Cerita Pendek

Catatan Cinta Calon Perwira

Cerpen Ari Suciyanto Siregar

Pada sebuah perjamuan kecil, selepas salat subuh

Di halaman depan Masjid Agung, Magelang, Jawa Tengah

7 Januari 1989

***

Sesuatu yang paling menyenangkan bagiku adalah sholat Subuh di Masjid Agung ini, tempat berdoa yang mengiringi semangatku, dan menyimpan sebuah kenangan.

***

Aku adalah anak seorang buruh tani dari Klaten, Jawa Tengah. Anak ketiga dari enam bersaudara yang kebetulan semuanya laki-laki, dan hanya aku anak laki-laki di keluarga yang tidak bisa membantu Bapak untuk menggarap lahan pertanian milik Pak Lurah, semua saudara-saudaraku termasuk adikku yang paling kecil (Abdul Kadir Jaelani) yang baru berusia 9 tahun, sudah bisa membantu Bapak, meskipun hanya jadi tukang aduk pupuk kandang, tapi setidaknya dia sudah bisa membantu Bapak untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga yang saat itu masih di bawah rata-rata pendapatan per-kapita penduduk Indonesia.

Jujur aku sedih dan malu, karena sebagai anak laki-laki, aku tidak bisa membantu Bapak. Meski secara fisik, tubuhku normal, bahkan tubuhku tinggi dan besar untuk ukuran anak laki-laki seumuranku, tetapi karena penyakit asma yang aku derita dari lahir begitu parah, membuat aku tidak bisa turun ke ladang untuk membantu Bapak, oleh karena itu dengan sangat terpaksa selepas pulang sekolah, aku hanya  dapat membantuIbu membawa pakaian ke kali untuk dicucinya dan memotong sayur kubis yang kemudian dimasak bening di dapur, sebuah pekerjaan yang sebenarnya kurang pantas untuk seorang anak laki-laki seperti aku, tapi apa boleh buat, dari pada aku hanya diam di rumah? Lebih baik aku membantu Ibuku, meskipun di hati sangat berat untuk melakukan pekerjaan itu. Karena pekerjaan itu, membuat teman-temanku di Desa memanggilku wandu yang artinya, bencong!

Aku ingin sekali membantu Bapak menggarap sawah, seperti apa yang dilakukan anak laki-laki di Desaku. Dulu aku pernah memaksakan diri turun ke sawah membantu Bapak membuat aliran irigasi yang baru untuk persiapan tanam padi, tapi belum ada setengah jam aku mencangkul, asmaku tiba-tiba kambuh, yang membuat aku sangat sulit sekali bernafas, hingga aku harus segera dibawa ke rumah Pak Mantri untuk bisa cepat ditangani.

Bapak dan Ibu sangat panik bahkan Pak Mantri-pun jadi ikut-ikutan panik, ketika hampir semua orang desa yang berkumpul di depan rumahnya, mengira aku sedang mengalami sakaratul maut! Bahkan ada beberapa orang Desa yang membacakan surat yasin untuk ku.

***

Aku mengira penyakit asma yang aku derita ini adalah penyakit kutukan, karena tidak bisa disembuhkan. Di tempatku mengaji, Pak Ustaz pernah bilang, kalau semua penyakit bisa disembuhkan, terkecuali azab!

Ya Allah, apa dosa ku! Saya ini laki-laki! Saya ingin sekali bertani! Bukan masak dan membantu Ibu mencuci!

***

Pada suatu ketika, Desa ku kedatangan para calon dokter dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang sedang (PKL) Praktek Kerja Lapangan selama tiga bulan. Di kesempatan ini aku tidak menyia-nyiakan waktu ku untuk banyak bertanya tentang penyakit yang aku derita selama ini, dan ternyata penyakit ku termasuk kategori Asma Bronkial, salah satu penyakit kronis dengan pasien terbanyak di dunia, penyakit keturunan yang belum ditemukan obatnya.

