Sosok

In Memoriam Mohammad Ridwan

INNALILLAHI WAINNA ILAIHI RAJIUN. Seorang sahabat, Mohammad Ridwan telah mendahului kita menghadap ke hadirat Ilahi pada Kamis, 17 Juni 2021 pukul 19.10 di RS Universitas Indonesia, Jakarta. Komentator Olahraga dan mantan Pemimpin Umum Surat Kabar Mahasiwa Teknokra Universitas Lampung ini tak kuasa melawan Covid-19 yang menjangkiti, Semoga amal ibadahnya diterima Allah Swt. dan dosanya diampuni-Nya.

Mohammad Ridwan (Facebook)

Betapa kagetnya saya menerima kabar ini dari Hardy Hermawan, sesama alumnus FISIP Unila semalam. Ada rasa nyeri di dada mengingat sosok Iwan, begitu panggilan akrab Mohammad Ridwan.  

Saya coba menuliskan sekadar mengenang almarhum. Tapi, tak juga bisa. Tapi, tiba-tiba saya ingat sebuah email tertanggal 2 Oktober 2010 dari Iwan untuk buku revisi Teknokra: Jejak Langkah Pers Mahasiswa (Pustaka LaBRAK dan Teknokra, 2010) yang saya dan Budisantoso Budiman editori. Sayangnya, edisi revisi buku dimaksud tak terealisasi, sehingga tulisan ini tak termuat.

Sebagai ingatan, berikut tulisan Mohammad Ridwan tersebut.

TEKNOKRA, SEBUAH WADAH INVESTASI ILMU DAN MASA DEPAN

Oleh Mohammad Ridwan[1]

SEORANG mahasiswa baru Universitas Lampung bertanya tentang aktivitas kampus yang kemungkinan akan digelutinya di luar bangku kuliah. Visinya bagus, dia ingin menjadi ‘mahasiwa plus’ yang kelak siap menghadapi dunia nyata selepas wisuda.

Dalam pikirannya, dunia sesungguhnya adalah dunia di luar bangku kuliah, yakni dunia kerja. Sementara kampus hanya untuk bekal  menyongsong masa depan yang ‘mungkin’ tidak pasti seiring ketatnya persaingan di dunia kerja. Dan, itu dikuatkan dengan masukan-masukan orang-orang dekatnya untuk berbuat lebih di kampus, bukan sekedar menjadi mahasiswa yang datang ke kampus, belajar, dan pulang ke rumah atau tempat kost.  

”Saya tak mau hanya berkutat dengan studi-studi di fakultas. Saya ingin punya nilai lebih dibanding mahasiswa-mahasiswa lain yang kuliah di sini. Saya ingin punya aktivitas lain yang bisa mendukung kemampuan akademis saya demi menyongsong dunia sesungguhnya,” ujar sang mahasiswa.

Pencarian pun mulai dilakukan. Sang mahasiswa bertanya ke sana kemari untuk mengolek informasi paling tepat tentang seluruh aktivitas yang adadi kampus tersebut. Dia tak tidak salah pilih. Dia benar-benar ingin mendapatkan sesuatu yang lebih agar mampu membahagiakan orangtuanya.

Dari sekian banyak aktivitas ekstra dan intrakampus di Universitas Lampung,  sang mahasiswa akhirnya menjatuhkan pilihannya ke Teknokra, sebuah organisasi intrakampus yang bergerak di bidang pers mahasiswa. Dia menilai organisasi intrakampus ini lebih menjanjikan dari semua kegitan kampus lain, disamping ini soal selera.

Faktanya begitu. Setidaknya, ada empat jenis investasi yang sudah dilakukan sang mahasiswa tersebut setelah berkecimpung bersama Teknokra. Pertama, investasi ilmu dan teknologi. Kedua, investasi berorganisasi. Ketiga, investasi leadership. Dan, terakhir  investasi sosial serta kemasyarakatan.

