Human

Metamorfosis: Acong, BPM, hingga Memutuskan Tak Menjadi …

Oleh Fitri Restiana

1994, pagi di Gedung C FISIP.

“Fi, Fera (bukan nama sebenarnya) enggak masuk, sakit. Gimana, nih?”

“Pak Agus enggak acong, kan?” tanya saya balik. Acong adalah kependekan dari absen congor (presensi -pen). Maksudnya dosen mengecek daftar hadir dengan memanggil nama mahasiswa. 

“Biasanya sih enggak. Ngng, elu aja yang tanda tanganin, ya!” usul  beberapa teman santai.

“Oke! Enggak masalah.” Setelah mencoba-coba di kertas kosong,  tanpa ragu saya membubuhkan dua tanda tangan ke daftar hadir. Tak satu pun dari kami membayangkan akibat fatal dari tindakan yang bergaya jagoan penyelamat bumi tersebut. 

Pak Dosen yang terkenal baik itu mulai serius  mengeluarkan bahan mata kuliah Pancasila dan … presensi! Suara Pak Agus lembut, tapi di telinga kami seperti teriak demonstran yang sedang berorasi. Keras dan memekakkan telinga.

Sejak kapan sih Pak Agus acong. Biasanya kan cuman lihat daftar hadir,” gumam saya sambil menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Bakal panjang ini urusan.

Jangan tanya reaksi teman-teman. Mereka mulai kasak-kusuk sambil menatap saya penuh rasa berdosa. Mulut mereka mengucapkan sesuatu tanpa mengeluarkan suara. “Fi, maaf …” 

Fera … “

Tak ada yang menyahut.

“Feraaa …”

“Fitri …” Lanjut Pak Agus.

“Saya, Pak!” Fhiiuuh. Lega rasanya. Senyum mulai mengembang.

“Sebentar, ini Fera tak ada orangnya tapi kenapa ada tanda tangan?” Pak Agus balik lagi ke nama sebelum saya. Mungkin beliau baru ngeh setelah melihat kolom tanda tangan.

Hening.

“Kerjaan siapa ini?!” Suara beliau naik menjadi 7 oktaf. “Kalau tak ada yang mengaku …”

“Saya! Saya yang tanda tangan, Pak!” Terangkat tangan dan wajah ini. Jujur mengakui kesalahan itu rasanya … malu, tapi akhirnya ya bikin lega.

“Fitri, kamu mendekat ke sini,” perintahnya tegas sambil mengerutkan kening.

Disertai langkah gontai dan wajah pucat pasi, saya ke depan.  Jaraknya hanya lima meter, tapi rasanya seperti beratus kilometer.

“Menolong teman itu baik, tapi tak begini caranya. Maaf, dengan sangat menyesal, Bapak minta Fitri bertemu saya lagi di semester tiga.”

“Mohon maaf, Pak.” Lantai terasa seperti kapas yang dibakar. Ringan, tapi panas.

Apakah Mama kecewa dan marah? Kecewa, pasti. Namun Mama tak marah. Beliau percaya saya enggak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa-masa berikutnya. Dan kepercayaan itu saya pegang sampai selesai kuliah. Selama masa ‘pengasingan’ saya mendapat penghiburan dari para sohib ; Fanny, Ucok, Hari, Jefri, Frans, Fidla, Irfan, Diki, Winda, Siti, Nunung, Yayan, dan lainnya. Mereka sering main ke rumah (basecamp). Selain ngobrol dan ngerjain tugas, apalagi kalau bukan ngopi gratis. Hahaha. Betewe, mereka adalah sebagian teman terbaik yang saya punya, bahkan hingga sekarang.

