Esai

Merobohkan Interpretasi Destruktif

Oleh Moh. Rofqil Bazikh

 

SETELAH seluruh negeri dilanda badai pandemi, ketakutan mulai kuat berada di setiap kepala. Hampir seluruh pikiran positif (positive thinking) harus kalah dengan macam-macam ketakutan epidemik. Kebuntuan dalam pikiran yang terus-terusan menyebabkan pikiran negative(negative thinking). Akibatnya seolah-olah memang tidak ada jalan keluar dari dalam persoalan ini. Ibaratnya seorang yang tersesat dalam hutan dan terus-terusan menjauh dari jalan pulang.

Kebuntuan menyerang siapa pun tanpa terkecuali, sebut saja Slavoj Zizek yang justru jadi lelucon—ia kutip didalam bukunya yang berjudul Pandemic!(2020). Beberapa minggu sebelum pandemi menyebar secara luas ke seluruh kosmos, Zizek menganggap bahwa masker tidak berguna. Ia menjelaskan bahwa masker tidak sepenuhnya dapat melindungi dari virus. Beberapa minggu setelahnya ia sendiri memakai masker. Ini adalah sebuah kebuntuan yang menyerang Slavoj Zizek sebagai pemikir. Nyatanya di hadapan kebuntuan, siapa pun bisa linglung. Apalagi disaat-saat situasi kritis.

Bagi orang-orang kecil yang sepenuhnya bertaklid pada keadaan, yang sepenuhnya mengikuti arus. Mereka akan menerima apa saja yang difatwakan, lebih-lebih oleh pemuka agama. Betapa perbenturan agama dan sains sangat mecolok di bagian epidemi ini. Kesalahan terbesarnya justru di pegang oleh pemuka agama sebagai pemegang otoritas. Orang-orang bawah yang—mohon maaf—awam itu sepenuhnya tunduk di bawah otoritas keagamaan. Lebih-lebih jika menganggap bahwa pemuka agama adalah wakil dari Tuhan serta secara tidak langsung ia merupakan reinkarnasi dari Tuhan itu sendiri.

Mereka seakan-akan amnesia bagaimana peranan sains sebelum-sebelumnya. Bagaimana interpretasi sains terhadap kematian-kematian sebelum pandemi. Jika pemuka agama menginterpretasi bahwa kematian sepenuhnya mutlak dari Tuhan dan tidak bisa dijabarkan. Tentu berbeda dengan sains yang sedikit mampu menjabarkan bagaimana kematian itu melanda. Bagi sains itu tidak  lebih disebabkan karena sebuah kesalahan teknis, yakni jantung yang berhenti memompa darah. Ini tentu bukan sebuah ‘kepongahan’, tetapi karena memang didasari oleh bukti yang empiris.

Cukup layak untuk disayangakan ketika pemuka agama justru terkekang oleh dogmatik. Karena secara tidak langsung di dalam dogma, p(em)ikiran itu  tidak sepenuhnya dibutuhkan. Pada akhirnya hanya kewajiban mengikuti dan taklid secara membabi buta. Pemuka agama yang dikungkung oleh dogma yang absolut cenderung menutup mata terhadap kebenaran lainnya. Sebab mereka dikurung keyakinan, sementara keyakinan sendiri bersifat mutlak. Berbanding terbalik dengan kebenaran yang relatif. Meski panda puncaknya sains dan agama tidak bisa dibenturkan. Ia memiliki ranah masing-masing. Agama yang dogmatis tentu tidak bisa diutak-atik, tetapi sains masih menerima kritis selama itu tetap didasari bukti yang tidak kalah empiris. Kesalahan-kesalahan tersebut patut dibenahi dengan beragam arugumen dan statemen.  

Kegagalan dalam menangangi pandemi ini seringkali disebut sebagai hukum Tuhan. Pemuka agama—tentu bersama jemaahnya— cenderung tidak menganalisis bagaimana peranan para medis dalam menghalau badai ini. Melupakan orang-orang yang sudah berjuang di gelanggang dan tidak patuh terhadap apa yang dianjurkan. Ini yang lebih layak disebut kepongahan dogmatik. Mereka yang berjuang dengan memepertaruhkan nyawa sendiri demi keberlangsungan hidup bersama tidak jarang mendapat ujaran kebencian(hate speech) dari kaum konservatif. Gambaran tersebut yang paling layak disebut sebagai intrpretasi reduktif, kesumiran dalam merespon fenomena aktual.

Pada akhirnya yang juga harus turun ke gelanggang adalah para orang-orang muda—tidakterkecuali mahasiswa—yang notabene sebagai agen dari sebuah perubahan di masyarakat. Di tatanan kehidupan baru yang hampir setengah pulih ini, tentu tetanan kehidupan dan pemikiran juga diperbarui. Jarang akan kita jumpai orang langsung berjabat tangan dengan orang yang baru dikenelaknya, jarak tetap menjadi sesuatu yang pokok.

Tapi pokok bahasannya adalah kembali kepada awal, bahwa interpretasi terhadap fenomena yang dilakukan oleh pemuka agama sebagai pemegang hak otoritatif, cenderung merugikan. Interpretasi destruktif yang jelas-jelas sumir dan congkak itu terus mengakar di masyarakat bawah. Di kampung penulis sendiri, hal demikian sudah menjamur. Maka tidak ada yang patut di harapkan dan ditekankan selain membangun kesadaran masyarakat akar rumput.

Bagaimana kita merobohkan interpretasi destruktif yang dipegang orang-orang konservatif. Mereka yang menolak beragam macam ilmu pengetahuan (sains) dan cenderung menjadikan agama sebagai tuhan di bawah Tuhan. Di sinilah titik kewaspadaan harus tetap diringkatkan. Tetapi juga tidak memungkinakan jiwa mendebat mereka, sebab kita akan melawan sebuah keyakin yang bersifat mutlak. Sampai kapanpun kita akan tetap kalah jika hanya bayak retorika di gelanggang debat dan diskusi tetapi minim aksi. []

———————-
Moh. Rofqil Bazikh, Penggiat Garawiksa Institute Yogyakarta.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top