Human

Eksistensi Sastra(wan) pada Masa Pandemi

Oleh Kartika Catur Pelita

PADA masa pandemi Covid-19, profesi penulis benar-benar mengalami paceklik. Royalti tertunda diberikan karena penjualan buku sepi. Toko-toko buku konvensional tutup. Perusahaan penerbitan merumahkan atau mem-PHK-kan karyawan.

Namun, penulis terus berkarya. Masa-masa pandemi mereka terus menulis demi tetap tegaknya periuk dan eksistensi. Dibanding buku, media cetak koran masih bertahan, masih menerima dan memuat cerpen, puisi, opini, esai, atau jenis tulisan  sastra lainnya. Meskipun honor menulis di media cetak relatif kecil. Honor cerpen di surat kabar nasional berkisar Rp400.000-1.400.000. Sementara di koran local Rp.100.000-300.000. Honor puisi di media nasional kisaran Rp.400.000-1.000.00. Jika puisi dimuat  di media lokal bernilai honor Rp25.000-200.000. Esai di media nasional Rp.500.000-1.000.000. Sementara di media lokal kisaran  Rp. 300.000.

Seiring tumbuhnya media daring, berpengaruh pada merosotnya oplah penjualan media cetak, koran, tabloid, dan majalah. Berkurang pula pemasang iklan, berimbas pada menipisnya pemasukan, media cetak menghapus rubrik budaya, yang biasanya memuat karya sastra. Atau, mereka mempertahankan rubrik budaya, konsekuensinya tidak memberi honor. Sebuah dilema, pada satu sisi media bertahan hidup, sementara penulis tidak mendapat aspresiasi.

Ada penulis yang bisa menerima hal ini, semisal penulis pemula, yang merasa bahagia  ketika karyanya dimuat media cetak, atau penulis yang tidak semata-mata mencari honor atas tulisannya. Namun, hal ini tentu tak berlaku pada barisan penulis yang menulis merupakan profesi. Meskipun selain menulis, mereka juga mendapat penghasilan sebagai pembicara,  narasumber, juri, kurator, atau mentor pelatihan menulis berbayar.

Ketika musim pandemi tiba, profesi para penulis pun terpengaruh. Sebagian besar pemulis menulis di rumah, bekerja dari rumah. Mereka mengirim tulisan ke media atau penerbit via email. Penulis berproses kreatif di mana pun bisa. Di rumah, kantor, cafe, mal, di tempat  ramai, di tempat hening. Ini berhubungan dengan kebiasaan personal. Seperti halnya kebiasaan pelatihan  menulis yang dulu diadakan dengan cara konvensional-mentor mengajar pada sebuah ruangan. Sekarang pelatihan menulis via virtual.

Demikian pula penjurian lomba menulis atau membaca karya sastra. Para juri cukup rapat muka virtual demi menentukan pemenang. Pandemi melahirkan kebiasaan baru yang memanfaatkan kecanggihan teknologi. Pada awalnya beralasan demi keamanan seseorang agar tak terinfeksi virus Covid-19. Tidak dipungkiri kebiasaan baru ini di masa mendatang  niscaya menjadi sebuah kebutuhan.

Eksistensi  Penulis

Pada masa sekarang hubungan seorang penulis dan pembaca seperti dibatasi garis tipis. Pembaca bisa mengintip proses kreatif dan kegiatan si penulis. Demi eksistensi si penulis  melakukan terobosan ciamik. Seperti yang dilakukan Dewi Lestari, membuka kelas pelatihan menulis berbayar, dan animo  membeludak. Padahal  Dee, penulis novel ‘Aroma Karsa’ mengadakan pelatihan secara virtual. Konsep pembelajaran yang intim,  menarik,  sangat berkesan, sehingga orang tidak eman-eman mengeluarkan sejumlah uang bernilai ratusan ribu.

Pada masa Pandemi juga menginspirasi Fajar Putu Arcana, sastrawan, sekaligus redaktur cerpen Kompas, mengadakan agenda pelatihan menulis cerpen, ngobrol bareng para sastrawan senior, dari Ahmad Tohari, Joko Pinurbo hingga Sapardi Djoko Damono. Para  sastrawan gaek berbagi proses kreatif dan pengalaman hidup dalam masa pandemi via IG  dan Zoom. Pembaca, pecinta sastra  bisa mengulik isu-isu sastra terkini. Dari pernyataan Sapardi Djoko Damono-tentang menulis tanpa kaidah. Tips menulis cerpen yang bagus supaya bisa menembus media nasional. Isu fenomena pemuatan ganda dan plagiasi. Bli Can pun menggagas para penyair membaca puisi bersama-sama via aplikasi virtual. Tren yang kemudian diikuti kalangan sastrawan di bumi Nusantara. Ada kepuasaan. Ada eksistensi. Ada kebutuhan yang terpenuhi.

