Cerita Pendek

Suara Protes

Cerpen Ramli Lahaping

PAGI-PAGI, menjelang pemilihan kepala desa, warga menjadi riuh. Itu karena di sisi samping gedung kantor kepala desa yang akan digunakan sebagai tempat pemungutan suara, para warga menjumpai tulisan bernada provokasi. Tulisan yang tampak menggunakan cat semprot tersebut, terkesan memojokkan kandidat petahana: Jangan pilih calon yang terbukti ingkar janji!

Seketika pula, para warga menyikapi temuan itu dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang geram karena merasa calon andalannya disudutkan, sehingga mereka lekas menimpali tulisan berwarna hitam itu dengan cat warna putih. Tetapi di sisi lain, ada pula yang diam-diam saja sambil bersenang hati, sebab mereka merasa kalau coretan itu telah mewakili suara hati mereka.

Sebenarnya, kata-kata protes semacam itu telah banyak bermunculan belakangan waktu. Tak ada yang tahu pelakunya. Tak ada pula upaya untuk menelusurinya. Para warga seakan-akan maklum bahwa kenyataan itu adalah kelaziman menjelang pesta demokrasi, sehingga melaporkannya ke polisi adalah tindakan berlebihan, dan hanya akan memperkarakan sesama warga.

Aku sendiri merasa gembira menyaksikan tulisan protes semacam itu. Aku merasa unek-unekku telah tersalurkan karenanya. Pasalnya, aku kecewa dengan kepemimpinan sang kepala desa petahana selama hampir enam tahun. Itu karena aku menilai bahwa ia gagal menyelenggarakan pembangunan yang berkeadilan untuk semua warga.

Tetapi sekian lama, aku tak mau menunjukkan ketidaksukaanku atas kepemimpinannya. Aku takut kalau orang-orang menuding bahwa aku hanya bersikap sentimental dan sinis, sebab aku adalah calon yang kalah telak darinya pada pemilihan kepala desa sebelumnya. Karena itu pula, aku memilih diam saja dalam menyikapi kebobrokan pemerintahannya.

Aku, dan sebagian warga desa, memang tak punya pilihan selain pasrah pada cengkeraman kekuasaannya. Aku, dan semua warga tahu bahwa ia adalah keturunan tetua desa, sehingga ia memiliki banyak pendukung berdasarkan pertalian darah. Sebaliknya, aku, dan beberapa warga yang lain, hanyalah generasi kedua dari orang-orang yang datang melalui kebijakan transmigrasi.

Belum lagi, ia memiliki modal finansial yang kuat, sebab ia adalah seorang pemilik tanah pertanian yang luas. Terlebih lagi setelah ia mendapatkan bonus dan saham dari sebuah perusahaan tambang milik keluargannya yang beroperasi di desa, setelah ia berhasil memfasilitasi perusahaan itu untuk membeli tanah warga dengan menggunakan tekanan fisik dan psikis. Tak pelak lagi, ia menjadi raja bagi warga desa, terutama yang bekerja di perusahaan tersebut, termasuk para warga keturunan transmigran.

Atas kenyataan itulah, pada pemilihan kali ini, aku tak mau lagi untuk mencoba-coba menantangnya. Aku telah ragu akan bisa mengalahkannya cuma dengan berbekal dukungan dari beberapa warga keturunan transmigran. Aku mengalah saja untuk menerima kenyataan bahwa ia pasti akan kembali menduduki jabatannya.

Menjadi orang yang tidak tampak memihak pada perpolitikan desa kali ini, memang menjadi posisi yang tepat. Pasalnya, dengan kekuasaannya yang tidak terkendali, sang kepala desa tidak segan-segan mengucilkan penentangnya, terutama dengan mencabut bantuan sosial dan bantuan pertanian dari pemerintah. Sebaliknya, yang mendukung, atau yang tidak ketahuan menentangnya, akan memiliki kehidupan yang baik-baik saja.

