Panggung

Puisi yang Paling Puisi

SEGUDANG definisi dan penjelasan puisi. Tidak mampu semua saya baca. Namun, lumayan banyak juga yang saya simak, meskipun tidak mesti kuliah di jurusan sastra.

Di Lepau Buku saja, ada beberapa teori dan apresiasi puisi yang ditulis Sapardi Djoko Damono, Alif Danya Munsyi, Mursal Esten, Ignas Kleden, Manneke Budiman, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Ari Pahala Hutabarat, dll. Di luar itu, tentu lebih banyak lagi, baik yang pernah maupun yang belum saya baca.

Dari dulu, saya selalu penasaran dan kepingin tahu makhluk apa yang bernama puisi. Apa sebenarnya puisi? Apa hakikat puisi? Apa beda puisi dan bukan puisi? Bagaimana puisi yang baik, bagus, dan berkualitas? Bagaimana pula puisi yang buruk, jelek, dan tidak mutu?

Ehm, ilmu sastra sangat membantu saya melihat puisi yang keren. Insya Allah, kalau saya dikasih segepok puisi, saya masih ngerti bagaimana memilah puisi yang sudah matang, setengah matang atau masih mentah.

Mungkin karena kecelakaan atau kebetulan belaka selama bertahun-tahun sejak di pers mahasiswa hingga pindah-pindah di beberapa koran lokal (1991–2020), saya “terpaksa” melakoni kerjaan memilih 4–7 puisi kiriman penyair untuk dimuat di media tempat saya bekerja sebagai redaktur budaya.

Alhamdulillah, pada waktu itu (baca: doeloe) koran-koran itu memberikan uang lelah untuk penulis. Saya senang membubuhkan tanda tangan sebagai persetujuan honorarium penulis. Kerja penulis dihargai. Seberapa kecil sekalipun.

Menurut Bang Hardi Hamzah sih jumlah dana yang diberikan perusahaan koran tempat saya bekerja kepada penulis doeloe, “Signifikan! Bisa membuat dapur tetap mengepul.” Karena itu dia sangat produktif menulis dan mengirim tulisan ke koran.

Sebagai “redaktur budaya” kagetan, saya lebih sering menolak membicarakan puisi orang per orang. Saya selalu tidak tega mengkritik–di samping saya takut salah kritik. Toh, saya tidak lebih pintar dari si penyair.

Sekali waktu, seseorang mengirimkan naskah. Ia lalu minta masukan. Terus, secara terang-terangan saya kritik naskahnya sebagai karya yang belum selesai secara literer. Saya sebutkan di mana saja letak kelemahan naskahnya seperti paragraf atau larik/baris yang tidak padu, masih banyak klise, kalimat masih berantakan dan sering tidak bunyi, pilihan kata (diksi) yang tidak pas, dan kesalahan ejaan di mana-mana.

Saya berharap si penulis mau belajar, membaca ulang,, membandingkan dengan karya yang lain, dan menulis kembali. Namun, astaga, yang terjadi malah sebaliknya, kritik saya ia jadikan bahan olok-olokan dan sinisme buat saya di beberapa kesempatan. Repotnya, saya tidak tahu apakah ybs masih menulis atau tidak.

Yah, semoga bukan karena karyanya saya jelek-jelekin, ia berhenti menulis. Masa begitu saja menyerah.

Cilaka-nya, karena sedikit-banyak ngerti puisi dan ‘kebanyakan’—mungkin juga mabuk, hahaa…–baca puisi dahsyat dari penyair-penyair kenamaan (dan tidak kenamaan) Indonesia dan dunia, saya malah macet.

Saya minder. Hingga kini, saya tak juga berhasil bikin puisi. Kalaupun ada lahir dari saya, itu adalah yang saya kira puisi.

Bagaimana puisi yang keren itu? Saya gak mau jawab. Baca saja banyak-banyak puisi dari penyair keren. Yang, jelas bukan punya saya “yang saya kira puisi” tadi!

Ya, mana berani saya mencontohkan puisi dari karya sendiri. Hiks. J

Ada yang bertanya, “Mana puisi terbaik dari puisi yang pernah lahir di Indonesia atau bahkan di dunia?” Kata lain, orang itu bertanya, puisi mana yang paling puisi?

Aguy. Induh, nyak mak pandai. (Waduh. Entahlah, saya tidak tahu). Saya hanya mau menikmati puisi. Puisi keren ya tetap keren. Puisi jelek ya biar saja menunjukkan kejelekannya di hadapan pembacanya.

Tabik. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top