Pustaka

Penyair atau Penulis Itu tidak Dikenal!

DENGAN pede-nya saya masuki sebuah kafe yang dipenuhi kaum milenial, mahasiswa, anak-anak muda yang cantik-cantik, ganteng-ganteng, dan menebarkan aroma wangi ke segala penjuru ruangan.

‘Saya ini penyair, sering nulis di koran, dan terutama di Facebook. Masa sih pengunjung kafe tak ada yang kenal saya?’ pikir saya jumawa.

Tapi, apa lacur. Saya celingak-celinguk mencari-cari muka yang ramah, bibir yang tersenyum, dan suara yang menyapa saya. Dari lantai 1 ke lantai 2, naik ke lantai 3, dan akhirnya kembali ke lantai 2.

Tak seorang pun tahu saya!

Saya ambil kursi, duduk, meletakkan buku di meja, dan memesan kopi. Sembari menungggu saya pura-pura membaca buku. Ya, pura-puralah karena buku yang saya bolak-balik buku karangan saya sendiri.

Kopi datang, saya teguk sembari berharap ada yang tiba-tiba mengenal saya. Lalu mengajak saya mengobrol.

Tapi, sampai kopi tandas, saya tetap merasa sendiri di kafe ini.

Masa sih saya mesti mengajak salah seorang pengunjung kafe berkenalan. Emang, saya cowok apaan? Hehee…

Situasi yang sungguh tidak menyenangkan. Saya percepat acara ngupi dan segera berlalu dari situ.

Kesimpulannya, jadi penyair atau penulis itu tak dikenal. Bukan begitu, Dahta Gautama?

Tabik. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top