Sosok

Evi Azwari, Majalah Sinar, dan Sugini van Lampung Selatan

INNALILLAHI WAINNA ILAIHI RAJIUN. Seorang lagi mendahului menghadap ke hadirat Ilahi. Adik sekaligus sahabat, Evi Azwari, telah berpulang ke Rahmatullah, Rabu, 19/5/2021 pukul 05.40 WIB di RS OTAK Dr. M. Hatta, Bukittinggi, Sumatera Barat.

Selepas Unila, saya tak ingat apakah kita pernah bertemu lagi. Sudah lama sekali. Tiba-tiba saya mendapati kabar engkau telah tiada. Kelahiran 1974 berarti kau lebih muda empat tahun dari saya.

Ah, izinkan saya mengenang kebaikanmu, semangatmu, humor, dan ketawa lepasmu yang membuat mata sipitmu hampir tenggelam karenanya.

Agustus 1996 saya wisuda. Masih mak jelas (tidak jelas) mau ngapain. Sebagai wartawan lepas Lampung Post Minggu sejak 1995, saya benar-benar lepas. Sampai kemudian 1997, ketemu Bang Djioen (Iman Untung Slamet), senior alumni Teknokra yang meminta saya memasukkan lamaran ke Majalah Berita Mingguan Sinar, Jakarta.

Masih di Liwa ketika saya mendapat telepon dari (alm) Asep S. Sambodja. Begitu saya di Tanjungkarang, saya langsung menghubungi penyair yang jurnalis ini. “Kamu langsung bikin usulan berita,” kata Kang Asep dari kantor redaksi Sinar di Jakarta waktu itu.

Waduh, gimana ini. Meskipun pernah jadi Pemred Teknokra, saya bingung juga. Untung ada Anton Bachtiar Rifai, Pemred Teknokra setelah saya yang duluan menjadi wartawan Majalah Tiras.

Cerita bagaimana saya menjadi jurnalis Sinar, Anton barangkali lebih banyak tahu ketimbang saya sendiri. Dua kliping reportase tentang korupsi bantuan gempa Liwa 1994 dan perang antarkampung di Lampung yang dimuat majalah Sinar adalah contoh hasil liputan saya (sering bareng Anton).

Sekali waktu, kami ada liputan menarik mengenai seorang perempuan yang mengaku menerima wahyu dari Tuhan dan mendapat wangsit dari Bung Karno. Dengan dasar itu, wanita setengah baya bersuami dan beranak ini mengaku sebagai nabi mengajak tetangganya untuk mengikuti ajarannya.

Mencoba menelusuri berita ini, Anton dan saya meluncur ke Tanjungbintang, Lampung Selatan. Lumayan jauh kita mencari dan berulang-ulang bertanya, Sugini tak ketemu. Salah alamat rupanya.

Balik ke kantor… Maksudnya, SKM Teknokra masih kami jadikan tempat berkumpul dan menulis laporan liputan. Hahaa..

Berkeluh-kesah mengenai liputan yang gagal, datang Evi Azwari, mahasiswa Fakultas Hukum Unila yang masih aktif di Teknokra. Ia tahu alamat Sugini. Ternyata dekat saja di Dusun Gedongwani, Kecamatan Jati Agung, Lamsel, tidak terlalu jauh dari Bandar Lampung.

Keesokan harinya, Evi mengantarkan saya dan Anton ke Gedongwani, bertemu Sugini langsung, mewawancarai suami, dan tetangganya sembari melihat ‘dokumen-dokumen’ dan memfofo yang perlu.

Lucu memang kalau ada orang yang mengaku nabi di zaman ini. Tak henti kami terbahak seusai ketemu Sugini.

Majalah Sinar pun memuat liputan saya dengan judul “Sugini van Lampung Selatan”. Sayang, saya tak menemukan lagi kliping beritanya.

Dari sini, saya percaya dengan ketangguhan Evi Azhari dalam melakukan kerja jurnalisme. Tak heran jika dikemudian hari ia sempat menjadi investigator di Divisi Advokasi Komite Anti Korupsi (KoAK) Lampung yang dikomandani penyair Ahmad Yulden Erwin.

Menyelesaikan Magister Konotariatan FHUK Universitas Andalas, Padang, ia berprofesi sebagai notaris/PPAT sampai akhir hayatnya.

Selamat jalan Adik sekaligus rekan kerja yang asyik. Semoga Allah Swt memberimu tempat terbaik di kampung akhirat. Amin. []

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top