Esai

Gus Dur sudah Meneladankan

Oleh Moh. Rasyid

PADA 30 April 2001 ribuan bahkan (mungkin) jutaan Nahdliyyin dari berbagai daerah (khususnya) Jawa bergerak memadati sudut-sudut jalan. Aksi protes itu terlihat jelas arahnya pada spanduk-spanduk yang bertuliskan “Kami Bersama Gus Dur”, bahkan “Kami Siap Mati demi Keutuhan Bangsa & Negara serta Tegaknya Pancasila-UUD 45”. Mereka bak martir yang siap mati untuk membela dan mempertahankan Presiden Gus Dur yang sedang mendapat serangan secara politik, dari berbagai arah.

Berkat kelembutan hati serta keluasan spektrum pemikiran Gus Dur, kekecewaan dan egoisme demonstran akhirnya berhasil diredam. “Sebagai Nahdliyyin, saya harap Anda semua dengan tenang pulang ke rumah, dan jangan berbuat kecerobohan dengan merusak aset organisasi Islam maupun organisasi yang tidak berdasarkan Islam”. Begitu kira-kira pernyataan Gus Dur dalam menyikapi heroisme demonstran yang siap mati demi mempertahankan sebuah jabatan. Tapi sekali lagi, Gus Dur tak ingin itu terjadi.

Ibrah yang bisa kita petik dari sikap Gus Dur adalah bahwa ikhwal politik-praktis tidak lebih penting daripada urusan persaudaraan dan kemanusiaan. Urusan kemanusiaan harus diposisikan diatas segala kepentingan kekuasaan.

Bulan Desember adalah bulan Gus Dur. Desember adalah bulan dimana banyak orang mengenang kepergiannya sejak 31 Desember 2009 silam. Penghujung bulan ini, bisa jadi sebagai ‘hari duka’ bagi para pengikut, pecinta, dan pengagum pemikiran Gus Dur. Tapi sangat bisa jadi hari itu justru sebagai ‘hari suka’ karena kematian, bagi Gus Dur, adalah awal perjumpaannya dengan Tuhan di alam keabadian.

Mengutip sebuah syair Arab tentang hakikat kehidupan-kematian yang sering disitir Gus Dur dalam berbagai kesempatan. Terjemahan Gus Dur; “ibumu melahirkan engkau, wahai anak Adam. Ketika itu engkau menangis, dan orang-orang sekitarmu semuanya tertawa gembira. Karena itu buatlah dirimu ketika mereka menangisi engkau di hari kematianmu, engkau sendiri yang tertawa gembira”. Sebuah esensi hidup seorang Gus Dur, yang buktinya bisa kita lihat dan rasakan sejak kepergiannya hingga hari ini.

Gus Dur lahir di muka bumi seperti ‘juru selamat’ bagi segenap umat manusia, kita pun bergembira-ria atas kelahirannya. Dan ketika tiba saatnya Gus Dur dipanggil-Nya, kita pun bersedih sembari menangisi kepergiannya. Kepergian Gus Dur mengundang tangis berkepanjangan. Ia akan selalu dikenang karena tidak lekang oleh sejarah. Pemikiran-pemikirannya cukup maju, bahkan melampaui zamannya. Maka sangat beralasan jika pada titik-titik tertentu, kita, yang miskin pengetahuan ini, selalu gagal memahami pemikirannya yang sesungguhnya akan selalu relevan dengan perkembangan zaman yang kian bergerak maju.

Saya tidak bisa membayangkan betapa sedih hati Gus Dur kalau saja sekarang masih hidup; Gus Dur sedih ketika pada September lalu mencuat kabar warga Kristen di Ngastemi, Mojokerto, dilarang beribadah di wilayahnya sendiri. Kesedihan Gus Dur semakin menjadi ketika pada saat yang hampir bersamaan Pendeta Papua, Yeremia, tewas terkena tembakan. Beberapa bulan kemudian, kesedihan Gus Dur hampir mencapai puncaknya setelah menonton berita televisi tentang pembunuhan sadis satu keluarga di daerah Sigi, Sulawesi Tengah.

