Pustaka

Kebangkitan Asia Ancaman Dunia Barat

Oleh Imron N Geasil

Judul buku: Memudarnya Supremasi Barat di Tengah Kebangkitan Asia. Penulis: Prof  Dr  Bambang Cipto MA. Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta.  Cetakan: I, April 2020. Tebal: xii +  347 hlm.

SALAH satu pernyataan paling mengejutkan yang mencuat dalam Munich Security Conference (MSC), sebuah perhelatan tahunan komunitas strategis Barat, pada awal 2017 adalah bahwa pilar-pilar Barat yang paling fundamental mulai melemah. Menarik sekali bahwa pernyataan melemahnya pilar-pilar Barat tersebut dinyatakan oleh Wolfgang Ischinger, Ketua MSC tahun 2017. Dia menyatakan bahwa proses itu terlihat pada runtuhnya kepercayaan masyarakat demokrasi Barat yang merasa pemerintahan mereka tidak lagi mampu memberikan apa yang sewajarnya mereka terima sebagai masyarakat. Di samping itu, Ischinger menyinggung pula kecenderungan negara-negara Barat menutup diri dari proses globalisasi dan cenderung mengutamakan kepentingan nasional masing-masing.

Sementara itu sejak berakhirnya Perang Dingin hubungan transatlantik antara Amerika dan Eropa juga mulai terganggu oleh perbedaan visi keduanya dalam menanggapi isu-isu global. Gagasan untuk menginvasi Irak, pasca invasi Afghanistan, tidak didukung penuh oleh Jerman dan Prancis. Kedua negara tidak bersedia mendukung rencana invasi Irak yang tidak didukung oleh Dewan Keamanan PBB. Tidak adanya dukungan penuh dari kedua sekutu Amerika menunjukkan kegagalan awal Amerika mempertahankan kepemimpinan global.

Secara umum sebenarnya dominasi Barat mulai melemah sekalipun perang melawan “teroris” tetap dipaksakan tanpa dukungan penuh dari sekutu-sekutu utama Amerika yang selama ini menjaga dan memelihara “dominasi” Barat atas dunia. Invasi Irak benar-benar sebuah keputusan politik luar negeri paling irasional dengan hasil yang sangat merugikan Amerika sendiri, yakni krisis ekonomi Amerika pasca invasi Irak.

Sebenarnya Barat sebagai kekuatan dominan dunia saat ini mulai melemah keunggulan ekonomi, finansial, penduduknya. Menurut Schwarzer kekuatan ekonomi Asia sebenarnya sejak 2016 mulai mengungguli Barat dalam mana GDP Asia (31,8%), Amerika (15,6%) dan Eropa (16,8%).Sedangkan jumlah kelas menengah Asia pun akan terus bertumbuh menjadi 59% kelak pada 2030. Di tengah merosotnya indikasi ekonomi tersebut muncul Presiden Donald Trump, yang kebijakan luar negerinya menghapus tradisi Amerika yang selama ini selalu mengutamakan multilateralisme dan pro-Eropa, serta anti-Rusia. Kebijakan luar negeri Trump dengan sendirinya menyebabkan semakin merosotnya dominasi Barat di mata internasional.

Sejak berakhirnya Perang Dingin sebetulnya tanda-tanda berakhirnya dominasi Barat mulai bermunculan. Ekspansi pengaruh Barat di kawasan Eropa Timur yang dilancarkan mantan Presiden Amerika Serikat Clinton merupakan keputusan yang dibuat berdasarkan logika Perang Dingin, yaitu semakin besar pengaruh Barat semakin kuat posisinya di dunia internasional. Namun upaya ekspansi Barat ini berhenti di Ukraina karena Presiden Rusia Putin mulai melihat Barat tidak dapat diajak bekerja sama pasca Perang Dingin dan tetap menjalankan ekspansi wilayahnya tanpa menghormati Rusia yang sudah menghentikan kampanye anti-Barat. Pasca Clinton Amerika tampaknya tetap tidak dapat meninggalkan logika Perang Dingin walaupun Putin sudah berusaha menghentikannya di Ukraina.

Dengan bermodal tragedi 11 September Bush dan sekutunya (waktu itu) menginvasi Afghanistan dan dilanjutkan invasi ke Irak. Rangkaian kebijakan luar negeri hanya menyisakan tragedi kemanusiaan di Afghanistan, Irak dan Surian serta resesi keuangan global yang memangsa perekonomian Amerika dan beberapa negara sekutunya di Eropa. Kebijakan Presiden Trump yang terpilih tahun 2016 bahkan semakin memperkuat proses meredupnya Barat karena Trump menarik mundur Amerika dari berbagai perjanjian internasional dan kebijakan lain yang pada akhirnya memperkuat kecenderungan semakin redupnya supremasi Barat.

