Panggung

Hadiah Sastra Rancage 2021 untuk Sastra Lampung

Oleh Farida Ariani

SEPANJANG tahun 2020, ada tiga buah buku kumpulan puisi yang terbit dalam bahasa Lampung, yaitu Katan rik Kilak karya Semacca Andanant, Setiwang karya Udo Z Karzi, dan Dang Miwang Niku Ading karya Elly Dharmawanti.

Antologi puisi Katan Rik Kilak berisi 67 puisi yang secara umum bertema kesedihan hati dan juga penguatan diri yang dilandasi dengan falsafah hidup orang Lampung yaitu Piil Pesengiri. Sajak yang mengandung tema kesedihan hati bisa disimak dalam sajak “Katan Rik Kilak” (Luka dan Bekasnya) dengan ungkapan “induh pepira katanni hati”(entah berapa luka hati) Yang menarik adalah banyak sajak yang ditulis dengan pola repetisi setiap frase di awal bait, seperti sajak ‘Lamban Langgar’ (Rumah Panggung), yang terdiri dari tiga bait, dan ketiganya diawali dengan ungkapan ‘lamban langgar’, ungkapan repetitif untuk memberikan peneguhan diri.

Antologi puisi Setiwang berisi 38 judul puisi yang bertema tentang legenda sejarah asal-usul kehidupan orang Lampung, seperti keindahan alam, spiritualitas, serta kritik sosial. Setiwang merupakan nama sungai (Way) yaitu Way Setiwang yang menandai adanya air bersih dan sejuk, membelah kota Liwa. Keindahan alam terlihat pada puisi “Usim Kahwa,1” (Musim Kopi). Penulis dapat menggambarkan harumnya buah kopi yang sudah masak dan penghayatan suasana menikmati minum kopi. Sampai saat ini pun desa tersebut masih mempertahankan tanaman kopi sebagai unggulan bidang pertanian.

Antologi puisi Dang Miwang Niku Ading berisi 70 judul puisi yang menggambarkan nasihat kepada adiknya yang patah hati karna ditinggal kekasih. Judul ini mewakili puisi lainnya yang bertemakan tentang perilaku, tradisi, adat istiadat, dan sikap orang Lampung. Puisi Dang Miwang Niku Ading diungkapkan dalam bentuk puisi pendek dengan menggunakan teknik repetisi dan memiliki kekuatan imajinasi yang tergambar dalam sajak “niku lagi mengura ketutuk mesikop munih” (kamu masih muda juga cantik). Tema pada Dang Miwang Niku Ading merepresentasikan rasa empati dan kasih sayang yang sangat diperlukan di era saat ini terlihat dalam sajak puisi yang berjudul “Jawoh jak Hulun Tuha” yang menggambarkan kebaruan tema di masa pandemi  yang sulit bertemu dengan keluarga dan teman terlihat pada baris “Ajo lagi Corona, mak dacok sesilauan” artinya “ini sedang Corona, tidak dapat saling berkunjung”.

Berdasarkan penelaahan terhadap karya sastera Lampung modern di atas, maka diputuskan penerima Hadiah Rancagé tahun 2021 untuk karya sastera Lampung adalah Dang Miwang Niku Ading karya Elly Dharmawanti, diterbitkan oleh Pustaka Labrak.

————————
Dr.  Farida Ariani, M.Pd, Juri Lampung Hadiah Sastra Rancage 2021, Ketua Prodi Magister Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Lampung FKIP Universitas Lampung.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top