Cerita Pendek

Maling di Rumah Pak Haji

Cerpen Ramli Lahaping

DUA bulan yang lalu, di teras depan rumahnya, Basman menyerahkan seamplop uang kepada Gari dengan sikap berwibawa. Itu adalah upah Gari yang telah bekerja menyemprot rerumputan di kebun cengkihnya yang luas.

Setelah menerima upahnya, Gari lantas menanyakan perihal yang belakangan menjadi bahan perbincangan warga, “Apa benar Pak Haji akan naik haji lagi bulan depan?”

Basman pun mengangguk dengan raut semringah. “Ada baiknya, kau juga mulai menyusun rencana untuk naik haji. Mulailah menabung,” nasihat Basman, lantas menyeruput segelas kopinya.

Sontak, Gari mendengkus. “Tetapi sampai kapan aku harus menabung untuk bisa naik haji, Pak Haji? Pada akhirnya, upah kerjaku di mana-mana, pasti akan habis untuk kebutuhan hidupku sehari-hari.”

“Jangan putus asa begitu,” timpal Basman. “Bagaimanapun, naik haji itu rukun agama yang harus direncanakan dan diusahakan baik-baik. Karena itu, kalau kau mulai menabung sedikit demi sedikit, maka suatu saat, kau pasti akan berhasil menjadi seorang haji.” Ia lantas berdeham. “Apalagi, kutaksir, cengkihku tahun ini akan berbuah banyak. Jadi, kalau kau membantuku memetiknya, kau akan mengumpulkan bekal tabungan haji yang banyak.”

Gari hanya membalas dengan senyuman simpul.

Basman lalu menepuk-nepuk pundak Gari, kemudian menasihati, “Yakinlah bahwa menunaikan perintah agama, akan memberikan dampak yang baik pada persoalan kehidupan dunia kita. Menjadi seorang haji, pasti akan berpengaruh positif pada perekonomian dan kehormatan kita.”

Gari pun mengangguk-angguk.

“Lihatlah keadaanku saat ini. Aku menjadi semakin makmur dan terhormat, ya, itu karena aku berhaji,” tutur Basman lagi. “Karena itu, sebaiknya kau mulai berusaha untuk membuktikannya sendiri.”

Gari kembali mengangguk. “Tentu saja aku akan berusaha, Pak Haji. Sebagai seorang muslim, aku juga sangat ingin menjadi seorang haji.”

Basman pun tersenyum lepas.

Tak lama kemudian, Gari pamit dan pulang.

Setelah percakapan itu, Gari semakin berkehendak untuk berhaji. Apalagi, ia sendiri meyakini bahwa berhaji akan meningkatkan derajat kehidupan di dunia. Paling tidak, ia menyaksikan sendiri bahwa Basman yang dahulu hanya seorang pendatang dari kabupaten lain sebagaimana dirinya, yang datang untuk menjadi seorang pemetik buah cengkih, kini telah menjadi pemilik lahan kebun cengkih yang luas. Bahkan Basman telah sanggup mempekerjakan orang-orang, termasuk dirinya, yang kini masih berjuang untuk menumbuhkan bibit cengkih di lahannya yang sempit.

Belum lagi, soal harga diri menjadi seorang haji. Gari menyaksikan sendiri bahwa Basman sangat dihargai oleh penduduk desa. Pun, setiap kali pulang ke kampung asal mereka, Basman akan disambut dan dielu-elukan warga di sana sebagai perantau yang sukses. Tak seorang pun di antara warga yang terdengar mengucapkan gunjingan-gunjingan untuk Basman yang dahulu hanyalah seorang pemuda pemalas yang suka mabuk-mabukan.

Atas kenyataan itu, Gari akhirnya berpandangan bahwa kehormatan sebagai seorang haji adalah pangkal dari keberhasilan hidup Basman dalam soal ekonomi. Pasalnya, berbekal kehormatan itu, Basman berhasil menikahi anak tunggal seorang tokoh agama yang memiliki tanah yang luas. Itu karena sang tokoh agama menilai bahwa Basman adalah orang yang baik dan layak untuk menjadi pemimpin bagi anak semata wayangnya. Hingga akhirnya, setelah sang tokoh agama wafat menyusul mendiang istrinya, Basman pun menjadi penguasa lahan perkebunan cengkih tersebut.

