Human

[Kliping] Liwa: Kota Harapan yang Menyimpan Kenangan

PENGANTAR
Ketika menjadi reporter Surat Kabar Mahasiswa Teknokra Universitas Lampung dan sedang mulang pekon (pulang kampung), Agustus 1991, saya meliput persiapan pembentukan Kabupaten Lampung Barat. Kliping tulisan lama ini menjadi relevan dan sengaja diketik ulang sebagai pengingat manakala Lampung Barat memasuki usia ke-30 pada 24 September 2021 lalu.  
Berikut ini tulisan dimaksud, berjudul “Liwa, Sang Ibukota Lambar:  Kota Harapan yang Menyimpan Kenangan”, Lampung Post, 29 Agustus 1991, kurang sebulan sebelum peresmian Kabupaten Lampung Barat pada 24 September 1991.

———–

>> Foto Kota Liwa ‘dicuri’ dari Eka Fendiaspara yang punya.

DAERAH terletak di pegunungan dengan hawa yang sejuk dan panorama yang indah seluas 3.300 hektare di Balik Bukit ini memang sedang menjadi pusat perhatian orang, khususnya masyarakat Propinsi Lampung beberapa waktu terakhir ini. Liwa, sebuah nama tempat (marga pada zaman Kolonial Belanda) mencakupi beberapa desa yang dikelilingi oleh hijaunya hutan bukit-bukit. Tampak dari kejauhan kebiruan Gunung Pesagi menambah eloknya kota.

Liwa tengah populer saat ini. Namun jangan salah, sajak dulu Liwa memang terkenal sebagai tempat pemukiman yang menyenangkan, aman, dan damai bagi semua orang Belanda pun dahulu memanfaatkan daerah ini sebagai tempat berlibur, istirahat, dan santai. Beberapa peninggalan zaman Belanda masih berdiri kokoh sampai sekarang, di antaranya bangunan tansi yang dipergunakan sebagai Kantor Polisi saat ini, bangunan Sekolah Rakyat yang kini dipergunakan sebagai Kantor Depdikbudcam Balik  Bukit, dan bangunan  Pesanggrahan (kini Mess Pemda Tingkat I) di samping rumah kediaman Pembantu Bupati Lampung Utara Wilayah Liwa sekarang. Terdapat pula bekas-bekas jalan beraspal yang kini tinggal batu-batu dasar jalannya lagi.

Akibat kepopulerannya, terkadang orang salah menyebut Liwa sebagai kecamatan. Padahal Liwa merupakan sebagian dari wilayah Kecamatan Balik Bukit yang di dalamnya terdapat  dua marga, yaitu Sukau dan Liwa sendiri. Letak Liwa tepatnya adalah sebelah utara berbatasan dengan Desa Hanakau (Sukau), sebelah selatan dengan Hutan Lindung Bukit Barisan Selatan, sebelah barat dengan Krui dan Hutan Lindung Bukit Barisan Selatan, serta sebelah selatan dengan Desa Kembahang (Belalau).

Pemilihan Liwa sebagai ibukota Lampung Barat memang tepat. Banyak alasan memperkuat pernyataan ini. Pertama, tempatnya strategis karena berada di tengah-tengah wilayah Lambar, sehingga untuk melakukan pengawasan terhadap seluruh daerah Lambar oleh pihak Pemda Tingkat II nantinya akan lebih efektif.

Alasan lain, Liwa merupakan persimpangan lalu lintas jalan darat dari berbagai arah Propinsi Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung sendiri. Kita mulai menjalankan kendaraan kita dari arah timur, yaitu dari Bandar Lampung, Kotabumi, dan Bukit Kemuning memasuki Liwa. Dari Liwa jika belok kanan ke arah utara, kita akan menuju Kotabatu, sebuah kota kecil di tepi Danau Ranau untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Baturaja dan Palembang. Sedangkan jika belok kiri ke arah barat, kita akan menuju Krui, Kota Pelabuhan Lambar di pantai barat Lampung (Samudera Indonesia) dan dengan menelusuri pantai barat ke arah utara (bila jalan tembus selesai), kita bisa melanjutkan perjalanan memasuki Propinsi Bengkulu. Dengan keadaan yang seperti itu (perhubungan yang lancar dan lalu lintas yang ramai), Liwa dapat berkembang menjadi sebuah kota perdagangan yang ramai pula.