Selang beberapa bulan berikutnya, saya didorong mengikuti pemilihan anggota BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa), organisasi mahasiswa yang dibentuk pada saat pemberlakuan kebijakan NKK/BKK tahun 1978. Sejak 1978-1989 (pada kenyataannya masih berlaku hingga tahun 90-an), Badan Perwakilan Mahasiswa hanya ada di tingkat fakultas bersama-sama dengan senat mahasiswa. Menurut aturan main, BPM berfungsi sebagai badan legislatif sedangkan senat mahasiswa menjalani fungsi eksekutif.Begitulah.

Hubungan pertemanan saya heterogen, tak hanya berada dalam satu lingkaran. Ada  gerombolan yang seru dan lucu, ada yang serius, yang setengah serius, aktivis, juga penghuni kantin. Untuk itu, perlu kiranya mempelajari  stratak (strategi dan taktik) agar bisa terpilih menjadi anggota BPM. Bagaimana agar suara solid atau tak terpecah, mengkondisikan agar teman-teman berperan aktif pada saat proses pemilihan, sterilisasi dari senior-senior yang hobi memporakporandakan konstelasi, dan sebagainya dan sebagainya.

Lalu apa lagi yang kami lakukan sebagai calon?
*Fokus menggarap visi misi dengan serius dan tetap berkoordinasi dengan timses.
*Mengisi kepala dengan etika akademis dan organisasi.
*Peka terhadap isu-isu kampus.
*Melakukan pendekatan demi mendengar keinginan dan harapan mahasiswa terkait

kebijakan kampus dan kesejahteraan bersama
*Belajar bicara dengan baik, beretika santun, seru dan asyik.

Pada waktunya para kandidat giliran berorasi menyampaikan visi misi. Berdiri berpegal kaki, tenggorokan sakit karena haus dan teriak-teriak. Pakai teriak-teriak segala? Ya iyalah. Secara itu penonton selalu yel-yel histeris setiap kandidat menyelesaikan satu kalimat, padahal kami hanya dikasih waktu sekitar 3 menitan. Entah karena semangat atau memang disegerakan saja biar cepet kelar. Hehe.

Setelah itu diadakan pemilihan dengan sistem suara terbanyak. Dus, terpilihlah  10 anggota BPM (8 cowok 2 cewek, saya dan Agustina).Kami ditempa untuk mendahulukan kepentingan umum, arus melepas ‘baju’ ekstern kampus, belajar menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi,dan tak boleh mau menang sendiri.  Walaupun pada akhirnya, ini mengajarkan saya untuk memutuskan tak menjadi ‘sesuatu’.

Lalu bagaimana aktivitas setelah menjadi anggota BPM? Sering pulang sore, Bro. Rapat sebentar, lama nongkrong dan ngobrolnya. Eh, enggak, ding.InsyaAllah tetap belajar menjadi mahasiswa, kok. Yang tak hanya datang, mendengar ceramah dosen, ikut ujian, lalu pulang. 

“Wah, selamat, Fitri. Jadi wakil mahasiswa itu harus amanah, harus memberi contoh yang baik pada yang lain. Jangan seperti semester awal, ya. Saya enggak mau loh ketemu kamu lagi gara-gara mengulang mata kuliah, apalagi kalau karena alasan  yang sama seperti dulu,” ujar Pak Agus tersenyum.

Kali ini saya menegakkan kepala. Bukan untuk mengacungkan tangan demi mengakui kesalahan, tapi cengengesan dan menjawab, “InsyaAllah siap, Pak!”

Cerita tentang acong alias presensi dan menjadi anggota BPM  ini akan selalu terkenang. Suatu saat akan saya kisahkan pada anak-anak. Betapa masa perkuliahan adalah saat yang tepat untuk menempa diri. Mengetahui benar salah, sekuat tenaga mempertahankan akidah dan idealisme, berani, menikmati bagaimana caranya  menyemai persahabatan dan menghargai pengetahuan.

“Di dalam hidup anak-anak adalah tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang amat penting baginya, yaitu alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda.” (KH. Ahmad Dahlan)

—————–
Fitri Restiana, alumnus FISIP Universitas Lampung (1994-1999), menulis sejumlah buku cerita.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top