Human

Kuliah Jangan Ganggu Organisasi

Oleh Yoso Muliawan

SUATU sore, September 2003. Pandangan tertuju ke papan pengumuman di Gedung C FISIP Universitas Lampung. Ada informasi yang menarik perhatian: pembukaan rekrutmen calon anggota Lembaga Penerbitan Mahasiswa (LPM) Republica. Saya langsung mencatat. Pulang ke indekos, lalu menyiapkan berkas persyaratan.

Esoknya, saya menyambangi sekretariat LPM Republica. Melangkah pasti. Saya menyerahkan berkas persyaratan. Tes tidak langsung hari itu, para pelamar harus menunggu pengumuman lolos berkas. Sekira sepekan kemudian, baru keluar pengumuman. Ada nama saya di antara sekitar 20 pelamar lainnya. Tertera pula tanggal, hari, waktu, dan tempat tes.

Tiba waktunya mengikuti serangkaian tes. Dari tes tertulis, wawancara, hingga debat kelompok. Setelah menjawab soal yang susah susah gampang, deg-degan menjalani sesi wawancara, baru agak lega begitu masuk debat kelompok. Karena di SMA masuk jurusan IPS, cukup senang ada debat kelompok. Guru mata pelajaran tata negara, juga guru antropologi, doyan mengajar dengan pola debat kelompok.

Serangkaian tes tuntas. Saya sangat berharap lulus biar bisa belajar jurnalistik, belajar menjadi wartawan kampus: apa itu berita dan jenis-jenisnya, teknik mewawancarai narasumber, menulis berita, menulis opini, belajar tata letak dan desain, juga tentunya berorganisasi, berkawan, belajar kepemimpinan, dan mengelola kelompok.

Tak lama, pengumuman keluar. Alhamdulillah, ada nama saya. Cukup banyak yang lolos. Kebanyakan dari Jurusan Ilmu Komunikasi. Sedikit dari Jurusan Sosiologi. Selain saya, rasanya hanya ada dua nama lagi dari Jurusan Sosiologi.

Ada optimisme, ada keyakinan.

***

7 Agustus 2021. Pandemi Covid-19 masih meruyak. Bagi pribadi, ada dua hal spesial di tanggal 7 bulan Agustus. Pertama, ini momen lahirnya Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada 1994. Sejak 2008 saya bergabung dengan organisasi profesi wartawan yang melawan Orde Baru ini. Sebuah kebanggaan, dan karenanya pula saya masih betah menjadi wartawan.

Spesial kedua, pakai telur mata sapi dan sosis, 7 Agustus adalah hari lahir mantan pacar saat SMA. Mantan pacar yang gagal menjadi istri. Hahaha. Ah sudahlah, lanjuuut.

Siang itu, Ikatan Alumni (IKA) FISIP Unila mengadakan diskusi daring. Bertema “Peran Alumni FISIP Menyambut HUT RI di Masa Pandemi”. Beraaat. Di antara empat pemantik diskusi, saya paling muda. Berbicaralah saya sesuai bidang saya, hahahh.

Ringkas cerita, tersimpullah dari diskusi itu: IKA FISIP Unila akan bikin buku. Berlanjut diskusi di grup WhatsApp, muncul kesepakatan bahwa isi bukunya “cair” saja. Siapa mau yang menulis kisah semasa kuliah, silakan. Yang rada berat soal sejarah berdirinya FISIP, sangat boleh. Yang ringan, bahkan soal asmara bersemi di FISIP, hayook. Sisi lain mahasiswa FISIP sebagai bagian dari masyarakat dengan segala persoalannya, ya bisa juga.

Tiga bulan berlalu, saya belum menulis apa pun. Duuh, pemalas! Sok sibuk. Udo Z Karzi, nama panggung Zulkarnain Zubairi, senior saya di LPM Republica, tetangga saya pula, memperpanjang tenggat pengumpulan naskah sampai Desember.