Karya-karya Sastra  Bertema Musim Pandemi

Sebuah karya sastra terlahir dari kondisi sosial atau keadaaan zaman yang dirasakan saat si penulis, pencipta karya tersebut hidup. Unsur eksternal karya sastra berpengaruh pada sosok sastrawan, atau penulis, sehingga ia bisa melahirkan karya yang berhubungan, berlatar kondisi sosial tersebut. Tak dipungkiri, masa-masa pandemi, selain berdampak pada kekhawatiran, kepanikan, ketakutan, perubahan nilai sosial, dan berubahnya kebiasaan dan tatanan hidup, masa wabah juga menginspirasi para sastrawan menulis karya sastra bertema Covid-19 atau virus Corona.

Pada bulan Maret-Juli 2020, media cetak dan daring kerap memuat karya sastra bertema Covid-19. Di antaranya: ‘#DiRumahSaja Bekerja dengan Kata-Kata’ esai Syaifuddin Gani dimuat di Harian Rakyat  Sultra. ‘Covid -19 Pun Tidak Luput dari Hoax’, esai Muhammad Yunus di  Radar Bromo. Ada juga ‘Menularkan Virius Menulis di Masa Pandemik’, ditulis Komala Sutha, dimuat di Utusan Borneo, Sabah, Malaysia. Deretan puisi,  ‘Balada Covid  dan Corona’, ‘Balada Covid dan Corona 2’, Sigit Sugito, di Kedaulatan.Rakyat. Puisi ‘Korona (Covid -19) Ujian Tuhan,’ ‘Covid  -19 di Jongko Joyoboyo’, ‘Covid -19 dan Lintang Kemukus’ ,  buah pena penyair Begawan Tjiptoroso di Radar Banyuwangi. Puisi ‘Dongeng Pagebluk’, anggitan Abdul Wachid B.S., dipublikasikan di Harian Rakyat Sultra. Kemudian cerpen  ‘Menembus Pandemi’-Isbedy Setiawan di Suara Merdeka, ‘Kematian Bang Oim’ cerpen Ilham Wahyudi di Riau Pos.  ‘Saijah Naik ke Surga’, cerpen Sri Wintala Achmad  di Kedaulatan Rakyat.

Para penulis terpantik, berkarya perihal wabah yang juga masih terjadi  pada bulan suci Ramadan dan hari raya Idul Fitri 2020. Ada esai ‘Berpuasa di Pandemi Covid-19’, tulisan Abu Nasir di Radar Bromo.  Kemudian, puisi  ‘Menyisir Malam Ramadhan’, ‘Terbayang Lebaran’, Keliek SW, Kedaulatan Rakyat. Puisi ‘Merapal Doa di Tubuh Malam’, karya Miftachur Rozak di Pikiran Rakyat. ‘Puasanya Puasa’, ‘Desanya Desa’, ‘Kampungnya Kampung’, ‘Hari Rayanya Hari Raya’, puisi Mustofa W. Hasyim di Kedaulatan Rakyat. Ada cerpen  ‘Siapakah yang Telah Mengisi Saf?’ tulisan Ede Tea di Minggu Pagi. ‘Wulan Tak Pulang di Hari Lebaran”,  Kartika Catur Pelita di Minggu Pagi. Cerpen, ‘Tangisan di Hari Lebaran’, karya Gandi Sugandi di Pikiran Rakyat. Artie Ahmad menulis cerpen ‘Urung Pulang’ di Kedaulatan Rakyat. ‘Atai Balak dan Rencana Lebaran Corona’, besutan Guntur Alam, di Jawa Pos. Cerpen karya Triyanto Triwikromo berjudul: ‘Ada yang Tiba-Tiba Merasa Menjadi Binatang’, di Koran Tempo. Ada pula, cerpen ‘Simuladistopiakoronakra’, Seno Gumira Ajidarma di Kompas. Beberapa penulis juga menulis buku antologi  yang terinspirasi dari pandemi. Di antaranya, Kemanusiaan pada Masa Corona karya 110 penulis yang tergabung dalam Persatuan Penulis Indonesia (SATUPENA)’, dan Membaca Pandemi Covid-19, yang digagas Dewan Kesenian Semarang,  Jawa Tengah.

Karya-karya sastra tersebut akan menjadi catatan sejarah bahwa di Indonesia pada satu masa pernah berlangsung wabah Covid-19  dan para sastrawan mengabadikannya dalam sebuah karya tulis yang abadi. l

———————-
Kartika Catur Pelita, Sastrawan, bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top