Terbersit dalam hati: “Aku ini anak siapa? Karena dalam keluarga ku, hanya aku yang mengidap penyakit ini? Dan ternyata saat itu juga aku baru menyadari kalau golongan darah ku berbeda dengan golongan darah Bapak, Ibu dan saudara-saudara yang lain. Golongan darahku O sedangkan Bapak A dan Ibu B.”

Hampir seminggu aku dihantui oleh perasaan tidak menentu, di hantui oleh pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya membuat ku jatuh sakit. Tidak hanya sakit pada raga, tapi juga pada hati! Sampai di kemudian hari, Ibu dan Bapak menceritakan perihal siapa aku yang sesungguhnya. Ternyata aku adalah anak dari teman dekat Bapak yang meninggal karena kecelakaan bus antar kota di Pantura.

Bapak ku (Sudarman Soesilo) seorang supir truk angkut sampah DKI dan Ibuku (Isnaini Isyah) seorang penjual jamu keliling di wilayah Cipayung.

Kedua orang tua ku dimakamkan di Cipayung, di tempat pemakaman umum di wilayah Jakarta Timur dekat dengan “MARKAS BESAR TENTARA NASIONAL INDONESIA”. Tapi sayang makam kedua orang tua ku sudah menjadi satu dengan makam orang lain, seandainya aku tahu lebih dulu, mungkin aku tidak sesedih ini, berdiri di atas makam kedua orang tua ku yang batu nisannya sudah berganti nama.

***

Aku bangga dengan kedua orang tua angkat ku (Bapak Harjo Abdullah dan Ibu Asminah Sholeha) yang tidak membeda-bedakan aku dengan anak-anaknya yang lain, meskipun aku hanyalah seorang anak angkat, tapi kasih sayang yang mereka berikan kepada ku tetap utuh dengan sepenuh-penuhnya, ikhlas tanpa pamrih. “Sebab cinta tidak boleh hilang dari kesulitan hidup!” kata Bapak yang ingin selalu dianggap sebagai seorang Bapak, meskipun aku sudah tahu bahwa aku bukanlah darah-dagingnya.

“Bapak, Ibu, cinta anakmu ini tidak akan hilang sampai kapanpun,” jawabku di kelembutan pelukan seorang Bapak dan Ibu yang telah lama mengasuh ku, seperti mengasuh ke empat anak kandungnya sendiri.

***

Aku ingin sekali penyakit asma ku ini sembuh!

Aku harus menemukan obat untuk penyakit asma ku ini!

Aku tidak mau menjadi laki-laki yang terkesan lemah!

Bagaimanapun aku harus tetap sekolah!

Aku ingin jadi Ilmuwan!

Karena hanya dengan sekolah, mimpi ku bisa aku ciptakan!

***

Setelah aku lulus MTs, aku sampaikan keinginan ku kepada Bapak, Ibu, dan Mas Fadhillah (Kakakku yang pertama), bahwa aku ingin sekali melanjutkan pendidikan ku ke jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu SMA. Maklum saja di Desaku kebanyakan anak buruh tani sekolahnya hanya sampai tamatan SD, begitu juga dengan ke dua kakakku, setelah lulus SD mereka langsung sepenuhnya membantu perekonomian keluarga. Maka ketika aku sampaikan keinginanku untuk melanjutkan pendidikanku ke tingkat SMA, Bapak dan Ibu terkesan menolak, alasan mereka bisa baca-tulis dan berhitung saja sudah cukup, ditambah lagi masalah perekonomian keluarga yang sangat bergantung pada lahan pertanian orang lain, kalau hasilnya bagus kita dibayar dan sekeluarga bisa makan, tapi kalau gagal bisa-bisa kita tidak dipakai lagi di musim panen berikutnya.

“Yang sekolah sampai tinggi itu hanya anak Lurah, anak Pegawai, anak Guru, anak orang gedean, bukan kita, Nak,’ anak Buruh Tani,” kata Bapak sepulang bertani.

“Aku harus sekolah Pak, bagaimanapun caranya. Sebabrahmat Allah tidak akan berhenti bagi orang-orang yang ingin mengubah nasibnya,” jawabku meyakinkan Bapak. Dan akhirnya Bapak-pun setuju.

