Kolom

Bukan Sesuatu yang Instan

BUKU adalah mahkota bagi wartawan, kata Jacob Oetama. Karena itu, saya menulis buku. Ehh, sebenarnya cuma ngumpulin tulisan untuk dihimpun dalam buku.

Mahkota pun diraih. Tapi, media terlepas. Jadilah, saya wartawan tanpa surat kabar…

Tapi, apa pun kerjaan saya, insya Allah profesi saya tetap wartawan. KTP saya telanjur mencantumkan “wartawan” sebagai pekerjaan.

Karena zaman “menuntut” perlunya sertifikasi profesi, ikutlah saya Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ). Jadilah saya pemegang sertifikat wartawan (2014).

Tahun ini, penulis diakui sebagai profesi dalam buku Klasifikasi Profesi Indinesia yang diterbitkan pemerintah. “Asyik. Agaknya mesti ada sertifikasi penulis dong,” spontanitas saja saya berkomentar di postingan FB Ketua Umum Satupena Nasir Tamara yang mengabarkan pengakuan profesi penulis ini.

Rupanya, ini serius. Beberapa waktu lalu, saya menerima KTA Satupena. Selain sebagai tanda anggota, kartu ini berfungsi juga sebagai e-money dan sertifikat profesi penulis.

Jadilah saya juga pemegang sertifikat profesi penulis.

Alhamdulilah, prosesnya dimudahkan. Saya pikir, benarlah Satupena sebagai asoasiasi penulis Indonesia memberikan sertifikat penulis kepada anggotanya. Toh, sebelum menjadi anggota Satupena, seseorang sudah memenuhi kualifikasi untuk dilabeli penulis dan kemudian sah sebagai anggota Satupena.

Menjadi penulis, tentu bukan sesuatu yang instan. Ada proses panjang dan kadang ‘berdarah-darah’ dalam melahirkan tulisan-tulisan dan buku bermutu.

Setua ini, saya baru punya 3 buku puisi, 2 buku cerpen, 1 novel, dan 6 buku nonfiksi. Payah memang saya ini.

Di antaranya terlacak di [klik aja] di
>> Udo Z Karzi: Buku

Tabik.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top