Untuk investasi pertama, hampir seluruh eks Teknokra memiliki kemampuan teknis di bidang jurnalistik. Hal itu diperoleh karena setiap hari mereka melakukan aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan jurnalistik seperti mencari berita, interview narasumber,  membuat tulisan jurnalistik, sampai proses editing dan produksinya.

Jadi, hampir tak mungkin jika aktivis Teknokra tidak mengenal konsep 5W+1H yang biasanya hanya diajarkan di fakultas-fakultas komunikasi. Sebab, Teknokra memang Fakultas Jurnalistik bagi setiap mahasiswa Unila dari berbagai disiplin keilmuan: FISIP, Pertanian, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, MIPA, dan sebagainya.

Dari sisi teknologi, Teknokra juga memberikan pencerahan tentang perkembangan teknologi, sehingga sang mahasiswa tidak ‘butek’ alias buta teknologi.  Mereka mengenal komputer dan program-program aplikasinya mulai microsof office (sampai Windows 7), program grafis seperti page maker (yang kini mulai ditinggalkan) sampai Corel Draw.

Tak kalah penting, dunia maya juga mulai menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas di Teknokra. Terbukti, muncul website dan adanya milis Teknokra. Semua ini jadi bukti bahwa Teknokra memberikan tambahan ilmu dan pengetahuan kepada para anggotanya, sehingga mereka akan siap ketika menghadapi dunia nyata.

Faktanya, banyak eks aktivis Teknokra yang kini bekerja sebagai jurnalis, baik di surat kabar lokal maupun nasional. Ada yang menjadi wartawan tulis, ada juga yang bekerja di bagian produksi. Bahkan, banyak juga yang telah menjadi pimpinan-pimpinan di perusahaan persnya. Sebut saja Pemred Teknokra (1991-1992), Budiman Santoso kini menjadi Kepala Biro Antara Sumatera Selatan,  Pemimpin Usaha Teknokra (1989-1991) Machsus Thamrin kini menjadi produser peliputan di ANTV, Pemred Teknokra (1993-1994) Zulkarnain Zubairi kini Redaktur Harian Umum Lampung Post. Semua ini bukti salah keberhasilan transformasi keilmuan di Teknokra.

Investasi kedua yang ditanamkan para mahasiswa Unila dengan menjadi aktivis Teknokra adalah ilmu berorganisasi. Mereka belajar berorganisasi, belajar memenej diri, dan mengelola rekan-rekan aktivis lainnya dalam sebuah lembaga terstruktur.

Dalam konteks ini, Teknokra bak perusahaan yang harus dikelola secara benar agar roda organisasi bisa berjalan lancar. Apalagi, di Teknokra juga ada manajemen keuangannya. Tanpa metode sistematis, tak mungkin Tabloid Teknokra bisa diterbitkan rutin meski faktor dana juga sangat penting . Tanpa sistem yang benar, tak mungkin  pula aktivitas-aktivitas lain bisa dilakukan di organisasi intrakampus ini. Termasuk, upaya mendapatkan dana baik dari iklan maupun  dari pendapatan-pendapatan lainnya.

Bagi sebagian aktivis, Teknokra benar-benar sebagai organisasi eksperimen.  Mereka belajar berorganisasi, memenej, dan berkolaborasi dengan pihak lain. Hasilnya memang luar biasa. Banyak di antara eks aktivis Teknokra yang mampu mendirikan perusahaan. Sebut saja, Siti Asmah, kini menjadi pemilik Asma Ratu Agung, perusahaan yang bergerak di bidang konsultan kesehatan. Begitu juga mantan Pemred Teknokra (1987-1989), kini mendirikan perusahaan Konsultan Media dan  Politik Alta Communication.