“Sekolah Nak, berpikiran terus untuk masa depanmu, biar Bapak dan Ibu yang memikirkan biayanya,” kata Bapak yang disambut senyum Mas Fadhillah,

“Jadikan itu ladang jihadmu, Mas akan selalu mendukung semangatmu, semoga nanti bisa menjadi contoh untuk adik-adikmu,” kata Mas Fadhillah yang duduk mendekat dan menepuk-nepuk pundakku.

***

Aku pernah ditertawakan oleh Pak Lurah, ketika aku katakan bahwa aku ingin sekali menjadi seorang ilmuwan. Ketika aku, Bapak dan Ibu datang ke rumah Pak Lurah untuk pinjam uang untuk biaya masuk SMA Negeri satu, Sekolah unggulan yang letaknya cukup jauh dari Desaku.

“Hahahahahaaaa Ilmuwan? Mimpi kamu!” Kata Pak Lurah yang tidak aku masukkan ke hati, “Lagi pula SMA satu itu jauh dari sini, kamu harus berangkat subuh, kuat opo? Wong penyakit bengekmu belum sembuh,” lanjutnya.

“Insya Allah, aku kuat Pak Lurah,” balasku, yang membuat Pak Lurah berdiri mengambil uangnya sejumlah yang aku pinjam.

“Terima kasih, Pak Lurah,” kataku.

“Yo wis, ingat! Ojo, ngecewake uwong tuomu,” pesan Pak Lurah kepadaku.

***

Dengan izin Allah SWT, akhirnya aku bisa masuk SMA favorit, meskipun biaya masuknya harus mengorbankan upah Bapak dan Ibu selama sebulan, untuk membeli seragam dan perlengkapan sekolah, terkecuali tas dan sepatu. Aku masih memakai sepatu bola hasil pemberian teman Mas Fadhillah dan untuk tasnya aku menggunakanplastik kresek yang aku modif menjadi tas dengan mengikatkan tali rapiah pada ujung pegangnya. Jujur pada hari pertama sekolah aku merasa malu, tapi pada hari berikutnya, aku sudah kebal dengan bullyan mereka.

“Apa ada yang salah dengan tasku? Apakah ini dosa? Apakah ini sebuah aib? Hidup tidak hanya untuk mendengar, melihat dan mengikuti pikiran kalian, tapi juga harus bicara, berpikir dan bertindak, untuk menentukan apakah ini salah?” kataku yang membuat mereka terdiam.

***

DiSMA Negeri satu, aku memang kerap sekali dapat bullyan dari teman-teman kelasku sendiri ditambah lagi penyakit asma yang aku derita, membuat mereka enggan untuk dekat denganku, takut bengeknya nular, katanya. Itu memang menyakitkan, tapi tak ku masukkan dalam hatiku, karena bagiku, aku bersekolah untuk menciptakan mimpiku, bukan menampung perkataan-perkataan konyol mereka.

Setiap jam istirahat sebisa mungkin aku gunakan waktuku untuk belajar, mengulang semua pelajaran yang telah disampaikan oleh guru-guruku, terutama matematika, fisika dan kimia, supaya aku cepat paham maksud dari rumus yang disampaikan.

Sepulang sekolah aku harus pergi ke pasar membantu Ibu jualan emping atau mencari rumput gajah untuk kujual ke peternak sapi, lumayan uangnya bisa buat bayaran sekolah, karena satu karung rumput dihargai Rp 500,- kalau setiap hari aku bisa kumpulkan uang Rp 500,- sebulan sudah Rp 15.000,- bisa buat bayaran sekolah dan sisanya  kutabung untuk persiapanku kuliah nanti.

Malam harinya aku harus belajar mengaji, kalau ga ngaji, Ibu dan Bapak bisa marah besar! Karena menurut mereka sebanyak apapun ilmu yang kita dapat di sekolah, ilmu agama tetap nomor satu! Ilmu agama itu penyeimbang dan penuntun ilmu dunia. Karena jika kita tidak mengerti agama, kita akan dibutakan oleh dunia.

***

Seperti kebanyakan anak remaja pada umumnya, aku-pun pernah merasakan yang namanya jatuh cinta pada masa-masa SMA.

