Cerita Pendek

Menulis Puisi Kala Bernyanyi

Cerpen Muhammad Ilham Alhaq

LANGKAH kakiku lunglai, menapaki jalan sempit di pemukiman kumuh ini. Jalanan dipenuhi debu tebal dengan tanah kemerahan mulai membentuk pola retakan abstrak menandakan betapa rindunya ia kepada guyuran hujan. Sekilas terlihat nampaknya sang awan belum lagi Sudi menjembatani Rahmat Tuhan berupa ‘hujan’ barang lima bulan belakangan ini.

Mataku nyalang. Mengawasi setiap gerak-gerik pengguna jalan yang sedikit tergesa-gesa lalu lalang. Aku tak boleh lengah lagi, kalau-kalau mereka masih tetap membuntuti mengintai. Puh. Sedikit lega hati ini terlepas dari kejaran para musuh-musuhku. Walau nafasku masih terasa megap-megap persis kawanan ikan yang di campakkan dalam keranjang bambu nelayan. Jantungku serasa dibetot kuat hendak mencuat keluar lewat mulutku. Mengingat badanku tadi tergeletak di bumi, tanganku tak kuasa menahan hujaman kaki para musuh-musuh ku. Bedebah! Dengan segenap sisa tenaga yang aku punya, alhasil, aku dapat meloloskan diri.

Mungkin Tuhan mempunyai selera humor yang tinggi atau jalanan ini memang dipenuhi banyak kedai. Alih-alih ingin langsung pulang ke rumah untuk segera beristirahat, aku lihat kedai kecil dengan halaman cukup luas beratap genteng, berdinding geribik lengkap dengan meja dan bangku panjang terganjal batu merah disalah satu kakinya. Tidak terlalu ramai, hanya empat orang saja tengah bercengkrama di sana.

Entah apa yang telah menggiringku masuk kedai ini? Alunan syahdu gitar yang dimainkan salah satu dari mereka atau memang aku ingin segera menghilangkan resah di jiwa dengan menenggak kopi barang satu atau dua gelas? Persetan, yang pasti, aku urungkan niat langsung pulang ke rumah hanya untuk tergesa-gesa mencecap kopi guna menyingkirkan gundah lantaran semua kejadian hari ini yang membikin tubuhku limbung.

Kedai kecil berukuran 3×3 meter dengan pintu dan jendela besarnya yang selalu terbuka. Buah pisang terlalu masak di atas meja dan aroma wewangian kopi sudah cukup tampak begitu menarik bakal calon pelanggan yang melewati. 

Kulambaikan tangan, seorang perempuan berparas cantik dengan kebaya Kumal berkonde datang tergesa-gesa menghampiri lalu kembali menghilang  kebelakang setelah kusebutkan pesanan.

Berdasarkan pengalaman pribadi, saat-saat seperti ini di mana pun selalu aku memilih tempat duduk yang menghadap pintu. Guna mempermudah aku berlari kabur kala sewaktu musuh-musuh tengikku berulah lagi. Puh. Betapa tersiksanya hidup macam buron begini. Sebab puisiku kah aku selama ini dihantui rasa was-was setiap hari?. Itu hanya puisi yang bertajuk “Kuperkosa Putri Pertiwi” dengan isi begini:

Engkau siapa wahai gadis muda?
Rintik hujan tak kau hiraukan
Panas surya seakan kau membara
Bambu runcing tak kau genggam
Asyik teriak perihal kebenaran

Hasrat keadilan terus kau gelorakan 
Agungkan perang bersenjata cinta?
Mabukkah kau nona?
Nyenyakkah tidurmu?
Mimpimu kelewatan!

Usiamu belia nona
Cantik, elok, aku pun suka
Namun suaramu bak derap kaki kuda        ksatria
Menuju medan pertempuran
Gagah perkasa merajah gendang              telinga
Sakit sekali nona, sakit sekali
Kau harus mati!
Mulutmu penuh belati!

Runtuh bintang sempurnakan kelam
Arloji cantikku tepat 10 malam
Hasil produksimu marsinah sayang
Menyeretmu ke rimba hutan
Menidurimu dengan tembakan peluru      tajam
Durasi singkat menuju ejakulasi                kesengsaraan
Hanya sedetik saja, kaupun abadi

Aku heran mengapa kau melawan
Di saat stok peluru di saku aman
Patuhi saja perusahaan arloji itu
Tidak perlu menuntut hak – hak                pekerjamu
Buruh sepertimu pantas hidup                    terbelenggu
Kerjamu lelah, upahmu murah, kami          yang melimpah ruah
Hendak melawan? Nyawamu ada              cadangan?
Hutan tempat matimu pembangkang
Abadi dengan luka dan kepedihan
Nasibmu malang marsinah sayang

Apa salahnya dengan puisiku di atas? Apa dosanya menulis puisi? Tinta yang kuguratkan pada kertas, penjahat kah itu? Sebegitu bencinya dengan pekerjaan duduk termenung seraya memainkan pena?

Memberondong kepalaku dengan segudang pertanyaan tanpa sadar sedari tadi aku diawasi oleh keempat orang tua tadi tepat di samping mejaku. Mereka tampak keheranan mendapatiku diam dalam segudang lamunan. Kisaran umur keempatnya mungkin sekitar 50 sampai 60 tahunan. Memakai celana pendek-pendek tanpa alas kaki, bertelanjang dada semua kecuali seorang diantaranya berbaju partai yang aku tahu sedari tadi ia hanyut dalam permainan gitarnya mengiringi ketiga kawannya bernyanyi dengan mata terpejam alamat kelewat nikmat.

“Tampaknya Tuan dari jauh,” salah seorang dari mereka memulai. “Tak pernah nampak Tuan selama sahaya tinggal di sini.”

