Human

Saya Suka Novel dan Komik, Maka Saya Kuliah Ilmu Pemerintahan

SUKA cerita atau sastra begitu, pernah kursus mengetik 10 jari dan akuntansi; makanya mendaftar ke Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Lampung (Unila) melalui Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) 1990.

Kalau ditanya, apa hubungan sastra, kursus mengetik 10 jari, akuntansi, dan ilmu pemerintahan, saya juga bingung hendak menjawabnya. Nyatanya, selesai kuliah saya malah jadi wartawan dan sekarang tukang tulis.  Bukan jadi birokrat (pemerintah) sebagaimana saya dan teman-teman angankan dulu.

Sewaktu ditanya mengapa mendaftar ke Ilmu Pemerintahan oleh senior dalam kegiatan Penataran P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), seorang teman ngotot bilang, “Kepengin jadi pegawai negeri sipil.” Benar juga sih, lulusan Ilmu Pemerintahan ya jadi pemerintah geh. Tapi, para senior berapi-api berkata, “Luluan Ilmu Pemerintah tak mesti jadi PNS!” Dan, nyatanya pula teman yang berkukuh ingin jadi PNS tak lantas jadi amtenar, tetapi bekerja di sektor swasta.

Balik lagi, pengumuman UMPTN mencantumkan saya diterima di Ilmu Pemerintahan — masih Persiapan — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unila. Syukurlah, saya diterima pilihan pertama. Kalau sampai pilihan kedua, yaitu Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin (Unhas) Ujungpandang (kini: Makassar), matilah saya. Bak (ayah) saya sudah marah-marah.

“Ngapain daftar jauh-jauh begitu. Itu nggak dekat. Kau beayai sendiri kalau mau kuliah di sana,” begitu kira-kira kata Bak.

Waduh!

Saya diam saja. Lama kemudian saya pikir-pikir wajar kalau bak tak sudi membiarkan saya jauh-jauh dari Lampung. Saya anak tertua dari lima saudara yang diharapkan bisa meneruskan Bak sebagai “penyimbang adat”. Kalau Jurusan Ilmu Pemerintahan, bak tak banyak komentar.

***

Saya salah jurusan agaknya. Bisa jadi. Hehee… Tapi, telanjur masuk ke Fakultas Ilmu Santet dan Ilmu Pelet (eeh, maaf cuma pelesetan karena memiliki tujuan yang sama), saya ‘harus’ aktif. Diomongin, laboratorium FISIP itu pemerintah dan masyarakat. Kalau capek belajar di kelas atau diskusi sampai titik ludah penghabisan sesama aktivis, kita orang ya praktik kerja lapangan (PKL)… Ya, protes, turun ke jalan, demo, unjuk rasa atau apalah namanya.

Pertama-tama begitu saya mulai kuliah di FISIP, setelah belajar bikin makalah bersama kelompok untuk dipresentasikan dalam Penataran P-4, saya mengirim puisi untuk Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Teknokra Unila. Sebelumnya sejak masih SMA, saya memang diam-diam dengan berbagai nama samaran mengirim sajak dan artikel ke koran Jakarta. Ada satu-dua juga yang ‘nyangkut’ dimuat.

Berdekatan dengan Pengumuman UMPTN 1990, saya memenangkan lomba menulis artikel Islami yang diselenggarakan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Brojonegoro (Unila). Barangkali di bawah sadar, saya juga mendaftar FISIP karena ketika saya masih SMA, penulis di Lampung Post banyak juga yang dari FISIP Unila. Misalnya, Maspril Aries (suka ditambahi “Mafisip”/Mahasiswa FISIP di belakang namanya), Dadang Ishak Iskandar, Yon’s Muryono, Sen Tjiauw, dan lain-lain.

Puisi-puisi saya tak dimuat Teknokra. Redakturnya tak yakin degan saya kali. Tapi, saya malah menerima surat permintaan menjulis artikel untuk koran kampus ini. Jadilah, artikel pertama saya dimuat pers mahasiswa ini. Setelah itu baru puisi-puisi saya dimuat pula. Lumayan, honor artikel di Teknokra waktu itu Rp7.500. Untuk puisi Rp5.000.