Aku jatuh cinta pada teman terbaikku waktu di SMA. Namanya Ningsih Indah Pratiwi. Ningsih Indah Pratiwi adalah seorang anak pedagang kelontong dari desa tetangga, orangnya manis, cantik, baik hati, pintar dan cerdas. Teman paling mengasyikkan untuk di ajak berdiskusi masalah pelajaran. Hampir setiap hari aku dan Ningsih menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah, untuk mencari data-data tambahan dalam penulisan karya ilmiah tingkat SMA, yang nantinya bisa menjadi jalanku dan Ningsih untuk mendapatkan beasiswa. Beasiswa yang tentunya dapat meringankan bebanku saat kuliah nanti.

BEASISWA SAYA TURUN TIGA HARI SETELAH KAKAK SAYA (MAS FADHILLAH) MENINGGAL DUNIA AKIBAT TERSAMBAR PETIR WAKTU MENGGARAP SAWAHNYA PAK LURAH, PADAHAL TIGA HARI LAGI MAS FADHILLAH MAU MENIKAH DAN TIGA HARINYA SEBELUM MENINGGAL, MAS FADHILLAH BERPESAN KEPADA SAYA SETELAH SALAT SUBUH BERJAMAAH DI MUSHALLA DEKAT RUMAH.

“Yang namanya laki-laki Jawa itu harus ulet pada pekerjaan, teguh pada pendirian, keras pada pemikiran, tetapi harus tetap bisa menerima pada kenyataan sepahit apa-pun dan santun pada setiap perkataan. Jalani TAKDIR dalam semangatmu.”

***

”Semua kejadian saat itu serba tiga hari? Apakah itu sebuah kebetulan? Ataukah sebuah takdir Tuhan? Seperti kenyataan yang mesti aku terima pada penyakit yang sudah lama akuderita ini? Apapun kesan sedih yang terjadi! Aku harus tetap bersemangat! Air mata bukan penghancur harapan, tapi pendobrak ketidak-mampuan! Hidup itu harus tetap bersemangat! Dan tidak menyerah, itu adalah harapan! Jangan menunggu atau mencari keberhasilan! Keberhasilan itu tidak ada yang menghampiri dan tidak ada yang bisa menemukan! Karena keberhasilan hanya bisa kita ciptakan!” kataku yang mencoba untuk tetap tegarmeski tak sanggup menahan tangis di depan batu nisan Mas Fadhillah.

***

Syukur Alhamdullilah, EBTA – EBTANAS di akhir sekolah sangat memuaskan. Nilai ijazahku di atas rata-rata, yaitu: 98,75 dan NEM ku: 48,75 dari lima mata pelajaran yang diujikan di kelas A1 Fisika. Ningsih menjadi urutan ke-tiga di sekolah dengan nilai rata-rata ijazah: 85,75 dan NEM: 40,00. Satu tingkat di bawah Hendro anak dari seorang guru Matematika di kelas A2 Biologi. Meskipun aku tidak termasuk 10 besar Nasional, tapi nilaiku itu sudah cukup berarti bagi hidupku. Setidaknya aku bisa membuktikan bahwa anak Buruh Tani itu layak untuk bersekolah! Dan bercita-cita tinggi! Tapi mengapa masih ada saja orang yang tidak percaya pada kemampuan anak seorang Buruh Tani, seperti Pak Lurah misalnya, yang menganggap bahwa hasil Ujian Akhir Sekolahku adalah hasil yang tidak murni, yang dihasilkan dari sebuah kecurangan, yaitu mencontek! Ini sebuah hinaan yang sangat luar biasa bagiku, tapi apa boleh buat? Aku harus tetap bersabar, karena Bapak dan Ibuku penghasilannya berasal dari menggarap sawahnya Pak Lurah dan aku bisa melanjutkan sekolah ke SMA itu-pun karena pinjaman uang dari Pak Lurah.

“Bagaimanapun pedihnya kata-kata yang menyakitkan hati itu, aku harus selalu tetap bersabar, toh pastinya Allah SWT tahu, siapa yang berhak menjadi pemenangnya, nanti! Karena sabar adalah ciri khas mahluk berakhlak dan pemikir masa depan!” Kata hatiku yang mencoba menyemangati.

