Panggung

Sastra Lampung dan Hadiah Sastra Rancage

Sastrawan Udo Z. Karzi mewakili pemenang Hadiah Sastra Rancage 2008 menyampaikan sambutan dalam acara penyerahan Rancage di Unpad, Bandung, Sabtu, 14 Juni 2008.

ETNIS Lampung yang berdasarkan berdasarkan Sensus Penduduk 2010, berjumlah hanya 1.376.390 jiwa dari total 7.596.115 juta jiwa penduduk Lampung. termasuk beruntung karena mewarisi bahasa dan sastra Lampung lengkap dengan sistem keaksaraan yang disebut had Lampung. Dari 1.340 suku bangsa dan 718 bahasa daerah di Indonesia, dalam catatan Pusat Bahasa dan Perbukuan (2018), hanya 12 yang memiliki aksara, yaitu aksara Jawa, Bali, Sunda Kuno, Bugis/Lontara, Rejang, Lampung, Karo, Pakpak, Simalungun, Toba, Mandailing, dan Kerinci/Rencong.

Dengan sistem bahasa dan sistem keaksaraan ini, sastra Lampung berkembang sedemikian rupa dan ikut mewarnai sastra etnik atau sastra Nusantara sebagai bagian dari sastra Indonesia. Dengan melihat perkembangan sastra berbahasa Lampung (selanjutnya disebut sastra Lampung), kita bisa membagi dua jenis sastra Lampung, yaitu sastra lisan dan sastra tulis. Bisa juga digolongkan menjadi sastra tradisional/klasik Lampung dan sastra modern Lampung.

Sastra Klasik dan Sastra Modern Lampung

Sastra tradisional Lampung lebih dikenal dengan sastra lisan Lampung. Meskipun, sebenarnya sastra klasik Lampung ada juga yang tertulis. Bahkan, dalam sebuah kesempatan, Iwan Nurdaya-Djafar (2010) menegaskan sastra Lampung bukan sastra lisan. Ia merujuk pada teks tertulis dalam aksara Lampung Tetimbai Si Dayang Rindu dan Warahan Radin Jambat dari abad ke-18 dan ke-19.

Sastra lisan/tradisional Lampung mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kehidupan etnik Lampung. Sastra lisan Lampung berfungsi sebagai pengungkap alam pikiran, sikap, dan nilai-nilai kebudayaan masyarakat Lampung dan sebagai penyampai gagasan-gagasan yang mendukung pembangunan manusia seutuhnya.

Menurut pengamat sastra Lampung A. Effendi Sanusi, sastra lisan Lampung dapat mendorong untuk memahami, mencintai, dan membina kehidupan dengan baik, memupuk persatuan dan saling pengertian antarsesama, menunjang pengembangan bahasa dan kebudayaan Lampung, dan menunjang perkembangan bahasa dan sastra Indonesia.

Effendi membagi sastra lisan Lampung menjadi lima jenis: peribahasa(sesikun/sekiman), teka-teki (seganing/teteduhan), mantra (memmang), puisi, dan cerita rakyat. Puisi Lampung berupa paradinei, pepaccur/wawancan, pattun/segata/adi-adi, bebandung, dan ringget/pisaan/wayak.

Dalam keterbatasan ruang tentu tidak pada tempatnya jenis-jenis sastra tradisi lisan Lampung ini dibahas satu per satu dan diberikan contohnya di sini. Tapi, dalam berbagai diskusi jenis-jenis sastra tradisional inilah dikhawatirkan punah.

Sastra Lampung dan Hadiah Sastra Rancage

Meskipun tersendat-sendat, penerbitan buku sastra (modern) Lampung dalam lima tahun terakhir cukup menggembirakan. Ini tidak lepas dari peran Yayasan Kebudayaan Rancage, Bandung yang konsisten melakukan pembinaan terhadap sastra daerah dan setiap tahun sejak 1989 memberikan Hadiah Sastra Rancage. Jika pada awal-awalnya penghargaan Rancage ini hanya untuk sastra Sunda (1989) saja.  Kini, Rancage diberikan untuk tujuh sastra daerah, yaitu Sunda, Jawa, Bali, Lampung, Batak, Banjar, dan Madura.

Terakhir, Elly Dharmawanti dari Lampung meraih Anugerah Sastra Rancage 2021 untuk buku puisinya Dang Miwang Niku Ading (Pustaka LaBRAK, 2020). Ellu berhasil menyisihkan Setiwang karya Udo Z Karzi dan Katan rik Kilak karya Semacca Andanant.

