Pustaka

Pariwisata, Sebelum dan Sesudah Korona Datang

SEBELUM korona datang, di awal Januari 2020 Dinas Pariwisata Lampung sempat menyatakan optimisme, provinsi di ujung selatan Pulau Sumatera ini bakal mengulangi kejayaan di tahun 2017 yang mengalami pertumbuhan pariwisata dengan rata-rata 54,5%.

Sangat beralasan. Sebab, berbagai akses transportasi telah terbuka yang memudahkan kunjungan wisatawan. Transportasi itu yang paling nyata adalah keberadaan tol Trans Sumatera yang menghubungkan Palembang dengan Lampung. Lalu, ada pelabuhan eksekutif dan diikuti pula dengan fasilitas dan pelayanan bandara yang lebih baik.

Pemerintah Provinsi Lampung juga telah mengembangkan zona pariwisata. Pertama, zona Bakauheni hingga Kabupaten Tanggamus. Kedua, zona Kabupaten Pesisir Barat hingga Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Ketiga, zona Way Kambas. Pembagian tiga zona diharapkan bisa mendorong pengembangan pariwisata sehingga wisatawan dapat terdistribusi merata ke berbagai destinasi wisata ke berbagai wilayah Bumi Ruwa Jurai.

Sebelum korona datang, dalam sepuluh tahun terakhir, boleh dibilang dunia pariwisata  Lampung bertumbuhkembang secara signifikan. Boleh dibilang, Lampung menjadi pilihan terdekat buat melepas kepenatan di akhir pekan di luar Pulau Jawa dari Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.  Tanpa harus membuka data statistik, ada kecenderungan peningkatan kunjungan ke Lampung, termasuk pertumbuhan hotel dan penginapan dan tingkat huniannya yang terus bertambah.

Ada puluhan tempat (destinasi) wisata yang tersebar di 15 kabupaten/kota di Provinsi Lampung. Sekadar menyebut beberapa di antaranya,  Taman Nasional Way Kambas, Taman Purbakala Pugungraharjo, Pantai Pasir Putih, Teluk Kiluan, Pantai Klara, Pantai Gigi Hiu, Pantai Tanjung Setia, Pulau Pahawang, Danau Ranau, dan Kawasan Suoh.

Beberapa festival rutin diselenggarakan seperti Festival Krakatau, Festival Begawi (Bandar Lampung), Festival Teluk Semaka (Kabupaten Tanggamus), Festival Teluk Stabas (Kabupaten Pesisir Barat), Festival Sekala Brak yang di dalamnya ada pesta Sekura/Topeng Tradional (Lampung Barat), Festival Kopi Lampung Barat, Festival Way Kambas (Kebupatan Lampung Timur), Festival Radin Jambat (Kabupaten Way Kanan), dan Lampung Fashion Week.

Boleh dibilang, dengan melihat potensi dan semangat para pihak terkait, pariwisata Lampung  memperlihatkan perkembangan yang baik.

Sebelum korona datang, sekira tahun 2015-2016 ketika saya masih dipercaya menjadi penanggung jawab halaman opini dan sastra Harian Fajar Sumatera, ada orang Lampung yang kini mukim di Yogyakarta (sebelumnya pernah di Semarang), masih punya perhatian besar dengan tanah kelahirannya, Lampung. Secara rutin, Eko Sugiarto mengirimkan artikel tentang pariwisata dan budaya Lampung.

Saya tentu senang dan selalu gembira memuat tulisannya halaman Opini. Seperti yang pernah saya rasakan ketika sedang bertugas di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah (2006—2009), pandangan terhadap tanah kelahiran terasa lebih jernih dan obyektif. Begitu pula dengan tulisan-tulisan Eko, meskipun sangat santun dan seperti enggan ‘memaki’, terasa tajam menyentil para pihak di sektor pariwisata. Meskipun pendek-pendek untuk menyesuaikan dengan kolom koran, tulisan-tulisannya sangat bagus sebagai masukan bagi pemerintah dan pelaku pariwisata.

Ada puluhan artikelnya yang menyangkut pariwisata daerah dan terutama Lampung yang dimuat di Fajar Sumatera. Saya berpikir, alangkah bagusnya artikel-artikel ini dihimpun dalam sebuah buku. Saya sampaikan apa yang saya pikirkan kepada Eko. Dia bilang, “Ya, bagus juga.” Sudah itu, saya lupa. Saya kira Eko juga tak ingat pula….

Eh, menjelang setahun lebih pandemi Covid-19 dan entah kapan akan berakhir, di akhir Februari 2021, tiba-tiba Eko Sugiarto member kabar akan menerbitkan kumpulan tulisan yang di Fajar Sumatera dulu disertai permintaan kesediaan untuk memberikan pengantar untuk buku ini.

Tentu saja saya sambut dengan gegap gempita. “Wow, keren. Boleh, boleh, Mas,” balas saya.

Meskipun dalam praktiknya, ternyata saya menyelesaikan tugas ini setelah berbilang bulan kemudian.  Hiks, maafkan saya yang lelet ya Mas.

Buku ini yang memuat 24 bab ini sangat lengkap menyoroti beberapa segi pariwisata di Lampung.  Dimulai dengan pertanyaan, apa saja yang menjadi daya tarik wisata Lampung, bagaimana sebaiknya promosi wisata, dilema daya dukung wisata,  bagaimana menjadi wisatawan cerdas, risiko berwisata yang harus diantisipasi hingga pertanyaan quo vadis pariwisata daerah.

Secara khusus Eko juga membahas mudik sebagai wisata nostalgia, duta wisata di masa depan, keberadaan media sosial, soal kearifan lokal, pendapatan asli daerah (PAD) dari pariwisata, sumber daya wisata budaya, kopi Lampung Barat, wisata sungai, wisata ziarah, wisata situs bersejarah, bambu sebagai ikon pariwisata (Pringsewu), kaitan seni dan pariwisata, kuliner dan potensi gastronomi, serta ide menjadikan Bambu Kuning menjadi kawasan seperti Malioboro Yogyakarta.

Di bagian lain, buku ini mengingatkan agar tidak terjabak dalam angka-angka semata dalam  pengembangan pariwisata.  Yang perlu mendapat perhatian dalam pariwisata adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan memperhatikan trend pariwisata di masa depan sangat penting menggagas wadah promosi wisata bersama dan membangun  pariwisata yang terintegrasi.

Meskipun ditulis sebelum korona datang, tetap saja tulisan-tulisan dalam buku ini mempunyai relevansi dengan saat ini, di kala pandemi Covid-19 masih berlangsung dan di masa-masa yang akan datang. Buku ini tetap akan menemukan konteksnya di dunia pariwisata yang masih terus menggeliat. Tentu dengan penyesuaian-penyesuaian semacam protokol kesehatan yang harus diterapkan dalam praktik berwisata.

Jelas, keberadaan buku ini sangat penting bagi semua pihak yang punya perhatian dengan pariwisata di daerah.  Tak sekadar dokumentasi, selayaknya buku ini dibaca oleh para pemegang kebijakan pariwisata, para pelaku pariwisata, dan masyarakat pada umumnya. 

Tabik. []

                                                   Kemiling, Bandar Lampung, Mei 2021

—————-
[1] Kata Pengantar untuk buku Dinamika Pariwisata di Bumi Ruwa Jurai karya Eko Sugiarto (dalam proses terbit)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top