Sajak

Sajak-sajak Siswa SMAN 2 Liwa

PENGANTAR
Siswa-siswi SMAN 2 Liwa, Lampung Barat peserta Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) Provinsi Lampung berhasil menerbitkan buku 235 Warna di Bawah Langit Kota Liwa (Pustaka LaBRAK, September 2021). Buku setebal 275 halaman dan memuat 235 puisi karya 47 siswa ini dihimpun dan dieditori oleh Ahmadi Pahlewi, salah satu seniman GSMS yang ditempatkan di sekolah ini.
Berikut 12 sajak karya Ahmad Aji Pangestu, Angelicha, Anis Warimutiara, Aulia Asmarani, Gama, Lastiar Tangiuli Elisabet Siahaan, Lisyani, Nadia Cahya Fahrani, Nadine Ayu Lingga, Nandina Aurilia Putri, Novi Amelia, dan Saqyla Azzahra yang termuat dalam buku ini. Tabik.
Udo Z Karzi
——————–

Lastiar Tangiuli Elisabet Siahaan

LIWAKU, DAMAI

Sebelum senja menutup diri
sebelum hangat mentari muncul kembali
di tengah sepi, kabut menyelimuti

Kisah perihku, kulupakan di sini
di setiap detik, di setiap hela nafas
Liwaku, damai
pengobat kedukaan

Wewangian bunga kopi kuhirup perlahan
bersahabat dengan keadaan
dan memastikan Liwaku surgaku

Lisyani

BAGAI NEGERI DI ATAS AWAN

Semburat mentari
terbit di ufuk timur
menembus tebalnya kabut
dan dinginnya Kota Liwa
benar-benar terasa
bagai negeri di atas awan

Ilalang yang tumbuh lebat di atas bukit
sungguh menenangkan
dari riuh-gemuruh kehidupan kota

Tak kan lelah memberikan rasa syukur
karena Tuhan telah memberi keindahan alam
yang menakjubkan

Nandina Aurilia Putri

AROMA KOPI LIWA

Aroma yang wangi
membuat candu diriku

Di saat aku menghirupmu
hatiku merasa tenang
melayang

melupakan segalanya

Saqyla Azzahra

DERAP LANGKAH PASUKAN

Derap langkahnya menyatu
ada jiwa yang menggebu
kita pasukan juang
begitu katanya

Kini,
kisah yang tersampaikan melekat pada si pasukan
berwajah tertutup kayu
bersorak sorai diantara kesunyian yang ada
menyuarakan semangat juang yang sempat tertinggal
kami generasi muda yang mengenang kisah
siap berkata bahwa sejarah perlu dikenang

Sekarang segalanya telah berakhir
di balik topeng kayu yang menutupi wajah para pasukan
ada kami para generasi muda yang siap menghidupkan lentera
menembus kegelapan dan menghapus keraguan

Kami siap melanjutkan cerita lampau
dalam sebuah lembaran baru
di tanah ini, Liwa                            

Nadine Ayu Lingga

MERANGKUL PUNDAKKU SENDIRI

Senja hampir penuh
ketika hanya rintik hujan dan angin
yang menusuk halus menemaniku

Semua orang menghilang dengan sendirinya
sedikit menuntut kembali
kurasa tak mengapa
dan tak kan pernah menjadi nyata
belajar merangkul pundakku sendiri
perlahan tersadar
yang menguatkanku bukan sahabat atau mereka
tapi Tuhanku dan diriku sendiri

Ahmad Aji Pangestu

PUISI

Mungkin bagi orang lain
puisi hanya gagasan kata yang
tak memiliki makna
tapi bagi sebagian orang lagi
puisi ialah sekumpulan kata
yang membuat hati tergila-gila

Terdengar seperti  basa-basi
Tapi, aku sangat terobsesi

Gama

AKU INGIN

Di kala sinar matahari menyapa pagiku
rasa rindu menyelimuti sukmaku
membuatku terhanyut dalam perkara kehilangan

Rasa bosanku di rumah
membangkitkan kerinduan akan sekolah

Aku ingin berkumpul lagi dengan teman-temanku
bercerita tentang suka

Novi Amelia

PENA

Bersamanya, kutulis cerita cinta
berbau surga

Agar manusia tak terjebak
pada dunia yang fana
tak jelas asalnya
tak jelas pula hasilnya

Pena,
bersama setumpuk buku
kini menjadi saksi bisu
perjalananku

Angelicha

SENJA

Kau sebuah pancaran cahaya
yang indah dipandang mata
dan muncul sebelum malam tiba
Kau hanya singgah sementara

Senja,
kau membuatku tertawa
juga terluka
mengingatkan ku tentang dia
yang hadir sejenak
lalu menghilang

Anis Warimutiara

BUNGA CINTA

Bunga cinta bisa tumbuh di mana pun dia mau

Tidak peduli betapa menyengatnya
paparan sinar matahari

Tidak peduli betapa menusuknya
hawa di musim dingin

Bunga cinta akan tetap tumbuh
tanpa harus menunggu datangnya musim semi

Aulia Asmarani

RUANG RINDU

Waktuku terus menghilang
bias cahaya menusuk mataku yang terpejam
aku meyakinkan hatiku
bahwa dirimu tidak akan pergi

Rintik hujan
menyampaikan rinduku yang terpendam
hanya satu pintaku
datanglah ke dalam sepenggal mimpiku
di saat saat aku merindukanmu

Nadia Cahya Fahrani

TAK PERNAH PADAM

Nyatanya masih ada harapan
merpati putih yang selalu berjuang
demi mendapatkan kehidupan
pagi ke pagi memikul beban berat
hingga akhirnya dapat terbang kembali
menggapai angkasa nan jauh disana  

Semangat merpati putih
tak pernah padam
ia terus bangun, berusaha terus terbang
melupakan hinaan, cacian

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top