Pustaka

Meniti Cinta di Lamban Baca

Oleh Mahdalena

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang dapat memberi manfaat bagi manusia lain.”

SEBUAH filosofi yang sering kali diucapkan dan berlaku universal. Memberi manfaat kepada orang lain dapat dilakukan dengan banyak hal. Salah satunya, yaitu melalui ilmu. Saat seseorang usai menempuh pendidikan, doa dan harapan “semoga ilmunya dapat bermanfaat bagi orang lain” sering kali diucapkan. Bahkan, sejak lahir pun ucapan yang merupakan suatu doa tercurah agar kelak dapat menjadi anak yang berguna bagi sesama. Ucapan itu tidak hanya bersifat duniawi semata. Tentu rasanya sangat membahagiakan saat apa yang dimiliki dapat berguna bagi orang lain. Setidaknya ada amal yang terus ditabung.

Berbagi pada sesama tidak harus berupa harta benda. Hal-hal dalam kebaikan pun dapat dibagikan. Seperti senyum, ucapan yang baik, dan ilmu yang bermanfaat. Memberi senyum pada orang-orang di sekitar adalah suatu kewajiban karena senyum merupakan salah satu etiket dalam pergaulan. Ucapan yang baik harus selalu dijaga dalam menjalin silaturahmi. Ucapan yang baik itu seperti memberi doa, memberi dukungan, mengingatkan hal-hal baik ataupun hal-hal buruk, memberi pendapat, dan lain sebagainya. Ilmu yang bermanfaat haruslah dibagi dengan orang lain, agar orang lainpun dapat mendapat manfaat dari ilmu tersebut. Sekecil apapun ilmu yang dibagikan maka akan menjadi berkah. Saat ilmu dibagikan, maka tidak akan pernah habis. Justru sebaliknya, akan terus tumbuh menjadi ladang amal bagi si pembagi ilmu.

Berangkat dari filosofi itu, terlintas di benak saya untuk berbagi manfaat pada orang lain dengan apa yang saya miliki. Saya mulai mengamati dan memikirkan apa saja yang dapat saya bagikan. Saya punya beberapa buku bacaan dan ilmu yang saya dapatkan dari membaca buku tersebut. Sejak kecil saya senang sekali mengoleksi buku, baik fiksi maupun non fiksi. Buku tersebut ada yang saya peroleh dengan membeli dan ada juga yang diberi oleh sahabat dan sanak saudara. Salah satu buku pemberian sahabat tersebut yaitu pada tahun 2013 lalu. Buku itu berjudul Pedoman Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Berulang kali saya membaca buku tersebut.

Sejak membaca buku tentang pengelolaan taman bacaan masyarakat, saya jadi teringat masa remaja dulu. Saya sering berhayal memiliki ruang rahasia yang luar biasa. Sebuah ruangan besar yang isinya ada meja kerja dari kayu berlapis kaca, di atasnya ada alat tulis, ada bola dunia, dan ada pesawat kecilnya. Di 3 bagian dinding persegi empat ada beberapa lemari kayu yang di dalamya tersusun rapi buku-buku bacaan. Saya akan bersembunyi di dalam ruangan itu, dan menenggelamkan diri saya di dalam lautan kata-kata. Saya akan berwisata mengelilingi dunia dengan buku-buku itu. Setiap hari saya ingin menghabiskan waktu saya membaca di atas kursi goyang berwarna hitam. Ah, lagu Indung-indung Kepala Lindung jadi mengenalkan saya pada kursi goyang. Rasanya pasti sangat menyenangkan. Impian masa remaja itu selalu menghiasai pikiran saya. Saya bertekad suatu saat mimpi itu saya itu akan saya wujudkan menjadi nyata.