Investasi ketiga adalah leadership. Sebagai organisasi kader, Teknokra banyak  melahirkam pemimpin-pemimpin tangguh, baik di bidang keilmuannya maupun interdisipliner.  Sebut saja, Muhajir Utomo pernah menjabat  Rektor Univertas Lampung. Begitu juga M Thoha B. Sampurna Jaya, pernah menjadi Pembantu Rektor Universitas Lampung. Selebihnya, banyak yang berkarya sebagai dosen maupun Pegawan Negeri Sipil, baik di lingkungan Unila maupun di luar Unila. Bahkan, ada juga yang menjadi pimpinan di perusahaan-perusahaan swasta lain di Indonesia.

Ini hasil nyata dari proses pengkaderan yang dilakukan di Teknokra. Sebab, selama menjadi aktivis, mereka  terus digen jot untuk menjadi calon-calon pemimpin lewat kegiatan-kegiatan yang dilakukan di organisasi kampus ini. Sebut saja mereka menjalani pendidikan dan latihan jurnalistik mulai tingkat dasar sampai tingkat lanjut, baik yang digelar di UKM Teknokra maupun yang diselenggarakan universitas-universitas lain di seluruh Indonesia.

Belum lagi saat menggelar event, Teknokra pastinya memberikan kesempatan kepada semua aktivis untuk terlibat dalam kepanitiaan. Ini proses pengkaderan yang sangat nyata di Teknokra untuk mendapatkan calon-calon pemimpin masa depan. Karena itu, memilih beraktivitas di Teknokra adalah sebuah good decision meski sebagian juga melengkapi kemampuannya dengan berorganisasi di organisasi intrakampus lainnya seperti Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) atau Senat Mahasiswa  Fakultas dan Universitas.

Investasi terakhir adalah investasi sosial dan kemasyarakatan. Teknokra bukan hanya menjadi wadah mencari ilmu jurnalistik, ilmu berorganisasi, dan belajar perkembangan teknologi. Teknokra juga mengajarkan seni kekeluargaan dan kemasyarakatan. Wajar jika para aktivis Teknokra mampu berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Terpenting, ikatan kekeluargaan begitu kental  di antara para aktivis dan alumni.  

Sebagai alumnus Teknokra, saya mendapatkan keempat manfaat tersebut. Bahkan, bukan hanya kemampuan teknis yang bisa diraup dari pergaulan di organisasi itu, juga kebanggaan dan pengakuan. Faktanya, aktivis Teknokra bukan hanya diakui di level fakultas dan universitas, juga nasional. Terbukti, banyak aktivis Teknokra yang memangku jabatan di kepengurusan pers mahasiswa Indonesia seperti PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Dan, itu berlangsung terus menerus.   

Jadi, Teknokra benar-benar wadah yang sangat bermanfaat bagi para mahasiswa.  Teknokra adalah salah satu wadah ilmu dan masa depan mahasiswa. Karena itu, Teknokra menjadi pilihan yang tepat bagi mahasiswa yang ingin menjadi mahasiswa plus. Apalagi, Teknokra turut membantu membangun kararakter mahasiswa yang mandiri dan berdaya guna. []

Jakarta, Oktober 2010     

BIODATA
Nama                           : Mohammad Ridwan
Tempat/tanggal lahir: Sukabumi, 8 Januari 1972
Pendidikan                  : S1 Ilmu Pemerintahan FISIP Unila Pekerjaan                     : Wartawan
Alamat                          : –

PENGALAMAN ORGANISASI KAMPUS

  1. Pemimpin Umum/Ketua UKM Teknokra (1995-1996)
  2. Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Pemerintahan (1994-1995)
  3. Sekretaris Umum Badan Perwakilan Mahasiswa FISIP (1992-1993)

PENGALAMAN PEKERJAAN

  1. Redaktur Senior Harian Seputar Indonesia (2005-2010)
  2. Asisten Redaktur  Tabloid GO (1998-2005)
  3. Freelance di Lampung Post (1995-1996)
  4. Komentator olahraga di Global TV, RCTI, TPI, dan Vision1 Sports Indovision (2002-2010)

[1] Pemimpin Umum/Ketua Umum Surat Kabar Mahasiswa Teknokra (1995-1996)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top