Human

(Bukan) Alumni Universitas Lampung

Oleh Ila Fadilasari

DAHULU, saya bercita-cita menjadi perawat. Sepertinya, pekerja dengan berseragam putih-putih itu adalah gambaran ideal seorang perempuan. Tugasnya sangat mulia, merawat dan membantu orang yang sedang sakit. Entah, saya kok tidak bercita-cita menjadi dokter saja ya. Bukankah yang namanya cita-cita kan bisa setinggi langit.

Sayang, saya tidak lolos waktu tes Sekolah Perawat Kesehatan (SPK). Ada dua kekecewaan saya waktu itu.  Gagal menjadi perawat, dan pupus pula impian bisa sekolah di Kota Bandar Lampung.

Tapi ya sudahlah. Usia saya masih sangat muda. Masa sepagi itu sudah putus asa. Saya lantas melanjutkan sekolah di SMA, di kampung halaman, di Kecamatan Blambangan Umpu, Kabupaten Way Kanan.

Tamat SMA, saya belum tahu hendak ke mana. Berencana kuliah di Universitas Lampung, saya kira tidak mungkin. Pasti saya tidak akan keterima. Teman-teman SMA saya pada ikut bimbingan belajar (bimbel) untuk lolos UMPTN, yang begitu marak pada masa itu. Tapi saya tidak, karena memang tidak minat.

Saya lantas mendaftar ke Akademi Bahasa Asing (ABA), yang ketika itu berada di Jalan Pagar Alam, Bandar Lampung. Selain ABA, di kampus itu juga ada Sekolah Tinggi Perkebunan (Stibun). Tapi, saya tak minat sekolah perkebunan. Masa anak kampung sekolah perkebunan, pikir saya. Mending ABA saja. Selain keren karena mempelajari bahasa asing, saya juga ketika itu sedang “gandrung-gandrungnya” pada pelajaran Bahasa Inggris.

Saya juga sudah melihat-lihat kos-kosan di seputar kampus itu. Pada sebuah kos, saya cocok. Ayah saya memberi uang muka sekian persen, agar kamar kos itu tidak dikapling orang lain.

Karena masa kuliah masih lama, dan sekolah di SMA sudah tamat, ayah meninggalkan saya di rumah kakek yang berada di daerah Kedaton, Bandar Lampung. Ayah pulang duluan.

Saat tinggal di rumah kakek itulah, saya melihat seorang bibi saya mendaftar di Universitas Lampung (Unila) yang saat itu sedang membuka program Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN).  Saya disarankan untuk mendaftar juga. Jadilah, saya dan seorang saudara lainnya, yang juga tengah liburan di rumah kakek, mengambil formulir pendaftaran di kampus Unila.

Saya mengambil formulir pendaftaran untuk Ilmu Pengetahuan Campuran (IPC), yang bisa mendaftar di jurusan IPA maupun IPS, dengan maksimal tiga pilihan. Malam harinya, saudara saya itu sibuk membaca panduan UMPTN.  Dia mengambil jurusan IPS. Sedangkan bibi saja IPA.  Saya membuka panduan UMPTN malah semakin bingung. Sepertinya tidak ada jurusan yang mudah ditembus. Semua peminatnya banyak, dan yang diterima sedikit.

Melihat saya bingung, bibi saya yang lain,  lalu mengambil alih panduan UMPTN dan formulir pendaftaran saya.

“Daripada lu pening, dah gua isiin aja,” katanya.

Saya manut. “Terserah mau diisi apa. Yang penting kasih pilihan pertama saya di Universitas Diponegoro ya, Jurusan Kesehatan Masyarakat,” pesan saya.

Selesai. Saya pun melupakan proses itu, sampai kemudian saya memutuskan pulang kampung dahulu, sambil menunggu jadwal tes UMPTN.

Sekitar satu bulan kemudian, saya mendapat kabar kalau saya diterima di Jurusan Ilmu Pemerintahan, Universitas Lampung. Entah siapa awalnya yang memberi kabar itu kepada ayah saya. Yang jelas, siang itu ayah panik dan tergopoh-gopoh pulang ke rumah dari sekolah tempatnya mengajar, karena khawatir saya keterima kuliah di Universitas Diponegoro.

Pada masa itu, koran belum masuk kampung kami. Informasi baru dari mulut ke mulut. Saya menduga, pemberi informasi adalah seseorang yang baru datang dari Bandar Lampung naik kereta api, karena informasi itu tak lama setelah jadwal kereta api tiba di ibukota kecamatan kami. Jarak ibukota kecamatan dengan kampung kami sekitar 11 kilometer.