***

Menjelang pendaftaran SIPENMARU, adikku yang paling kecil (Abdul Kadir Jaelani). Terjangkit penyakit demam berdarah dan harus segera dibawa ke rumah sakit, untuk rawat inap selama 4 minggu. Semua tabungan Bapak, Ibu, Aku dan Mas Rahmat (Kakak ke-duaku) habis tanpa sisa untuk biaya perawatan Kadir di rumah sakit. Itu-pun masih kurang, Bapak dan Ibu terpaksa pinjam uang lagi ke Pak Lurah. Alhamdulillah Pak Lurah tidak hanya meminjamkan uang, tapi juga turut membantu pembiayaan pengobatan Kadir di rumah sakit. Meskipun kadang kata-katanya menyakitkan, tapi Pak Lurah masih tetaplah seorang manusia desa yang masih memiliki hati dan rasa empati. Meskipun kadang kesombongan terhadap harta dan kedudukan kerap sekali ia tonjolkan disetiap kata, gaya dan penampilannya.

Di Desa, rasa empati dan saling membantu itu akan selalu tetap ada, karena agama, adat dan budaya masih mengikat kuat sendi-sendi kehidupan masyarakat Desa. Itulah istimewanya orang Desa dibandingkan dengan orang di kota besar yang kebanyakan individualis.

***

Ningsih kecewa aku tidak ikut SIPENMARU, begitu juga dengan para guru, tapi setelah aku jelaskan apa yang terjadi, mereka-pun mengerti dan ikut membantu biaya pengobatan Kadir di rumah sakit. Alhamdulillah, setelah 4 minggu di rawat rumah sakit, Kadir diperbolehkan pulang ke rumah, tapi dengan satu syarat Kadir tidak lagi diperbolehkan membantu Bapak dan Ibu menggarap sawah, sebab pembuluh darah di lengan kirinya pecah dan harus dioperasiwaktu pertama kali tiba di rumah sakit. Kata dokter.

”Untungnya tiba di rumah sakitnya lebih cepat! Karena kalau tidak? Nyawanya sudah tidak bisa tertolong lagi,” semua keluargaku yang mendengar penjelasan dokter jaga langsung melakukan sujud syukur di ruang rumah sakit, tanpa memerdulikan orang-orang yang berlalu lalang di dekatnya.

***

Tujuh bulan kemudian, Mas Rahmat menikah dengan Mba Sulastri (Calon istri almarhum Mas Fadhillah). Secara otomatis tulang punggung untuk membantu perekonomian keluarga dipegang olehku, anak ke-3 dari 6 bersaudara, yang semuanya laki-laki dan harus tetap bersekolah! Aku selalu tanamkan kepada adik-adikku, betapa pentingnya dunia pendidikan, oleh karena itu apapun yang terjadi, sekolah harus tetap berjalan.

”Pendidikan itu adalah kunci yang membukapintu masa depamu,tanpa pendidikan kita hanya setumpuk daging yang berjalan dan siap untuk membusuk,maka dari itu mencari ilmu adalah sebuah kegiatan yang sangat mulia, bahkan Rasul menganjurkan kita untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya, sejauh-jauhnya sampai ke Negeri Cina,” aku tanamkan kata-kata itu ke adik-adikku, supaya mereka tetap bersekolah dan semangat untuk melawan keterbatasan.

***

Selepas pesta pernikahan Mas Rahmat dan Mba Sulastri, malam harinya, Bapak dan Ibu memanggilku untuk bicara enam mata di dapur, yang saat itu masih dipenuhi piring-piring dan gelas-gelas kotor bekas pesta pernikahan yang belum sempat akucuci. Bapak dan Ibu menyarankanku untuk tetap fokus melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah, dan untuk masalah sekolah adik-adikku, biar Bapak dan Ibu yang akan mengurusnya. Bapak dan Ibu ingin sekali aku bisamenjadi contoh buat adik-adikku nanti (Nuryadi Abdullah, Burhan Ibrahim dan Abdul Kadir Jaelani). Kata Bapak: ”Status Sosial kita harus berubah, karena perubahan ke arah yang lebih baik itu, mulia dimata Allah SWT.”