Ujung bibirku naik ke pipi tanda tersenyum aku mengangguk pelan. Sedikit kesal lantaran suasana kedai, diriku seperti pisang diantara kawanan monyet.

“Kopinya, Tuan,” celetuk perempuan pemilik kedai dengan cekatan menata kopi dan beberapa tumpukan roti dimeja lalu dengan cepat pula ia menghilang pergi kembali ke dapur.

“Tidak sedang bekerja, Pak?”

Kali ini aku memulai untuk mencairkan suasana.

“Atau, memang sedang libur?” sambungku sembari mencecap kopi panasku.

“Ai ai. Tuan pandai bercanda ternyata” sanggah seorang dari mereka “kemarau begini cangkul kami pasti terpental-pental menggarap sawah, lalu bantalan telapak tangan kami bisa pecah dan berdarah tanpa melukai tanah sedikit pun” sambungnya meringis sambil menggaruk-garuk kepala.

“Penghasilan kami para petani menggantungkan pada cuaca Tuan. Cuaca buruk, kantong kami ikut terpuruk. Bahkan, kopi kami pun getir tanpa gula tuan.” Kali ini pria berbadan hitam sedikit keriput dan tubuhnya kurus. Nampak jelas tulang-tulang iganya yang dibalut kulit membenarkan keadaan kantongnya memang tengah terpuruk.

“Hei… hei. Apa yang kalian bicarakan,” celetuk pria berbaju partai memegang gitar “Sudah jangan terlalu meratapi nasib. Mari bernyanyi kembali” lanjutnya.

“Ya. Benar. Mari kita bernyanyi” ucapku penuh semangat “mengapa pula kita berlarut-larut dalam kesedihan” tegasku.

“Mari tuan, kita nyanyi bersama,” kata pria berbaju partai siap memainkan gitarnya.

Aku anggukkan kepala penuh senyuman tanda setuju. Cepat-cepat aku keluarkan pena dan buku catatan dari tas kesayanganku.

Penaku meluncur deras di atas kertas bersamaan dengan suara nyanyian para orang-orang tua itu. ‘Kejadian yang langka,’ batinku. Lama tak kurasakan bersemangat menulis seperti ini. Apalagi di tengah-tengah saudara sebangsa ku yang tetap tegar menjalani hidup yang tercekik ini.

Tanganku seperti dituntun iblis. Kertas suci ini tak kuberi ampun. Sekejap saja, kertas itu berisi penuh guratan tintaku yang ternyata menghasilkan sebuah puisi yang bertuliskan begini:

CELOTEH PUTRA PERTIWI

Putra pertiwi
Ya, akulah putra pertiwi
Ragaku sempurna 
Bak pelangi di hari senja 

Manusia
Ya, ya akulah manusia
Bahagia dan sentosa
Aku ini hidup 1000 tahun lamanya 
Nyanyikan lagu-lagu rimba istana
Mengais apa saja yang prokamator          dulu punya

Ya Tuhan, nikmat sekali karunia-Mu
Ataukah ini gambaran surgamu

Rakyatku patuh menghamba padaku
Mencoba ungkapkan kebenaran?              persetan rasa kemanusiaan
Angkat bicara? nyawamu berapa                harga?
Bila anakmu merengek karena lapar 
Perlihakan saja fotoku dengan khas      senyuman manis itu
Niscaya anakmu terdiam dengan              mata melotot ke arahmu 

Oh rakyatku 

Betapa lugu dan lucu kalian itu
Hidupmu susah janganlah berontak
Ambil saja gitar tuamu 

Nyanyikan aku lagu ” piye kabar,                penak to jaman ku(deta)?

Meleburnya diriku pada keempat pria itu sampai-sampai aku tak mengindahkan waktu. Hari mulai senja. Cahaya temaram memancar indah di langit. Lampu-lampu halaman rumah di sepanjang jalanan ini mulai dihidupkan. Tak ada lagi kicau suara burung perenjak di pokok randu pinggir jalan di depan kedai ini. Pasti sang burung sudah pulang ke sarang, bercengkrama memanjakan diri bersama anak dan betinanya sebelum gelap jatuh sepenuhnya di langit.

Baik. Harus aku sudahi hari bahagia ini. Aku akhiri semua kesenangan hari ini dengan mereka. Ya, orang-orang tua itu. Mereka menghabiskan sisa hidup tuanya bukan dengan menimang-nimang cucu, tetapi membakar diri di bawah matahari menanam padi. Bukan dengan menikmati masa tuanya dengan bergelimang harta, tetapi mencecap kopi getir kedai dikala kemarau melanda. Dan bukan dengan memperbanyak berdoa berserah diri pada ilahi, melainkan malah asyik ngopi dan bernyanyi sepanjang hari di kedai yang aku tahu pemiliknya sudah tak bersuami.

Baik. Sebelum hari semakin gelap, aku harus segera sampai di rumah. Tak ingin aku seperti para pria kelewat periang ini. Aku ingin seperti burung perenjak bersuara merdu itu. Memintal kasih dengan anak dan istriku sebelum hari semakin kelabu. Aku berani berjudi, istriku saat ini pasti tengah diamuk rindu. Mungkin ia berdiri di ambang pintu gusar menanti kedatangan ku.

Maaf para pria-pria kelewat bahagia dan pemilik warung janda. Hari ini aku harus pulang menemui istriku. Sebab beliau tipikal orang yang tak suka ditusuk-tusuk rindu. []

Catatan:
Kedua puisi di atas ditulis oleh penulis pada bulan September tahun 2019 untuk mengikuti Lomba Cipta Puisi Nasional jilid ll yang sudah dibukukan. Diadakan oleh penerbit Kanya Publishing, Malang, Jawa Timur.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top