Human

Anak-anak Inspirasi Melahirkan ‘Anak Rohani’

Anakku permataku. Saya ngakak mendapati tema ini. Bukan apa-apa. Senyatanya, dalam keluarga besar saya ada tiga nama Permata. Pertama, ayah saya, Zubairi Hakim yang ber-adok (bergelar adat) Batin Permata. Lalu, dua menantu perempuannya: istri saya dan istri Iwan, adik saya, bernama belakang Permatasari. Jadilah, kami Keluarga Permata. Tak semata Anakku Permataku. Hahaa…

Itu intermeso saja. Begini ceritanya, …

***

UYUNG (bayi) diopname di RS Advent. Begitu kabar yang saya dapatkan dari istri di Bandar Lampung.

Ya, Allah. Kasihan anak saya, Muhammad Aidil Affandy Liwa, yang lahir di RS Advent, 28 Oktober 2006 bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, baru berusia 19 hari, terpaksa harus masuk rumah sakit.

Saya baru beberapa hari tiba di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah setelah menunggu kelahiran anak pertama saya ini yang bertepatan dengan 5 Syawal 1427 H – sesuai namanya Aidil. Awalnya Ren mau melahirkan di RSB Sartika, tetapi kemudian dirujuk ke RS Advent. Dan, lahirlah Aidil di RS Advent.

Betapa kalang kabutnya saya yang jauh. Saat itu bersama teman-teman Media Group, kami tengah merintis penerbitan Harian Borneo News.  Untuk sampai ke sini, mesti dua tiga pulau terlampaui. Waktu itu, tak ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Pangkalan Bun.  Terbang dari Bandara Iskandar, Pangkalan Bun transit dulu di Semarang baru ke Jakarta. Dari Jakarta menuju Lampung.

Saya lapor ke kantor mesti pulang ke Lampung. Saya tidak ingin terjadi apa-apa dengan anak saya.  

Menengok ke rumah sakit, betapa mengenaskan, bayi merah, anak saya lemah terbaring dengan infus terpasang. Jagoan dia. Dia tidak menangis. Sesekali ia meringis saja sembari menggeliat.

“Dilihat-lihat ya. Jangan sampai infusnya dia tarik,” wanti-wanti suster.

Tapi, Aidil anak pintar. Ia sama sekali tidak merasa terganggu dan mengusik selang dan jarum yang menusuk tangannya untuk mengalirkan cairan ke tubuhnya.  Di tangan sebelahnya sudah ada bekas tusukan jarum infus.

Saya menatapnya dengan iba. Tapi, Aidil kelihatan tabah, walau sesekali meringis.

Aduh, bayi-bayi sudah harus ditusuk-tusuk jarum infus.

Alhamdulillah, Aidil sehat dan bisa pulang. Dan, saya pun kembali ke Pangkalan Bun. Aidil dan mamanya tetap di Bandar Lampung.

Namun, beberapa hari di Pangkalan Bun, Aidil masuk rumah sakit lagi.  Dengan izin khusus, saya ke Lampung lagi.

Belum lagi dua bulan umur Aidil, dia sudah harus empat kali keluar-masuk opname rumah sakit. Entah berapa puluh tusukan jarum infus ia terima. Tak cukup di tangan kiri-kanan, kaki pun ditusuk untuk infus.

Menangis dan meringis seperti tak beda tanpa bisa berkata-kata – tepatnya, belum bisa bicara. Saya, Ren,Om, Tante, dan orang-orang yang mengasihinya hanya bisa mencoba menebak-nebak apa yang ia rasakan.

Kata dokter yang merawatnya, Aidil alergi susu sapi. Penyebab sakitnya,tidak lain karena salah susu. Karena itu, sebisanya Aidil diberi susu soya, susu kedelai. Alhamdulillah, setelah itu Aidil sehat-sehat saja.

Pernah sekali, Aidil sakit panas dan tidak mau makan. Maka, terburu-buru saya pulang ke Lampung. Begitu saya pulang dan menengoknya, ia langsung memanggil, “Ayah!” Mukanya berbinar-binar sembari menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. Sembuh!

Oh, Aidil hanya sakit karena kangen saya, ayahnya.

Umur delapan bulan, Aidil dan mamanya saya ajak ke Pangkalan Bun. Tak bisa sering-sering pulang ke Lampung. Paling hanya menjelang Lebaran saja, pulang ke Bandar Lampung, terus ke Liwa, Lampung Barat menengok  Datuk dan Andungnya di sana.

***

Akan halnya Raihan Herza Muzakki Liwa, anak saya yang kedua, usianya baru dua bulan di dalam kandungan ketika saya antar mamanya pulang ke Bandar Lampung dari Pangkalan Bun. Boleh dibilang ada sebagian benihnya dari air-tanah Kotawaringan Barat. Beberapa bulan kemudian, Januari 2009, saya ditarik untuk bertugas kembali di harian Lampung Post. Raihan lahir, sama dengan Aidil, di RS Advent, Bandar Lampung, 2 Juli 2009.

Ketika balita, sakit tidak, cuma Wan Agung, panggilan Raihan agak sulit makan, sehingga badannya kurus seperti kurang gizi. Tapi, Alhamdulillah, melalui pengobatan alternatif, secara perlahan Raihan mulai lahap makan. Seiring dengan itu, tubuhnya mulai tumbuh subur dan gendut. Raihan ini “Tuah kucing,” kata Uyuk di Liwa. “Tuah kucing” ini maksudnya ketika baru lahir kucing itu kecil-kurus tak ada menariknya, tetapi semakin berumur, badan kucing bagus dengan bulu-bulu yang semakin lebat dan semakin lucu.

Saat saya bersama Aidil dan Agung selalu saja diledek, “Anak siapa sih? Gendut-gendut, cakep gitu. Kok ayahnya kurus kurang gizi?”

Saya cuma tertawa. Ren, istri saya malah meledek, “Iya, kok bisa saya dapat suami jelek kurus lagi.”

Saya pun membalas, “Yang penting saya punya anak-anak ganteng dan istri cantik.” Hahaa…

Sehat terus ya Nak.  Semoga cepat besar dan mencapai cita-cita. Kalian adalah spirit hidup saya. Dari kalian dan mama, saya terus mendapatkan inspirasi untuk melahirkan “anak-anak rohani”.  Ada  “Dasar Anak Kecil, Hehee…” satu bagian berisi beberapa kolom dari buku Ngupi Pai: Sesobek Kecil Ulun Lampung (2019) dan Lunik-lunik Cabi Lunik: Cerita Buntak-buntak Gawoh/Kecil-kecil Cabai Rawit: Cerita Pendek-pendek Saja (2019). Juga, tulisan-tulisan dan buku lain, ada dorongan semangat dari kalian.

Ya, anak-anak saya (dan ibunya) adalah spirit dan inspirasi saya dalam melahirkaan ‘anak-anak rohani”.  []

————-
* Ditulis untuk buku Anakku Permataku yang dieditori Julia Utami, diterbitkan Kosa Kata Kita, Jakarta, 2021

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top