Tetapi akhirnya, Sohan, seorang warga yang masih terhitung sebagai keluarga jauh sang kepala desa, berani juga melakukan perlawanan dengan menjadi penantang dalam pemilihan atas ketidaksetujuannya pada kebijakan sang petahana selama ini. Ia tidak setuju atas beroperasinya perusahaan pengolahan nikel di desa, sebab menurutnya, itu akan menyebabkan kerusakan lingkungan. Ia tidak setuju atas penjualan tanah warga kepada pihak perusahaan, sebab menurutnya, itu akan membuat warga menjadi buruh di atas tanahnya sendiri.

Bahkan atas penentangannya pula, sampai kini, Sohan menjadi satu-satunya warga yang tidak mau merelakan tanahnya menjadi kawasan perusahaan, meski telah ditawar dengan harga selangit. Ia mengaku tidak tergiur mendapatkan uang banyak dalam sekali waktu, tetapi kehilangan tanahnya sebagai warisan paling berharga untuk anak-cucunya kelak.

“Bagaimana menurut Bapak?” tanya Sohan, sekitar empat bulan yang lalu, setelah menuturkan kehendaknya kepadaku untuk melawan sang petahana pada pemilihan kepala desa.

Aku pun mendengkus. Merasa bingung meramu jawaban yang tepat. “Itu sih, pilihan Bapak sendiri. Aku dukung-dukung saja. Tetapi kalau harus jujur, aku ragu Bapak bisa mengalahkannya. Bapak sendiri tahu kalau aku kalah telak darinya pada pemilihan yang lalu,” jawabku, setengah tega.

Ia lalu membetulkan posisi duduknya, kemudian menguraikan dasar keyakinannya, “Tetapi keadaan sudah berbeda, Pak. Sekarang, banyak warga yang sudah menyadari kalau kebijakan-kebijakannya tidak berkeadilan. Mereka sudah memahami kalau keputusan-keputusannya hanya untuk menguntungkan dirinya sendiri dan orang-orang terdekatnya, tetapi merugikan bagi masyarakat banyak dan lingkungan.”

“Iya, Pak. Aku tahu juga kalau ada beberapa warga yang sepemikiran dengan kita. Tetapi kukira jumlahnya sangat sedikit ketimbang orang-orang yang sepakat dengan keputusan-keputusannya,” balasku, dengan penuh tekanan, untuk meyakinkan ia agar mengurungkan niatnya sebelum menderita kekecewaan.

Tetapi ia malah menggeleng-geleng dan tersenyum, seolah menyalahkan taksiranku. “Kalau perkiraanku sih, aku akan bersaing ketat dengannya. Aku sudah mengkalkulasi secara kasar. Yang penting, orang-orang yang kukira berada di pihakku saat ini, benar-benar memilihku dan tidak berubah pikiran sampai hari pemilihan.”

“Apa Bapak tidak salah kira?” tanyaku, meragukan.

Ia lantas tertawa pendek. “Setahuku, yang berkeras mendukungnya cuma keluarga dekatnya, orang-orang yang menjadi perangkat desa atas keputusannya, dan orang-orang yang menduduki jabatan di perusahaan sokongannya,” tuturnya, lantas memandangiku dengan tatapan yang tajam. “Jumlah mereka tak seberapa dibanding jumlah warga secara keseluruhan. Artinya, aku masih memiliki peluang besar untuk meraup dukungan.”

Aku mendengkus saja mendengar perhitungannya.

Sesaat kemudian, ia pun menawarkan janjinya dengan suara setengah berbisik, “Kalau Bapak bisa meyakinkan warga-warga di kawasan transmigrasi untuk mendukungku, percayalah, bahwa ketika aku berhasil menjadi kepala desa, aku akan memberikan hak yang adil untuk Bapak dan warga transmigransi yang lain.”

Aku lantas mengangguk-anggukkan pintanya, kemudian menanggapi secara diplomatis, “Akan aku coba,” tanggapku, sekadar untuk menyenangkan perasaannya.