Siang itu juga, dengan menumpang sebuah ambulan saya berangkat ke Bandar Lampung. Ayah menumpangkan saya pada dokter  yang bertugas di depan rumah kami, yang kebetulan siang itu hendak ke Bandar Lampung. Kami memang akrab dengan keluarga si dokter.

 “Kamu harus berangkat hari ini juga. Cek kebenaran beritanya. Jangan sampai kamu keterima kuliah di Jawa itu,” perintah ayah.

Untung, saya tak disuruh duduk di kursi belakang ambulans itu. Tapi duduk di kursi depan, bersama sang dokter dan istrinya.

Esok harinya, ayah menyusul ke Bandar Lampung, baik bus. Alang kan leganya ayah. Saya keterima di Jurusan Ilmu Pemerintahan, Unila. Waktu itu, kami belum tahu kalau Jurusan Ilmu Pemerintahan itu masuk dalam Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Karena di panduan UMPTN, hanya ditulis nama-nama jurusan yang akan diperebutkan saja.

***

Sekian tahun kemudian. FISIP menghantarkan saya pada banyak hal.  Diantaranya turut dalam aksi duduk mencegat Menteri Pendidikan kala itu, Wardiman Djojonegoro. Penyebabnya adalah, hampir 10 tahun FISIP menjadi Persiapan Fakultas, belum menjadi fakultas definitif.

Saat aksi duduk itu saya melihat sejumlah orang justru berdiri. Mereka adalah para aktivis pers kampus. Gagah sekali mereka, pikir saya. Saya kok jadi kepingin juga seperti mereka, menjadi wartawan kampus.

Saya kemudian mendaftar di Unit Kegiatan Mahasiwa (UKM)  Surat Kabar Mahasiswa Teknokra. Sebelumnya saya juga sudah tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) dan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Filateli (UKMF).

Ternyata di Teknokra saya menemukan banyak kecocokan. Sepertinya jati diri saya ditemukan di situ. Sejak menjadi reporter magang, saya sudah diterjunkan dalam peliputan untuk penulisan rublik Laporan Utama. Saya bukan saja ditugaskan  meliput di kawasan kampus, tapi juga di luar kampus.

Saat itu, jargon pers mahasiswa kami adalah ingin menjadi pers alternatif.  Maksudnya adalah, menjadi alternatif pemuatan berita-berita kemasyarakatan yang “tidak berani” disampaikan oleh pers umum. Maklum, pada masa itu, masa orde baru, kekuasaan pemerintah begitu mencengkeram pers umum.

Salah satu yang banyak saya liput dan tuliskan adalah tentang peristiwa penyerangan komunitas Jemaah Warsidi, Lampung Timur. Meski sudah berlalu beberapa tahun, tetapi suasana mencekam masih terasa di perkampungan itu.

Saat euforia reformasi tahun 1998, kasus Talangsari menjadi salah satu peristiwa kekerasan yang dilakukan aparat militer yang banyak dibahas. Disebut-sebut peristiwa penyerangan oleh aparat militer itu merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Menurut Komite Solidaritas Mahasiswa Lampung (Smalam), sedikitnya ada 246 orang tewas dalam penyerbuan pada dinihari, 7 Februari 1989 itu.

Rangkaian peliputan dan penulisan saya itu, membuat saya tertarik untuk menuliskan sebagai tugas akhir perkuliahan di FISIP. Usulan saya itu langsung disetujui oleh dua dosen pembimbing.  Ya, saya memang sudah punya dosen pembimbing. Pak Syarief Makhya dan Pak Nanang Trenggono. Sebelumnya saya memang sudah pernah mengajukan judul (usulan) skripsi, dan sudah disetujui. Tapi alih-alih mengerjakan skripsi, saya malah sering menghilang.

Waktu itu, tahun 1998, saya sudah bergabung di Majalah Tempo, yang dibuka kembali setelah dibredel pada 1994.  Saya pun masih aktif di pers kampus Teknokra, sebagai pemimpin redaksi. Saya juga menjadi pemimpin redaksi di Penerbitan Majalah (PM) Republica FISIP Unila, dan PM Ijtihad PMII Lampung.

Bisa dibayangkan, kegiatan saya di luar perkuliahan memang sibuk sekali. Aktivitas di Majalah Tempo, kerap melempar saya  keluar kota sampai berhari-hari. Kadang ke Tulang Bawang, kadang ke Lampung Timur, kadang harus menelusuri tambak udang Dipasena yang tengah berkonflik. Belum lagi saya juga kerap ikut aksi unjuk rasa mahasiswa, yang saat itu sedang trending.

