Cerita Pendek

Bus Kota, Malioboro, dan Samsul

Cerpen Febrie Hastiyanto

PERTEMANAN saya dengan Samsul terjadi karena kebetulan. Dan biasa saja sebenarnya. Pada saat seminar di kampus. Tentang kontradiksi-kontradiksi dalam masyarakat yang membuat mahasiswa di manapun menjadi pemberang. Korupsi, pemerataan pembangunan, brengseknya kekuasaan. Selalu tema-tema gerakan mahasiswa menarik untuk dikuliti. Dikaji, sekaligus dipuja. Seperti kemarin, saat saya bertemu Samsul.

Tetapi Samsul tidak. Dia banyak bicara kemarin. Mengutuki mahasiswa-mahasiswa yang disebutnya hedonis, apatis, pragmatis, skeptis. Masih banyak sebenarnya –is, -is dan –tis, -tis yang lain. “Ini bukan romantisme, tetapi nostalgia,” celanya. Namun saya masih menghargainya walaupun saat itu saya belum mengenalnya.

Teman-teman bilang dia anak Sastra. Saya hanya tersenyum karena saya lebih punya wewenang ilmiah untuk berbicara, karena saya mendalami Sosiologi. Saya pikir Samsul terlalu membual, meski saya akui dia lugas. Menembak siapa saja yang mapan. Dengan bahasa provokatif. Masih dibumbui dengan diksi-diksi yang membuih. Dan, jadilah dia primadona seminar kemarin….

TERUS terang saya sedang grogi. Sedikit gengsi. Tetapi Samsul tenang saja. Masih menyetel gitarnya, mencari-cari nada yang pas. Sebentar lagi bus Surabaya-Yogya pasti lewat. Saya juga berusaha tenang seperti Samsul sambil membolak-balik buku harian yang ada belasan puisi di sana. Saya pilihkan yang menarik. Yang lugas untuk dibaca dalam bus Surabaya-Yogya. Tetapi tidak bisa. Saya tetap gelisah.

Lagu pertama mulai dilantunkan. Saya bersama Samsul. Tak bisa tidak. Menyesal saat ini bukan saja tidak perlu, juga tidak boleh. Jadilah Berderap dan Melaju kami nyanyikan. Lagu yang populer dinyanyikan teman-teman di jalanan. Terutama teman-teman yang mengusung ideologi kiri. Saya sebenarnya agak jengah. Bukan takut diidentifikasi sebagai kiri. Tetapi merasa kurang pas dinyanyikan di dalam bus. Apalagi untuk mengamen. Saya kira kita semua setuju nilai-nilai perlawanannya terlalu rendah ditukar dengan receh. Diberikan sambil lalu pula. Tetapi, bukan Samsul kalau tidak punya argumentasi.

”Kita bukan mengamen! Ingat bung. Ini gerakan transformatif yang langsung menyatu bersama rakyat-rakyat miskin berstatus penumpang bus kota. Karena itu kita harus memilih lagu secara tepat. Agar efektif dan tentu harus efisien, dan juga ideologis. Karena itu kamu jangan gentar baca puisi-puisi anti kemapanan. Dan kalaupun ada yang memberi recehan, anggap saja itu sebagai konsekuensi. Sebab daripada akibat. Ini laku deploy Bung.”

Saya menghela nafas. Malas berdebat dengan Samsul yang selalu membawa argumentasi-argumentasi lapangan. Lagi pula saya tidak enak dengannya, karena saya hanya ikut dia hari ini. Saya hanya pengamen tamu. Justru saya akan membiarkan saja, Samsul maunya apa. Agar dia tidak merasa terganggu dengan kehadiran saya.

kaum muslimin pun modern
lihat mereka berwudlu dengan tissu basah berparfum
berjumpalitan dengan tidak lupa salat takhiyatul kantor
imam dan khatibnya cukup televisi 60 inchi
mereka tidak memerlukan uang transport dan gaji

kaum muslimin pun modern
lihat mereka mendapatkan jodoh
melalui komputer biro jodoh
mereka kawin via handphone
dengan penghulunya tape recorder
mas kawinnya kartu kredit dan atm

mereka tidak ada lagi perbedaan pendapat
karena tidak praktis sama sekali
mereka menggantinya dengan kebencian dan permusuhan
toh senjata-senjata mutakhir siap dipergunakan
mulai dari caci maki tajam
hingga rudal-rudal kejam
dan memang sudah agaknya mereka
menjadi robot-robot sejati