Wajahnya pun tampak semringah.

Setelah percakapan kami itu, ia pun mulai bergerilya untuk mencari-cari dukungan warga.

Sedang aku, sampai saat ini, tak juga melakukan apa-apa untuk mempromisikan nama dan visi-misinya. Seperti jauh-jauh sebelumnya, aku telah memantapkan hati untuk tidak lagi berurusan dengan perpolitikan desa. Aku tidak ingin menampakkan keberpihakanku untuknya demi menghindari akibat pahit saat sang kepala desa petahana kembali berkuasa.

Kini, atas kenekatannya, aku pun mulai memiliki sangkaan yang sama dengan warga lain, bahwa ia telah kehilangan kejernihan pikiran, hingga ia berani melawan sang petahana untuk sekadar mempermalukan dirinya. Bahkan aku juga mulai menduga bahwa ia sudah gila demi memperjuangkan pandangan hidupnya tentang keadilan sosial dan kelestarian lingkungan.

Sampai akhirnya, hari ini, menjelang tengah hari, aku pun berada di tempat pemungutan suara untuk menyampaikan pilihanku. Sebagaimana warga yang lain, aku pun mengambil surat suara, lantas masuk ke dalam bilik pencoblosan. Tetapi berbeda dengan mereka, tujuanku bukanlah untuk memberikan suara kepada siapa-siapa, tetapi sekadar untuk menyuarakan kekesalanku kepada sang kepala desa petahana.

Kini, aku memang berada di dalam kegamangan. Aku tak sudi memberikan suaraku untuk sang petahana, tetapi juga merasa percuma untuk memberikan suaraku pada Sohan yang kupastikan kalah. Karena itu, aku tak mencoblos surat suaraku, melainkan hanya menulisinya dengan kata-kata protes di atas gambar sang calon petahana: Kepala desa yang zalim dan terlaknat! Calon penghuni neraka!

Sesaat berselang, aku pun keluar dari bilik pencoblosan dengan perasaan puas. Aku merasa telah berhasil meluruhkan keluh kesahku dengan cara yang mengagumkan. Aku yakin, saat penghitungan nanti, para warga yang selama ini bungkam karena takut, akan bersenang hati karena merasa terwakili dengan kalimat protesku.

Beberapa jam kemudian, menjelang sore, penghitungan suara pun dilakukan. Panitia kemudian membuka dan menghiting surat suara satu per satu. Hingga akhirnya, seorang panitia menemukan dan menyibak surat suaraku di hadapan warga. Seorang panitia yang lain lantas membacakan tulisanku untuk membuktikan bahwa suaraku batal dan tidak terhitung. Sontak saja, para warga tertawa senang setelah menyaksikan dan mendengarkan kalimat protesku. Seketika pula, aku merasa puas sebab misiku telah berhasil.

Detik demi detik bergulir. Para warga tampak semakin serius menonton penghitungan untuk mengetahui hasil finalnya. Hingga akhirnya, di luar dugaanku, perolehan suara antara Sohan dan sang petahana, sebagaimana yang tampak tercatat di papan tulis, ternyata saling memburu. Di luar dugaanku pula, suara-suara protes semacam suaraku, yang berisi kritik dan makian untuk sang petahana, yang terhitung sebagai suara yang tidak sah, ternyata berjumlah 21.

Beberapa saat berselang, setelah penghitungan benar-benar selesai, aku pun menyaksikan kenyataan yang memilukan. Perolehan suara Sohan dan sang petahana, ternyata hanya selisih 19 suara. Sohan kalah di ambang kemenangan, di tengah protes-protes yang selama ini dibungkam dengan ancaman, yang kemudian tersampaikan melalui kalimat-kalimat protes di surat suara, yang akhirnya tidak terhitung.

Dari kejauhan, aku pun melihat Sohan tampak terpukul dengan wajah yang pucat. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top