Balik soal skripsi lagi. Saya juga tentunya tak mau putus sekolah. Kasian orang tua saya di kampung kalau sampai gagal meraih predikat sarjana, meski saya bekerja mendaftar di Tempo tak pakai ijazah sarjana (hanya bermodal daftar riwayat hidup dan contoh-contoh tulisan indept news di Teknokra).  Meski begitu, koordinator peliputan di Majalah Tempo selalu wanti-wanti, agar saya segera menyelesaikan perkuliahan dan menyandang gelar sarjana, seperti reporter yang lainnya.

Tadinya judul skripsi saya agak panjang, sama seperti skripsi pada umumnya. Mengawali dengan kata “analisis” supaya kelihatan ilmiah. Tapi kemudian oleh pak Syarief, judul skripsi saya disederhanakan menjadi: “Pelanggaran Hak Asasi Manusia (Studi dalam Kasus Talangsari, Lampung)’’.

Belakangan saya pikir-pikir, sepertinya skripsi saya ini kurang sinkron dengan jurusan ilmu pemerintahan tempat saya berkuliah. Apalagi di skripsi itu, saya mengulas jenis-jenis pelanggaran HAM yang dilakukan aparat negara. Baik sipil maupun militer.

Saya menyebut, salah satu pelanggaran HAM itu karena pelaku belum mendapat hukuman yang setimpal. Saya merekomendasikan adanya pengadilan bagi pelanggar HAM.

“Skripsi kamu itu sepertinya lebih cocok untuk mahasiswa Fakultas Hukum,” kata ayah saya, suatu hari, saat mengunjungi saya di kost-an. Skripsi saya itu tebal sekali,  sampai 250 halaman. Saat proses menyusun skripsi, saya lihat teman-teman yang berseliweran dengan membawa skripsi yang tipis-tipis saja, dan di ACC untuk di ujian akhir. Sedangkan saya, alangkan lelahnya mengumpulkan data.

Sampai akhirnya dosen pembimbing saya, Pak Nanang Trenggono, memperingatkan saya. “Sudahlah, hentikan mencari datanya. Kalau mau lengkap betul, tidak akan selesai-selesai. Kalau kamu masih saja penasaran dengan kasus itu, nanti dilanjut lagi di tesis. Tak puas juga, kamu lanjut di disertasi,” katanya.

Saya tercenung. Benar juga ucapan Pak Nanang. Kenapa saya harus pontang panting mengumpulkan data ke Talangsari, ke Tanjung Priok, hingga ke Solo, untuk mewawancarai para saksi korban.  “Kamu itu sedang menulis tugas akhir perkuliahan, bukan sedang menulis liputan,” tegas Pak Nanang.

Saya kemudian merampungkan skripsi dan diwisuda sebagai sarjana. Alangkan senangnya ayah dan ibu saya. Perayaan sukuran pun digelar di sebuah rumah makan. Dilanjut sukuran di sekretariat Teknokra.

Ijazah saya simpan baik-baik. Sampai beberapa tahun kemudian, saat saya akan melanjutkan studi di pasca sarjana, saya butuh rekomendasi untuk mendaftar. Saya memilih Fakultas Hukum Universitas Lampung untuk melanjutkan studi.

Tadinya, saya sudah mendaftar di Jurusan Komunikasi Universitas Indonesia. Tapi saran dari koordinator peliputan di tempat saya bekerja saat itu, Metro TV, saya kuliah di Lampung saja, supaya tidak mengganggu pekerjaan. Di FISIP sendiri belum ada pasca sarjana.

Maka, Fakultas Hukum adalah pilihan terdekat. Saat sedang meminta rekomendasi dari mantan dosen pembimbing skripsi itulah, saya baru memperhatikan benar-benar tulisan di ijazah saya : Unibersitas Lampung. Saya kaget. Kenapa saya baru menyadari itu. Mungkin juga karena tulisannya begitu indah, menggunakan hurup latin bersambung.  Indahnya penulisan, menjadi tidak jeli dalam menelitinya. Ternyata hurup V berubah menjadi B. Bukan Universitas Lampung. []

————-
Ila Fadilasari, alumnus Ilmu Pemerintahan FISIP dan magister hukum Unila. Ia jurnalis di Majalah Tiras (1997-1998), Majalah Tempo, Koran Tempo, dan Tempo.co sejak (1998—007), dan Metro TV di Lampung (2003—2014). Sempat menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bandar Lampung (2014—2019).  Bukunya: Talangsari 1989: Kesaksian Korban Pelanggaran HAM Peristiwa Lampung (2007), Dipasena: Kemitraan, Konflik, dan Perlawanan Petani Udang (2012), Selamatkan Pasar Tradisional (penyusun, 2010), Dia Menanti di Surga (2020), Polemik Mantan Terpidana dalam Pilkada (2021), dan Sejarah dan Pertumbuhan NU di Lampung (2021)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top