(Samsul, Kaum Muslimin pun Modern: 2003)

SAYA banyak berbeda dengan Samsul. Soal pendapat. Soal pilihan hidup. Latar belakang kami kontras sekali. Meski wacana-wacana kami hampir sama, sebenarnya pemaknaan saya dan Samsul berbeda. Kalau dibilang aktivis, identitas ini lebih tepat untuk Samsul. Dia pernah bilang tidak pernah mau menjadi birokrat. Apalagi mengenakan baju safari di Senayan.

Sebetulnya saya lebih hipokrit ketimbang Samsul. Meski saya juga bergiat dalam pergerakan mahasiswa, saya menjaga betul demarkasi kepentingannya. Maksudnya agar hidup saya berimbang. Tidak melulu berpikir mencerahkan rakyat. Sedang diri sendiri belum tercerahkan. Seperti Samsul. Luar bisa dia menghina saya yang meluangkan waktu menonton Ada Apa dengan Cinta dengan teman-teman. “Huu, borjuis kecil!!” makinya.

saat kalian ulurkan tangan kepada kami,
terlambat. karena negeri ini telah pecah dalam degup genderang.
ketika kalian menaburi kami dengan slogan,
terlambat. karena kami telah bergerak di jalanan.
dan waktu kalian menanti peluh kami,
terlambat. karena dada kami merah meradang.

kami, generasi yang tidak rela dikhianati
menolak bungkam meski sejuta senapan disodorkan.
kami, generasi yang lahir dalam ketakutan
menolak diam meski diracuni kemiskinan.
kami, generasi yang tidak rela biasa-biasa saja
menolak larut dalam letup-letup kesadaran palsu.

(FH, generasi yang tidak rela biasa-biasa saja, 2003)

SAMSUL memberi kesempatan kepada saya untuk membaca puisi. Walaupun masih grogi campur gengsi saya paksakan juga. Membaca dengan lantang. Padahal ini kali pertama saya membaca puisi di depan publik! Dan mengalir kemudian Generasi yang Tidak Rela Biasa-Biasa Saja. Samsul mengiringi dengan petikan gitarnya. Penumpang mengantarkan dengan cuek. Justru saya semakin meledak-ledak. Sampai Samsul membisiki telinga saya: jangan keras-keras, kalau tidak mau digebuki orang sebanyak ini!

Saya tersekat. Tetapi untungnya puisi sudah selesai dibacakan. Kini gilirannya Samsul. Saya kebagian tugas mengedarkan plastik bekas pembungkus permen pada semua penumpang. Dalam hati saya menghitung receh-receh yang dimasukkan. Lumayan ketimbang pengamen kebanyakan.

Tidak pernah saya kira. Setangkup receh dan uang seribuan yang saya taksir tiga puluh ribuan seluruhnya. Untuk yang pertama saya kagum pada dunia ini. Dua lagu lima puisi dihargai tiga puluh ribu. Dalam lima belas menit! Saya hanya mencoba mengkonversinya dalam delapan jam, jam kerja dalam sehari. Huh, Samsul tidak suka saya menghitung-hitung uang. “Kamu telah menjadi kapitalis,” bisiknya.

Saya tidak dapat menahan diri lagi. ”Kamu tidak butuh duit?” suara saya meninggi. ”Jelas butuh doonggg,” katanya, masih kalem. ”Hanya cara kita memaknai saja berbeda. Duit-duit itu hanya akibat, konsekuensi. Justru transformasi yang kita lakukan tidak dapat digantikan hanya dengan rupiah sebanyak tiga puluh ribu kali lima belas menit kali delapan jam!” Samsul berusaha menguraikan pandangannya kepada saya. Saya menjawab ketus: “Akumulasi, akumulasi, itulah nabinya, begitu kan maumu?” Samsul tersenyum, ia mengatakan: ”Kita jelas berbeda dengan pengamen-pengamen lainnya. Menyanyi, sedikit mengintimidasi, dapatduit, menjadi musuh bersama penumpang satu bus, selesai. Kita melakukan proyek jangka panjang, bung. Mengungkap kontradiksi dalam masyarakat. Siapa lagi pemainnya, kalau bukan kapitalis-kapitalis. Seperti kamu!”       

