Esai

Covid-19 dalam Kepercayaan Narasi Fiksi

Oleh Romi Afriadi

PERTAMA kali Covid 19 merebak di wilayah Wuhan, Cina, medio Desember tahun 2109 lalu, sudah banyak narasi-narasi fiksi yang berkembang di berbagai belahan dunia. Bermacam isu dan wacana yang belum jelas validitasnya terus mewarnai pergerakan Covid 19 sejak mula itu. Mulai dari anggapan bahwa Covid 19  sebagai senjata biologis atau senjata nuklir yang akan dijadikan untuk menghancurkan dunia, hingga semacam dugaan konspirasi. Cerita dan narasi fiksi itu berkembang tak kalah cepat ketimbang penyebaran wabah itu sendiri. Menyelusup dalam sekejap di sudut-sudut kota dan kampung-kampung, mengetuk pintu-pintu rumah. Hingga sesuatu yang fiksi itu dengan deras pula mengalir jadi sebuah fakta sejarah yang semestinya diketahui khalayak banyak.

 Cerita tentang Corona lalu bergulir di mana-mana, dalam banyak bentuk dan perspektif. Dibincangkan dalam segala ruang dan waktu tanpa bisa dibendung. Corona dijadikan headline media massa, diwartakan tiap saat, perkembangannya di-update sedemikian rupa. Seolah ada kesepakatan dari media, siapa yang paling cepat memperbaharui akan jadi pemenang. Jadilah media bak mengikuti lomba maraton dalam meliput isu seputar Corona ini. Sebentar-sebentar sudah terdengar laporan terbaru. Negara A telah terjangkau Covid 19, telah meluas ke negara B, sekian warga negara X sudah terinfeksi, atau negara Z yang telah meninggal sekian orang.

Namun semakin kencang pemberitaan, kian yakin pula orang-orang bahwa Covid 19 itu suatu kebohongan. Apa yang dicontohkan warga Italia misalnya, penduduk negeri Pizza ini bersikukuh awalnya tidak percaya dengan adanya Covid 19, meski penyebaran di Italia kian masif. Iran juga menunjukkan sikap yang lebih kurang sama, menolak percaya atas kasus Covid 19 pada mula-mula. Bahkan, negara adidaya macam Amerika Serikat (AS) saja tak luput dari kepercayaan narasi fiksi serupa itu. Tapi di atas segalanya, di Indonesia-lah saya kira ketidakpercayaan terhadap Covid 19 ini paling parah.

Walaupun penyebaran Covid 19 nyaris bisa dikatakan telah menyeluruh menjangkau segala penjuru. Merata di 34 provinsi yang masing-masing pulau dipisahkan oleh laut dan rentang waktu yang sedemikian jauh. Tetap pula, kebanyakan orang Indonesia masih sukar menerima kenyataan bahwa kita saat ini hidup dalam lingkungan wabah.

Ketika pemerintah menerapkan kebijakan new normal beberapa waktu lalu, masyarakat berharap itu pertanda sebuah pesta akan dimulai dan penyebaran wabah dikira sudah usai. Mulailah tempat umum dibuka, wisata dibanjiri pengunjung, orang-orang mulai bepergian. Saat penyebaran meningkat, tak ayal kembali memusingkan pemerintah.

Corona hadir dan tampil di Nusantara dalam wajah berupa-rupa. Menjadi anomali dan misteri yang tak berujung dan berkesudahan. Akhir-akhir ini, ketika Corona sudah sampai ke pelosok-pelosok desa, telah mampu mengusik ketenteraman penghuni dusun. Narasi fiksi itu malah tetap nyaring menggema. Ada yang mempercayai dengan terang-terangan bahwa Covid 19 ini adalah ajang bisnis, dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan sekelompok pihak. Pendek kata, kepercayaan masyarakat terkait wabah ini masih di bawah rata-rata.

Tidak ada yang bisa mencegah narasi-narasi fiksi itu terus bermunculan. Masyarakat menikmatinya dan terkadang menjadikannya lelucon. Berbagai upaya yang coba dikerahkan tenaga medis, para tokoh, dan pemerintahan sendiri tak mampu berbuat banyak sehingga pembangkangan marak terjadi terkait aturan mengenai pencegahan Covid 19 ini. Lantas, apa pengaruh pemimpin dalam hal ini?

Krisis Kepercayaan Kepada Pemimpin

Salah satu akar permasalahan mengapa banyak masyarakat Indonesia yang percaya pada narasi fiksi ini hingga kecenderungan masyarakat mengabaikan segala titah dari pemimpin, adalah masih minimnya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin itu sendiri, yang pada kondisi sekarang selayaknya jadi panutan serta mampu memberikan keyakinan pada setiap rakyatnya. Krisis terhadap pemimpin memang mengalami disrupsi, akhir-akhir ini semakin menjadi. Terkait kasus Covid 19, banyak sekali aturan yang disepelekan dan dianggap angin lalu oleh masyarakat. Itu terjadi nyaris di semua tempat, baik dalam skala nasional maupun daerah.

