Cerita Pendek

Orang Gila dan Penari Jalanan

Cerpen Ari Suciyanto Siregar

”APA untungnya kecelakaan seorang Jenderal bagi saya?”

***

Suatu ketika, seorang Jenderal bintang tiga meminta kepada ajudannya untuk segera menambah kecepatan laju mobilnya.

”Tolong dipercepat, sebelum Bapak Presiden pergi!” perintah Sang Jenderal kepada ajudannya.

”Siap Jenderal!”

Mobil itu-pun melaju dengan kecepatan tinggi.

***

Perkenalkan nama saya Ir. Pioderma Keset Negoro, seorang penari kontemporer yang hidup seadanya. Meskipun saya seorang insinyur,  saya tidak begitu tertarik dengan dunia teknik. Saya lebih tertarik dengan dunia tari. Ketertarikan saya pada dunia tari diawali dari sebuah kegelisahan hati saat melihat kondisi bangsa ini yang dipenuhi oleh orang-orang gila yang pandai membuat orang-orang menjadi gila.  Gila status sosial, gila agama, dan gila status… Yang membuat semua orang melihatnya smart. Meskipun sebenarnya akal saya gak panjang-panjang banget. yang penting tenar aja dulu, baik atau tidaknya? Itu semua bisa dirangkai dengan kata. Sebab senjata ampuh orang-orang gila itu adalah kata-kata yang sangat majemuk sekali.

Kusjek adalah nama panggilan saya yang diberikan oleh teman-teman satu organisasi saya waktu kuliah dulu, yang kini telah sukses menjadi orang gila.

Kusjek merupakan singkatan dari kurus jelek, dan sekarang ditambah -Tem, jadi Kurus Jelek Item.

Ah! Peduli amat dengan sebuah julukan. Yang penting bagi saya adalah hidup saya tetap senang dan menang. Senang karena bisa menang melawan rasa lapar. Saya adalah orang yang selalu bisa merasakan rasa cukup… cukup prihatin. Hidup saya sulit, tetapi saya tetap bersyukur. Sebab, saya masih bisa berkreasi meski tidak ada media tempat saya untuk menari di atas kebingungan saya dalam mencari “Apa tujuan Tuhan, menciptakan saya di bumi?”

Saya penari kontemporer jalanan yang serbabisa. Bisa buat lagu yang tak pernah laku, bisa bikin puisi tanpa makna, bisa bernyanyi dengan suara yang mampu membangkitkan emosi para pendengar, dan…? Luka-luka yang ada di kepalaku ini adalah bukti dari bangkitnya emosi mereka saat mendengarkan suara saya. Satu lagi, saya adalah seorang pelari yang handal.

”Pelari?” tanya Kampret, sebuah nama seorang wartawan yang membuat saya menahan tawa di perjumpaan pertama.

”Iya! Lari! Sebuah bakat alam yang tiba-tiba saja muncul dari diri saya saat pertama kali saya dikejar Kamtib!”

What! Why? Kok bisa?” tanya Kampret kembali dengan raut muka yang bingung.

“Karena saya tidak punya media untuk menari, maka saya harus menari di pinggiran jalan. Di pinggiran jalan memang bukan tempat saya menari. Tapi, jika saya tidak menari, dari mana saya bisa dapat uang untuk makan?”

“Saya ikut prihatin Mas.”

“Oh ya! Hari ini, mumpung sepi ga ada Kamtib, saya ingin mempersembahkan karya saya kepada Anda, sebuah tarian hasil dari perenungan saya selama ini, yang saya beri judul Monyet!”

”Monyet?” dahi wartawan itu mengkerut.

”Iya, monyet! Karena suku kata itu telah mewakili keprihatinan saya terhadap manusia-manusia yang lupa akan tugas dan fungsinya sebagai manusia”

“Manusia?” tanya wartawan itu lagi.

“Iya! Semua golongan manusia tanpa terkecuali!”

