Pustaka

Menyelami Kedalaman Alquran

Oleh Ridwan Nurochman

DATA BUKU
Judul: Markesot Belajar Ngaji. Penulis: Emha Ainun Nadjib. Penerbit: Bentang Pustaka. Cetakan: Pertama, Januari 2019. Tebal: xiv + 238 halaman. ISBN : 978-602-291-516-4.

“DAN seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelahnya (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana (QS. Luqman:27)

Ayat ini menjadi pijakan Emha Ainun Nadjib/Cak Nun dalam buku Markesot Belajar Ngaji. Dalam buku ini CakNun mengatakan bahwa ilmu dan pengetahuan manusia tak akan mampu menjangkau ujung ruang satuan-satuan. Manusia hanya dikurung dalam penjara bernama cakrawala, angkasa tak terhingga. Hal semestinya ini membuat sadar betapa kerdilnya dia. Setiap iqra mencerminkan kekerdilan.

Buku ini merupakan kelanjutan dari seri daur yang sebelumnya juga sudah terbit setahun silam. Seri Daur merupakan catatan harian Emha Ainun Nadjib/ CakNun yang saban hari terbit di caknun com. Tulisan-tulisan dalam buku ini bertujuan mengajak pembaca melakukan dekonstruksi, pemahaman nilai, pola komunikasi, cara berpikir dengan terus mengupayakan solusi masalah masyarakat. Dalam buku ini, CakNun menekankan kepada anak-cucunya untuk kembali meresapi kata Iqra yang memiliki makna yang luar biasa luas.

Markesot Belajar Ngaji akan memperkaya wawasan kita mengenai upaya memahami Al-Quran, yang tak semata-mata terwakili oleh metode akademis. Buku ini memperkaya dan menunjukkan betapa celah tadabur yang belum kita masuki. Dengan artikulatif CakNun memetik pesan Al-Quran untuk membahas dan memberikan perspektif suatu persoalan.

Dalam buku ini CakNun menyampaikan bahwa umat manusia seantero permukaan bumi sanggup menafikan perbincangan antara Tuhan dan hamba-Nya yang Ia nabikan itu. Kesanggupan dalam menggunakan akal yang aneh itu membuat manusia merasa dirinya pada era paling rasional dibandingkan era-era lain dalam sejarah umat manusia sejak Bapak Adam.

Mereka meyakini bahwa kurun hingga abad ke-21 ini adalah rentang panjang kemajuan manusia melebihi pencapaian sejarah era mana pun. Sedemikian majunya penduduk Bumi saat ini, sehingga kedudukan demokrasi mengatasi kedudukan Tuhan pada sistem nilai di alam pikiran mereka (hal. 110)

Tuhan yang muncul di mulut mereka, maksud mereka Tuhan dalam konsep sekulerisme. Dan, itu diikuti oleh hampir semua penyembah Tuhan dan pemeluk agama. Tuhan mereka sembunyikan di nilik terpencil, di pojokan konteks, di relung hati kecil. Kebanyakan penduduk Bumi mengalami pengaburan penglihatan sehingga Tuhan tampak tak tunggal oleh rohaninya.

Cak Nun menambahkan bahwa masyarakat dunia saat ini selalu menomorsatukan Tuhan dalam peridabatan, namun menormortigakan, bahkan meniadakan Tuhan di hampir setiap urusan keduniaan. Tuhan mereka anggap hanya dalam ibadah saja. Tidak dalam setiap gerak napas mereka.

“Kalau memori pikiranku sudah menghafal sejumlah kalimat Al-Quran, tidak berarti aku tak hanya menyentuhnya, tetapi telah selalu menempel, melekat, dan menyatu dengannya. Jadi, berapa aku selalu berdosa. Meskipun selalu menjaga wudu, batin dan jiwaku tak pernah benar-benar suci. Aku sudah tak mungkin lagi memisahkan dan membuang sejumlah wahyu dari diriku. Ayat-ayat Al-Quran berdetak di jantungku, mengalir di darahku, bergetar dalam cintaku” (hlm.183)

Melalui buku ini, sekali lagi CakNun ingin mengajak anak-cucunya untuk menyelami kedalaman Al-Quran dalam bingkai kedekatan batin manusia kepada firman Allah. Selain itu, CakNun juga mengajak kita untuk tidak terjebak pada kesempitan pengetahuan kita sendiri sebab pengetahuan Allah begitu luas dan kaya, dan kita tidak boleh berhenti mencari dan memetiknya. []

——————-
Ridwan Nurrochman, pembaca buku

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top