Dengan latar itu, saya diajak bergabung oleh kakak tingkat untuk ikut mengelola Majalah Republica, pers mahasiswa FISIP Unila. Masih di semester satu tahun 1990. Memasuki semester dua tahun 1991, seperti ‘dicita-citakan’ (cak elah, hehee…) saya diterima magang di Teknokra.

Saya sih mahasiswa biasa-biasa saja. Tak ada yang menonjol. Saya hanya suka membaca novel dan komik sejak dulu sekali. Lalu, nyumput-nyumput mulai menulis cerita, puisi, dan artikel. Tapi, saya beruntung. Teknokra dan Republica banyak mengajari saya teknik-teknik jurnalistik.

Dengan sedikit pengalaman ini, beruntung lagi saya sempat dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Teknokra (1993–1994), Pemimpin Umum Majalah Republica (1994—1996), dan Pembimbing Majalah Ijtihad (1995-1996). 

Saya dengar ada yang bertanya ke senior, “Kok Zul yang jadi Pemred Teknokra?”

Kakak senior ini bertanya balik, “Memang ada yang lain?”

Benarlah, saya hanya sedikit beruntung.

Saking menghayati jurnalisme, ketika mengajukan proposal, Pak Dian Komarsyah, pembimbing skripsi saya sampai bertanya, “Ini bahasa apa ini? Kebiasaan menulis berita jangan dibawa-bawa ke skripsi, Zul.”

Cengegesan saya menjawab, “Ya, Pak.”

Selain menulis untuk pers mahasiswa, saya (kami, maksudnya) juga menulis untuk pers umum, terutama koran daerah sendiri, Lampung Post. Honor artikel antara Rp15.000—Rp25.000, puisi Rp10.000.

Kalau menurut penulis kawakan, Hardi Hamzah, honor-honor itu signifikan untuk mengebulkan asap dapur. Benar banget, honor-honor tulisan di pers mahasiswa dan pers umum itu cukup membuat penulisnya bisa sedikit bergaya, meskipun kiriman dari kampung terlambat. Walaupun di saya kebanyakan honor itu kebanyakan untuk beli buku puisi dan pelitik sesuai dengan tempat saya kuliah.

(Catatan: Penerbitan buku puisi waktu itu sangat jarang sehingga bisalah saya menyisihkan uang untuk membeli buku-buku itu. Sekarang, kantong saya tak kesampaian untuk mengoleksi sekian banyak buku puisi.)

Ya, jadi kegiatan utama saya sejak dulu ya menulis (beraktivitas) untuk pers mahasiswa, lalu sesekali ikut kelompo studi dan turun lapangan demo nyambi kuliah.

Entah karena saya oon atau terlalu menghayati peran mahasiswa sebagai ‘agen of changeng’ dan berprinsip “Kuliah jangan sampai mengganggu aktivitas” (di balik dari “Aktivitas jangan sampai mengganggu kuliah”), jadinya saya kuliah kelamaan sampai enam tahun (1990-1996).

***

Dibilang saya orangnya tak banyak omong, seriusan, dan kadang suka TS (tanpa senyum, hahaa…). Cuma suka nulis-nulis aja. Jadi, saya tak punya pengalaman soal asmara. Apalah yang harus saya ceritakan. Saya tuh heran dengan Nenni Hendriani, kakak tingkat saya, Angkatan 89 yang berkata, “Akan kuceritakan tentang kisah Udo Z Karzi nembak cewek itu tu…”

Sungguh sukar dipercayakan! Saya cuma serius mencari ilmu untuk bekal di kelak di kemudian hari.

***

“Kamu kok gak terjun ke pelitik?”

Saya jawab, “Nggak kuat. Saya bisanya nulis-nulis aja.”

“Salah jurusan dong!”

“Mungkin! Tapi, saya tak menyesal kuliah di pelitik (ilmu pemerintahan) kok. Ilmu dan pengalaman yang saya dapat menjadi bekal terbaik menjalani kehidupan ini.”

Kehidupan, setidaknya seperti yang saya alami, ternyata tidak selalu linear. Kadang jalan harus menikung dan berbalik berlawan arah. Sangat kompleks dan sukar diduga. Mengalir saja! []

————–
* Ditulis untuk buku antologi Romantika di Kampus Oranye: Dinamika FISIP Univesitas Lampung dari Cerita Alumni (proses terbit).

** Udo Z Karzi, mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung (1990–1996).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top