Sajak

Sajak-sajak Safrina Muzdhalifah

DHAMAR KAMBHENG

Kelak,
Bila aku tutup usia
Di atas reriak dalam cangkir kaca
Biarkan ia tetap menyala
Menjadi sumber cahaya
Bagi pusara yang gelap gulita

Bila waktu telah tiba
Biarkan api gegap gempita
Bersama doa nenek moyang paling hamba
Sepanjang malam hingga pagi tiba

Bila aku tiada
Biar asap yang kembara di udara
Meredam suara duka dan luka
Sebab ketika Tuhan jatuh cinta
Tidak ada kemenangan bagi air mata

Batangbatang, 18 Desember 2020

SEUSAI PERJALANAN
            : Ainur Rofiq

Aku baru saja berangkat menuju kotamu, pemuda
Memegangi sekeranjang penat yang lekat dalam pekat
Berdesakan dengan pengembara di atas kereta
Sesekali aku tolehi pepohonan yang membuntuti perjalanan
Mengajak mereka berdiskusi tentang tarekat sunyi
Atau ihwal rasa yang mengelabui
Setelah kemudian letih turun berduyun-duyun di stasiun
Waktu pun terlihat beku di balik hambur debu
Aku segera membuka peta yang berbulan-bulan menjadi pusaka
Menyelundup keasingan dengan seperangkat kejenuhan
Hanya menangguhkan suatu harapan tak bertuan
Namun sebelum tiba, langit segera senja
Rindu tak hanya tertunda tetapi mesti terlupa
Sebab di halaman asramamu,
Kutemukan wajahmu pada mata perempuan itu-

Annuqayah, 12 Mei 2015

MONOLOG DI TUNGKAI DHUHA

“Semua akan terjadi bila kita menginginkan
Bukankah kita hanya perlu percaya?”
Terngiang letihmu di tungkai dhuha

Bila tiba pada muara
Aku hendak berbangga
Ihwal ceracau nuri dalam dada
Semerdu seruling Khrisna
Kemudian terbaca segala duka yang terpenjara
Walau di atas sajadah bumi engkau lihai bersandiwara
Dalam doa ayal engkau mengutip dusta

Suatu masa, kala aksara tak tampak bersistematika
Aku ingin berendam dan mandi bunga
Wujudkan mimpi manis sang perjaka
Saat terkapar di nisan Laila
Sehingga diammu bukan lagi petaka bagi jiwa
Serta tak perlu kutebus luka yang nganga

Ketika gugur musim pancaroba, bu..
Akan kuselami aroma dupa
Mengenyahkan balada rasa
Lantas mematung, berlindung di balik kerangka sabda
Ketika aku dikalahkan nista

Annuqayah, 10 Agustus 2015

ANTARA BATANGBATANG-PAMEKASAN

Matahari kelihatan murka
merembeskan hangat yang menyala

Bus kota berseliweran
penumpang berjejalan
Saling menyodorkan tujuan
terminal sebagai persinggahan

Disertai mual yang binal
menerawang nanar pada asal
Tiba-tiba pandang dihentikan
seringai masa depan bermunculan di jalan-jalan

Dengan muka sedikit pucat
keputusan terba’iat
Hendak kudebat penat
sehingga tekad tak perlu kuralat

Batangbatang, 07 Juni 2016

GILA

Aku yang mencekam
Di antara keberanian dan ketakutan
Aku sebut sebagai kegilaan
Yang tak terkalahkan

Totosan, 28 April 2020

KEMBALI TENANG

Sperti daratan,
Setelah gelombang lautan
Mengguncang
Membuat pohonan tumbang
Dan burung-burung terbang tunggang langgang
Aku ingin kembali tenang
Melemaskan keyakinan yang tegang
Menempatkan ulang
Doa-doa yang renggang dari sembahyang

Pamekasan, 19 November 2019

—————–
Safrina Muzdhalifah
, menulis fiksi dan non- fiksi. Namun, lebih menggilai sepi dan puisi. Anggota Komparasi Rulis (Rumah Literasi Sumenep). Mari berdiskusi literasi di email:bulir.air@yahoo.com, blog: safrinamz.blogspot.com, ig: bulir.air11, fb: Safrina Muzdhalifah.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top