Cerita Pendek

Harga Diri

SUATU ketika saat lagi “galau tingkat dewa” di awal tahun 1990-an, saya “berhasil” membuat cerpen bagus yang bisa saya nikmati sendiri. Soalnya, saya salah kirim ke media yang tidak tepat sehingga tak dimuat.

Ngeles aja! Yang benar, mungkin memang tidak layak muat. Hehee…

Saya sendiri sudah lupa pernah bikin ini cerpen. Sampai kemudian saya temukan di email yahoo yang baru dipulihkan setelah sekian lama tak bisa dibuka.

Sebenarnya malu juga menampilkannya di sini. Tapi, cerita ini rencananya menjadi akan dikembangkan menjadi novel berlatar gerakan mahasiswa 1990-an di Lampung berjudul //Pertemuan//, yang sudah lama terbengkalai.

Ini cerpennya.

HARGA DIRI
Cerpen Udo Z. Karzi

MAMAK Kenut kalut. Mat Puhit yang sedang berbaring di kamar kos sembari mengkhayal menjadi orang kaya, benar-benar kaget mendengar Mamak Kenut bicara ngawur tak karu-karuan. Ia terlonjak kaget dan langsung bangkit dari kasur bulukannya.

“Ada apa sih?” tanyanya.

Tapi Mamak Kenut tidak bicara lagi. Mat Puhit kenal betul karibnya ini. Pasti ada masalah baru lagi. Kasihan Mamak Kenut. Ia baru saja diputus pacarnya.  Di Beringan Cinta Kampus Hijau, Minan Tunja waktu itu bilang, “Mamak, hubungan kita… apa boleh buat… tidak bisa kita teruskan.”

Mamak Kenut kaget setengah mati. Lama ia terdiam. Sulit baginya bicara. “Mengapa Minan ngomong begitu?” tanyanya hampir tak terdengar.

Minan Tunja menjadi tak enak hati. Hampir tujuh tahun ia pacaran dengan Mamak Kenut. Jadi, ia kenal betul siapa Mamak Kenut. Bukan sekadar kulit luarnya, tetapi juga hati dan segenap pikiran Mamak.

Mamak Kenut orang baik. Terlalu baik malah. Tapi, kebaikan saja tak saja cukup untuk bisa bertahan hidup di negeri yang penuh dengan ketidakpastian ini. Dan, Mamak Kenut adalah bagian dari ketidakpastian itu.

Akhirnya, “Mamak, hubungan kita selama ini serius nggak sih?”

Mamak Kenut tak menjawab. Serombongan mahasiswi yang lewat malah ia godain.

“Ya, sudah terserah kaulah. Apa lagi yang harus kukatakan padamu. Kau sudah tahu sendiri. Apa siapa dan bagaimana aku. Engkau punya masa depan sendiri. Aku tak punya masa depan. Jadi, tak usahlah kau hiraukan aku….”

Mamak Kenut terpaksa menghentikan omongannya karena Minan Tunja mulai terisak. “Sudahlah. Baiknya kita pergi dari sini. Nggak enak dilihat orang banyak. Kan malu,” ujar Mamak lembut sembari menghapus air mata  Minan.

“Mamak jahat…. Mamak nggak ngerti perasaan Minan,” ujar Minan Tunja tersendat.

“Bukan begitu. Ayolah, kita pulang. Sebentar lagi sore. Nanti hujan lho,” ujar Mamak lembut. 

Perlu waktu lama untuk mengeringkan air mata. Senja pun turun bersamaan dengan gerimis. Masih terisak, Minan dibimbing Mamak pulang. Sejak hari itu, mereka tak pernah bertemu lagi.

Mamak betul-betul frustasi. Tujuh tahun kuliah masih belum juga selesai-selesai. Bukan karena ia bodoh. Bukan pula karena ia aktivis.     

Tujuh tahun kuliah bukan waktu yang sedikit. Berapa biaya yang dikeluarkan ayahnya yang cuma petani kecil di desa saja, jelas sudah tak terhitung lagi. Kalaulah, ia menghitung itu semua, tentu ia tidak akan menyia-nyiakan waktu. Skripsinya lama terbengkalai mungkin bisa cepat digarap.

Tapi itulah. Ia menganggap gelar sarjana tak terlalu penting lagi. Dulu, waktu pertama kali menjadi mahasiswa, ia bangga sekali. Kuliah di universitas negeri, termasuk barang langka di desanya yang umbul* itu. Ia menjadi kebanggaan sanak-famili di desanya.

Betapa bangganya ayah, ibu, dan adik-adiknya. “Anakku kuliah di sospol. Bisa jadi camat nggak ya?” ujar ayahnya kepada pegawai kantor desa.

Segala daya dan upaya dikerahkan untuk Mamak. Apa pun yang diminta pasti akan diupayakan keluarganya di desa untuk mengadakannya. Biar Mamak Kenut bisa menjadi camat atau minimal peratin-lah, begitu kira-kira pikiran orang tua Mamak.

