Pustaka

Kado Terakhir

Oleh Heptanius

SUMBERJAYA, sebuah wilayah kecil di ujung Lampung Barat dekat perbatasan dengan Kabupaten Lampung Utara. Dinihari, kabut tebal masih menyelimuti pekon dan membuat udara semakin terasa dingin. Pekon ini terletak di kaki Bukit Abung. Jarak antarrumah berjauhan dan rata-rata pemiliknya masih kerabat dekat. Kisau angin sesekali terdengar jelas di daun-daun Glyciridae  dan Bambuseae yang bergerak. Terkadang suara daun Mangifera terdengar jatuh menimpa atap rumah kami yang terbuat dari seng. Dinginnya kabut terasa menggigit kulit. Masuk melalui dinding rumah yang terbuat dari bambu.

Di dalam rumah aku membaca Juzz Amma itu dengan terbata. Bapak menyimak sambil sedikit memejamkan mata. Cahaya lampu minyak yang temaram membantuku melihat huruf-huruf hijaiyah. Aku yakin, cahaya itu pun ada yang menyelinap keluar melalui sela-sela dinding rumah kami yang tak tertutup rapat. Tak lama berselang, azan berkumandang di surau yang tak jauh dari rumah. Aku menyudahi bacaanku, lalu beranjak untuk salat. Emak sedang menyelesaikan pekerjaannya di dapur. Sedangkan Bapak menuju surau untuk salat subuh berjamaah.

Aku lahir di keluarga petani. Bapak, dengan batang kopi yang aku tidak tahu jelas berapa jumlah yang dimilikinya, berusaha menghidupi Emak, aku dan dua orang adik. Lahan di sekeliling rumah kami ditanami kopi. Karena kopi butuh pohon penaung, Bapak menanam Glyciridaeyang seringkali suara daunnya yang bergesekan terdengar jelas saat angin berhembus. Bapak bilang, glyciridae selain bisa sebagai peneduh, daunnya bisa dijadikan pupuk, akarnya membantu menyerap air dan mengurangi erosi serta menahan tanah agar tidak longsor. Ia juga bisa dijadikan tempat rambatan pohon lada yang Bapak tanam. Aku manggut-manggut saja saat Bapak menjelaskan hal itu. Aku sendiri tak ambil pusing karena memang ada beberapa istilah “áneh” yang Bapak pakai dan aku sama sekali tak mengerti artinya. Tapi yang jelas, aku paling suka bunganya. Ungu keputih-putihan. Biasanya muncul di saat musim kemarau dan ketika pohonnya menggugurkan daun.

Di sudut perpustakaan kampus. Aku menatap nanar buku-buku yang selama ini menemani studiku di jurusan bahasa. Aku menyeka air mata, yang mengalir satu-satu dari sudut mata. Aku menangis. Ya aku menangis. Aku tak kuasa menahan air mata itu agar tak jatuh karena aku berhasil. Kerja keras Bapak dan Emak membiayai aku kuliah tidak sia-sia. Di tanganku kini tergenggam undangan wisudaku minggu depan. Bapak dan Emak diundang ke kampus untuk menyaksikan aku memakai toga dan diwisuda. Bapak dan Emak akan memasuki gedung yang besar dan megah, yang dipenuhi orang-orang pintar, memakai toga, berwibawa, disegani ilmunya dan bertitel macam-macam. Gedung yang selama ini belum pernah dilihat, cuma dibayang-bayangkan saja.  Gambaran tentang gedung itu pun itu pun hanya tahu lewat cerita-ceritaku saja saat pulang liburan semester.

Sesaat setelah dinyatakan lulus oleh tim pembimbing dan penguji aku ingat janjiku pada Bapak. Aku ingat alasan mengapa aku berjanji. Hidup kami sulit, bisa dikatakan miskin. Makan seadanya. Bapak dan Emak hanya bisa bertani dan tidak memiliki keterampilan lain. Beruntung mereka tamat sekolah dasar. Banyak tetangga dan kerabat kami yang tidak sekolah dan buta huruf. Hingga suatu ketika, aku berkata kepada Bapak bahwa aku ingin menjadi guru. Aku ingin mengajari anak-anak di kampungku menulis dan membaca, sehingga mereka bisa seperti anak-anak di kampung lain yang mampu menuliskan cita-citanya pada secarik kertas.