”Termasuk manusia yang beragama, seperti saya ini?”

”Iya! Tapi, untuk mereka yang lupa dasar dari kenapa agama itu ada. Agama itukan mengajarkan kebaikan dalam menuju perbaikan, tapi kenapa banyak sekali kita temukan kerusakan di bumi ini, karena masalah agama?”

”Bagaimana dengan negara?”

“Kan yang kita bahas agama, kenapa larinya ke negara?”

“Ya iyalah, bukankah negara yang mengatur supaya tidak ada kerusakan?”

Pertanyaan wartawan itu membuat saya bingung. Tapi, saya berusaha untuk tetap tenang dan lalu dengan sedikit kesabaran saya usahakan untuk menjawab pertanyaan wartawan itu sambil mempersiapkan perlengkapan-perlengkapan saya menari.

”Semua konsep negara di dunia ini tidak ada yang salah! Negara menjadi sebuah wadah tempat mengatur berbagai macam orang yang memiliki kesepakatan bersama untuk hidup dalam satu wilayah yang sama. Kesepakatan itu dibuat oleh sebagian orang yang dipilih dan atau terpilih oleh mereka yang berada dalam wilayah tersebut, untuk menciptakan rasa nyaman di wilayahnya sendiri. Jadi, bentuk sebuah negara itu berdasarkan kesepakatan bersama. Berfungsi atau tidaknya kesepakatan bersama itu dalam sebuah negara, tergantung pada si pengurus negaranya, bukan negaranya.”

”Para pejabat, maksud Anda?” tanya wartawan itu kembali, membuat saya menundukkan kepala dan lalu menghela nafas.

”Pejabat itu kan kedudukannya. Yang rusak itu manusianya. Artinya, mau itu agamawan, budayawan, politikus, guru, bupati, petani, nelayan, kuli bangunan atau rakyat jelata sekalipun, kalau hati dan pikirannya busuk, ya busuklah nilai dia sebagai manusia. Bukan kedudukannya yang harus dinilai busuk.”

”Koruptor, Pencuri, pemerkosa, dan lain-lain, apa itu maksudnya?”

Pertanyaan wrtawan itu kembali membuatku menghela nafas.

”Gini lho Mas, koruptor, pencuri, pemerkosa, itu kan sebuah julukan dari bagian sifat jeleknya manusia. Nah, tarian yang saya beri judul ”Monyet!” ini mencakup semuanya, untuk sekadar mengingatkan agar manusia yang lupa akan jati dirinya sebagai manusia kembali menjadi manusia. Sebab, kebanyakan manusia saat ini telah merasa menjadi malaikat sehingga mereka bersikap bahwa kebenaran hanya ada pada dirinya. Sikap-sikap merasa menjadi malaikat itu sebenarnya adalah sikapnya setan yang dipenuhi dengan rasa kesombongan.”

”Kalau begitu saya ucapkan terima-kasih atas waktunya, meskipun jujur saya kurang mudeng dengan penjelasan anda?” kata wartawan itu yang membuat wajahku memerah.

“Ya Mas, sama-sama.” Saya mencoba tetap tenang sambil sedikit mengelus dada.

“Oh ya? Kira-kira nanti enaknya saya tulis nama Anda yang sebenarnya atau nama panggilan Anda?” pinta wartawan itu yang membuat saya menghela nafas untuk kesekian kalinya.

“Nama asli saya aja Mas, Ir. Pioderma Keset Negoro.”

“Tapi, Pioderma itu setahu saya artinya korengan, emmmm semacam penyakit infeksi kulit.”

“Kalau gitu, tulis nama panggilan saya aja,” balas saya.

Wartawan yang bernama Kampret itu-pun pergi. Tapi belum jauh, wartawan Kampret itu melangkah, tiba-tiba saja tiga orang tenaga medis berlari mengejarnya, membuat saya panik dan beranjak dari tempat saya bersandar.

