Human

Usaha Memenangkan Situasi Mencekam

“UDO sudah vaksin belum? Saya ada jatah nih,” pesan wartawan Tribun Lampung Yoso Mulyawan via jaringan pribadi, 26 Agustus 2021.

Saya balas, “Belum.  Tapi,  saya belum boleh vaksin sekarang karena belum tiga bulan sejak isoman.”

“Ohh, hahaha… Oke oke Do,” sahut Yoso lagi.

Sesama penyintas Covid-19 ceritanya. Sebelumnya, 12 Agustus, saya mengirim sebuah rilis berita ke Yoso. Tidak seperti biasanya, lama kemudian baru dia menjawab, “Siaap Udo. Trims info rilis Udo. Saya lagi isoman (isolasi mandiri) di rumah ini Do.”

Rupanya Yoso juga penyintas alias alumni Covid-19 seperti saya dan beberapa yang terjadi pada beberapa kenalan, rekan, mitra, saudara, dan keluarga dari berbagai profesi. Syukur kami bisa bisa melawan atau berdamai dengan Covid-19, bisa selamat dan sehat lagi.

Namun,  tak urung juga ikut berduka atas kepergian orang-orang semasa Pandemi sejak Maret 2021 hingga kini. Kematian karena Covid-19 atau karena sebab lain berbaur dan sulit dipilah-pilah dalam masa-masa pagebluk selama dua tahun lebih. Syukurlah saat ini ada trend penurunan yang terkena Covid-19.

Sejak awal, pagebluk terasa mencekam. Tapi, saya tetap berupaya  menjaga diri dan keluarga agar tidak panik sembari tetap berdoa agar tetap sehat dan selamat. Meskipun ada ada sedikit kekhawatiran, saya mencoba mengikuti apa yang dikatakan Ibnu Sina (980—1037):  “Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan.“

Di tengah anjuran untuk tetap beraktivitas  #dirumahsaja; kalau pun terpaksa keluar rumah, mesti memakai masker, menghindari kerumunan, dan rajin-rajin cuci tangan, saya jadi ikut ikut membantu anak-anak dan istri yang guru belajar daring, dan berkegiatan lainnya untuk mengisi waktu luang. Yang utama, membaca dan menulis. Mulanya, ikut menyumbang tulisan untuk buku Kemanusiaan pada Masa Wabah Corona: Renungan 110 Penulis Satupena yang dieditori Nasir Tamara, dkk  (Balai Pustaka, Mei 2020). Lalu, menginisiasi  penerbitan buku – untuk menghadiahi  diri sendiri, hahaa.. – berjudul Mencari Lampung dalam Senyapnya Jalan Budaya yang diedori Arman AZ dan dipengantari Frieda Amran (Pustaka LaBRAK, Juni 2020) dan menyusun Jejak-jejak Literer: Bibliografi Sastra Lampung 1960-2020 (Pustaka LaBRAK, Februari 2021).  Bersama Aksi Swadaya Menulis dari Rumah dan Penerbit Kosa Kata Kita, saya ikut pula menyumbang tulisan untuk antologi: Ayahku Jagoan (Februari 2021), Anakku Permataku (Juni 2021), Guruku Inspirasiku (September 2021), dan insya Allah buku ini, Hidup Berdamai dengan Corona (November 2021). Sempat juga menyumbang puisi untuk 76 Penyair Membaca Indonesia (Teras Budaya Jakarta dan Taman Inspirasi Sastra Indonesia, Juli 2021).

Cerita ini dimulai setelah  menginiasi buku Pandemi Pasti Berlalu yang dieditori Yuli Nugrahani (Pustaka LaBRAK, Juni 2021). Dalam proses penerbitan buku ini, salah satu penyumbang puisi, Hermansyah GA, seniman dan anggota Akademi Lampung, berpulang ke Rahmatullah pada 15 Mei 2021. Saya mendapat undangan dari Kantor Bahasa Bengkulu untuk memberikan Bimbingan Teknis Penulisan Cerita Rakyat Berbahasa Daerah di Hotel Adeeva, Bengkulu, Sabtu, 26 Juni 2021.

Travel Bandar Lampung—Bengkulu tenyata hanya ada sore. Dijemput dari rumah, Kamis sore, 24 Juni saya berangkat melewati Pringsewu, Kotaagung, dan Wonosobo. Sudah malam ketika berhenti di rumah makan di Blimbing, Pesisir Barat.  Mobil pun melanjutkan perjalanan melewati Ngambur, Ngaras, Biha, Krui, Pugung, dan Lemong sampai perbatasan provinsi. Memasuki Bengkulu, melewati Bintuhan, Manna, dst, kendaraan masih berhenti sekali lagi untuk mengisi ngopi dan makan. Setelah 13 jam, barulah tiba di Hotel X-tra Bengkulu  hampir pukul 04.00.

Keesokan harinya setelah acara, Minggu, 27 Juni saya masih harus menunggu sore untuk kembali ke Bandar Lampung. 13 jam pula dari Bengkulu ke Bandar Lampung. Sebagai wartawan yang terbiasa berjalan,  sebenarnya bagi saya perjalanan yang biasa. Tidak terlalu melelahkan. Tapi, dari pagi sebelum berangkat saya tidak makanan yang sesuai selera. Saya tidak makan nasi dan hanya  makan cemilan roti-rotian dan kopi di hotel sambil menunggu  travel. Saya baru makan nasi ketika travel mampir di Kota Manna sore menjelang malam.

Beberapa hari di Bandar Lampung semua berjalan biasa. Sampai Jumat, 2 Juli saya begadang di depan komputer. Saya masih biasa saja. Sabtu sore, tiba-tiba saya menggigil dan langsung berbaring di tempat tidur. Kepada istri saya minta diselimuti. Saya drop. Batuk-batuk dan terasa pilek. Badan terasa tidak karu-karuan. Suhu tubuh kadang panas, tiba-tiba turun, panas lagi tidak menentu. Awal drop masih enak makan. Tapi, setelah itu semua yang dimasukkan ke mulut terasa tak nikmat, bahkan seperti mau dikeluarkan lagi dari lambung.

Saya pun mulai ‘dipaksa-paksa’ minum susu beruang, vitamin, madu, dan sari kurma.Makan nasi dengan lauk-pauk yang bergizi tinggi. Semua susah masuk ke kerongkongan. Tetap dipaksa-paksa.  Hanya pisang yang agak lancar melewati mulut, tenggotakan terus ke pencernaan. Saya minta diperbanyak beli pisang.Puncaknya rasa sesak di dada dan saya seperti kesulitan bernafas. Ke dokter dikasih obat macam-macam.

Di samping itu saya ikuti anjuran Udo Yamin Majdi di buku Pandemi Pasti Berlalu untuk melakukan terapi Alquran. Caranya, dengan mendengarkan alunan bacaan Alquran setiap saat dan terutama di tengah keheningan malam sampai tertidur.

Syukurlah setelah tiga minggu, saya mulai pulih.

Rupanya, hampir semua kita secara alami diminta untuk adaptif dengan situasi pandemi.  Dan, orang-orang yang sehat kembali dan selamat setelah terkena Covid-19 adalah mereka yang berhasil menang melawan atau bisa juga, berdamai dengan Covid-19.  []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top