini, semuanya berwarna oranye. Saya tidak tahu sebab-musabab dan asal-usul warna oranye ini disematkan ke Gedung FISIP. Namun, warna ini begitu mencolok, seperti gedung yang sedang krisis identitas untuk didaku sebagai teritorial FISIP.

Rasa takjub makin menjadi ketika saya menelusuri satu demi satu gedung-gedung oranye itu. Semuanya mempunyai nama dan diklaim sebagai milik jurusan dan program studi tertentu. Namun, saya hanya mengenali Gedung F yang letaknya bersebelahan dan berhadapan langsung dengan FE (kini FEB) Unila. Gedung F dulu warnanya krem. Dulu, gedung ini adalah jantungnya FISIP. Semua urusan administrasi, ruang dekanat sampai legalisir ijazah dilakukan di sini. Sekarang saya tidak tahu.

Sebelah kanan Gedung F ada Gedung B yang berwarna putih. Gedung ini terdiri atas tiga lantai. Lantai paling bawah dipakai untuk ruang dosen, termasuk dosen-dosen sosiologi, sedangkan lantai 2 dan 3 untuk kuliah. Saya melakukan ujian komprehensif sebelum dinyatakan lulus oleh tiga dosen penguji di lantai 2 gedung ini. Beberapa mata kuliah penting juga digelar perkuliahannya di gedungini. Tapi buat saya, gedung ini terasa panas. Di sekelilingnya tidak ada pohon dan lapangan parkirnya terlalu luas dan tidak ditanami pohon peneduh. Sekarang, gedung ini sepertinya dijadikan markas Jurusan Administrasi Negara/ atau Niaga.

Di seberang Gedung B adalah gedung milik fakultas hukum (dulu namanya Gedung D). Di samping kiri gedung itu, kalau kita menatapnya dari Gedung B, ada Gedung E yang juga dipakai FISIP untuk menggelar perkuliahan. Gedung ini sejuk. Banyak pohon besar yang menaungi di sekitarnya. Bangunan ini juga punya akses ke Kampungbaru dan ke selasar kampus Fakultas Hukum yang menghubungkannya dengan Beringin Cinta dan Halte Unila. Saya paling banyak menghabiskan hari-hari saya bersama kawan-kawan dari semua jurusan di gedung ini. Sebab, di lantai dasar ada ruang-ruang yang dijadikan Sekretariat Himpunan Mahasiswa lingkup FISIP Unila. Hima Sosiologi salah satunya. Sekarang, tampaknya Gedung E jadi markas bagi Jurusan Ilmu Komunikasi.

Ada dua gedung lagi yang mentereng di belakanggedung E tadi. Dua-duanya tentu berwarna oranye. Bersebelahan dengan Gedung B tertulis Jurusan Sosiologi sedang gedung megah di sebelah kanannya (tepat di belakang gedung E) saya tidaktahu gedung apa. Tapi, dari tampilanya sepertinya gedung itu kini jadi pengganti Gedung F sebagai jantung dari FISIP Unila.

FISIP menjadi tumpuan masa depan saya kala itu. Berbagai mimpi saya bangun. Mimpi yang indah-indah tentang kadigdayaan Sosiologi sebagai ilmu. Mimpi itu sempurna. Akan tetapi, mewujudkannya tentu tidak seindah mimpi yang saya ciptakan.

Cinta Pertama Itu Bernama Sosiologi

Terus terang, saya mengenal sosiologi sebelum saya mempelajarinya. Ketidakpuasan saya atas penjelasan-penjelasan dari orang-orang sekitar tentang fenomena sosial yang terjadi di depan mata membuat saya mencari sendiri penjelasan-penjelasan yang masuk akal menurut saya pada saatitu. Di tahun 1980-an orang-orang sekitar tempat tinggal saya di Tangerang, meski sudah kota, masih senang mengait-kaitkan sebuah peristiwa dengan hal-halmistis dan tahyul. Seperti orang jadi kaya atau menjadi artiskarena punya pesugihan, babi ngepet, atau keturunan dari keluarga sakti yang tidak perlu bekerja tapi bisa punya harta untuk tujuh turunan. Saya tidak percaya semua omong-kosong itu.

Lantas, saya berontak. Cari jalan sendiri untuk mendapat penjelasan yang masuk akal. Caranya, saya membaca majalah dan koran. Kebetulan bapak saya sering membawa koran-koran bekas dari kantornya untuk dikilo. Tukang loak pembeli koran bekas itu datang sebulan sekali. Jadi sebelum waktu untuk ditimbang bobotnya, koran-koran itu bertumpuk di rumah. Saya dengan lahap membaca koran-koran itu. Termasuk berita-berita sosial politik di dalamnya. Sebab, rubrik anak sangat membosankan. Padahal, saya waktu itu masih usia sekolah dasar. Tapi, koran-koran itu membuat saya dewasa sebelum waktunya.

