Sosok

In Memoriam Salvator Yen Joenaidy

Oleh Christian Heru Cahyo Saputro

LAMPUNG berduka, perupa Lampung wafat dalam usia 67 tahun. Pelukis senior kelahiran Tanjungkrang 21 Agustus 1955 ini tutup usia di Tangerang, Banten, Senin Siang, 10/01/2022, pukul 13.12 WIB.

Sahabatnya pelukis yang juga guru seni rupa Ch Sapto Wibowo mengabarkan lewat WAG Dewan Kesenian Lampung, pelukis Lampung Salvator Yen Djoenaidy wafat. Dan akan dikebumikan di TPU Negeri Sakti, Pesawaran, Lampung keesokan harinya, Selasa, 11/1/2022. Sedangkan Misa Requiem untuk almarhum dilaksanakan pada 10 Januari 2022 pukul 20.00 WIB.

Salvator Yen Djoenaidy. (FOTO IST)

Salvator Yen Djoenaidy selama ini tinggal bersama keluarganya di Jalan Sam Ratulangi, Bandar Lampung. Bang Yen sebutan karib almarhum merupakan adik dari jurnalis senior Albert Kuhon dan juga merupakan kakak dari novelis Bubin Lantang alias Ferry yang kini bermukim di Amerika.

Sebelum menggeluti dunia seni, pengurus Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Lampung (2015–2019) ini sempat berprofesi sebagai pedagang di daerah Simpang Sribawono Lampung. Baru sekitar tahun 90-an, ketika Pasar Seni Bandar Lampung dibuka dia secara otodidak menekuni dunia lukis. Tekad dan kemauannya yang keras memacu Bang Yen untuk terus ikut berpameran bersama baik di Lampung, Jambi, Palembang, Jambi, Bogor dan Jakarta.

Bermodal tekad yang kuat dan nelat pada tahun 1997, Bang Yen nekat tanpa sponsor berpameran tunggal mengusung tema tentang Pariwisata Lampung. Dengan tekun Bang Yen menggarap 40 karya lukisan pariwisata Lampung yang sebagin base on foto-foto karya saya.

Pelukis yang sempat dikenal dengan mengusung visualisasi daun pisang pun mulai diperhitungkan. Kemudian Bang Yen juga sempat buka lapak di Pasar Seni Ancol, Jakarta. Karena keteguhan dan konsistensinya Bang Yen berhasil mengumpulkan pundi-pundi dari dunia lukis, karena banyak garapan melukis gereja dan lainnya.

Sepulangnya ke Lampung Bang Yen sempat membuka gallery Bentara Seni Lampung (BSL), menjadi tempatnya memajang karya, berkegiatan dengan sesame seniman dan membuka les privat melukis. Tetapi kemudian galerinya tutup, kemudian mengajar peserta les langsung ke rumah masing-masing muridnya.

Bang Yen dikenal sebagai seniman yang suka bergaul dan berdedikasi. Dengan sepeda motor atau mobilnya sering menyambangi teman-teman perupa di daerah, antara lain ke Bandarjaya, Metro, dan Kalianda.

Tubagus Andre, mantan Kepala Galeri Nasional, Indonesia mengatakan, merasa kehilangan, karena lama tak jumpa, tiba-tiba dapat kabar duka. “Bang Yen seorang perupa Lampung yang idealis dan penuh dedikasi. Turut berdukacita yang mendalam. Semoga mendapat tempat yang terbaik disisiNya. Amin. Selamat jalan kawan,” ujar Andre.

Pelukis yang pernah masuk nominasi penghargaan Philip Moris ini juga sering mengajak para perupa dari daerah lain melukis on the spot (OTS) ke tempat yang indah-indah di Lampung antara lain; OTS bersama pelukis Jakarta Syahnagra dkk di Pantai Tengor, Cukuh Balak, Tanggamus. Kemudian Camping Art di Pegadung bersama pelukis Yogyakarta Lenny Ratnasari Weichert dkk. “Beliau yang mengajak kami survey ke Pegadung sebelum kini yang jadi salah satu destinasi hits di Lampung dengan sebutan pantai Gigi Hiu,” ujar Yopi Pangkey pegiat Pariwisata Lampung

Meskipun berkarakter keras tetapi Bang Yen juga dikenal guyub dan aktif berorganisasi. Bang Yen beberapa kali jadi pengurus dan jadi Ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Lampung. Lewat karya-karya lukisannya Bang Yen mengangkat Lampung ke forum nasional.

Lampung kehilangan dirimu, Bang Yen. Jejak dan perjuanganmu, kami kenang. Selamat jalan menuju rumah pelukis Agung di surgaNya yang baka. []

Dimuat juga di SumateraPost.co

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top