Human

Lengkung Langit Cocok Maunya Milenial

Oleh Muhammad Alfariezie

KAUM milenial cenderung menyukai destinasi wisata yang menggabungkan alam, kecerdasan manusia, dan ilmu-seni. Mereka yang lahir pada era serbainstan lebih mudah merasa bosan. Tentu saja tidak semua. Tapi, rata-rata dari mereka membutuhkan destinasi wisata yang menggabungkan alam, kecerdasaan manusia, dan daya kreativitas.

Anak milenial memiliki banyak tugas dari sekolah atau kuliah dan mungkin laporan pekerjaan. Ketika fokus pikirannya terpecah maka akan mencari alternatif. Bukanlah hal yang baru bagi masyarakat modern untuk menuju suatu tempat yang nyaman, segar serta memanjakan.

Pada era ini, tidak perlu susah atau repot untuk mencari tempat yang menyuguhkan keindahan alam, kemodernan serta daya kreativitas seni. Cukup mengunjungi destinasi wisata Lengkung Langit.

Di sana, ada beberapa karya lukis yang terpajang. Lukisannya berpadu dengan warna dinding serta meja dan kursi, ada candi dan ada perahu yang unik sebagai spot foto. Selain itu, interior ruang dan pernak-perniknya menyatu dengan warna langit dan awan.

Lokasi Lengkung Langit berada di Kelurahan Pinang Jaya Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung. Meskipun berada di perbukitan, bukan berarti aksesnya sulit dan tidak dapat dijangkau semua kendaraan. Jalan menuju Lengkung Langit sudah beraspal dan mulus. Selain itu, semua kendaraan dapat melalui. Bahkan, bus besar pun bisa.

Jangan tidak percaya, waktu itu, ada rombongan tour yang sudah menyaksikan keindahan dan keunikan serta kenyamanan juga keamanan destinasi wisata Lengkung Langit. Mereka datang naik Big Bus Lho. Mereka berasal dari Jambi dan Palembang.

Menurut pengelolanya, Dito Dwi Novrizal, Lengkung Langit mulai menerima pengunjung pada 28 November 2020. Pengelola ingin memberi warna baru kepada masyarakat. Dia menilai, saat ini, masyarakat modern tidak sekadar butuh ruang mengekspresikan diri. Tapi, pada hari ini, masyarakat perlu tempat untuk menenagkan pikiran, memerlukan tempat untuk bersantai bersama keluarga atau teman sembari menikmati keindahan alam, seni, hingga kuliner dan memerlukan tempat yang nyaman dan aman untuk bermain juga bergaul. Selain itu, tentu saja memerlukan tempat untuk  mengabadikan moment indah  di tempat yang berkesan guna memenuhi aktualisasi di dalam media sosial.

Untuk itu, Lengkung Langit hadir di tengah masyarakat. Tiket masuk ke sini hanya sepuluh ribu rupiah. Parkir motor tiga ribu rupiah dan mobil lima ribu rupiah. Lalu, kalau Big Bus berapa? Karena besar dan memerlukan tempat yang cukup luas maka biayanya dua puluh ribu rupiah. Tapi, semua uang parkir itu bukan untuk Lengkung Langit lho. Yang mengelola lahan parkir adalah masyarakat sekitar.

Dito Dwi Novrizal sengaja mengajak masyarakat untuk membangun kultur budaya di kelurahan Pinang Jaya. Atau lebih luas lagi kecamatan Kemiling. Pertama, tentu saja untuk meningkatkan wawasan. Lalu, yang kedua adalah meningkatkan perekonomian.

Menurut dia, destinasi wisata adalah ladang ekonomi yang menjanjikan. Alasannya, karena saat ini, sudah memasuki budaya baru. Namun katanya, ladang ekonomi mesti memiliki kultur. Dan, budaya yang baik tidak mungkin terlaksana tanpa kesadaran dari masyarakat sekitar.

Aneka Kuliner juga Tersedia

Berkat kerjasama secara berkomunikasi yang intens, saat ini masyarakat Pinang Jaya tidak hanya meraup untuk dari lahan parkir. Tapi, dari warung-warung sederhana yang menjual makanan ringan hingga jas hujan di depan area Lengkung Langit. Lalu, ada apa sajakah di Lengkung Langit sendiri?

Jika lapar secara tiba-tiba setelah berkeliling menikmati keindahan alam dan berfoto-foto bersama kawan atau sendiri, maka tidak perlu khawatir. Pengelola menyediakan menu makan dan minum yang tidak kalah menarik dengan yang ada di tengah kota Bandarlampung. Di sini, pengunjung bisa menikmati soto, mie judes, kentang goreng, nasi goreng, nasi bakar, jagung hingga burger.

Dijamin rasanya pasti bikin ketagihan. Pengelolanya sudah berpengalaman di bidang kuliner. Beberapa event kuliner yang ada di Lampung atau yang ada di dalam mall seperti Transmart, adalah Dito Dwi Novrizal salah satu orang yang menyelenggarakan.

Nah, kalau bingung mau makan apa, ada bocoran dari pengelola. Jadi, makanan favorit atau andalan di Lengkung Langit adalah soto dan nasi bakar. Wah, berapa ya harganya?

Harga soto Rp15.000 dan nasiu bakar Rp18.000. Tapi, kalau mau yang ringan-mantap plus sedap, ada kok. Pesan saja mie judes. Wah, pasti nikmat. Mie yang agak keriting dan sedikit manis berpadu dengan rasa ayam yang mantap serta sayur dan rasa pedas yang bisa diatur.

Jika kepedasan, tidak perlu jauh untuk membeli minum. Lengkung Langit adalah destinasi wisata yang cukup komplit. Pengelola sudah menyediakan menu minuman yang beragam. Ada jenis hot drink, iced drink, Squash drink dan coffe juga tea.

Harganya? Cukup terjangkau. Untuk minuman, biayanya mulai Rp 5.000 hingga 15.000 rupiah saja.

Konsep wisata Lengkung Langit memang unik. Pengelola telah merencanakan tempat ini untuk menjadi salah satu ikon destinasi wisata modern. Kultur budaya modern yang santai tapi tidak suka repot-repot ada di sini. Setelah lelah berfoto-foto  untuk stok instagram hingga tik tok atau setelah lelah sekadar jalan-jalan menikmati suasana maka pengunjung bisa bersantai di area yang sudah disediakan.

“Lengkung Langit adalah Destinasi Wisata yang menyesuaikan kebutuhan pengunjung atau masyarakat. Dia membandingkan film Korea, Indonesia dan India untuk menjelaskan maksudnya. Atas analisanya, Lengkung Langit menerapkan sistem seperti Film Korea,” kata Dito.

Saat ini, kata dia, film Indonesia dan India kalah dengan tontonan di balik layar yang diproduksi orang Korea. Rancangan alur dan adegan serta tokoh dalam film korea hanya 60% dari sutradara. Sisanya ditentukan penonton atau penggemar. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top