Kolom

Boleh Wawancara, tapi Jangan Dikutip

“MENURUT Udo sendiri, bagaimana? Bisa wawancara soal …. dengan Udo tidak?”

Saya jawab sedikit. Tapi, buru-buru saya tambahkan, omongan saya jangan dikutip.

Ini sudah kali sekiannya, saya ogah memberikan komentar atas atas pertanyaan wartawan.

Iya, suka jeruk makan jeruk memang. Wartawan diwawancarai wartawan. Hehee…

Biasanya, saya tanya balik, “Kok wawancara dengan saya? Kan yang lain lebih tepat?”

Biasanya, saya sebutkan orangnya dan juga kontaknya.

***

Saya orang (beretnis) Lampung. Bisa berbahasa Lampung. Kadang-kadang menulis — yang saya anggap — puisi, cerbun, novel, dan tulisan sastra lain dalam bahasa Lampung.

Karena saya ulun Lampung sudah barang tentu sedikit-banyak paham kebiasaan, tradisi, adat-istiadat Lampung.

Tapi, inilah masalahnya. Ada banyak yang lebih tahu dari saya soal-soal kelampungan.

Entah, saya merasa ada masalah dengan kelampungan yang saya miliki. Terlalu banyak yang tidak saya ketahui ketika orang bertanya tentang sesuatu yang berkaitan dengan kebiaasaan, tradisi atau adat-istiadat Lampung.

Kepada seorang teman yang juga jurnalis saya berterus terang bahwa sejak lahir di (Pasar) Liwa, saya sudah terbiasa dengan pluralitas. Tetangga saya dan teman sekelas ketika sekolah sudah bermacam-macam suku Lampung, Minang, Betawi, Sunda, Jawa, Banten, Tionghoa, Batak, Palembang, dst.

Untungnya, di Liwa ketika itu, tahun 1970-an dan 1980-an semua etnis itu dipersatukan dengan bahasa Lampung. Jadi, bahasa persatuan di Liwa kala itu adalah bahasa Lampung. Semua yang  ke sini dan tinggal untuk jangka waktu tertentu, “dijamin” bisa berbahasa Lampung.

(Sekarang? Entahlah!)

Sebelum menjadi ibu kota Kabupaten Lampung Barat, Negarabatin Liwa atau Pasar Liwa atau Liwa sempat menjadi kota kedua di wilayah Kewedanaan Krui  setelah Krui sendiri. Di Negarabatin ini ditempat Assistent Controleur yang membawahi marga-marga wilayah Lampung Barat sekarang.

Liwa juga menjadi ibu kota Negeri Balik Bukit (yang dalam perkembangannya menjadi Kecamatan Balik Bukit) di Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Sumatera Selatan.

Wilayah Kecamatan Balik Bukit ini meliputi seluruh wilayah Lampung Barat sekarang ini, minus Lumbok yang masuk ke Kecamatan Pesisir Utara.

Perkembangan selanjutnya, Liwa pusat pemerintahan Pembantu Bupati Lampung Utara Wilayah Liwa, selain Pembantu Bupati Lampung Utara Wilayah Menggala.

Ditambah lagi, geokultural Liwa yang “suka-sukanya” dilekatkan secara  bersamaan dengan orang Bengkulu, Palembang, dan Lampung, semakin kaburlah identitas itu. Meskipun orang Liwa tak pernah mengingkari kalau mereka ulun Lampung. 

Eit… kebanyakan mlipirnya. Hehee…

Intinya, saya mau bilang, dengan lingkungan yang seperti itu, pasar atau boleh dibilang kota kecil; nilai-nilai kelampungan yang saya hayati mungkin agak berbeda dengan yang lain-lain.

Jadi, ketimbang memuja-memuji Kebudayaan Lampung yang dianggap adiluhung, saya lebih sering mempertanyakan, bahkan melakukan otokritik terhadapnya.

Jelas, ini tidak layak kutip bagi jurnalis yang sedang membuat feature sebuah tradisi atau kultur yang menarik.

Tabik! []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top