SAMSUL seorang yang menarik. Setidaknya ia berbeda dengan saya. Mengakunya sih, dia Marxian. Sejati katanya, menambah-nambahi. Justru saya menjadi tidak terlalu percaya. Dia tipikal orang lapangan betul. Tidak mau berpanjang-panjang soal teori. “Huu, literalis,” dia mengatai saya. Saya hanya diam saja. Takut dia membual banyak soal-soal menggombal filosofis.

Saya justru sedih melihatnya. Dia mengaku belum pernah baca Karl Marx sampai selesai. Juga yang terjemahan. Atau sumber-sumber tersier. Bagaimana bisa? Tetapi Samsul bisa cerita banyak soal buruh. Masalah-masalah kaum miskin kota dia hapal betul. Di luar kepala. Kalau saya coba kontekskan, dia bicara juga soal alienasi. Kesadaran palsu. Akumulasi modal. Dan yang sudah jelas pertentangan kelas. Hanya Samsul tidak mengkonsepkan kenyatan-kenyataan itu dalam bahasa-bahasa akademis. Samsul memaki saya habis-habisan sebagai seorang text book. Mengambil inisiatif menjadi borjuis kecil. Yang takzimdalam menara gading bernama kampus.

Ya, ya. Saya mahasiswa ilmu sosial. Saya bisa bicara banyak tentang paham kiri. Dan kamu menambahi dengan praxis ideologi. Saya menjawab maki-makinya. Selain tidak enak dimaki terus, saya pikir dia akan sepakat dengan saya. Bukan Samsul namanya kalau asal setuju. “Tidak bisa, tai kucing teorimu!” katanya. Bukan main saya merah padam. Terutama karena dia bawa-bawa kotoran kucing, pada argumentasi sekelas mahasiswa. “Baik. Saya akan menyelami ideologi kamu. Dan kamu belajar teori-teori kiri dengan benar,” tawar saya. Samsul agak melunak setelah suara saya meninggi. “Saya terima,” katanya kemudian. “Tapi bukan berarti saya sepakat dengan teori-teori kamu!” katanya lagi. “Lho, saya juga takpernah sependapat dengan ideologi kamu!!!” Saya sudah meledak sekarang….

“SAYA itu kadang-kadang merasa menjadi seorang agnostik,” kata Samsul kepada saya. “Atheis kali,” saya menambahi. “Bukan, antitheis mungkin,” lagi Samsul datar. Giliran saya yang tersedak. Tapi saya tidak yakin dia seberani itu. Saya tahu dia sedang meragukan segala sesuatu. Apalagi yang sudah mapan. Namun untuk mengidentifikasi sebagai seorang yang menyimpang: devian, kelihatan betul kalau dia masih ragu-ragu.

Ini yang membedakan orientasi keimanannya dengan saya, yang kanan mentok. Dia seorang muslim, seperti saya. Tapi pemahaman atas kemusliman kami masing-masing berbeda. Samsul lebih eksentrik. Katanya sih, substantivistik. Inklusif. Kontekstual. Membumi. Saya tidak pernah mempermasalahkan pemikiran-pemikiran liarnya. Samsul mampu bertanggungjawab. Maksudnya punya argumentasi yang matang soal pilihannya itu. Tentu saya tidak berani memberi nilai benar atau salah. Karena itu hak prerogatif Tuhan.

Ada kesan yang mendalam berteman dengannya. Paling tidak saya dapat mengkontekstualkan pemahaman teoritik saya dengan realitas lapangan yang dibawa Samsul. Cuma Samsul terlalu sektarian. Bahwa ideologi selain kiri tidak pernah mau dibahasnya. “Buat apa menguliti kebusukan,” katanya. “Justru yang busuk itu kamu. Bagaimana mau melawan kapitalisme kalau kamu tidak pernah tahu celah-celah kelemahannya?” jawab saya ketus. Heran, kali ini Samsul malah tertawa-tawa…. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top