“Lho! Ada apa ini?”

Saya terkejut dan benar-benar tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa tiga orang tenaga medis mengejarnya?

“Dia itu orang gila, Pak!” teriak salah satu tenaga medis yang sudah terlihat letih saat berusaha menangkap wartawan Kampret itu.

“Apa? Orang gila!”

“Ini semua salah bapak!” bentak tenaga medis itu sambil menunjukkan jarinya ke arah saya.

“Lho! Salah saya apa?” bentak balik saya ke arah tenaga medis itu.

“Sudah tahu orang gila bukannya ditangkap! Malah diajak ngobrol!”

“Mana saya tahu kalau dia gila!”

“Ayo Pak, bantu saya tangkap orang gila itu,” dengan nafas terengah-engah tenaga medis itu meminta bantuan kepada saya untuk menangkap orang gila itu.

“Mohhh! Kejar aja sendiri!”

Tidak lama kemudian, tenaga medis itu mengambil sebatang ranting dan lalu melemparkannya ke arah saya, “Dasar goblok! Orang gila diajak ngobrol!”

“Asem nih orang!”

Belum sempat saya membalas lemparannya, tenaga medis itu sudah kembali berlari mengejar orang gila itu. Dan saya pun hanya mampu mengelus dada saat melihat cara mereka menangkap orang gila. Koyo nangkep pitik!

***

Dua hari kemudian saya menari di perempatan kota. Saya curahkan semua kegelisahan yang ada saat saban hari saya harus melihat manusia-manusia yang lupa akan tugas dan fungsinya sebagai manusia. Saya terus menari mengikuti suara hati pada irama musik gamelan pengukuh jati diri.

Dalam kesunyian dan keasyikan saya menari, tiba-tiba orang gila yang bernama Kampret itu datang kembali dan kali ini dia memakai seragam lengkap polisi.

”Berhenti!” teriak keras orang gila itu.

Saya tidak peduli. Saya terus menari dengan hati.

”Berhenti goblok!” orang gila itu semakin keras memaki.

Saya tetap menari, meskipun sakit hati dibilang goblok sama orang gila.

”Kamu ini benar-benar bodoh! Tolol!” orang gila itu tiba-tiba memukul kepala saya dengan pentungan berkali-kali. Saya tidak terima dan saya berhenti menari.

”Mau kamu apa!” bentak saya keras.

”Saya mau kamu taati peraturan!” kata orang gila itu sambil bertolak pinggang.

”Peraturan apa?” tanya saya.

”Coba lihat itu! Lampu merah! Tanda berhenti, bego!”

”Anjing!”

Kali ini saya benar-benar tidak terima dibilang bego sama orang gila itu. Saat saya mau mengambil sendal untuk melempar ke mukanya, orang gila itu lari ke seberang jalan.

“Berani! Beraninya ya! Kamu melawan petugas keamanan lampu merah!” orang gila itu mengacungkan pentungannya ke arahku, membuat emosiku semakin memuncak dan lalu tanpa basa-basi lagi aku lempar sendal jepitku tepat mengenai wajahnya. Orang gila itu murka dan aku tertawa.

“Mampus!”

“Kurang ajar! Ini namanya penghinaan terhadap negara!”

Orang gila itu tak mau kalah, lalu dia ambil batu dan balas melemparnya ke arahku. Tapi sayang batu terhempas ke arah mobil Jenderal. Mobil Jenderal oleng, lalu nabrak tiang. Orang gila itu ketakutan dia lari tunggang langgang, sembunyi dan lalu menghilang.

Saya hanya terdiam melihat Sang Jenderal terluka. Semua orang berlari mendekat dan lalu berkumpul.

“Siapa pelakunya?!”

”Dia orangnya!” salah satu orang di kerumunan menunjukkan jarinya ke arah saya, semua massa mengepung, dalam panik saya tak sanggup membela diri. Tiba-tiba satu hantaman keras mengarah kebagian mata kanan saya, saya pun terjatuh dan terluka.

