Cerita Pendek

Bunga di Kepala Ibu

Cerpen Mufti Wibowo

AKU tak tahu sejak kapan kepala ibu ditumbuhi tangkai-tangkai yang menjulurkan bebunga sepanjang tahun. Semua orang tahu, hanya beberapa waktu saja tulip mewarnai Turki, atau sakura menyelimuti Jepang. Untuk itulah, aku pernah bertanya, “Mengapa tak ada bunga-bunga di kepalaku, Bu?” Ibu tak pernah menjawab pertanyaan itu, kecuali dengan senyum yang paling lembut. Aku tak puas, tapi dia meredam kecemburuanku dengan pelukan yang sangat hangat sehingga aku merasa bunga-bunga di kepala ibu juga adalah bunga-bunga yang tumbuh di kepalaku sendiri.

Bunga di kepala ibu adalah bunga terindah dan terwangi yang pernah aku jumpai—setelah aku keliling dunia. Tapi, aku telambat mengatakan itu kepada ibu yang jasadnya telanjur tertanam di liang lahat, di salah satu sudut taman di samping rumahnya. Ibu menyusul ayah.

Dulu, ayah adalah batu karang yang mampu menolak gelombang tinggi seganas apapun. Saking kasar permukaannya yang berrongga, ibu tak pernah mengizinkan kakiku berjalan di atasnya. Jika aku memaksa ingin bermain di sana, ibu akan rela berpayah-payah mengendongku. Baru bertahun-tahun kemudian, aku tahu kaki ibu selalu berdarah saat berjalan di atas karang itu. Pada saat yang sama, ibu selalu tersenyum dan bersikap manis padaku yang membebani pundaknya dalam gendongan.

Keanehan lain tentang ayah aku ketahui suatu ketika, saat ibu tergolek di rumah sakit hampir sebulan lamanya.

“Ayah, kenapa bunga-bunga di kepala ibu layu.”

“Ayah tak pernah melihat apapun. Ibumu begitu keras kepada seperti batu, hanya lumut dan cacing yang sanggup bertahan hidup di sana. Karena itu, ia sakit.”

Sejak itu, aku tak pernah lagi bicara dengan ayah sebagaimana aku tak pernah melihat ayah bicara pada ibu.

***

Di hadapku, rimbun bugenvil beraneka warna yang akarnya tersembunyi dalam pot-pot besar menyambut. Bugenvil-bugenvil itu ditanam ibu saat aku masih SMA. Taman itu segera menjadi panggung teater bercahaya sepia. Aku terisap labirin memori.

Bayangan bocah perempuan muncul tiba-tiba. Kaki mungilnya berjingkat-jingkat memburuku dengan mulut yang menghamburkan sapaan sayang. Aku berjongkok untuk menyambut bocah yang tingginya baru sepinggulku.

“Ada apa, Sayang?”

Dengan jari-jari tangan mungil yang menggenggam jari telunjuk tangan kananku, dia menuntunku melangkah.

“Ke mana?”

Bocah itu bersikeras tak ingin menjawab seakan yang akan ditunjukkannya suatu rahasia yang kalau saja dia katakan akan mengganggu orda tata surya. Benar saja. Bocah itu segera melepas genggamannya padaku tepat di pokok pohon rambutan yang berumur sama denganku. Dia lalu memanjat batang pohon itu lalu duduk di salah satu cabangnya yang terendah, kupikir hampir dua meter. Dari atas, dia tersenyu manis dan berisyarat agar aku mengikutinya.

Tak ingin kehilangan kesempatan berakrab-akrab dengan bocah itu. Tanpa bersusah payah, aku bisa memanjatnya dan duduk di cabang dahan yang berlawanan dengannya. Tak lama berselang, bocah itu menunjuk ke arah rimbunan bugenvil. Astaga, sungguh indah rimbunan bugenvil warna-warni yang ditimpa sinar matahari yang tak lama lagi akan berubah keperakan. Bocah itu telah membuatku menitikan air mata bahagia. Air mata yang segera kurahasiakan darinya saat suara Ibu memburu kami untuk sarapan.

Mulut bocah itu tak ada lelah menyanyi dalam gendonganku sebelum kami sampai di meja makan. Kami lalu duduk saling berhadapan dari sisi-sisi meja kayu bundar itu. Jumlah kursi di sana masih sama, empat. Pada masa lalu, penghuni rumah ini selalu makan pada posisi dan kursi yang ajek. Kursi yang menghadap ke arah barat adalah milik Bapak, kursi itu selalu kosong sejak keatiannya. Ibu menghadap ke arah utara, di sisi kiri kursi Bapak. Sedangkan aku lebih senang duduk lebih dekat kepada ibu di sisi kirinya, alih-alih berseberangan dengan Bapak.

Bocah itu rupanya memiliki sikap yang sama denganku. Dia mengambil tempat duduk di sisi kiri ibu, kursi masa kecilku. Karena itu, sejak pagi itu, aku duduk di sebelah kanan ibu. Aku duduk di kursi yang sebenarnya adalah tempat duduk Bapak.

“Bolehkan aku duduk di sini, Bu?”

Ibu menjawab dengan senyuman lembut. Aku tahu, dia bahagia.