Potensi Budaya

Di samping memiliki potensi alamiah seperti pertanian dan perkebunan, pertambangan, perikanan, dan pariwisata untuk menunjang produksi dan agroindustrinya, Liwa juga menyimpan sejarah budaya yang cukup tinggi. Entah sejak kapan daerah ini menjadi perkampungan seperti sekarang. Tapi yang jelas, Liwa telah berpenghuni dan boleh dikatakan daerah perkampungan asli Lampung yang sudah cukup tua umurnya. Beberapa nama daerah seperti Kota Agung, Semaka, Pekon Tebu, Liba (Liwa Baru, red), Waya, dan sebagainya, penduduk aslinya merupakan pindahan dari Liwa. Dan jika ditanyakan tentang asal-usul mereka (penduduk Lampung di daerah-daerah itu), banyak di antara mereka yang menjawab: “Sebenarnya kami berasal dari Liwa. Tuyuk (buyut atau nenek moyang) kami dari sana.”

Mereka yang merantau ini biasanya masih tetap membawa budaya dan tradisi tempat asal mereka. Mereka tetap berusaha mempertahankan kebiasaan leluhur mereka. Akan tetapi, yang mengherankan, justru di Liwa sendiri kebudayaan-kebudayaan asli kini hampir hilang. Mengapa?

Mungkin karena letaknya yang strategis tadi membuat daerah ini terlalu banyak menerima pengaruh dari luar. Sayangnya, pengaruh itu tidak pula mengakar di daerah ini. Akibatnya semua serbatanggung, kebudayaan asli hampir sirna, sedangkan kebudayaan luar tidak sampai merasuki ke nadi orang-orang di daerah ini. Penyebab lain, barangkali tidak ada lagi yang mampu dan mau benar-benar menekuni bidang kebudayaan di daerah ini.

Tentang asal-asul nama Liwa, menurut cerita orang sebagaimana disebutkan dalam Monografi Desa Pasar Liwa (1990), berasal dari kata-kata “meli iwa”, artinya membeli ikan. Konon dahulunya Liwa merupakan daerah yang subur, persawahan yang luas, sehingga hasil pertaniannya melimpah. Way Setiwang dan Way Sinda Lapai yang mengaliri wilayahnya merupakan sumber kekayaan daerah ini. Ditambah pula penduduknya yang masih jarang membuat masyarakat daerah ini menjadi makmur sejahtera.

Di daerah ini dulunya terdapat bendungan-bendungan tempat ikan, sehingga terkenallah daerah ini sebagai penghasil ikan. Hampir setiap orang yang dari dan ke tempat itu jika ditanya sewaktu bertemu di jalan, “ Mau  ke mana?” atau “Dari mana?” selalu menjawab, “Jak/aga mit meli iwa” (Dari/hendak pergi membeli ikan). Lama-kelamaan jawaban ini berubah menjadi “mit meli iwa”. Kemudian karena diucapkan secara cepat kedengarannya  seperti “mit liwa”. Dan akhirnya, daerah ini mereka namakan Liwa.

Tengah Bersolek

Lampung Barat kini tengah menunggu “gong” peresmiannya lagi setelah Undang-Undang Pembentukan Kabupaten Lampung Barat disahkan DPR RI tanggal 20 Juni lalu. Seiring dengan itu, berbagai hal, telah, sedang, dan akan terus dilakukan demi perkembangan dan kemajuan “kabupaten baru”. Liwa terlebih-lebih lagi, ia saat ini tengah sibuk-sibuknya bersolek dan berhias diri mempersiapkan kemandiriannya sebagai ibukota Lampung Barat.