Rancage mensyaratkan yang dinilai untuk pemberian hadiah ini adalah dalam bentuk buku yang terbit, artinya tertulis, dan sastra baru/modern. Dari sinilah mulai berkembangnya sastra modern Lampung. Tidak seperti sastra Jawa, Sunda, dan Bali yang sudah lama memiliki sastra modern, sastra modern berbahasa Lampung baru bisa ditandai dengan kehadiran kumpulan sajak dwibahasa Lampung Indonesia karya Udo Z. Karzi, Momentum (2002). 25 puisi yang terdapat dalam Momentum tidak lagi patuh pada konvensi lama dalam tradisi perpuisian berbahasa Lampung, baik struktur maupun dalam tema. Dengan kata lain, Udo melakukan pembaruan dalam perpuisian Lampung sehingga Kuswinarto (2004) menyebutnya “Bapak Puisi Modern Lampung”.

Untuk pertama kalinya Lampung mendapatkan Hadiah Sastra Rancege 2008 melalui buku puisi Udo Z Karzi, Mak Dawah Mak Dibingi (2007). Rancage untuk sastra Lampung ini sekaligus yang pertama untuk sastra daerah di luar Jawa dan Sumatera.

Berikut secara kronologis terbitan sastra Lampung (2009—2019): Di Lawok Nyak Nelepon Pelabuhan (kumpulan sajak Oky Sanjaya, 2009), Cerita-cerita jak Bandar Negeri Semuong (kumpulan cerbun Asarpin Aslami, 2009, yang meraih Hadiah Sastra Rancage 2010), Radin Inten II (novel Rudi Suhaimi Kalianda, 2011), Suluh (kumpulan sajak Fitri Yani, 2013, yang memenangkan Hadiah Sastra Rancage 2014), Tumi Mit Kota (kumpulan sajak Udo Z Karzi dan Elly Dharmawanti, 2013), Kukuk Kedok 1933, Gempa Bumi Besar 1993 (puisi klasik Ahmad Safei gelar Sutan Ratu Pekulun, 2015), Sekekejungni Pesiser Sememanjangni Angangon (kumpulan sajak Elly Dharmawanti dan SW Teofani, 2016), Negarabatin (novel Udo Z Karzi, 2016, yang mendapatkan Hadiah Sastra Rancage 2017), Usim Kembang di Balik Bukik (novel Andy Wasis terjemahan Udo Z Karzi, 2017), dan Semilau (kumpulan sajak Muhammad Harya Ramdhoni, 2017, peraih Hadiah Sastra Rancage 2018).

Lalu, terbit Lapah Kidah Sangu Bismilah  (Bandung & Hahiwang karya Semacca Andanant, 2018). yang meraih Hadiah Sastra Rancage 2020, Sanjor Induh Kepira (kumpulan sajak Elly Dharmawanti, 2018), Lawi Ibung (kumpulan cerbun SW Teofani, 2019), Muli Sikop sai Segok (kumpulan sajak ZA Mathika Dewa, 2019), dan Lunik-lunik Cabi Lunik (kumpulan cerbun Udo Z. Karzi, 2019).

Akhirnya, masih perlu waktu untuk membuktikan sastra modern Lampung bisa lebih berkembang atau malah mungkin mati – kalau memang tidak ada yang peduli. Tapi, kita berharap agar sastra Lampung, baik lisan maupun tulisan, baik sastra klasik maupun sastra modern akan tetap terjaga, bertumbuh, dan berkembang memberikan kontribusi bagi kemajuan bahasa dan sastra Indonesia. Bagaimana pun keberadaan sastra daerah – tidak terkecuali sastra Lampung – tetap penting bagi Kabudayaan Nasional kita. Sebab, bahasa dan sastra daerah memuat sistem nilai, ilmu pengetahuan, dan kearifan lokal yang merupakan aset penting bagi peradaban bangsa ini.

Tabik! []

Daftar Pustaka

Karzi, Udo Z. 2004. “Sastra Modern (Berbahasa) Lampung”. Koran Festival, Edisi Istimewa, Oktober.

Karzi, Udo Z. 2013. Feodalisme Modern: Wacana Kritis tentang Lampung dan Kelampungan. Bandar Lampung: Indepth Publishing.

Karzi, Udo Z. 2016. “Penerbitan Buku Bahasa Lampung: Bukan Sekadar Menunda Kekalahan”. Makalah disampaikan dalam Kongres Bahasa Daerah Nusantara di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat, 2—4 Agustus.

Kuswinarto. 2004. “Sandyakala Bahasa dan Sastra Daerah Lampung”. Lampung Post, Minggu, 11, 18 dan 25 April.

Nurdaya-Djafar, Iwan. 2010. “Sastra Lampung Bukan Sastra Lisan”. Opini. Lampung Post, Minggu, 19 Desember.

Setiawan, Hawe, et. al.. 2020. “Keputusan Hadiah Sastra Rancage Tahun 2020”.

Sanusi, A. Effendi. 1999. Sastra Lisan Lampung. Bandar Lampung: Universitas Lampung.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top