Cerita Pendek

Pantai

Cerpen Muhamamd Lutfi

KACAMATA warna pelangi yang biasa dia pakai itu menghiasi wajahnya.Dia masih menunggu matahari terbenam di pantai Sanur.Di sampingnya, tergeletak sebuah papan selancar yang berwarna merah dan dia duduk di atas pasir.Dia melihat ke lautan yang bergulung-gulung.Burung camar yang terbang kembali ke sarang, membawa senja warna jingga yang biasa dia nantikan di pantai Sanur.

Di pantai Sanur yang damai dan sejuk ini, dia damparkan tubuhnya pada pasir dan ombak patai yang menyentuh kakinya.Dia pandangi orang-orang bule dengan pakaian minim berjemur dan menunggu matahari terbenam.Seorang wanita, dengan bunga di telinga menemaninya duduk di samping papan selancar yang dia pegang.

“Catur, kamu selalu mengajakku ke sini.”

“Aku terkenang akan keindahan Sanur.”

“Masih indah manakah, Sanur atau diriku?”

“Sama-sama indahnya!”

“Pilih satu saja!”

“Masih indah kamu, Adisri.”

“Badan pantai Sanur masih hangat pelukanmu, Catur.”

Wanita yang menemaninya itu duduk dan mengajaknya berbicara tentang keindahan Sanur dan dirinya. Dia adalah istri Catur: lelaki yang selalu menunggu matahari terbenam di pantai Sanur bersama papan selancarnya. Catur selalu mengajak Adisri jika ada kesempatan, untuk duduk di pasir pantai Sanur sambil melihat matahari terbenam.

“Sudah selesaikah, kamu pandu para turis itu melihat-lihat Sanur?”

“Kalau belum selesai, kenapa aku kemari menemanimu?”

“Itu tandanya tugasmu sudah selesai.”

“Dan tuagsku sekarang adalah menemani suamiku di pantai Sanur.”

“Aku sungguh sangat mencintaimu, Istriku.”

Catur mengecup kening istrinya di depan pantai Sanur. Dia genggam tangan istrinya dan melihat pantai kembali.Adisri, memasangkan kembang yang terselip di telinga kanannya.Dia taruh kembang itu di telinga Catur.

“Kamu masihkah terkenang akan kejadian dua tahun yang lalu?”

“Kejadian ketika aku dikalahkan ombak saat berdiri di atas papan selancarku?”

“Kamu mengingatnya.”

“Aku selalu mengingat itu, saat aku melihat pantai ini!”

***

Catur teringat dua tahun lalu saat dia masih menjadi jago selancar di Sanur.Dia adalah seorang lelaki yang mempunyai kulit eksotis.Dan juga bertubuh eksotis.Saat remaja, Catur sudah mengenal papan selancar. Dia belajar tentang cara berselancar di atas ombak kepadapamannya sendiri: John. John, adalah seorang bule Inggris yang menikahi bibinya dan sekarang tinggal di Bali. Dia ajarkan cara berselancar kepada Catur yang masih muda dan sangat ingin tahu itu.

“Paman, bisakah kau ajarkan padaku bagaimana cara berselancar?”

“Cara berdiri di atas papan di tengah ombak?”

“Aku ingin tahu sekali, Paman!”

“Kamu ingin menjadi peselancar yang hebat, Catur?”

“Aku ingin melampaui Paman, dalam hal berselancar!”

John sangat tahu bagaimana jiwa muda Catur saat itu.Catur sudah sangat ingin berselancar di atas ombak bersama John.John pun mengajari teknik berdiri di atas papan, berenang di atas selancar, dan teknik berselancar yang indah.Catur orang yang cepat paham.Baru beberapa minggu John mengajarinya, dia sudah lihai berselancar di atas ombak.

John mengajak catur untuk menguji kemampuannya itu.Dia ingin melihat Catur, apakah sanggup mengimbanginya di atas ombak.

“Catur, ayo kita buktikan kemampuanmu!”

“Aku akan mengalahkanmu!”

“Aku suka semangatmu.”

John dan Catur mulai merekatkan selancar di kaki masing-masing.Mereka berenang menuju ke tengah pantai.Ketika sudah berada di tengah pantai, mereka mulai membalikkan arah papan selancar, menunggu ombak datang.

Ombak datang menerjang.Kini, saatnya mereka mulai beraksi.John dan Catur berdiri di atas papan selancar.Mereka berdiri di atas ombak yang berlari ke pinggir pantai.Mereka alunkan irama keindahan seorang peselancar di atas ombak dengan papan selancar yang sudah mereka kausai itu.John dan Catur mendarat di pasir dengan sempurna.

“Kamu hebat, Catur!”

“Aku pasti mengalahkanmu, Paman!”

“Aku tidak akan kalah darimu, Catur!”