Dari koran-koran itu, saya mulai tahu apa itu korupsi, kolusi, nepotisme. Bagaimana modus-modus para pengusaha mendekati oknum-oknum pemerintah untuk memperlancar usahanya dan jadi orang kaya. Saya jadi tahu juga bagaimana seorang artis bisa mengorbit di belantika dunia hiburan tanah air dengan cara-cara yang ajaib. Dari situ, perlahan, saya mulai mengerti kenapa orang bisajadi kaya. Saya juga tahu mengapa artis-artis yang muncul di TVRI orangnya hanya itu-itu saja dan berada dalam bayang-bayang kelompok artis dengan kekuatan ekonomi politik tertentu.

Saya semakin menemukan penjelasan yang masuk akal ketika bertemu guru mata pelajaran sosiologi saat SMA. Namanya Bu Sintya. Orangnya masih muda dan cantik. Tapi itu soal lain. Hal paling penting adalah cara mengajarnya. Bu Sintya biasanya menggambar diagram atau flowchart di papan tulis hitam menggunakan kapur sebelum mengajar. Setelah selesai, baru dia menjelaskan secara runut, dialektis, sebab-akibat, dan historis, lengkap dengan contohnya, tentang konsep-konsep sosiologis. Saya pun akhirnya jatuh cinta. Ya pada sosiologi, ya pada Bu Sintya. Tapi, gejala cinta Oedipus complex kepada Ibu Guru harus saya buang jauh-jauh. Soalnya hanya satu, mustahil. Maka, yang tersisa hanyalah cinta kepada Sosiologi. Cinta ini membimbing saya ke Lampung untuk nyantrik di FISIP Unila.

Sarjana Sosiologi, Mau KerjaApa?

Tahun 1998, pascakerusuhan besar yang mengiringi reformasi dan pergantian presiden setelah 32 tahun lamanya, saya ke Universitas Lampung (Unila). Kala itu, masih banyak sekali demonstrasi yang digelar mahasiswa. Saya dan mahasiswa baru selalu dicekoki doktrin reformasi dan perubahan, doktrin untuk berdemonstrasi. Saya sih senang-senang saja. Soalnya adalah jadi jarang masuk kelas. Dosen juga jadi gabut, hanya kasih tugas saja. Mereka mendukung perjuangan mahasiswa.

Tapi, bukan berarti saya tidak belajar. Saya jadinya malah kuliah di jalanan. Belajar teori sosial melalui diskusi dan buku bacaan kawan-kawan yang bergabung di organisasi gerakan mahasiswa. Saya belajar Teori Marxis dari kawan-kawan mahasiswa sayap kiri. Sebaliknya, teman-teman Rohis dan gerakan mahasiswa kanan juga berteman dengan saya. Mereka sering mengajak saya berdiskusi, berbagi teori dan ilmu tentang gerakan Islam, mulai dari ekstrim kanan, moderat, sampai gerakan sosial gaya-gaya Ali Syariati. Semuanya mengasyikan. Terlebih ketika saya bergabung ke Surat Kabar Mahasiswa Teknokra Unila, saya menjadi tahu bahwa masyarakat, politik, ekonomi, dan sosial tidak dapat dipisahkan. Semuanya harus dipotret sebagai satu-kesatuan ketika ingin mendapatkan realitas sosiologis yang sesungguhnya.

Namun, secara akademik, JurusanSosiologi Unila pada saat itu masih sangat lemah dan kurang populer. Sebabnya, menurut saya, ada dua. Pertama, situasi ekonomi politik yang mendominasi dan dibangun rezim Orde Baru saat itu adalah pembangunanisme. Secara ruh, ideologi ini bersandar pada spesialisasi kerja, keahlian spesifik, berbasis pasar dan pertumbuhan ekonomi, serta mengiming-imingi kekayaan yang diperoleh dari kerja.

Dalam skenario global, negara membuat tahapan-tahapan fase menuju negara maju melalui Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) mengikuti hukum ekonomi modern Rostow. Proses ini menihilkan peran ilmu-ilmu murni dan terapan yang bertentangan dengan skenario tersebut. Semua ilmu yang tidak sesuai dengan rencana pembangunan kala itu langsung di-cateris-paribus-kan. Dianggap tidak ada. Maka dari itu, jurusan-jurusan perkuliahan yang populer di tahun 1990-an adalah berbagai jurusan yang ada di luar FISIP.

Terkecuali ilmu komunikasi dan administrasi negara dan niaga, FISIP memang menjadi fakultas yang tidak populer kala itu. Lantas, mimpi-mimpi indah saya tentang sosiologi dan masa depan saya bersamanya selalu diganggu oleh cibiran tetangga rumah di Tangerang atau teman-teman yang masuk jurusan ekonomi, pertanian, teknik, dan lainnya, yang secara otomatis ketika lulus dari kampus seolah dijamin dapat pekerjaan sesuai jurusannya. “Sarjana Sosiologi, mau kerja apa?” Pertanyaan itu muncul terus dan mengganggu pikiran saya.