Awal tahun 2014 saya mulai mengajak masyarakat untuk membaca buku. Hal itu saya lakukan sebagai persiapan untuk membuka sebuah tempat untuk membaca. Ya, saya ingin memiliki sebuah taman bacaan masyarakat (TBM). Akan tetapi, saya masih belum yakin keinginan tersebut dapat terwujud. Saya sadar keinginan itu tidak akan mudah untuk mewujudkannya. Ada beberapa kenyataan yang harus saya pertimbangkan. Salah satunya, yaitu seberapa besar minat atau ketertarikan masyarakat untuk membaca. Jika saya langsung membuka TBM tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu, maka TBM itu bukan merupakan taman bacaan masyarakat, melainkan tempat buku menumpuk.

Saya senang membaca buku, tetapi belum tentu orang lain juga senang membaca buku. Apalagi tempat tinggal saya di sebuah desa kecil yang jauh dari kota. Masyarakat di sekitar tempat tinggal saya adalah petani. Aktivitas sehari-hari banyak dilakukan di kebun atau di sawah. Mereka berangkat sejak pagi hari, dan akan kembali ke rumah setelah sore. Malam hari, ibu-ibu menghibur diri dengan menonton siaran televisi. Sedangkan para bapak, ada yang berkumpul di rumah tetangga sekedar silaturahmi dan ngobrol seputar kegiatan sehari-hari, ada yang berkumpul bermain catur maupun gaple, atau mereka memilih tinggal di rumah untuk beristirahat.

Saat hari Jumat, banyak yang memilih beristirahat dari rutinitas di kebun dan awah. Mereka menunggu waktu sholat Jumat. Kehidupan sebagai petani kopi cukup menguras tenaga mereka. Mengingat hasil dari bertani kopi, yaitu setahun sekali, mereka bekerja setiap hari untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, agar mampu mencukupi kebutuhan selama satu tahun. Dengan kenyataan seperti itu, muncul pertanyaan di dalam benak saya, mampukah saya mengajak mereka mengisi waktu istirahat dengan membaca? Pernah beberapa kali saya menawarkan buku bacaan kepada mereka. Jawabannya “Aduh badan rasanya remuk, kalau ada waktu lebih baik saya istirahat.” Bahkan, ada yang menjawab “Membaca itu untuk mereka yang sekolah (guru), kami butuhnya pupuk, bukan buku.”

Ternyata mengajak mereka membaca buku itu bukan hal mudah. Sambil menunggu donasi buku bekas milik teman-teman, saya masih terus berusaha mencari cara agar masyarakat mau membaca. Kelak jika mereka sudah mau membaca, keinginan saya untuk membuka taman bacaan tidak akan sulit lagi. Di antara kesibukan saya sebagai guru honorer, saya berusaha berbaur dengan kegiatan para ibu. Saya menjadi pengurus di sebuah perkumpulan yaitu kelompok wanita tani. Setiap hari minggu, ibu-ibu berkumpul untuk bergotong-royong membuat keterampilan atau menanam sayur-mayur di kebun kolektif.

Kesempatan berkumpul itu saya manfaatkan untuk mengajak mereka membaca. Saya membawa beberapa buku bacaan tentang berbagai keterampilan dari barang bekas. Mereka mulai tertarik untuk membuka buku tersebut. Akhirnya setiap pertemuan, saya selalu membawa buku-buku yang berkaitan dengan kegiatan mereka. Ada buku pertanian, buku keterampilan, dan buku resep masakan. Alhasil, ibu-ibu yang awalnya enggan membaca mulai tertarik untuk membaca. Satu hal yang pasti, harus ada alasan bagi mereka agar mau membaca. Sebab, mereka tidak memiliki banyak waktu luang untuk membaca.

Seiring berjalannya waktu, buku bacaan yang saya miliki kian bertambah, saya mendapatkan bantuan dari teman-teman yang berprofesi sebagai guru dan juga dari sahabat saya yang menjadi pengelola pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). Saya banyak mendapat buku dan ilmu dari beliau. Beliau dulu telah membuka TBM tapi beberapa kali jalan di tempat dan akhirnya tidak dibuka lagi sejak beberapa tahun terakhir. Beliau memberikan semua buku yang menjadi koleksi di TBM miliknya kepada saya. Tentu saja hal ini membuat saya gembira. Bayangan untuk membuka TBM pun semakin nyata.