“Bakar! Bakar! Bakar!” teriakan massa semakin keras, saya semakin takut dan tidak bisa berbuat apa-apa selain memohon dan bersujud di hadapan massa.

”Demi Tuhan! Bukan saya pelakunya Pak! Demi Tuhan bukan saya Pak!”

Saya mencoba memeluk salah satu kaki di antara kerumunan massa sambil terus memohon sekuat tenaga supaya mereka mau mendengar sedikit penjelasan saya. Tapi sayang, massa sudah terlalu beringas dan tidak peduli dengan tangisan saya, “Bukan saya Pak! Tolong jangan bakar saya Pak…”

“Cepat! Mana bensinnya!” seorang berwajah garang terus teriak sekuat tenaga, seperti tak sabar lagi ini segera membakar tubuh saya.

“Tolong Pakkkkkk… jangan bakar sayaaaaa…”

Semua massa benar-benar sudah tak peduli lagi dengan jeritan tangisan saya. Mereka semua lebih memilih membakar saya ketimbang menolong Sang Jenderal yang sedang terluka di dalam mobilnya.

Dorrrr!!!!! suara letusan senjata menghamburkan semua massa yang berkumpul, “Bubar semuanya!” beberapa Polisi dengan cepat menyelamatkan nyawa saya dari amukan massa.

“Berhenti! Apa ini?!” tanya seorang Polisi yang berhasil menangkap salah satu orang yang kedapatan membawa sebotol bensin bersama korek api ditangannya.

“Saya ga tahu Pak!”

“Ga tahu apa?! Apa maksudnya kamu bawa bensin sama korek api ini?”

“Jangan tangkap saya, Pak. Saya benar-benar ga tahu kalau ini bensin dan ini korek api?”

“Mana yang lainnya?”

“Yang mana Pak?”

“Yang bawa bensin juga!”

“Itu Pak, mereka lagi pura-pura salat!”

Polisi itu-pun meminta beberapa rekannya untuk menangkap sekumpulan orang yang sedang pura-pura salat di trotoar jalan.

“Stop! Stop! Ga usah pura-pura salat! Berhenti semuanya!”

“Maaf Pak! Bapak ini tahu agama tidak! Kenapa saya lagi ibadah disetop! Dosa besar ini Pak!”

“Kamu salat apa?”

“Dzuhur!”

“Mana ada sholat Dzuhur jam 11? Lagi pula di Indonesia arah kiblatnya ke barat, bukan selatan!”

Dan lalu semua orang yang berniat membakar saya ditangkap. Tapi sehari kemudian mereka dibebaskan kembali. Tapi, saya? Tetap bernasib sial, entah dari mana tuduhan rencana kudeta terhadap negara, tiba-tiba saja dituduhkan ke saya. Seumur hidup, saya tidak pernah membayangkan jika saya bisa menjadi terdakwa atas tuduhan rencana kudeta terhadap negara, apa untungnya kecelakaan seorang Jenderal bagi saya? Saya hanya penari jalanan yang tidak terlalu paham dengan kondisi negara.

Tuhan kenapa saya yang ingin menyampaikan keluhan hati malah bernasib sial seperti ini? Apakah memang bukan ranah saya untuk mengingatkan manusia, kembali menjadi manusia? Saya hanya bisa berserah diri kepada-Mu atas segala tuduhan konyol ini.

***

Dalam persidangan, saya dibantai habis-habisan dengan banyaknya pasal. Urat syaraf sadar saya hampir saja putus saat mendengar tuntutan jaksa yang di luar logika, yaitu meminta kepada hakim untuk menjatuhkan hukuman penjara kepada saya selama tujuh belas tahun lamanya dengan denda kepada negara sebesar dua puluh lima juta rupiah, dengan tuduhan telah melakukan sebuah rencana jahat, ingin membunuh seorang jenderal untuk sebuah kudeta.

