Pustaka

Semua karena Buku

Oleh Ayu Andalia

YANG terindah dalam hidup ini bukan hanya mendapat yang terbaik, tetapi ketika kita mampu menjadi yang terbaik bagi orang lain. Berawal dari Ayah saya yang sangat suka membaca, seperti kata Andrea Hirata tentang Ayahnya, “Ayahku, juara satu seluruh dunia.”

 Begitu pun dengan saya, dalam menggambarkan sosok lelaki yang sangat saya kagumi. Dari kecil, saya sudah terbiasa dengan buku. Ayah sejak dulu selalu membaca koran langganannya, sampai ajal menjemputnya di tahun 1998. Begitu pun dengan Ibu, berlangganan tabloid wanita. Dari sinilah saya terbiasa dengan buku dan majalah.  Selain berlangganan koran dan tabloid wanita, kami  juga berlangganan majalah Bobo yang pada masa itu sangat terkenal. Majalah Bobo ini untuk saya dan adik-adik.

Koran selalu datang setiap hari. Sedangkan majalah bobo hanya dua minggu sekali. Selama menunggu majalah Bobo datang, saya membaca koran Ayah dan tabloid Ibu. Jadi, dari kecil saya sudah terbiasa dengan bahan bacaan, mengikuti  isu politik, menikmati cerpen dan novel, menambah pengetahuan sampai melatih ketajaman berpikir semacam buku filsafat. Bisa dibayangkan, di rumah saya banyak sekali buku dan majalah.

 Suatu hari saya dan adik–adik diajak Ayah dan Ibu untuk main ke kantor mereka.Ternyata, setelah sampai di kantor mereka,kami diajak ke gudang kantor. Dan… ternyata, di dalam gudang tersebut banyak sekali buku yang entah dari mana asalnya. Tentu saja kami sangat senang sekali. Buku-buku tersebut, kami ambil sehingga koleksi buku kami jadi bertambah. Sejak saat itulah, rumah kami selalu berdatangan teman-teman saya dan adik  untuk membaca buku. Jadi, dari dulu memang rumah saya sudah menjadi rumah baca.

Desember 2007 saya ikut tes CPNS, alhamdulilah lulus. Pada 10 April 2008 saya pindah ke Liwa, Lampung Barat, yang juga adalah kampung halaman Ayah saya. Jika Ayah masih hidup, beliau pasti akan senang sekali. Salah satu dari anaknya, akhirnya tinggal di kampung halaman beliau. Jika memang ada ujung dunia, “Belush’Ye” tempatnya, Belush’Ye berada di Taiga Siberia. Dan, jika ada ujung Lampung, Liwa, Lampung Barat adalah tempatnya.

Kabupaten ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1991 tanggal 16 Agustus 1991 yang merupakan hasil pemekaran Kabupaten Lampung Utara. Kabupaten ini dominan dengan perbukitan. Daerah pegunungan yang merupakan punggung bukit barisan. Tentu saja Lampung Barat adalah wilayah yang sangat sejuk.

Ketika pertama kali saya sampai di Liwa, tempat pertama yang saya cari adalah toko buku. Saya mencari ke seputaran Pasar Liwa, ternyata saya tidak menemukan toko buku. Akhirnya, pada suatu hari tanpa sengaja saya menemukan toko buku di daerah Sebarus. Itu pun hanya berisikan buku pelajaran sekolah, buku TTS, sedikit komik dan novel. Tapi, itu sudah membuat saya senang, karena ada tempat yang saya tuju. Begitulah kecintaan saya terhadap buku, ke mana pun saya bepergian di tas saya selalu ada buku, walaupun terkadang buku tersebut tidak sempat saya baca.

Hari terus berlalu, waktu terus berganti, kecintaan saya terhadap buku tidak pernah luntur. Seperti setiap orang memaknai cinta, bahwa jika kita cinta terhadap sesuatu, maka tak akan ada pengkhianatan di dalam cinta itu sendiri. Setiap saya pulang ke kota asal saya atau pun keluar  kota lainnya, saya selalu mampir ke toko buku untuk membeli 1 buku atau bahkan lebih. Lama -kelamaan buku saya di Liwa banyak sekali, belum lagi buku-buku yang dari rumah di Palembang sebagiannya saya bawa..