Keinginan saya untuk membuka TBM di awali dari mimpi akhirnya terwujud. Ya, tepatnya di akhir tahun 2014 saya mulai membuka TBM di tempat tinggal saya. Tekad yang kuat dan niat ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang-orang di sekeliling menjadi landasan pendirian TBM itu.

Ternyata berdiri saja tidak cukup. Sudah 6 bulan sejak TBM saya dirikan, pengunjung yang datang untuk membaca masih sangat jarang. Sepertinya mereka kurang tertarik untuk datang ke TBM. Mungkin saja mereka enggan karena harus memiliki waktu khusus untuk membaca.

            Akhirnya saya mulai mencari strategi lagi untuk menumbuhkan minat baca masyarakat. Yang menjadi sasaran dari strategi saya yaitu para orang tua. Para ibu di berbagai kelompok masih terus saya datangi dan saya bawakan buku-buku bacaan. Sedangkan untuk para bapak, telah saya siapkan buku aneka pertanian untuk dibawa oleh suami saya ke tempat perkumpulan mereka. Tak jarang saya menghampiri para ibu yang sedang duduk-duduk di warung, dan sayapun mengeluarkan semua jurus rayuan agar mereka mau membaca buku. Akhirnya, ada beberapa orang yang mau membaca buku tersebut.

            Salah satu strategi yang saya pilih, yaitu strategi pisang ambon manis berisi. Dengan menggunakan pisang ambon, saya mengajak masyarakat membaca buku. Mengapa pisang ambon? Karena tepat di belakang tempat tinggal saya yang juga merupakan TBM adalah gudang jual beli pisang ambon. Sering saya mengamati kegiatan di gudang itu. Ada banyak bapak-bapak dan ibu-ibu yang bekerja di gudang itu. Mereka sangat sibuk jika waktunya pisang dikemas untuk pengiriman ke luar kota, tetapi pada saat mereka sedang menunggu petani datang untuk menjual pisang, mereka hanya duduk-duduk saja sambil berbincang-bincang. Kesempatan itulah yang saya manfaatkan untuk mengajak mereka membaca buku. Karena buku yang saya pinjamkan adalah buku tentang pertanian, tentu saja mereka tertarik. Apalagi buku tentang pembuatan pupuk alami, tentang tanaman pertanian selain kopi, dan lain sebagainya. Mereka mencoba mempraktikkan apa yang telah mereka baca. Misalnya, tentang tanaman yang dapat ditanam di sela-sela kopi, sehingga hasilnya dapat dipanen untuk mencukupi kebutuhan selama sebelum musim panen kopi.

Selain orang tua, yang menjadi sasaran dari stretegi saya, yaitu anak-anak. Orang tua mereka sibuk bekerja di kebun seharian. Jadi, tidak sempat untuk mendampingi mereka bermain. Pada tahun 2014 itu, ponsel belum secanggih sekarang sehingga pilihan anak-anak sebagai tempat bermain, yaitu di alam terbuka. Sepeti di kebun kopi yang letaknya tepat di belakang sekolah. Bahaya bisa saja mengintai mereka, entah itu binatang buas seperti ular berbisa atau predator yang akhir-akhir ini kian marak. Hampir setiap hari ada saja pemberitaan di televisi tentang kasus pencabulan anak di bawah umur. Karena itulah saya ingin mengajak anak-anak itu bermain di TBM. Saya mengajak mereka membaca berbagai macam buku cerita anak. Agar anak-anak itu tidak merasa jenuh karena hanya membaca, saya pun mencari strategi, yaitu mengajarkan seni pada mereka, yaitu seni tari dan seni musik tradisional.

Ternyata, kegiatan ini disambut baik oleh para orang tua. Mereka merasa aman meninggalkan anak mereka ke kebun. Setelah pulang sekolah, mereka selalu datang ke TBM. Membaca buku gratis dan belajar seni gratis. Banyak di antara anak-anak itu mulai memupuk bakat mereka di bidang seni. Sudah beberapa kali mereka tampil sebagai pengisi acara di berbagai acara. Dengan setrategi seperti ini ternyata dapat membuat TBM mulai ramai sehingga orang tua tenang, anak pun senang. Akhirnya strategi ini saya pertahankan hingga sekarang. Untuk mengimbangi strategi itu, saya selalu belajar seni secara otodidak  agar pengetahuan saya kian bertambah.

