Human

Aku Sang Kelinci

Oleh Agus Muhammmad S

TAK pernah terbayangkan dalam benakku semasa SMU untuk menjadi mahasiswa FISIPOL. Tentu saja tak pernah terbayangkan karena aku adalah siswa SMU Jurusan IPA yang rata-rata bercita-cita menjadi dokter atau seorang insinyur. Namun, jalan hidup memang tidak bisa diduga. Pada 1998, persis beberapa hari pascajatuhnya Presiden Soeharto, 20 Mei 1998, aku diterima di Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Unila melalui jalur UMPTN.

Saat itu FISIP (Unila) bagiku adalah belantara. Seniornya kuanggap sebagai para binatang buas dan aku adalah kelinci mangsanya. Para binatang buas ini, ada yang berwujud singa, macan, annaconda, atau sekelompok gorilla yang setiap saat bisa saja mengintai kami para mahasiswa baru dan memangsa kami, baik untuk ditelan sendiri maupun dimangsanya beramai-ramai dalam kelompoknya.

Para dosennya adalah pohon-pohon raksasa yang bisa dijadikan tempat berlindung, tetapi sangat mengerikan karena di sana bersemayam para dedemit, jin, gunderuwo hingga para pocong. Sama halnya dengan para binatang buas itu, para hantu itu pun bisa saja menelan kami bulat-bulat atau diculiknya untuk dibawa ke alam lain, alam para hantu.

Hampir setiap hari, aku malas untuk datang ke kampus. Hampir-hampir aku memutuskan untuk berhenti saja kuliah. Tapi, jawaban apa yang akan aku sampaikan jika abah dan emak tanya alasanku berhenti kuliah. Pasti mereka akan kecewa. Akhirnya, walaupun dirundung kemalasan yang amat sangat, aku paksakan tetap bertahan. Ya, aku harus mencari cara untuk bisa bertahan…

Hal pertama yang aku lakukan adalah mencari “kelinci-kelinci” lain. Aku harus bergaul dengan sesama kelinci dan membentuk koloni. Paling tidak, jika ada hantu atau binatang buas yang akan memangsa kami, aku bukanlah satu-satunya mangsa. Aku bisa bersembunyi di kerumunan atau mungkin juga melarikan diri.

Lalu, mulailah aku bertemu dengan teman-teman seangkatan, Cece Saputra, Totong Syahidin, Adhi Murmansyah, Yuseph Hendarsyah, Yuli “Ukie” Lestari, dan Indriyani adalah beberapa teman yang pertama-tama aku kenal di kampus. Bersama Cece dan Totong, aku justru memiliki julukan sebagai TGPW atau Tim Gabungan Pencari Wearless. Maklumlah, pada saat semester-semester awal kuliah, FISIP Unila tidak memiliki alat pengeras suara dengan jumlah yang memadai bagi setiap ruangan kuliah, sehingga setiap kelas besar dengan jumlah peserta mata kuliah banyak, masing-masing kelas harus berebutan memperoleh pengeras suara agar perkuliahan berjalan baik. Berebut wearless adalah kegiatan kami bertiga hampir setiap hari.

Hingga saat ini, sebutan TGPW selalu saja membuat kami bertiga tersenyum, bahkan tertawa terbahak jika mengingat apa yang kami lakukan untuk memperoleh sebuah wearless untuk dibawa ke ruang kuliah. Mulai dari menyembunyikan mic hingga mencuri baterai wearless.

Cece saat ini adalah seorang camat di Kabupaten Lebak dan Totong adalah pendakwah yang selalu keliling dunia menyampaikan risalah agama.

Satu semester kulewati, aku mulai mengenal aktivitas di luar kuliah. Bersama Yuseph dan Adhi, aku terjebak pada sebuah kelompok aktivis mahasiswa karena ikut(-ikutan) bujukan beberapa senior untuk hadir pada pertemuan para aktivis kelompok itu. Terjebak. Karena setelah kehadiran pertama itu, kami dinyatakan sebagai bagian dari kelompok dengan status sebagai anggota muda.

Keterjebakan yang kami nikmati. Buktinya, aku banyak memperoleh manfaat dari aktivitasku pada kelompok itu, bahkan pada akhirnya aku duduk sebagai presidium harian di kepengurusan cabang tingkat kota. Bahkan, melalui aktivitas kelompok itu, aku bahkan bisa meniti karierku dengan baik hingga saat ini sebagai dosen di Program Pascasarjana salah satu universitas di Lampung dan ASN Fungsional Widyaiswara.

Dua kelinci yang kusebut terakhir juga tidak kalah istimewa. Bersama mereka aku juga banyak berbagi suka-duka menjadi mahasiswa. Ukie adalah perempuan berhati baja. Melalui pengalaman hidupnya aku banyak belajar bahwa hidup memang keras dan harus dilalui pula dengan perjuangan. Sementara Indriyani, ahh… aku tak tahu dia sekarang ada di mana…

Lulus kuliah bukan berarti aku meninggalkan kampus FISIP tercinta. Sebagai Ketua Ikatan Alumni Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Unila, hingga saat ini setidaknya aku masih datang ke JIP dua minggu sekali untuk bertemu dengan Ketua Jurusan Bapak Sigit Krisbintoro dan Sekjur Adinda Darmawan Purba untuk berdiskusi tentang perkembangan terkini kondisi sosial politik lokal dan nasional, tentang pengembangan kapasitas alumni JIP. Ternyata, bayangan akan diterkam oleh binatang buas atau dimangsa hantu-hantu pohon belantara tidak terjadi. Bahkan, kepada siapa aku berterima kasih selain kepada mereka semua, para dosen itu, para senior itu. Lantaran merekalah aku ada. Because of all of you, I’m exist..

Lalu, aku pun terkenang dengan bait-bait lagu Mars FISIP Unila…

“Hiduplah Fisipol Unila, pengemban cita-cita luhur bangsa. Penuh kreasi, karya, cipta, karsa bagi Indonesia jaya. Majulah-maju Fisipol Unila, abadi sepanjang masa... []

————
Agus Muhammad S, lahir Tanjungkarang tanggal 16 September 1979. Mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP Unila (1998—2005), menyelesaikan Magister Hukum Unila (2019), dan Program Doktor Ilmu Hukum Undip Semarang (2013). Ketua IKA JIP FISIP Unila Periode 2021-2025 ini sekarang mengajar di Program Pascasarjana Magister Hukum UBL dan ASN Fungsional Widyaiswara di BPSDMD Provinsi Lampung.

* Ditulis untuk buku Romantika Kampus Oranye: Dinamika FISIP Universitas Lampung dari Kisah Alumni (proses terbit).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top