Berkaca pada Basman, Gari pun jadi sangat berhasrat untuk mendapatkan kehormatan atas status haji. Ia ingin menjadi seorang haji, agar ia dinilai baik dan berderajat di tengah-tengah masyarakat, supaya ia bisa menaklukkan hati dan menikahi anak seorang tokoh masyarakat yang juga merupakan pewaris tunggal untuk tanah yang luas. Ia ingin menjadi orang yang terpandang dan kaya raya karena itu. Ia tidak ingin lagi direndahkan oleh warga desa ataupun warga di kampungnya.

Hingga akhirnya, setelah berpikir matang-matang, Gari pun memutuskan untuk melaksanakan rencana besarnya demi mendapatkan gelar haji sesegera mungkin. Ia membulatkan tekad untuk menempuh jalur pintas demi mendapatkan ongkos yang cukup. Ia memantapkan hati untuk menggarong di rumah Basman, lalu menjarah uang atau apa saja yang bisa menjadi uang. Ia lantas memberanikan diri untuk menunaikan rencananya saat rumah Basman tengah kosong karena lelaki itu berangkat haji bersama semua anggota keluarganya.

Akhirnya, lewat tengah malam, Gari pun menyatroni rumah Basman. Sesaat kemudian, ia berhasil mengantongi sejumlah uang dan perhiasan berharga. Tetapi sial. Ketika ia hendak keluar dan kabur dari rumah berlantai dua tersebut, tiba-tiba, seorang warga mengendus aksinya dan lekas berteriak. Seketika pula, orang-orang berdatangan dan mengepungnya. Karena takut dihajar, Gari pun menyingkap topengnya dan menyerahkan diri.

Tak pelak, para warga terkejut keheranan. Mereka tak menyangka bahwa Gari yang selama ini tak pernah menunjukkan gelagat sebagai pencuri, malah menggarong di rumah Basman yang kerap mempekerjakannnya. Namun mereka memutuskan untuk tidak membawa Gari ke polisi, sebagaimana juga pesan Basman dari tanah suci. Mereka merasa bahwa Gari hanya sedang khilaf, sehingga patut diberi maaf. Tetapi yang pasti, mereka mulai mencatatkan nama Gari sebagai seorang mantan pencuri.

Hingga akhirnya, hari ini, setelah Basman pulang berhaji, Gari pun bertamu ketika para penjemput dan penyambut telah pulang. Gari kemudian lekas menyalami dan mencium tangan Basman, lantas mengucapkan penyesalannya, “Maafkan aku, Pak Haji.”

Basman pun mendengkus. “Aku maafkan. Asal kau berjanji untuk tidak mengulanginya.”

Gari pun mengangguk tegas. “Aku berjanji, Pak Haji.”

Basman lantas meluruhkan napas yang panjang, kemudian bertanya mendesak, “Terangkanlah kepadaku, apa yang membuatmu tega menggarong isi rumahku?”

Gari sontak menelan ludah di tenggorokannya. Ia kebingungan meramu penjelasan. Hingga akhirnya, ia berkilah, “Tabunganku tinggal sedikit untuk memenuhi kebutuhan hidupku, Pak Haji, sedangkan di kampung, ibuku dan adikku memerlukan kiriman uang dariku untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.”

Seketika, Basman merasa terenyuh.  Perlahan-lahan, ia pun merasa bersalah karena tidak memerhatikan keadaan seseorang yang selama ini banyak membantunya mengurus kebun. Karena itu, ia akhirnya mangambil harta bendanya yang nyaris dicuri Gari, kemudian mengutarakan keputusannya, “Kalau begitu, ambillah ini,” katanya, sembari menyodorkan uang dan perhiasan tersebut.

Sontak saja, Gari terheran.

“Ambillah. Aku ikhlas,” ulang Basman.

Dengan tangan yang gemetar, Gari pun menyambut pemberian itu. “Terima kasih banyak, Pak Haji,” balas Gari, penuh bahagia.

Basman mengangguk saja, sembari tersenyum haru.

Akhirnya, tak beberapa lama berselang, setelah basa-basi penutup, Gari lantas pulang sembari membawa tekad untuk memulai rencananya menjadi seorang haji dengan separuh bekal dari pemberian Basman tersebut. []

——————-
Ramli Lahaping, kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Alumnus Fakultas Hukum Unhas. Berkecimpung di lembaga pers mahasiswa (LPMH-UH) selama berstatus sebagai mahasiswa. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Pernah menerbitkan cerpen di ideide.id, marewai.com, dan mbludus.com. Bisa disapa melalui Twitter (@ramli_eksepsi).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top