Menurut Drs. Syaifullah Zawawi, Kabag Tata Usaha Kantor Pembantu Bupati Wilayah Liwa, yang ditemui penulis di ruang kerjanya, Sabtu (3/8), saat ini telah dilakukan penempatan kantor-kantor dinas/instansi tingkat II sesuai dengan Tata Ruang Kota yang direncanakan. Sejak 1 Agustus dinas-dinas tersebut telah difungsikan dan pegawainya telah bekerja dan menjalankan kegiatan di kantor masing-masing, meskipun beberapa kantor masih menyewa.

Kantor Bupati/Kepala Daerah Tingkat II Lampung Barat telah pula difungsikan sejak tanggal itu. Sedangkan Mess Pemda Tingkat II telah ditempati Sekwilda beserta stafnya. Dalam waktu dekat akan diusahakan pembangunan beberapa kantor dinas berikut 10 perumahan dinas di Way Mengaku dan sarana pendukung lainnya seperti pengaspalan jalan menuju kompleks perkantoran itu.

Kesiapan lainnya, lanjut Syaifullah, tersedianya 5 ha tanah untuk pembangunan Rumah Sakit Umum di Way Mengaku, 5 ha untuk terminal dan pasar induk di Penataran, 1 ha tanah Polres di Watas, 5 ha untuk Kodim di Way Mengaku, dan 1 ha lagi untuk kompleks kantor kejaksaan di Way Mengaku. Kini dibangun Kantor Sentral Telepon Otomatis di Pasar Liwa yang diharapkan berfungsi mulai 1 Desember nanti. Lalu beberapa saluran PAM untuk mencukupi kebutuhan air bersih di beberapa desa yang telah dan akan dibangun.

3 Wilayah Pengembangan

Berdasarkan Peta Pemanfaatan Lahan Sampai dengan Tahun 2000 (Struktur Kota yang Diinginkan), wilayah pengembangan Kota Liwa meliputi 8 desa di Kecamatan Balik Bukit, yaitu Way Mengaku, Pasar Liwa, Kubuperahu, Sebarus, Gunung Sugih, Way Empulau Ulu, Watas, dan Padangdalom.

Liwa selanjutnya akan dikembangkan menjadi tiga wilayah pengembangan (DWK). DWK I Wilayah Pusat Pemerintahan dan Fasilitas Umum seluas 1.205,62 ha untuk kantor pemerintah, militer, pendidikan tinggi, sekolah tingkat menengah, olahraga, dan rekreasi; DWK II Wilayah Pusat Kota dan Perdagangan seluas 859,88 ha untuk perdagangan dan jasa, kantor pos dan telekomunikasi, bank, pemadam kebakaran, terminal angkutan dalam kota, serta perdagangan eceran dan menengah; dan DWK III Wilayah Pengembangan Industri dan Perdagangan seluas 1.220,40 ha untuk terminal regional, pergudangan dan cargo, agroindustri, perdagangan grosier, serta pendidikan dasar dan menengah.

Ditanya tentang kesiapan masyarakat, Syaifullah menjelaskan, masyarakat Liwa boleh dikatakan benar-benar siap. Ini bisa dilihat dari usaha-usaha yang mereka lakukan seperti pembersihan rumah, pekarangan, jalan, rumah ibadah, dan sebagainya, serta gotong-royong bahu-membahu bekerja sama membangun daerahnya. “Masyarakat Liwa benar-benar mendambakan terbentuknya Kabupaten Lampung Barat. Telah 24 tahun mereka menunggu dan berjuang untuk itu,” tandas Syaifullah.

Yah, kita semua optimis akan prospek kota Liwa di masa depan. Banyak potensi daerah ini yang belum tersentuh. Belum lagi potensi di luar Liwa yang tentunya akan membantu perkembangan kota ini. Bila semua itu bisa dikelola dengan sebaik-baiknya tentu akan menjanjikan masa depan yang cerah bagi kota ini.

Tugas semua pihak untuk mewujudkan kota idaman yang kokoh, mandiri, dan menjadi kebanggaan.

(Zulkarnain Zubairi)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top