Sebab kedua adalah diskursus sosiologi di FISIP Unila kala itu masih didominasi oleh paradigma positivisme. Sosiologi diajarkan sebagai ilmu yang das ding an sichataugiven, apa adanya, obyektif, kuantitatif. Kasarnya, sosiologi yang diajarkan hanya yang sealiran dengan sosiologinya August Comte, Sosiologi sebagai Ilmu Matematika Sosial. Bahkan, buku “PengantarSosiologi” yang juga ditulis dosenUnila dan digunakan sebagai rujukan perkuliahan mengamini hal itu. Sosiologi harus bebas nilai dan obyektif. Padahal, tidak begitu-begitu juga konsepnya.

Ada beberapa dosen sosiologi yang mendeteksi pemberontakan kami sebagai mahasiswa untuk keluar dari keterkungkungan ilmu tentang interaksi sosialini. Sebabnya adalah kami sering memprotes paradigma yang diajarkan dosen di kelas yang sangat positivis. Sosiologi yang dipelajari hanya sosiologik lasik dan sosiologi modern saja. Padahal, diskursus yang berkembang di luar sana sudah sampai perdebatan soalsosiologi paradigma post positivis, strukturalismarxis, sosiologi kritis, dan post-modernis, serta post-strukturalis.

Maka, beberapa dosen itu kemudian sering mengajak kami berdiskusi soal teori sosiologi, hingga upaya membuat skripsi dengan analisis kualitatif. Dari situ, muncullah skripsi-skripsi jurusan sosiologi yang tebalnya bisa sampai 450 halaman. Topiknya sangat menggila. Seorang teman angkatan saya, yang juga masuk tahun 1998 lulus dengan judul skripsi “Studi Komparasi Teori Karl Marx dan Teori Kritis Mazhab Frankfurt”. Kalau saya Cuma kuat menulis skripsi sampai 200 halaman saja. Isinya mengulas Teori Etika Prostestan Max Weber yang terefleksi dalam berkembangnya Kapitalisme pada Bank Syariah di Indonesia saat itu.

Upaya untuk keluar dari tekanan pandangan sosial masyarakat dan kondisi akademik jurusan sosiologi juga saya lampiaskan bersama kawan-kawan satu jurusan di Himasos dengan menerbitkan Buletin Societas. Buletin ini dibangun dengan semangat memopulerkan sosiologi, baik sebagai ilmu maupun sebagai ijazah yang bisa diandalkan untuk mencari pekerjaan. Kami memproduksi buletin ini sebulan sekali. Menerbitkannya dengan cara melayout di rental komputer di Kampungbaru dan memperbanyaknya menggunakan mesin fotocopy.

Dari sini, perubahan-perubahan ke arah yang lebih maju mulai terlihat. Mulai banyakjudul-judul skripsi anak sosiologi yang menggunakan analisis kualitatif dan menggunakan teori sosiologi selain klasik dan modern. Dosen-dosen sosiologi pun mulai terbuka dengan masukan-masukan kritis dari mahasiswanya. Dan mahasiswa pun kian dibebaskan dari belenggu positivisme yang mematikan naluri sebagai manusia.

Tetap Menjadi Socius dan Logos

Kini, pekerjaan saya selalu bergantung pada teori-teori sosiologi. Saya meneliti masyarakat di kampung-kampung adat di Indonesia dengan menggunakan pendekatan yang sangat kualitatif. Bahkan, beberapa riset yang saya lakukan memaksa saya untuk memodifikasi metode sosiologi dengan antropologi dan etnografi. Ini adalah dinamikan ilmu yang tidak bisa dihalang-halangi oleh siapa pun dan apa pun. Sosiologi tetap akan menjadi socius dan logos dengan catatan harus bisa bersanding dan bekerja sama dengan ilmu-ilmu lainnya. Tujuannya tentu masihsama, untuk menjelaskan fenomena sosial di masyarakat secara masuk akal.

Pikiran saya tentang Mircea Aliade yang membawa saya kembali me-review Kampus FISIP Unila pun harus saya sudahi. Saya tidak mau berlama-lama beromantika. Tidak baik untuk kesehatan mental. Saatnya untuk kembali bekerja dan berkarya. Bukan untuk para pemilik kapital, melainkan untuk membuktikan bahwa saya adalahmanusia. Tabik.

Bandar Lampung, Desember 202–Tangerang, Januari 2022.

—————
Budiyanto Dwi Prasetyo, peneliti pada Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dia lulusan S1 Sosiologi FISIP Unila dan menyelesaikan studi Master of Arts International Development di Flinders University, Adelaide, Australia Selatan pada musim panas 2014.

* Ditulis untuk buku Romantika Kampus Oranye: Dinamika FISIP Univversitas Lampung dari Kisah Alumni (proses terbit).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top