Buku itu jendela dunia, travelling itu pintu dan jalan dunia, ibarat rumah, buku dan travelling itu satu kesatuan yang membuat rumah dapat berdiri kokoh. Begitulah cita-cita saya dari dulu, jika saya punya rumah tinggal ingin mempunyai ruang baca atau pojok baca atau bahkan perpustakaan mini. Saya ingin bisa bermanfaat bagi orang-orang yang ada di sekeliling saya. Berjuang dari nol, mengumpulkan buku, menyisihkan sedikit uang untuk selalu membeli buku, terkadang ada juga  hadiah buku yang saya dapatkan dari orang-orang terdekat saya.

Dari suka membaca, akhirnya di tahun 2014 saya mencoba ikut beasiswa PPSDM dari Kementerian Kesehatan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Universitas Brawijaya Malang menjadi pilihanku dengan jurusan jurusan Gizi Klinik. Alhamdulilah saya lulus, akhirnya lebih kurang 1,5 tahun saya tinggal di kota Malang. Perjalanan dalam mengumpulkan buku terus ada di benak, karena itulah kecintaan saya.

 Pada suatu hari, saya menemukan pasar buku murah di Malang. Betapa  senangnya hati ini. Seolah mendapatkan satu hadiah mewah. Begitulah, apabila kita sudah mencintai sesuatu, ke mana pun kita pergi selalu saja ada dalam benak itu yang dipikirkan. Mulailah kegiatan menyisihkan sedikit demi sedikit uang jajan. Saya harus bijaksana mengelola keuangan, maklum uang beasiswa datangnya tiga bulan sekali dan uang gaji kebutuhan hidup sehari-hari.Mengumpulkan buku mulai dilakukan. Menjelajahi pasar buku di kota Malang. Kalau di Jakarta kita mengenalnya dengan Pasar Buku Kwitang, maka di kota Malang ada Pasar Buku Wilis. Saya membeli buku kuliah, novel, juga buku anak-anak, bahkan buku langka pun saya beli. Akhirnya koleksi buku di Malang pun semakin banyak dan bervariasi.

Manusia itu cenderung mengingat hal-hal yang indah yang pernah terjadi dalam hidup,  mungkin itulah yang membuat kita kuat untuk menghadapi kehidupan selanjutnya. Tak terasa 1 tahun 6 bulan hampir berlalu, saya pun harus kembali ke kota asal saya Liwa, Lampung Barat. Banyak hal indah yang saya dapatkan di kota Malang, ada tawa, tangis, kerja keras dan tentu saja pengalaman berkesan dalam mengumpulkan buku.

Hidup saya di kota Malang adalah barisan hari- hari yang sederhana, rutinitas biasa tetapi selalu membuat saya rindu. Dan akhirnya saya pun pulang. Ada sedikit cerita menarik, ketika kepulangan saya ke Lampung.  2 koper besar menjadi bawaan, 1 koper berisi baju – baju dan 1 koper berisi buku, ketika sampai di bandara kelebihan bagasi lebih kurang 35 kg, dan itu berasal dari koper buku saya. Bisa dibayangkan berapa yang harus saya bayar untuk kelebihan bagasi. Bulan April tahun 2016 kembali ke Liwa, ke rutinitas semula, yaitu bekerja di RSUD Alimuddin Umar, pada bulan Juni 2016, alhamdulilah saya juga berkesempatan bekerja di RSIA Bunda Liwa, saya sangat senang sekali.

Dalam hidup pasti kita punya rentang waktu yang merupakan momen terbaik dalam hidup. Hidup berjalan indah dan membahagiakan bila dijalani dengan baik, sehingga ketika suatu saat hidup terasa berat, banyak dilanda kekecewaan atau terasa berjalan membosankan, ada keinginan untuk kembali ke masa-masa indah.

Bagi saya tinggal di Liwa adalah masa membahagiakan, tenang dan damai, walaupun bila dilihat secara mendetail kebenarannya hidup di Liwa termasuk berat. Banyak hal yang terjadi dan semuanya harus saya hadapi dengan sendirian, tetapi saya beruntung memiliki teman dan keluarga yang menyayangi saya.

Seperti itulah hidup, sama halnya dengan isi buku. Diawali dengan prolog, epilog dan kemudian isi sampai akhirnya cerita tersebut selesai dengan akhir yang bahagia ataupun yang sedih. Akan tetapi, hidup harus terus berjalan, jangan berhenti. Kata orang hidup itu seperti rollercoaster kadang di atas dan terkadang di bawah,nikmatin saja, jangan hentikan kayuhmu, ketika sedang berada di bawah terus kayuh sampai ke atas lagi.

