Cerita Pendek

Membahagiakan Rakyat

Oleh Yusril Izha Mahendra

TANGANNYA gemuk dengan jemari yang berbulu, “Rustam Si Dungu”begitulah kepala daerah ini dijuluki. Atau tidak jarang orang-orang juga menjulukinya “Babi Merah” sebab secara objektif terlihat dari berat badannya yang berlebihan dengan perilaku rakusnya sebagai politisi, kata “Merah” sendiri kontras dengan warna dominan partainya. Walaupun begitu, ia termasuk politisi yang percaya diri dan memiliki sifat ambisius dalam membangun provinsi yang dipimpinnya, meskipun lebih tepat sebagai pengidap arogansi epistemik.

Kondisi politik dan sosial yang tidak kunjung kondusif dengan pemicu permasalahan ekonomi, sebab begitulah yang sering terjadi di negeri dengan julukan Dunia Ketiga,memaksa Rustam melawan kebiasaannya filistindalam merumuskan program dan kebijakannya. Ia teringat ketika kuliah dosennya pernah membahas resourcecursethesis, bahwa sumber daya merupakan sebuah kutukan.  Di mana sumber daya tersebut kemudian menimbulkan berbagai permasalahan, terutama yang berkaitan erat dengan ekonomi seperti pendapatan dan lapangan pekerjaan. Tentunya dengan menghabiskan dan menjual sumber daya tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, pikir Rustam.

Ia mendatangi rumah pengusaha tambang sekaligus hutan yang tidak lain adalah keponakannya sendiri. Tak bayak orang di rumah itu, untuk sejenak Rustam ragu untuk berbicara kepada keponakannya. Namun, rupanya keponakan tersebut dengan senang hati dan bersemangat membantunya.

“Paman, apa yang dapat saya bantu?” tanya keponakannya.

“Aku ingin masyarakat sejahtera. Aku ingin menghabiskan sumber daya,menjual hutan dan pertambangan.” Kata Rustam dengan malu-malu.

Sejenak keponakannya berpikir, kemudian mengangguk-angguk dan berkata, “Aku juga sudah sering menghabiskan hutan dan membuka pertambangan diwilayah lain, semua masyarakatnya terlihat suka cita dan kegirangan. Mereka berkumpul dan membawa spanduk di depan gedung kepala daerahnya. Apa salahnya kita mencoba disini?”

Kepala daerah itu setuju. “Boleh-boleh.”

***

Pekerjaan itu telah terbayar sebab kini sumber daya daerah tersebut telah habis terjual. Pertamaseluruh hutan telah habis untuk kemudian ditanami sawit. Kedua menghabiskan kandungan tanahnya, terlihat dari lubang besar dimana-mana.

“Tak ada lagi sisa,” kata si pengusaha.

Rustam sejenak mengangguk, sambil memperhatikan televisi di depannya yang menampilkan tayangan berita lokal. Hingga kepala daerah tersebut menyadari sesuatu.

“Aku rasa kita telah mengakibatkan banjir dan longsor di mana-mana?” katanya dengan nada penyesalan.

“Benar juga,” kata keponakannya. “Tapi, paling tidak kita berhasil menghilangkan kutukan dengan menghabiskan sumber daya.”

“Pantas saja mereka berkumpul dan membawa spanduk. Mereka sedang suka cita merayakannya.”

Sang kepala daerah terlihat tak lagi merasa sedih.[]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top