Maka, tak terbayangkan marahnya ayahnya, ketika Mamak Kenut pulang dan menceritakan kegagalannya –tepatnya ketidakinginannya– meraih gelar sarjana. Ayahnya yang Lampung asli itu tak bisa terima.    

“Jauh-jauh saya sekolahkan bukan untuk jadi penyair. Bak mau itu jadi pegawai negeri. Pegawai negeri itu bagus. Walau gajinya kecil, tapi tiap bulan pasti. Pegawai swasta itu kelihatannya saja yang kaya. Tapi kalau dipecat dari kerja, kan bingung. Kau pikirkanlah.”

Kalimat ayahnya ini berulang-ulang mengiang di telinganya. Ayahnya dan orang kampung pada umumnya memang mengharapkan ia menjadi orang besar. Tapi tidak seperti gajah yang nggak punya otak. Maksudnya, jadi pegawai negeri, menjadi priyayi, menjadi pejabat, menjadi orang hebatlah.

Bagaimana ayahnya tak marah besar. Beberapa bidang tanah dan sawah telah tergadaikan untuk membiayai kuliah Mamak Kenut. Boleh dibilang, keluarganya tak memiliki tanah garapan yang memadai lagi untuk membiayai keluarga besarnya.

“Kau ini benar-benar tak tahu diuntung. Mau enaknya sendiri. Tahu begitu, ngapain Bak sekolahin kau tinggi-tinggi. Adik-adikmu juga butuh biaya. Maksud Bak, kalau kau sudah selesai dan bekerja, kau bisa membantu adik-adikmu. Sebagai anak tertua, adik-adikmu harus kau pikirkan juga. Jangan egois. Sekarang, dengan sarjana tak tamat begitu, kau mau jadi apa? Sekarang ini sulit cari kerja…,” Entah apa lagi yang dikatakan ayahnya, Mamak Kenut tak tahu lagi.

Ia tahu ayahnya bicara begitu karena fiil**-nya sebagai orang tua dilecehkan begitu saja oleh anaknya yang tak tahu diuntung. Sebenarnya, ia masih bisa kembali ke bangku kuliah, segera menyelesaikannya, dan mengajak ayah, ibu, adik-adiknya, dan sanak familinya ke kota untuk menghadiri wisudanya. Dengan bigitu, ayahnya dengan bangga akan berkata, “Anakku kini sarjana. Sebentar lagi jadi priyayi dan nanti mungkin menjadi petinggi.” Ayahnya memang hanya orang kecil yang lugu kalau bukan bodoh. Ia kelewat lurus, sehingga tak mengerti kalau di dunia ini orang baik dan jujur malah paling enak ditipu.

Ya, sebenarnya selama ini Mamak Kenut telah menipu orang tuanya. Ia katakan belajar, tetapi sebenarnya hanya menghabiskan waktu dan umur dengan sia-sia. Ia merasa bersalah, tetapi ia merasa sudah terlanjur basah. Ia telah tersesat. Butuh waktu lama untuk bisa menemukan jalan yang benar.

Sarjana sedikit lagi bisa diraih, tetapi ia merasa tak terlalu perlu menggapainya. Ia sudah menyimpulkan itu begitu melihat begitu banyaknya lulusan perguruan tinggi, tatapi tetap menganggur. Bukan karena tidak memiliki ilmu, tetapi karena pemerintah memang tidak pernah memikirkan menambah lapangan kerja.

“Buat apa sarjana, kalau tak bisa kerja. Dulu aku pikir, aku benar-benar akan menjadi camat seperti kata bapakku. Nyatanya, aku — walaupun nanti jadi sarjana– tetap begini-begini saja,” katanya suatu kali pada Minan Tunja ketika dengan penuh simpati memohon agar Mamak Kenut mulai serius menyelesaikan kuliahnya.

Mamak Kenut sebenarnya hampir tersentuh oleh ketulusan hati Minan Tunja yang tetap setia memperhatikan dan memberikan dorongan semangat kepada Mamak Kenut.

Mamak Kenut memang dungu. Atau, terlalu bebal untuk memahami hati seorang wanita, barangkali, sehingga ia masih saja tenggelam dalam impian-impiannya sendiri.

“Ah, sudahlah. Nggak usah nasehati aku. Nggak usah sok tahu. Minan tak ngerti dengan diriku. Akulah yang paling tahu dengan apa yang aku mau,” kata Mamak Kenut emosi.

Mamak Kenut pergi. Berlalu dari depan kekasihnya. Lari dari dari kenyataan. Kabur dari kota. Tapi tidak ke desa. Ia terus berlari. Berlariii … mengejar bayangan, mengejar mimpi, mengejar sesuatu yang tak pasti.

Ia tak ingin kembali ke masa lalu. Masa kini terlampau pahit. Tapi masa depan penuh dengan ketidakpastian. Hari esok? Masih adakah hari esok? 

“Aku sudah tidak punya apa-apa kini, aku tak punya siapa-siapa kini, aku tak bisa ngapa-ngapain kini,” kata Mamak Kenut kepada orang-orang seperti stres.

“Kau masih sehat, masih otak, masih punya keluarga, punya teman… punya segalanya.”