Kembali ke Liwa berarti kembali memulai dari nol. Ketika pertama kali saya kembali lagi ke Liwa, saya tidak punya tempat tinggal dan tidak punya kendaraan. Saya pun numpang ditempat teman dan juga pinjam kendaraannya. Tak lama sampai akhirnya saya pindah ke perumahan milik Pemda Lampung Barat. Di sinilah awal mula semuanya. Dari dulu saya ingin hidup memberi manfaat buat orang sekitar saya. Buku yang sudah saya kumpulkan, dari pertama kali datang ke Liwa, buku  yang saya bawa dari kota Malang, ternyata sudah banyak sekali.

Ketika saya pindah kerumah dinas, yang saya buat pertama kali adalah rak buku berukuran 1 x 1 meter lumayan untuk menampung buku-buku saya. Buku tersebut saya susun. Entah kenapa ketika melihat buku, hati saya bahagia sekali. Sebahagia ketika anak-anak tetangga saya bermain dirumah saya. Cita-cita saya tidaklah muluk, hanya ingin orang disekitar saya bahagia dengan kehadiran saya. Pertama kali tinggal diperumahan pemda, banyak anak-anak tetangga saya yang bermain, lalu saya panggil mereka untuk main dirumah. Saya ajak mereka ke ruang baca, mereka pun sangat senang sekali. Mereka langsung memilih buku yang ada di rak buku. Saya sangat jarang berada dirumah, tetapi ketika saya berada dirumah dan anak-anak melihat motor saya terparkir didepan rumah, mereka pasti langsung memanggil, sambil menggedor pintu rumah.

“Tante, Ayu…!” Terdengar suara panggilan dari mereka.

Pintu terbuka untuk menyambut mereka. Ruang baca menjadi incaran mereka. Ruang baca di rumah tidaklah besar, hanya berukuran lebih kurang 2 x 2 meter, tetapi banyak buku di sana. Banyak pengetahuan yang bisa mereka peroleh. Saya juga melengkapi ruang baca dengan buku mewarnai, juga mainan untuk anak-anak, walaupun jumlahnya masih terbatas.

Meski ruang baca itu belum sebesar lamban baca yang lain, belum seaktif lamban baca yang lain, saya tidak pernah berkecil hati. Dari dulu saya hanya ingin bermanfaat buat orang-orang di sekitar saya, mungkin baru ini yang bisa saya persembahkan untuk anak-anak di komplek perumahan. Memang belum banyak yang bias saya perbuat, tetapi setidaknya untuk mewujudkan masyarakat agar sadar membaca, mungkin baru ini yang bisa saya lakukan. Setitik persembahan untuk ikut mendukung Lampung Barat Kabupaten Literasi.

Saya bahagia dan bangga dengan lamban baca yang saya miliki. Bahagia ketika anak-anak bermain, membaca di lamban baca saya. Bahagia ketika saya sangat diperlukan oleh anak-anak tetangga saya. Pintu rumah saya selalu terbuka untuk mereka, membaca atau bermain. Saya tida merasa kesepian di rumah karena ramai dengan anak-anak.

Sampai sekarang saya selalu berusaha untuk terus meng-update buku-buku saya, mulai dari buku terbitan terbaru seperti novel, buku anak-anak, buku ensiklopedia atau buku yang lainnya. Dari dulu upaya menyisihkan uang untuk membeli buku setiap bulannya, terus berlanjut. Begitulah kecintaan saya terhadap buku.

Semoga apa yang telah saya perbuat bisa bermanfaat untuk diri saya dan orang-orang di sekitar. Saya juga bisa ikut berkonstribusi memajukan Lampung Barat Kabupaten Literasi. Teruslah membaca karena dengan membaca kita tahu isi dunia. Oh, iya lamban baca saya belum diberi nama, tapi apalah arti sebuah nama. Namun, bila memang diwajibkan untuk memberi nama, saya akan memberikan nama Lamban Baca Ceria. Sebab, saya berharap siapa pun yang datang ke lamban baca saya, suasana hati dan pikirannya selalu ceria. Selamat datang di Lamban Baca Ceria. Kegiatan anak-anak ketika di lamban baca saya selain membaca saya juga mengajak mereka untuk bermain. []

  • Pemenang Ketiga Lomba Menulis Antara Aku, Buku, dan Lamban Baca yang diselenggarakan Tim Gerakan Literasi Daerah (GLD) Lampung Barat, 2020.
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top