Sajak

Sajak-sajak Edi Purwanto

NARASI POKOK LADA

Di dalam huma, pokok lada tumbuh
dalam kasih semesta dan cinta yang
dipinakkan sepasang manusia.
Ia terus tumbuh. Jemarinya merengkuh
Sang Tuan dengan kukuh. Sebagian menjalar
bagai ular melata di atas tanah.
Lalu, musim melukismu jadi merah,
hingga gairah meruah dalam jiwa sepasang
anak manusia. Merah, tempat menyimpan
segala kehangatan yang jadi penawar
ketika musim lain datang menggantikannya.

Bandarlampung, 2020

LELAKI YANG MENJELMA JADI ANAK-ANAK

Sebagai hadiah liburan, seorang lelaki membawa
kedua anaknya ke tanah lapang. Di sana, mereka
berlari-lari, mengejar capung-capung yang terbang.
Suka cita berbiak di wajah mereka. Esoknya, ia
menjelma jadi anak-anak lewat kembang
yang mekar di malam hari.

Bandarlampung, 2020

SEBUAH KONSER

Di atas panggung reranting jenitri, sebuah konser semesta
lahir dari sepasang kutilang dan desau angin.
Sinar syamsu menerobos daun-daun jenitri
adalah tata cahaya paling megah di panggung ini.
Suguhan mewah yang disajikan pagi pada kita.
Itulah konser terakhir yang pernah kusaksikan.
Setelahnya, jenitri tak lagi ada.
Rumah-rumah menggantikannya.

Bandarlampung, 2020

BATU MIRAU

Tubuhmu mengundang pukau.
Larung sudah segala risau
menuju lautan.
Benih-benih kebahagian tumbuh
di ladang insan.
Membesar, lalu mekar.
Dari tanah pesisir, harum kebahagiaan
menyebar ke segala penjuru mata angin.
Orang-orang berdatangan, menikmati batu-batu,
pepasir, dan laut biru.
Atau sekadar istirah, menggugurkan segala penat
yang merimbun dalam tubuh.

Bandarlampung, 11 Januari 2021

MERANG

Tak ada yang sia-sia bagi tangkai-tangkai padi
setelah musim panen usai.
Orang-orang, meski jumlahnya tak pernah
menggenapkan hitungan jari tangan, membakarmu.
Ini bukan suatu kekerasan, melainkan cinta yang
telah diwariskan.
Tak perlu harum meraksi dari mahkota yang ada.
Sebab kekuatan dan kegelapan adalah dermaga
yang hendak dituju meski musim terus bergulir.

Bandarlampung, 1 Januari 2021

—————–
Edi Purwanto, lahir pada 7 Juli 1971. Menyelesaikan pendidikan sarjana pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan DaerahFKIP Universitas Lampung. Sejumlah puisinya terbit dalam antologi bersama. Saat ini mengabdi di SMAN 10 Bandarlampung

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top