Pustaka

Tak Ada Guru Menulis

DARI dulu, saya tak percaya ada yang nama guru menulis. Sebab, dalam praktiknya, orang baru tergerak menulis setelah membaca ratusan, bahkan ribuan buku, artikel, puisi atau prosa. Selain juga dengan penuh kesabaran mendengar, memperhatikan, merasakan, dan Ikut berpikir terhadap apa pun yang terjadi di sekelilingnya.

Intinya: membaca, iqra’.

Tanpa membaca sulit bisa menulis.

Ada banyak orang yang (katanya) ingin menjadi penulis. Karena itu, rajin ikut pelatihan menulis dan keseringan bertanya bagaimana menulis. Mungkin dengan begitu pengetahuan tentang menulisnya banyak. Tapi, ia tak juga menulis-menulis. Sebab, ia tak tahu apa yang mesti ditulis. Isi kepalanya kosong. Boleh jadi ia menulis, tetapi menulis tentang menulis melulu. Atau, menulis yang sudah ditulis orang lain tanpa kreativitas, tanpa kebaruan, dan sialnya tulisannya lebih buruk dari yang pernah ditulis orang lain.


Sedikit menyimpang, dulu Wan Agung (11), selalu bilang, “Yah, ini soal sulit sekali.”

Saya balik tanya, “Bukunya sudah dibaca?”

“Gak ada,” alasan dia, padahal malas baca. “Cari di google aja ya.”

Nah, apa gak bikin emosi. Buku cetak dibeli mahal-mahal tak dibaca, malah cari gampangnya saja: cari di google. Enak kalau jawaban yang dikutip benar. Kalau salah gimana.

“Gak mungkin gak ada. Coba itu pelajaran apa, bab berapa, mengenai apa?”

Lalu saya menunjukkan kepadanya cara menelusuri buku untuk menemukan jawaban atas pertanyaan. Topik soal apa, lalu mencari di daftar isi, mencari halaman, membaca cepat subjudul, paragraf per paragraf, langsung ketemu kalimat yang merujuk pada soal.

“Ini jawabannya,” kata saya.

Wan Agung langsung menyalin dari buku.

Perbuatan ini saya lakukan berulang-ulang untuk pembiasaan. Sekarang, saya cukup bergembira karena dia sudah mulai terlatih menemukan jawaban dari bacaan di buku.

Saya perhatikan, Wan Agung tak kesulitan menjawab pertanyaan, “Bagaimana pendapatmu?”, “Kamu setuju dengan sikap Toni?”, “Coba ceritakan!”, “Bikin komik peristiwa!” atau “Buat videonya!”

Nah, ini modal “penting” menulis: menuliskan perasaan, menuliskan pikiran, menuliskan pendapat, menarasikan kejadian, melukiskan keadaan, mendeskripsikan tempat, menulis naskah untuk dipentaskan, dst.


“Ajari saya menulis.” Saya sebel benar mendengar omongan seperti ini. Biasanya tak langsung saya jawab. Saya lihat-lihat dulu orangnya untuk menemukan kalimat yang tepat menanggapinya.

Tapi, sesungguhnya jawaban yang tepat. “Menulis saja. Tak ada guru menulis!”

Jangan percaya ada yang berkata, “Saya dapat menyulap Anda menjadi penulis andal (yang benar tanpa h ya, bukan handal!).”

Kalau pun ada guru, pengajar, pelatih, trainer menulis, orang itu tak lebih dari berbagi pengetahuan dan pengalaman belaka. Kita sendiri yang praktik menulis dengan cara kita sendiri. Dan, memang tidak boleh sama dengan sesiapa pun.

Itulah esensi menulis: baru, kreatif, tidak sama dengan tulisan yang pernah ada.

Salah besar jika menulis sama dengan yang “mengajari” kita menulis. Lebih celaka bila yang mengaku “guru menulis” itu tidak pernah menulis atau menulis, tetapi tulisannya buruk.

Jadi, tak ada guru menulis. Belajar menulis ya menulis itu sendiri setelah banyak-banyak membaca — terutama buku, banyak-banyak mendengar, banyak-banyak menonton (televisi, film, konser, teater, lukisan, dll), memperhatikan sekeliling, dan terlibat dengan lingkungan sosial. Tentu, tidak malas berpikir.

Tabik. []

Catatan: Ilustrasi buku Menulis Asyik (2013) — disusun berdasarkan pengalaman mengelola halaman opini dan budaya beberapa media sejak 1991 — tolong diabaikan. Beli boleh. Setelah itu boleh tanya-tanya.

Tapi, ssst, bukan berarti saya mengajar menulis atau menjadi guru menulis. Cuma berbagi pengetahuan dan pengalaman menulis kok. Hehee…

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top