Masuk Desember, belum pula saya menulis. Macam mana pula? Hahaha. Hingga tiba 30 Desember, Kamis, barulah waktu agak luang. Benarlah kata orang bijak, toilet bisa menjadi sumber inspirasi. Di toilet lantai 2 kantor media Tribun Lampung, tempat saya memburuh sejak Maret 2009, tercetus ide judul tulisan: Kuliah Jangan Sampai Mengganggu Organisasi.

Keluar toilet, saya menikmati dua kelegaan. Pertama, tentunya lega setelah buang hajat. Kedua, lega karena menemukan ide menulis untuk buku IKA FISIP. Asyiiik.

***

Suatu hari, tahun 2006. Matahari beranjak turun ketika sejumlah anggota Republica datang ke sekretariat. Mereka baru kelar kuliah dan terlambat tiba di sekretariat. Sepertinya saya perlu menegur mereka.

“Kuliah jangan sampai mengganggu organisasi,” kata saya yakin kepada beberapa adik tingkat anggota Republica itu. Jika lazimnya orangtua mengingatkan anaknya agar konsentrasi kuliah, dan karenanya jangan sampai berorganisasi mengganggu perkuliahan, maka bagi saya itu terbalik. Kuliah justru jangan sampai mengganggu organisasi. Sok yes, hahaha.

Sejak 2003, sudah hampir tiga tahun saya bergiat di Republica. Tahun berganti, kepengurusan pun berganti, dan saya bersama teman-teman angkatan 2003 kini menjadi pengurus. Lantaran menjadi pengurus itulah saya berani menegur anggota, terutama yang muda muda jika mereka terlambat, atau bahkan seharian tak tampak batang hidungnya di sekretariat.

Sehari-hari, geliat aktivisme mahasiswa FISIP Unila sangat terasa. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) getol menghelat kegiatan. Teman satu jurusan, Paryono namanya, menjabat gubernur BEM FISIP. Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dari setiap jurusan juga berlomba mengadakan acara. Begitu pula Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), termasuk Republica yang berada di barisan UKM.

Hampir setiap hari sekretariat Republica “hidup”. Rapat proyeksi dan evaluasi pembuatan news letter, buletin, dan majalah, rutin berjalan. Liputan ke lapangan, menyetor tulisan, mengedit, hingga mencetak hasilnya. Kalau senggang, membaca koran lokal dan nasional, diskusi, atau sekadar bermain scrabble.

Tidak hanya Senin sampai Jumat, bahkan Sabtu, juga Minggu, sekrerariat tetap “hidup”. Paling tidak, saya dan beberapa teman seangkatan yang menjadi pengurus datang ke sekretariat pada Sabtu atau Minggu.

Bukan hanya memproduksi karya jurnalistik, Republica juga melaksanakan kegiatan programatik. Pendidikan dan Pelatihan alias Diklat Jurnalistik menjadi andalan. Kami pernah membedah buku yang judulnya “Jurnalisme Sastrawi”, genre jurnalistik yang sedang menjadi perbicangan. Juga kegiatan internal seperti pelatihan untuk anggota sesuai tingkatan.

Menjadi wartawan kampus sudah tiga tahun, artinya sudah tiga tahun pula saya berkuliah di FISIP Unila. Namun, mohon maaf beribu ampun kepada para dosen, karena rupanya saya lebih mencintai berorganisasi, menyelami jurnalistik, belajar menulis, ketimbang kuliah sosiologi. Tak jarang bolos, beberapa kali pula mengabaikan tugas, mengulang mata kuliah. Terlambat masuk kelas, eh giliran selesai jam kuliah, saya buru-buru pergi. Ke mana? Ya ke sekretariat Republica lah, ke mana lagi, hahaaa.

“Kuliah jangan sampai mengganggu organisasi” katakanlah semacam doktrin saya kepada para anggota, terutama anggota baru, untuk memakmurkan (baca: meramaikan, ”menghidupkan”, menggeliatkan, dan sebagainya) sekretariat Republica. Celakanya, entah karena takaran doktrinnya pas atau karena yang muda muda hanya takut dengan kami, para anggota memang cukup rajin ke sekretariat. Tugas demi tugas liputan dan menulis, rapat rapat, melaksanakan kegiatan programatik, berjalan relative lancar. Diskusi atau sekadar nongkrong, sering banget.