Sejak saat itu, Catur selalu bermain selancar dengan papan yang hanya satu-satunya dia miliki itu.Setiap sore, dia selalu bermain di atas papan selancar.Dia selalu ingin menambah kemampuannya menguasai papan selancar dan mengalahkan ombak.Dia sudah kalahkan pamannya, kini dia ingin menaklukan ombak.

Saat itu, Catur masih muda.Dia duduk di atas pasir setelah kelelahan berselancar di atas papannya itu.Dia lihat seorang gadis pemandu wisata dengan kembang yang terselip di telinganya.Dia perhatikan gadis itu duduk sendiri melihat para peselancar bermain di atas ombak.

Catur tak ingin kalah dengan yang lainnya.Dia tahu, kalau pandangan gadis itu tertuju pada peselancar-peselancar yang sedang menunjukkan keahliannya.Dia hampiri gadis tersebut.

“Kamu memandangi para peselancar itu?”

“Saya kagum dengan keberanian mereka berdiri di atas ombak yang bergulung-gulung itu.Itu eksotis dan berani!”

“Saya akan menunjukkanmu aksi yang lebih memukau dari mereka.Aksi yang lebih eksotis dan berani!”

“Tentu saja.”

Catur mulai beraksi menujukkan keahliannya berselancar.Dia tahu kalo gadis itu terpukau pada peselancar.Catur mulai berenang dengan papannya menuju ke tengah.Dia nantikan ombak yang datang.Dia merasakan, kalau hanya separuh badan pantai seperti ini tidak ada bedanya dengan yang lainnya. Dia ingin beraksi menujukkan keberaniannya berbeda dengan yang lain. Catur berenang semakin ke tengah.Dia sudah tak bisa mendengar suara-suara orang di bibir pantai.Dia hanya mampu melihat orang-orang di bibir pantai.Dia lihat gadis itu memandanginya berenang di atas papan selancar.

Catur menunggu ombak datang menerjang. Dia berada jauh dari peselancar-peselancar yang lain. Ombak datang tidak berselang lama.Catur segera membalikkan arah papan selancar miliknya.Dia mencoba berdiri di atas papan selancarnya.

Catur mulai beraksi.Dia tunjukkan kemampuan berselancar yang sudah dia kuasai dari pamannya.Dengan indah dan lihai dia melewati ombak dan menerobos ombak yang bergulung-gulung.Entah kenapa, saat itu dia tak melihat peselancar-peselancar yang lain berada di atas ombak. Dia hanya melihat dirinya sendiri berselancar sendirian.Dia tak sanggup mendenegar suara orang-orang di bibir pantai.Dia hanya melihat mereka berkumpul dan melambaikan tangan, seperti bersorak-sorak padanya.Catur merasa, itu dukungan yang orang-orang berikan padanya.Dia makin bersemangat.Dia tunjukkan aksi yang eksotis dan berani sebagai seorang peselancar.

Catur melihat kembali orang-orang di bibir pantai.Dia lihat, penjaga pantai bersiap dengan ban dan pelampung, serta kibaran bendera merah di bibir pantai. Dia tak tahu-menahu, apa yang terjadi. Catur merasa semuanya baik-baik saja.Tetapi kenapa, penjaga pantai itu mengkibarkan bendera merah ke arah ombak.Hanya dia sendiri yang berada di atas ombak saat itu.

Tiba-tiba ombak besar menerjang dari belakang.Ombak itu lebih tinggi dari ombak yang telah Catur taklukan.Dia dihantam ombak dari belakang.Catur tergerus ombak dan kehilangan keseimbangan.Dia merasakan kesadarannya mulai hilang.

Penjaga pantai yang melihat seorang peselancar tergerus ombak itu segera melakukan penyelamatan.Dia selamatkan Catur dari terjangan ombak.Penjaga pantai itu membawa tubuh Catur ke tepi pantai.Penjaga pantai melakukan pertolongan pertama pada Catur.Dia tekan-tekan dada Catur sehingga keluarlah air laut dari hidung dan bibirnya.Catur bangun kembali.Memuntahkan air lautan yang tertelan itu.Dia melihat semua orang sudah berdiri di sekelilingnya.

***

“Sejak saat itu, aku enggan kembali berselancar.Masih menyisakan trauma padaku.”

“Sejak saat itu aku menjadi Istrimu, karena aku merasabersalah membolehkanmu beraksi di lautan.”

“Tetapi, setiap kali aku memandang pantai Sanur ini, aku teringat kamu yang dulu dan kepongahanku dulu.”

“Aku tetap tidak berubah!”

Adisri mencium kening suaminya.Mereka masih berada di tepi pantai Sanur.Mereka menunggu matahari tenggelam di pantai Sanur.Meninggalkan mereka berdua di bibir pantai Sanur. []

Pati, 2020

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top