Supremasi Barat mulai redup dan memudar dalam beberapa tahun terakhir ini. Barat mulai kehilangan kemampuan inovatifnya dalam diplomasi ekonomi, politik, militer, teknologi, dan kesehatan. Asia mulai memainkan peran penting dan menentukan dalam perekonomian Eropa Barat dan Eropa Timur, Timur Tengah, Afrika, Asia Tengah dan Asia Tenggara. Sebaliknya Barat tampak jelas kehilangan momentum untuk menentukan masa depan ekonomi global. Perpecahan di tubuh Barat terlihat pada penarikan mundur Trump dari Trans-Pacifik Partnership (TPP), Paris Accord. Sikap tah bersahabat Trumpterhadap NATO membuat hubungan transatlantik semakin lemah dan dengan sendirinya membuat Barat semakin redup dan pudar. Sebaliknya kebangkitan ekonomi dan teknologi Asia di bawah kepemimpinan China membuat Asia semakin berkibar memimpin dunia.

Pasca penarikan pasukan dari Irak tampak jelas bahwa Rusia dan China mulai menggeser hegemoni Amerika di kawasan tersebut. Apalagi tidak terlihat lagi adanya prakarsa besar untuk mendisain kembali hegemoni Barat di Timur Tengah. Kemajuan China dalam bidang ekonomi, militer dan teknologi semakin menancapkan pengaruhnya di Asia dan menempatkan Barat pada wilayah marginal yang tidak lagi sangat menentukan. Beberapa usaha Amerika untuk kembali menancapkan pengaruhnya di Asia terbentur pada persoalan domestik yang merintangi prakarsa luar negeri Amerika di Asia. Ketergantungan Eropa pada kemajuan ekonomi Asia sampai tingkat tertentu juga membatasi kreatifitasnya untuk tampil prima di Asia.

Pandemik virus Corona pada kahir 2019 dan awal 2020 semakin memperkuat asumsi awal bahwa sesungguhnya kepemimpinan global Barat sudah semakin melemah. Terbukti bahwa dalam krisis global yang dipicu oleh pandemik viris corona hanya China dan Turki yang bergerak cepat memberikan bantuan bagi negara-negara Eropa (Italia, Spanyol, Serbia) dan Amerika. Negara-negara besar di Eropa dan Amerika tampak lumpuh dan terlihat hanya memikirkan dirinya sendiri.

Tampaknya supremasi Barat memang sudah meredup dan memudar sejalan dengan kegagalan mereka menyesuaikan diri dengan dinamika perubahan global saat ini. Tidak mungkin bagai Barat untuk kembali memimpin dunia karena sistem kapitalisme dan sistem demokrasi yang mereka banggakan selama ini gagal melayani kebutuhan rakyat mereka sendiri. Para elit dan segelintir orang kaya Barat yang menggerogoti sistem kapitalisme dan demokrasi mereka sendiri dengan membiarkan rakyatnya kehilangan kepercayaan terhadappara elitnya. Krisis ekonomi global 2008 membuat Barat kehilangan momentum untuk mempertahankan supremasinya karena tradisi berperang mematikan daya nalar, kreativitas dan inovasi yang selama ini membantu mereka membangun supremasi Barat.

Jika rakyat Barat tidak lagi percaya pada para pemimpinnya sendiri apalagi rakyat Asia sudah tentu akan lebih percaya pada pemerintahannya sendiri. Jika China dan Turki mampu memberikan bantuan medis dikala krisis kesehatan global menimpa dunia apalagi yang bisa diharapkan dari Barat. Barat sudah kehilangan justifikasi untuk mempertahankan supremasinya karena tidak ada lagi keunggulan yang bisa dijadikan alasan rasional untuk mempertahankan dominasi global yang selama dua ratus tahun telah dinikmati Barat. Kini saatnya Asia mengambil alih kepemimpinan global menuju dunia yang lebih baik di masa depan.

Buku ini sebagaimana dikatakan penulisnya, sebagai upaya menjelaskan fenomena global akhir-akhir ini yang menggambarkan proses memudarnya supremasi Barat. Proses ini juga berlangsung pada saat Asia sedang mengalamai proses kebangkitan yang dipelopori China yang dengan semangat pragmatisnya mampu bangkit hanya dalam waktu 30 tahun. Kini China bersama dengan India dan negara-negara Asia lain tampaknya siap untuk mengambil alih tongkat kepemimpinan global yang mulai ditinggalkan Barat bersama dengan supremasinya yang semakin meredup dan memudar.

Proses pudarnya supremasi Barat penting dikaji untuk memahami bagaimana bangsa-bangsa atau peradaban tumbuh, berkembang, sebelum akhirnya tumbang untuk memberi tempat bagi yang baru. Redupnya supremasi Barat merupakan sebuah lessons learned bahwa Barat sebagai kekuatan ekonomi, politik, dan militer memiliki kesempatan berkembang sekaligus memiliki batas-batasnya. Tak ada bangsa atau kumpulan bangsa yang selamanya kuat dan mendominasi dunia seakan-akan tak ada bangsa lain yang lebih mampu. []

—————-

Imron N Geasil, Peminat dan pengamat perbukuan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top