“Ibu melarang aku duduk di sana,” protes bocah itu ketus mengundang tawa aku dan ibu.

“Bukankah kamu sudah punya kursi sendiri, apa kamu bisa duduk di dua kursi pada saat bersamaan?” godaku.

Bocah itu tak puas lalu mengalihkan topik pembicaraan, “Kita sarapan apa, Bu?”

Setelah bersama-sama membuka hidangan yang dibeli dari penjual sayur keliling langganan ibu, kami sarapan menu nasi jagung, urab daun pepaya yang tentu saja pahit, dan ikan asin. Aromanya khas sekali, sedap, mengingatkanku pada masa kecil.

Pertama kali ibu mengenalkan makanan itu, aku tak menyukainya. Tapi, itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika ibu menceritakan padaku bahwa makanan itu pada masa ibu kecil sangatlah istimewa. Bisa dimengerti, konon, pada saat itu, hanya keluarga tertentu saja yang bisa makan nasi. Ibu selalu menceritakan peristiwa yang sama jika aku mogok makan karena menu makan yang dimasaknya tak sesuai dengan seleraku.

Setelah makan, bocah itu memanggil teman-teman kampungnya untuk bermain di halaman rumah kami yang cukup luas itu. Ibu mengingatkannya untuk tidak memitiki bunga-bunga di taman kesayangannya yang banyak mengundang serangga dan burung-burung itu. Bocah itu menyanggupi tanpa beban sebelum menghilang tertelan mulut pintu depan.

Seperti bocah, aku menggelungkan tubuh dan meletakkan kepala di paha ibu yang tengah menjahit.

“Bu, Pekerjaan membuatku tak bisa berlama-lama di sini. Di sana, aku merasa akan cepat mati jika dicekam sepi.”

Mendengarnya, ibu meletakkan baju dan jarum jahitnya. “Bulan depan, usiamu genap 25. Menikahlah!”

“Aku belum lagi berhubungan dengan laki-laki, Bu.”

“Lupakan rasa sakitmu yang dulu.”

Aku tahu, aku harus diam dan mendengar saat air mata ibu jatuh tepat di hidungku. Aku tertawa angkuh, mungkin naluri untuk tak menyembunyikan luka di hatiku yang belum juga kering. Mendadak aku melihat wajah Bapak di langit-langit. Bukan wajah yang ditunjukkannya saat aku lulus dengan nilai terbaik. Sebaliknya, aku menemukan raut wajahnya saat pertama kali mendengar kehamilanku.

“Apa Bapak telah memaafkanku sebagaimana Ibu?”

Tak lama setelah melahirkan, aku memang memilih mengasingkan diri. Setelah menyelesaikan kuliah yang tertunda, aku bertahan hidup di J dengan bekerja sebagai editor.

“Aku ingin dia ikut dan tinggal bersamaku di J.”

“Hanya masalah waktu, hal itu pasti akan terjadi. Kalau memang sekarang waktunya, aku takkan menghalangi.”

“Ibu akan ikut dengan kami,” tukasku.

“Aku tak akan pergi dari rumah ini. Dari sini, aku akan leluasa menziarahi Bapakmu.”

“Ibu akan kesepian kalau sendiri di rumah.”

Pembicaraan dan derai air mata kami terhenti begitu saja saat bocah itu tiba-tiba muncul dengan muka kecut dan mata yang berkaca. Dia merajuk dan mendekap tubuh ibu dengan sangat erat lalu menangis dengan hebat.

“Kenapa menangis?” tanya ibu menenangkan bocah.

“Mereka tak mengajakku pergi ke sungai.”

“Apa katanya?”

“Aku tak punya burung.”

“Aku juga tak punya,” olokku.

“Ibu juga tidak,” tukas ibu mengundang tawa kami.

***

Rencana yang sempat tertunda itu akhirnya terjadi bertahun kemudian, melalui sebuah goncangan yang mengoyak jiwa remajanya. Mata jelinya menredup seketika kematian wanita yang selama ini dipanggilnya ibu. Dia tak punya pilihan selain tinggal denganku.

“Kamu tak harus memanggilku Mama jika itu sulit, Sayang.”

“Aku akan memanggilmu Mama, dengan syarat.”

“Itu terlihat menantang, apa?”

“Apa kau melihat sesuatu yang hidup di kepala ibu?”

“Kupikir aku pernah melihatnya saat kecil, tapi tak lagi saat aku beranjak remaja sepertimu.”

“Apa?”

“Bunga-bunga yang menjuntai di ujung ranting dan dahan berduri.”

“Dari mana bunga dan duri-duri itu?”

“Ibu tak pernah mengatakknya, mungkin dia sendiri tak tahu.”

“Bohong!”

“Ibu hanya mengizinkan aku mengagumi keindahan bunga-bunga itu dan mengenali wanginya seperti kupu-kupu.”

“Mengapa di kepalamu juga ada bunga-bunga itu, tapi tidak di kepalaku?”

Aku tertawa dan memeluknya, tapi dia tetap dingin dan kaku seperti batang pohon yang bertahun-tahun mati karena tersambar petir.

Fakuntsin, 2020

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top