“Pak Hakim, itu kecelakaan! Dan, penyebab kecelakaan itu akibat lemparan batu dari orang gila yang mengaku polisi.”

“Tolong saudara terdakwa untuk menghargai sidang. Ini bukan waktunya Anda bicara.”

“Tapi, Pak Hakim…”

“Sidang ini tidak akan saya lanjutkan, sebelum saudara terdakwa duduk dan diam.”

“Ini tuduhan gila! Saya tidak terima!” bentak saya di dalam sidang. ”Tidak mungkin! Saya punya rencana gila seperti itu! Lagi pula apa untungnya kematian seorang jenderal bagi saya. Saya ini hanya seorang penari jalanan. Saya tidak kenal jenderal dan tidak kenal apa itu kudeta. Yang saya kenal hanya copet, supir, lonte, waria, dan para gembel pinggiran kota. Jadi, dari mana jalannya saya bisa melakukan kudeta terhadap negara? Lha wong nama menteri yang saya hafal saja cuma satu, Menteri penerangan, kok tiba-tiba saja dituduh mau melakukan kudeta! Persidangan apa ini?”

”Saudara Pioderma! Saya harap saudara bisa kendalikan diri dan menghormati jalannya persidangan!”

”Tidak bisa! Saya tidak bersalah!” teriak saya sekuat tenaga.

Saya berdiri dan lalu saya tendang kursi.

”Pak Pengacara, tolong saya! Bela saya! Saya tidak bersalah! Saya tidak terima dengan tuntutan Jaksa!”

Lalu Pengacara saya, menghampiri saya mencoba untuk menenangkan amarah saya.

”Saya pasti bantu Bapak! Ini kewajiban saya. Tapi, Bapak tenangkan hati dulu. Semua ada jalurnya, Pak. Saya harap bapak bisa bersabar mengikuti jalannnya sidang ini,” pinta pengacara itu kepada saya.

”Tapi, Pak, jelas-jelas saya tidak bersalah!”

”Saya harap Bpak kendalikan diri jika bapak menginginkan persidangan ini bisa berjalan lancar,” pinta pengacara itu kembali.

”Apa artinya sidang ini berjalan lancar kalau saya tidak dapatkan keadilan!”

”Nanti ada waktunya bapak melakukan pembelaan. Ini kan hanya sebatas tuntutan jaksa sementara yang nantinya bisa kita bantah bersama. Kalau memang benar-benar bapak terbukti tidak bersalah, Bapak bisa terbebas dari semua tuntutan jaksa. Tapi, kalau bapak masih bersikap seperti ini nantinya ini malah akan memberatkan bapak di mata hukum. Bapak mengertikan dengan apa yang saya sampaikan?” Pengacara itu memegang pundak saya.

”Tenang Pak, sebagai seorang pengacara Bapak, saya punya kewajiban penuh untuk membela Bapak, sampai akhirnya Bapak menemukan keadilan di tempat yang terhormat ini,” pengacara itu meyakinkan saya yang sudah terlanjur terbawa emosi karena tuntutan jaksa.

Beberapa menit kemudian saya mencoba menenangkan diri dan setelah itu hakim-pun kembali mengetuk palu, beri tanda sidang bisa dimulai kembali.

Setelah Jaksa selesai membacakan tuntutannya. Kini giliran saya, membacakan pembelaan saya dengan sejujur-jujurnya tanpa adanya rekayasa sedikit pun, tidak seperti tuntutan jaksa yang penuh dengan manipulasi data. Tapi sayang, teramat sayang bagi saya, pembelaan saya mentah di persidangan dan saya harus menjalani hukuman dari sebuah tuduhan perbuatan yang tidak pernah saya lakukan.