Dua tahun telah berlalu sejak pendirian TBM. Banyak kisah yang telah saya lalui sebagai pengelola. Bimbingan teknis di tingkat provinsi sebagai pengelola TBM telah beberapa kali saya ikuti. Bahkan lomba-lomba menulis tentang TBM juga sudah pernah saya ikuti. Semakin hari TBM semakin ramai pengunjung. Tidak hanya anak-anak, tetapi juga orang tua. Mereka mulai merasakan manfaat dari membaca untuk kehidupan sehari-hari. Para ibu semakin trampil membuat berbagai keterampilan dan dapat mereka jual untuk menambah penghasilan keluarga, sedangkan para bapak makin memahami peluang emas bertani di tanah subur seperti di Lampung Barat ini.

November 2017 saya berkunjung ke Lamban Kopi yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya. Tak disangka, saya bertemu dengan Ketua Forum Literasi Lampung Barat. Setelah berkenalan, kami ngupi sambil berbincang soal literasi. Saat beliau mengungkapkan tentang salah satu program unggulan dari pemerintah daerah yaitu kabupaten literasi, saya juga bercerita bahwa saya sudah mendirikan TBM sejak 2014 lalu. Beliau menyarankan agar memakai nama yang khas untuk taman baca/rumah baca dengan menggunakan bahasa daerah, seperti lamban yang berarti rumah dalam bahasa daerah Lampung pesisir sebagai tempat membaca. Sejak saat itu TBM yang saya kelola menjadi Lamban Baca Beguai Jejama (bekerja sama). Dari perjumpaan singkat itu, kami sepakat untuk giat membangun lamban baca untuk meningkatkan minat baca masyarakat sekaligus untuk mendukung program pemerintah daerah yaitu kabupaten literasi.

Minggu, 4 Februari 2018 adalah hari bersejarah bagi lamban baca yang saya kelola. Sebab, pada hari itu lamban baca saya diresmikan oleh bunda literasi yang merupakan istri dari orang nomor satu di kabupaten Lampung Barat. Turut hadir dalam acara tersebut Putri Buku Indonesia tahun 1996, Ketua Relawan Literasi Lampung, Ketua Forum Lierasi Lampung Barat, Perahu Pustaka Lampung, dan penggiat literasi lainnya.

Lamban baca telah membawa saya bertemu dengan orang-orang hebat. Mereka adalah orang-orang yang gigih membangun literasi di povinsi Lampung, khususnya di kabupaten Lampung Barat. Saya merasa sangat beruntung dapat bertemu dengan mereka. Semangat dan komitmen mereka ikut mengalir di dalam nadi saya. Tekad saya semakin kuat untuk mengajak masyarakat agar gemar membaca buku. Menjadikan hal yang tadinya dianggap kurang penting menjadi suatu kebutuhan penting. Selanjutnya bersama mereka, saya ikut membangun beberapa lamban baca  baru tempat yang terpisah, agar masyarakat yang ingin membaca jadi lebih dekat dengan bahan bacaan yang mereka butuhkan.

Membangun lamban baca membuat saya bahagia. Harapan ingin memberi manfaat dan berguna bagi orang lain melalui buku dan ilmu akhirnya dapat terkabul. Selain itu, melalui lamban baca ada banyak cinta yang saya dapatkan. Meski harus melewati titian panjang dan berliku. Saya tidak ingin berpuas diri hanya sampai di sini. Saya ingin terus melanjutkan titian ini untuk mendapatkan cinta yang abadi.

  • Pemenang Kelima Lomba Menulis Antara Aku, Buku, dan Lamban Baca yang diselenggarakan Tim Gerakan Literasi Daerah (GLD) Lampung Barat, 2020.
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top