“Tidak… aku tak punya apa-apa!”

“Tapi kau orang Lampung. Orang Lampung punya fiil,” ujar Mat Puhit.

“Aku sudah dipecat dari orang Lampung.”

“Ya, sudah kau jadi orang Jawa saja.”

“Tapi, aku nggak bisa bahasa Jawa.”

“Mengapa nggak mencoba menjadi Palembang?”

Samo bae***, aku dak ngerti ngomong Pelembang.”

“Ya, sudah kau jadi orang Indonesia saja.”

“Ya, tapi orang Indonesia itu nggak punya identitas, nggak punya jati diri, nggak jelas warna kulitnya, nggak jelas sikapnya, nggak jelas …. semuanya serba nggak jelas.”

“Kalau begitu kau mau jadi orang apa?”

“Aku nggak tahu.”

“Jadi OTB (orang tanpa bentuk) saja.”

“Mungkin.”

“Berarti kau sudah nggak punya fiil lagi dong!”

“Fiil-ku, fiil-mu, fiil orang tuaku, fiil semua orang, fiil kita semua sudah lama digadaikan ke penguasa dan pengusaha yang telah menjajah kita sejak dulu. Tapi, kita diam saja. Kita memang senang digrogoti, kita terlalu toleran, kita biarkan milik kita dirampok, kita biarkan kita kehilangan segalanya, kita berikan kehormatan, semuanya….”

“Lho, kau kan masih punya harga diri.”

“Harga diri? Hahahaaa… harga diri? … Kalau begitu aku mau jual harga diri saja.”

“Tapi kau kan laki-laki. Mana bisa menjual diri?”

“Tinggal menggemukkan badan. Masa nggak ada yang mau?”

“Tetap saja harga dirimu tak akan terdongkrak.”

“Harga diri itu bukan seperti itu. Harga diri itu tak mudah dijual.”

“Biarin. Aku mau mengobral harga diri.”

Kasihan Mamak Kenut. Kalau Mamak menyadari betapa sayangnya Minan Tunja padanya, betapa bangganya keluarganya padanya, betapa cinta orang-orang terkasih padanya, betapa hormatnya orang-orang pada sikapnya, mungkin Mamak ia tak pernah menjadi begitu. Namun semua sudah terlanjur. Semua sudah basah. Ia menganggap tak perlu lagi menyelesaikan kuliah. Ia sudah memutuskan tidak menginjak kampus lagi.

Ia kecewa. Ia patah hati. Ia frustasi. Ia stres. Ia linglung. Ia seperti gila. Ia ingin hidup menyendiri. Ia tak peduli orang lain. Ia mencari kepuasan sendiri. Ia sebatang kara kini. Ia harus bertahan hidup dengan tangan sendiri. Ia tak mau minta bantuan dengan orang lain. Ia benci dengan anak muda yang cengeng. Ia dendam dengan pejabat. Ia tak suka konglomerat.

Ia ingin berkuasa. Tapi tak mengerti merebut kekuasaan. Ia kepingin kaya. Tapi nggak tahu jalan untuk merengkuh kaya. Ia kepengin punya rumah mewah. Tapi tak punya pengalaman bergelimang kemewahan. Ia ingin hidup enak, tetapi tak mengerti yang enak itu seperti apa. Ia ingin menikmati hidup. Tapi kehidupan kok terasa pahit.

Seorang politikus menasehati Mamak Kenut, menjadi kaya jadilah tikus. Seorang pedagang berkata, untuk mendapatkan untung harus memiliki modal. Seorang pemalas memberi advis, tidur sianglah agar dapat bermimpi mendapatkan harta karun. Seorang pengkhayal berpesan berimajinasilah agar bertemu bidadari.

Namun Mamak Kenut benar-benar bingung. Bingung sebingung-bingungnya. Ia benar-benar tak punya apa-apa lagi. Ia tak punya modal, ia tak punya naluri berkuasa, ia tak memiliki mimpi, ia tak punya imajinasi, ia tak punya kreativitas apa-apa.

Sebentar…. ia punya harga diri. Ya, ia punya harga diri. Menyadari ia punya harga diri ia menjadi bersemangat. Ia pun berangkat ke kampus, ke kantor-kantor, ke pasar, ke supermarket, ke kota, ke desa, ke luar daerah, ke luar negeri, ke angkasa luar, ke mana-mana. Ia hanya ingin menjual harga diri.

Tapi tak seorang pun yang peduli. Tapi tak seorang memikirkan. Tak seorang pun mengerti betapa harga diri sudah sedemikian murahnya, sehingga dibanting serendah apa pun harga diri tak akan pernah laku. Mamak Kenut tak pernah lelah menjajakan harga diri.

“Harga diri… harga diri… siapa beliii?”

Dan, orang pun segera mafhum dan segera berlalu. Biasa saja. []

Catatan:

* bahasa Lampung yang berarti desa terpencil, penduduknya pindahan dari desa induk

** lengkapnya fiil pesenggiri, artinya harga diri, sebuah prinsip hidup etnis Lampung

*** bahasa Palembang yang berarti sama saja

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top