Kesedihan Gus Dur terus berlanjut. Itu bisa kita lihat dibalik bunyi perut-perut rakyat yang kelaparan, dibalik persekusi terhadap rakyat kecil yang sekedar ingin mempertahankan lahan miliknya, dibalik kepongahan ‘kaum beragama’ dengan memamerkan simbol-simbol agama, dan dibalik setiap kejadian yang menerobos ruas-ruas kemanusiaan. Ringkasnya, kesedihan Gus Dur adalah pada saat manusia tidak bisa hidup aman dan nyaman sesuai kodrat kemanusiaan, apapun warna kulit, suku, golongan, dan background agamanya.

Dan kalau saja Gus Dur masih hidup, ia tidak akan bosan membersamai orang-orang papa, ia akan selalu hadir memberi dukungan moral, moril, maupun materiil bagi orang-orang yang terdiskreditkan hak-hak ekonomi dan politiknya. Sungguh, betapa Gus Dur sudah meneladankan sikap toleran ditengah masyarakat Indonesia yang plural.

Konsep toleransi Gus Dur tidak berangkat dari ruang kosong. Ia merupakan hasil dari proses dialogis antara keilmuan agama, falsafah Pancasila, dan realitas sosial. Konsep ini, juga erat kaitannya dengan pemikirannya tentang pluralisme dan demokrasi. Jika pluralisme adalah bagaimana kemajemukan agama bisa diterima, dan demokrasi adalah sistem kenegaraan yang mewadahi kemajemukan agama tersebut. Maka ‘toleransi beragama’ adalah bagaimana berinteraksi dalam kemajemukan agama. Toleransi beragama Gus Dur lebih bersifat aksiologis dan pemeliharaan realitas kemajemukan.

Kita harus mengakui bahwa pemikiran Gus Dur memberi pengaruh yang cukup besar bagi keberlangsungan toleransi beragama di Indonesia. Itu bisa kita lihat, salah satunya, pada pemikirannya dalam hal keagamaan, politik, dan bernegara yang melahirkan pandangan berbeda dari mainstream pemikiran orang yang menjadikannya sebagai pelindung atas berbagai ketidakadilan dan ketimpangan.

Konsep pluralisme yang ditawarkan Gus Dur, terorisme yang dianggapnya sebagai tindakan menyimpang, kelompok Ahmadiyah yang dibelanya, kebolehan mengucapkan selamat Natal dan ikut serta merayakan hari-hari besar agama liyan, dan kebebasan berekspresi warga Tionghoa setelah diakuinya agama Kong Hu Chu sebagai agama resmi di Indonesia, merupakan konsekuensi logis dari pemikiran Gus Dur yang hingga kini kita kenang.

Setelah mengenang Gus Dur, lantas, kita mau berbuat apa?

Pertanyaan itu yang selalu saja terbesit dalam ingatan. Mengenang Gus Dur tidak cukup diekspresikan dalam bentuk seremonial, memamerkan gambar-gambarnya dalam bangunan megah yang hanya bisa dimasuki orang-orang berkemampuan (secara ekonomi). Apalagi, misalnya, mencatut kebesaran nama Gus Dur untuk kepentingan pragmatisme-politik lima tahunan, jelas makin jauh dari idealisme kemanusiaan yang Gus Dur ajarkan. Melainkan, melanjutkan semangat perjuangan di jalur kemanusiaan adalah cara mengenang Gus Dur yang paling ideal, daripada sekedar memamerkan simbol-simbol sesaat.

Pada akhirnya kita semua tahu, Gus Dur seorang hamba yang multidimensi. Gus Dur keturunan Kyai besar yang berhasil menjaga kesucian nasabnya, dan melanjutkan misi dakwah dengan caranya yang elegan, cair, dan partisipatoris. Gus Dur seorang Presiden yang kebijakan-kebijakannya bertitik tolak dari kepentingan rakyat. Gus Dur orang yang besar, pemimpin agama sekaligus negara yang senantiasa memandang umat manusia dengan mata kasih sayang.

Gus Dur telah meneladankan, saatnya kita melanjutkan. Lahu al-fatihah…! []

————–
Moh. Rasyid, Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top