Padahal, dipikir-pikir, ruginya banyak. Kuliah terganggu, waktu senggang tersita. Akhir pekan seharusnya pulang kampung atau pacaran, malah nongkrong di sekretariat. Apesnya, saya dan satu dua pengurus kerap meminta, lebih tepatnya menyuruh mereka melakukan sesuatu: membuatkan kopi, membelikan makan atau sekadar gorengan, beres beres sekretariat. Belum lagi kena omel kalau hasil tulisan acak kadut, disuruh liputan lagi, dan keapesan keapesan lainnya.

Namun, sejatinya, saya dan sejumlah teman seangkatan di Republica hanya meneruskan tradisi memakmurkan sekretariat saat kami menjadi pengurus. Kata orang bijak lagi, setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya. Kala saya menjadi anggota baru, pengurus dan para senior saat itu memiliki cara bagaimana agar sekretariat Republica ramai. Ketika saya naik tingkat menjadi senior “anakan”, pengurus inti belum, junior juga sudah bukan, pengurus saat itu juga punya trik memakmurkan sekretariat.

Lalu saat giliran saya dan teman seangkatan menjadi pengurus, kami pun harus menciptakan skenario bagaimana sekretariat tetap Makmur. Dan, doktrin “kuliah jangan sampai mengganggu organisasi” tepat merasuk ke sukma para anggota.

Doktrin itu cenderung negatif, memang. Saya cukup yakin. Apalagi bagi mahasiswa yang academic minded, tentu organisasi jangan sampai mengganggu kuliah. Organisasi sekadarnya saja. Kalau terlalu aktif, kuliah bisa keteteran, selip jadi mahasiswa abadi alias tak lulus lulus, bahkan berpotensi kena DO (drop out).

Lalu apa yang melatari saya menciptakan doktrin tersebut? Sebetulnya hanya enam kata: mau jadi apa setelah lulus kuliah?

***

Saya memilih aktif di organisasi, terutama di pers kampus Republica, karena pertimbangan ingin mendapatkan kemampuan praktis. Saya sadar kuliah di Jurusan Sosiologi tidak akan banyak memberikan sesuatu yang practical kepada saya.

Sementara setelah kuliah kelar, saya tentu ingin bekerja. Lalu, mau bekerja apa dengan bekal teori-teori sosiologi? Ya ada sih lapangan pekerjaannya, bukan berarti nol sama sekali. Bisa menjadi dosen atau guru sosiologi, peneliti, pemberdaya masyarakat, atau PNS.

Namun, saya merasa lapangan kerja untuk lulusan sosiologi agak sempit. Jatah kursi PNS untuk lulusan sosiologi sangat sedikit. Apalagi, kala itu, saya percaya seleksi PNS masih kental dengan kongkalikong. Ya adalah yang murni, tetapi kebanyakan KKN-nya. Mau jadi pemberdaya masyarakat, rasanya bakal suram, hahaaa. Jadi peneliti, sepertinya ketinggian bagi saya.

Setelah perenungan pada hari hari awal kuliah, saya memutuskan harus mencari organisasi untuk tempat menempa kemampuan praktis. Dari sekian organisasi di kampus, terpilihlah pers kampus. Ada Teknokra di tingkat universitas, ada Republica di fakultas. Karena rekrutmen Teknokra sudah berlalu, saya terlambat mengetahui pendaftarannya, akhirnya terdamparlah di Republica.

Lulus 2008, posisi saya sudah sambil bekerja sebagai wartawan magang di Lampung Post. Ceritanya agak panjang, tetapi saya persingkat. Dari kegiatan programatik seperti Diklat Jurnalistik dan lainnya, kami sering mengundang wartawan senior di Lampung sebagai pembicara atau narasumber, termasuk dari Lampung Post. Dari situ awal perkenalan dengan beberapa wartawan Lampung Post. Antara lain, Ade Alawi yang menjabat pemimpin redaksi, Rahmat Sudirman, termasuk Udo Z Karzi yang menjadi redaktur.