Untuk persiapan menghadapi SIPENMARU di tahun depan aku harus lebih banyak lagi belajar dan mengumpulkan uang. Di pertengahan tahun 1985 aku menjadi pelayan Hotel di Kawasan Candi Borobudur, gajinya cukup lumayan, tapi sayang waktu belajarku banyak yang tersita, akhirnya setelah 3 bulan bekerja, aku memutuskan untuk mengundurkan diri dan berwiraswasta sendiri di sekitar kawasan Masjid Agung Magelang, dengan berjualan buku-buku agama. Hasilnya memang tidak seberapa, tidak sebanyak waktu menjadi pelayan Hotel, tapi tingkat kepuasanku dalam belajar, terpenuhi. Karena bagiku belajar itu lebih penting. Dari belajar kita bisa temukan apa yang kita inginkan.

***

Sejak aku berjualan buku-buku agama di areal Masjid Agung Magelang, Ningsih kerap sekali menemuiku, hampir setiap hari Sabtu dan Minggu (saat libur kuliah) Ningsih menemuiku, dia selalu memberikan semangat dan dukungan kepadaku untuk tetap fokus pada persiapanku menghadapi SIPENMARU.

Bulan Desember adalah bulan terakhirku menemui Ningsih, saat itu penampilannya sudah sangat berubah 180 derajat. Sebuah perubahan yang sangat total dan cepat di mataku. Ningsih datang menemuiku dengan mengenakan pakaian berjilbab yang sangat panjang dan lebar. Kata-kata terakhirnya yang aku ingat adalah.

”Man, aku tidak bisa lagi menemui kamu, karena tidak pantas seorang muslim yang bukan muhrimnya bertemu, meskipun itu dilakukan di areal Masjid. Ini ada Al-Qur’an untukmu hadiah dariku, sering-sering dibuka ya, jangan lupa dibaca juga bersama artinya,” dia memberikanku sebuah Al-Qur’anbersampul perak.

Di sela-sela kata-kata terakhir itu, aku beranikan diri untuk ungkapkan cinta, tapi sayang balasannya hanya Astaghfirullah, berulang-ulang kali dari bibirnya.

”Maaf Man, kata-kata itu adalah berhala! Dan tidak pantas kau ucapkan!” Ningsih-pun pergi dan berlalu tanpa kata selain Astaghfirullah berulang kali dari bibirnya.

***

Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Ningsih, dan aku-pun tidak tahu apa-apa? Yang aku tahu hanya detak jantungku yang bertubi-tubi yang mendorong kuat suara hati untuk bicara, “Aku mencintaimu Ningsih.”

DISEPERTIGA MALAM AKU PANJATKAN DOA KHUSUS UNTUK NINGSIH DAN TANPA SADAR AKU  MENETESKAN AIR MATA DI UCAPAN DOA YANG TERAKHIR. AKU BENAR-BENAR TELAH JATUH HATI KEPADAMU, NINGSIH.

Hari-hariku menjadi sangat sepi tanpa Ningsih, tanpa senyumnya, tanpa mata lentiknya, tanpa lesung pipinya. Mungkin benar kata Ningsih kalau cinta adalah sebuah berhala, tapi kenapa Allah SWT menciptakan itu?

***

Aku adalah penentu hidupku, aku harus selalu bersemangat, Meskitanpa Ningsih,bersama sesuatu yang pernah membakar semangatku, yang kusebut itu,cinta!

Akhir Bulan Januari aku bertemu seorang Bapak, seorang Guru dari salah satu SMP Negeri di Semarang, yang baru saja menjenguk anak pertamanya yang bersekolah di ”STM NEGERI MAGELANG.” Bapak itu menyuruhku untuk mencoba tes masuk AKABRI – AD (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia – Angkatan Darat). Awalnya aku ragu karena penyakit asma yang kuderita selama ini. Tetapi menjelang beduk subuh setelah aku Salat Istikharah, tanpa sengaja aku menemukan selebaran brosur tentang syarat pendaftaran menjadi calon seorang Taruna AKABRIAngkatan Darat, di serambi Masjid, yang aku anggap itu sebuah pertanda bahwa Salat Istikharahku telah dijawab oleh Allah SWT. Tuhan semesta alam.