Ketika pasien pertama mulai terjaring virus Corona di Indonesia, tepatnya di Depok. Berbagai kebijakan lebih sering ditanggapi tak masuk akal. Saat PSBB diperkenankan, pembangkangan mewarnai di banyak tempat. Banyak orang lebih memilih tetap keluar rumah. Lalu tagline “Lebih baik mati karena Corona daripada mati karena kelaparan” pun menggema. Sederet kebijakan pemerintah setelahnya juga mendapat banyak sorotan, sering dianggap kontroversial, membingungkan. Begitu pula saat pembagian bantuan yang terkena dampak Corona. Banyak yang menilai, bantuan itu tak semuanya tepat sasaran. Di berbagai daerah, tidak semua keluarga yang mendapat bantuan ini, masyarakat memandang itu sebagai sebuah ketidakadilan, karena penyebaran virus Corona ini berefek pada semua aspek penghidupan, sudah seharusnya pula, bantuan itu dibagikan merata tanpa pengecualian. Kondisi itu tak pelak, banyak menimbulkan cemburu sosial, dan kepercayaan kepada pemimpin jadi lebih menurun.

Dalam situasi ini, pemimpin gagal menampilkan figur sebagai pengayom sebagaimana tugasnya dalam tatanan masyarakat. Harus diakui, tujuan kebanyakan pemimpin sekarang dalam memegang suatu jabatan bukanlah murni karena ingin menyejahterakan rakyat, atau ingin memperbaiki sistem yang rusak. Itu semua hanya terlontar dalam kampanye, ketika sudah mengemban amanah, pemimpin lebih sering terjebak dalam arus permainan politik dan sistem yang busuk.

Kondisi itu sudah tertanam jelas di benak masyarakat, karena memang secara terang-terangan dipertontonkan dalam banyak kesempatan. Kebijakan dibuat lebih untuk memberi kenyamanan kepada para pemimpin itu sendiri, mengeruk sedikit-sedikit jatah yang seharusnya milik rakyat. Maka, jangan heran ketika banyak didapati krisis kepercayaan kepada pemimpin, sebab selama ini rakyat memang lebih banyak ditipu dan dikibuli.

Sialnya, disaat kasus penyebaran Corona kian meningkat, situasi krisis itu justru kian meruncing. Patutnya, di tengah kondisi wabah begini, tidak lagi penting mencari siapa yang benar dan salah. Kita seharusnya mencari jalan bersama untuk mengakhiri kedigdayaan virus tak kasat mata ini. Biarlah itu jadi pembelajaran bagi pemimpin yang punya hati agar kelak lebih peduli dan tidak menjadikan jabatannya sebagai pendulang rupiah.

Di atas segalanya, permasalahan Covid 19 ini jauh lebih penting dari sekadar percaya atau tidak terhadap kebijakan pemimpin. Dalam situasi genting ini, pertikaian hanya akan menambah gusar. Tak perlulah kiranya kita mencari kambing hitam. Kita sama-sama dibuat derita oleh virus ini, jangan menambah persoalan dengan menciptakan narasi-narasi kebencian. Bukan saat yang tepat mencari-cari kesalahan dan dosa panjang para pemimpin. Urusan Covid 19 ini menyangkut kemanusiaan dan nyawa, itu tentu layak diutamakan.

Peranan pemimpin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tentu mutlak sangat diperlukan. Suatu negeri akan lebih kacau jika tanpa pemimpin, seperti pada zaman jahiliah dulu, yang mana saat itu orang-orang kuat menjadi raja dan yang lemah menderita. Dalam Al-Quran pun dijelaskan bahwa kita selayaknya harus menaati pemimpin sebagaimana kita menaati Tuhan dan Rasul.

Jika pun masih enggan menuruti pemimpin yang dinilai melakukan banyak kesalahan dan kejanggalan. Setidaknya, percayalah! Bahwa virus Corona itu memang ada dan sedang mengepung hari-hari kita. Virus ini melanda seluruh penjuru bumi, mustahil rasanya itu hasil konspirasi atau ajang bisnis seperti yang selama ini diyakini. Jangan terus mengembangkan narasi-narasi fiksi ini hingga makin mengawur, hanya karena tidak percaya kepada pemimpin. Sebab, kita bukanlah tokoh-tokoh yang hidup di dunia pewayangan. []

————-
Romi Afriadi, Alumnus Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top