Persinggungan dengan Lampung Post juga terjadi di organisasi lain di FISIP, yaitu LSSP Cendekia. Beberapa anggota mereka kerap menjadi petugas polling untuk rubrik polling di koran Lampung Post. Suatu kali, pertengahan 2007, dua senior anggota Cendekia yang menjadi petugas polling tersebut menawarkan ada lowongan wartawan magang di Lampung Post. Tak pikir panjang, saya sabet tawaran itu. Saya bikin lamaran hingga akhirnya mendapat panggilan untuk tes. Saat datang ke kantor Lampung Post, saya bertemu di antaranya dengan Ade Alawi yang pernah saya undang sebagai pembicara di kegiatan Republica.

Keasyikan jadi wartawan magang di Lampung Post, kuliah saya terbengkalai dong? Ya pastilah, hahaha. Mohon ampun beribu ampun, khususnya kepada dosen pembimbing skripsi saya, Ibu Handi Mulyaningsih, juga dosen pembahas skripsi saya, Ibu Ida Nurhaida, karena hampir setahun lebih tidak pernah menghadap.

Namun, saya terbilang beruntung dengan aktivitas liputan saya di bidang politik. Pos liputan saya satu di antaranya adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ibu Handi saat itu menjadi anggota KPU Lampung. Di sanalah, di sela-sela mewawancara Ibu Handi sebagai narasumber, beliau menegur saya perihal skripsi. Dari situ saya bertekad menyelesaikan hingga akhirnya beres.

***

3 Januari 2022. Tulisan untuk buku IKA FISIP ini tuntas juga. Ada beberapa bagian lagi sebetulnya yang ingin saya ceritakan. Namun, saya sudah melanggar deadline, bisa kena pentung Udo Z Karzi, hahaa.

Berkuliah di FISIP Unila memberikan, bisa saya katakan, bekal bagi saya untuk “menjadi”. Dari Republica saya mendapatkan banyak pengetahuan, pengalaman, dan kesempatan belajar menjadi wartawan hingga saya benar-benar menjadi wartawan.

Dari perkuliahan pun bukan berarti saya tidak mendapatkan apa-apa. Selain masih kecantol sedikit sedikit teori sosiologi, tahu sedikit sedikit bagaimana meneliti, satu hal yang saya peroleh dari kuliah adalah soal perspektif. Soal bagaimana pandangan saya atas suatu masalah dan bagaimana memecahkannya.

Berkuliah adalah bentuk pendewasaan diri. Menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Berpikir cepat dan solutif, bukan hanya menerima keadaan. Belajar berani mengemukakan pendapat. Bersosialisasi. Belajar menjadi pemimpin, setidaknya bagi diri sendiri.

Karena itu, kuliah itu sangat penting. Tapi, ya tetap, jangan sampai mengganggu organisasi, hahaha.

Jujur saya tidak tahu apakah doktrin saya semasa di Republica masih relevan untuk era sekarang. Kalau sudah tidak relevan, saya bersyukur. Pandemi Covid-19 memberi dampak di setiap lini kehidupan. Banyak orang kehilangan pekerjaan. Banyak orangtua tak mampu membayar kuliah anaknya. Karena itu, fokuslah kuliah, cepatlah lulus, kasihan orangtua. Jangan sampai karena organisasi, kuliah terbengkalai.

Akhir kata, saya mengenang FISIP Unila dengan segala dinamikanya. Dan Republica, tentu selalu di hati. []

————-
Yoso Mulyawan, alumnus Sosiologi FISIP Unila. Mantan Pemimpin Umum Majalah Republica FISIP dan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung. Saat ini, jurnalis Harian Tribun Lampung, Bandar Lampung.

* Ditulis untuk buku Romantika Kampus Oranye: Dinamika FISIP Univversitas Lampung dari Kisah Alumni (proses terbit).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top