Hakim pun memberikan keputusan, ”Dari pasal-pasal yang tersebut di atas, serta bukti-bukti dan saksi-saksi yang dihadirkan dalam persidangan. Maka kami memutuskan Saudara Ir. Pioderma Keset Negoro dinyatakan bersalah karena telah dengan sengaja melakukan sebuah tindakan yang dapat mengancam keutuhan negara. Dengan ini, saudara Ir. Pioderma Keset Negoro dijatuhkan hukuman penjara selama tujuh belas tahun lamanya dan denda yang wajib dibayar kepada negara sebesar dua puluh lima juta rupiah. Kober, 21 Juni 1997, sidang ini resmi kami tutup!”

Setelah mendengar keputusan kakim, jiwa saya terhempas dalam kebingungan. Pengacara saya pun terdiam tak banyak bicara. Dia segera berkemas membereskan semua berkas-berkas pembelaan dan lalu pergi meninggalkan saya sendiri tanpa sedikit npun kata yang keluar dari mulutnya.

Sidang ini ibarat dagelan bagi saya, saya diinjak-injak dan lalu dicampakkan. ”Makanya, jangan jadi orang miskin!” celetuk seorang sipir penjara yang mendampingi saya menuju ruang tahanan.

”Memangnya kenapa kalau saya miskin?” tanya saya kepada sipir penjara itu.

”Dasar goblok! Kalau loe orang kaya, loe ga bakalan ditinggal pergi begitu saja sama pengacara loe!” mendengar pernyataan itu hati saya makin teriris.

”Memangnya apa yang salah dengan orang miskin?” tanya saya kembali membuat sipir penjara itu menghentikan langkahnya.

”Orang miskin itu bikin susah negara tau! Dah sana jalan!” Sipir penjara itu mendorong kuat badan saya, membuat tubuh saya hampir saja terjatuh.

Di sepanjang jalan menuju ruang tahanan, saya tidak berhenti menahan tangis, meratapi nasib. Kalau memang orang miskin bikin susah negara, kenapa negara malah memperbanyak orang miskin dengan kebijakan-kebijakannya yang membuat rakyat semakin miskin, semakin sengsara, semakin tenggelam dalam penderitaan dan mati tanpa harapan. Kini, saya enggan dalam berdoa, karena sudah telanjur jatuh dan putus asa! Saya bingung, Tuhan sedang berpihak kepada siapa?

***

Dua tahun kemudian setelah pemerintahan berganti, saya didatangi tim pengacara dari sebuah lembaga bantuan hukum bentukan salah satu partai politik baru yang bernama P2RS (Partai Peduli Rakyat Sengsara) mengajukan banding ke pengadilan tinggi. Dalam persidangan di tingkat pengadilan tinggi, saya terbukti tidak bersalah karena memang kejadian di dua tahun yang lalu adalah murni kecelakaan dan bukan sebuah rencana kudeta. Hati saya merasa senang karena bisa menghirup kembali udara bebas.

Sebulan kemudian P2RS menjadi partai yang besar karena mendapatkan simpati dan dukungan yang kuat dari rakyat golongan menengah ke bawah yang telah lama kecewa terhadap kinerja buruk pemerintah selama ini. Ditambah lagi peran aktif P2RS dalam membela kasus saya di pengadilan tinggi, menambah daftar kuat dukungan rakyat kepada P2RS di pemilu yang akan dilaksanakan beberapa bulan lagi. ”P2RS Partai Khusus Wong Kere!” begitulah bunyi slogan yang kerap terdengar dan terlihat di media, radio, televisi dan spanduk-spanduk pinggiran jalan yang terpampang dengan sangat jelas.

Namun, setelah masa pemilu usai, nasib saya tidak juga berubah, saya tetap menjadi penari jalanan yang miskin, yang tidak memiliki tempat atau media untuk menari. Saya juga harus memendam rasa dongkol dalam hati, ketika saya dengan tidak sengaja membaca sebuah surat kabar nasional yang bertuliskan: ”P2RS siap dukung Kampret jadi Presiden!” []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top