Di pertengahan Bulan Februari dengan restu dan doa kedua orang tuaku, aku beranikan diri untuk mendaftarkan diri menjadi seorang Taruna, dan tanpa diduga-duga aku lulus test tanpa terganjal sedikitpun. Bahkan penyakit asma yang kuderita dari kecil tidak terdeteksi sama sekali, itu artinya aku sehat dan sembuh 100%.

”SUBHANALLAH! RAHMAT ALLAH MENYERTAI ORANG-ORANG YANG TIDAK MAU MENYERAH!” Tapi sayang, Ningsih tidak menyaksikan kebahagiaan ini.

***

Pada malam harinya setelah aku resmi menjadi Siswa Taruna AKABRI – AD, Pak Lurah dan Bu Lurah beserta ke-tiga anaknya yang semuanya sudah berkeluarga datang ke rumah untuk mengucapkan selamat atas dilantiknya aku menjadi Siswa Taruna AKABRI – AD.

”Maafkan Bapak ya, Nak, selama ini Bapak telah banyak meremehkan kamu. Bapak bangga sama kamu! Kamu orangnya tegar dan juga tekun! Tidak seperti kebanyakan orang jawa yang mudah nrimo pada kenyataan,” kata Pak Lurah memeluk erat tubuhku, karena banggadi Desanya ada seorang anak yang lulus test masuk menjadi seorang Taruna.

Memang tidak bisa dipungkiri, biaya untuk pengurusan berkas kelengkapan calon siswa, dan pulang-pergi saat aku mengikuti test, adalah uang yang dipinjamkan Pak Lurah kepadaku lewat perantara kedua orang tuaku. Pak Lurah juga yang tidak pernah bosan-bosannya mengingatkanku untuk selalu melakukan Shalat Hajad dan Tahajud sampai seleksi penyaringan AKABRI – AD selesai, setelah Pak Lurah sadar bahwa aku seorang anak laki-laki yang tidak bisa diremehkan semangatnya.

Kini kisah itu sudah 4 tahun berlalu dan tinggal menghitung hari lagi aku menunggu pelantikanku menjadi Perwira Pertama Angkatan Darat berpangkat Letnan Dua di Istana Negara. Tapi di tempat ini, di rumah Allah ini, aku belum juga menemui Ningsih. Aku terus berdoa untuk segera bisa bertemu dengannya, seorang gadis manis yang sangat dan amat kucintai.

Sebelumnya juga, aku pernah beranikan diri untuk mencari Ningsih ke kampusnya dengan seragam kebanggaanku sebagai Siswa Taruna AKABRI Angkatan Darat berpangkat Sersan Mayor Taruna, tapi sayang Ningsih belum juga aku temukan, bahkan aku pernah datang kerumah Ningsih, tapi rumah Ningsih sudah kosong dan tidak berpenghuni lagi. Informasi yang akudapatkan dari tetangganya-pun tidak jelas, ada yang mengatakan kalau Ningsih dan keluarganya telah pindah ke Banjarmasin, tapi ada juga yang mengatakan kalau Ningsih dan keluarganya telah pindah ke Jakarta. Tidak ada satu-pun lembaran alamat atau kata yang bisa membawaku menemuinya.

***

Sampai saat ini-pun Ningsih tidak pernah tahu kalau aku telah dilantik menjadi seorang perwira pertama Angkatan Darat. Ingin rasanya memperlihatkan seragam gagah ini kepadanya, seragam kebanggaan para Perwira, yang tidak semua orang mudah untuk dapat meraihnya. Inilah takdirku.

”UNTUKMU NINGSIH, AKU MASIH MENUNGGUMU DI SINI, DI MASJID AGUNG YANG ISTIMEWA INI.” []

Malam, 12 Juli 1998. Aku menulis.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top