Kini aku membayangkan senyum Bapak dan Emak di kampung. Membayangkan mereka sibuk ke sana ke sini menceritakan keberhasilanku menempuh pendidikan. Menceritakan bahwa sebentar lagi aku akan wisuda, yang mungkin, kalaupun  ada yang bertanya wisuda itu apa? Bapak dan Emak pun akan bingung menjawabnya. Dan, mereka akan tertawa bersama. Lalu, melanjutkancerita bahwa setelah wisuda aku akan pulang.

Suara daun jendela yang ditutup membuatku tersentak dan seketika menutup ingatanku tentang kampung, Bapak dan Emak beberapa puluh tahun lalu. Menyeka air mata dan bergegas keluar ruangan perpustakaan. Aku harus pulang karena ada beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum pulang.

Buku-buku kuliah sudah aku kumpulkan.  Ditambah sedikit dengan buku, novel, dan bacaan ringan lainnya yang akubeli dari sisa uang selama kos di perantauan. Rencananya, buku-buku itu akan aku gunakan sebagai bahan bacaan untuk anak-anak di kampungku nanti. Kotak-kotak mie instan jadi penolong selanjutnya. Membungkus buku-buku itu dengan rapi dan siap diangkut.

Hari yang dinanti itu pun datang. Aku tersenyum melihat Bapak dan Emak datang melihatku wisuda sekaligus menjemputku pulang. Bapak memakai baju batik kesukaanku. Batik yang sudah mulai lusuh warnanya karena termakan usia. Baju yang selalu Bapak kenakan hanya di acara istimewa, paling tidak istimewa menurutnya. Aku lihat Emak berusaha mengimbangi Bapak dengan memakai kebaya dengan warna senada dan yang aku tahu, kebaya itu telah dibuatnya sejak aku masuk perguruan tinggi. Emak bilang, kebaya itu akan dipakainya saat  aku wisuda kelak.

Aku peluk Emak dan cium tangan Bapak, sesaat setelah prosesi wisuda selesai. Bapak membalas dengan mencium keningku dan membisikan ucapan selamat. Aku mencium aroma napas Bapak bercampur bau tembakau murahan dari rokok yang dihisapnya. Sekilas aku lihat mata Bapak berkaca sedangkan Emak sudah dari tadi sibuk menyeka hidungnya yang berair. Momen ini menyedihkan tapi juga membuatku bahagia.

Aktivitas yang dirancang sejak dulu mulai dilakukan. Aku meminta izin pada Bapak dan Emak untuk memanfaatkan sudut ruangan. Dengan rak bambu serta bangku panjang sebagai pelengkap dan berbekal beberapa buku cerita dan novel ringan, aku membuka perpustakaan kecil. Anak-anak sekitar rumah aku beritahu bahwa ada buku bacaan menarik yang bisa mereka baca kapan saja. Tidak dipungut biaya.  Gratis!

Beruntung aku menemui anak-anak yang hidup di zaman yang berbeda dengan zamanku dulu. Sekarang mereka rata-rata sudah bisa membaca, meskipun terbata-bata. Tugasku hanya membantu mereka membaca hingga lancar  dan ingat semua huruf. Menuntun satu-satu dan memperbaiki kesalahan bacaannya. Anak-anak senang. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku rasa sepertinya tak akan bisa digantikan dengan apa pun.

Berbekal ijazah pendidikan, aku kini bekerja sebagai guru honorer di sekolah milik sebuah yayasan di kampungku.

“Cita-citaku terwujud Bapak, Emak,” kataku dalam hati.

Aku kini menjadi guru. Sebuah profesi yang aku inginkan sejak dulu. Semenjak Bapak atau pun Emak selalu mencium kedua pipi sebelum aku tidur. Sebuah cita-cita yang aku harapkan mampu membantu lingkungan sekitarku menjadi lebih baik. Juga, buat keluarga dan diriku.

Honor dari mengajar memang tidak besar. Sebagian aku sisihkan untuk keperluan sehari-hari dan sebagian kecil lainnya akugunakan untuk membeli buku baru. Ya, baru menurutku, meskipun yang akubeli sebenarnya adalah buku bekas pakai. Tapi baru, di dalam deretan buku-buku koleksi ceritaku.

Aku terus berupaya mengumpulkan dan menambah jumlah dan jenis buku untuk melengkapi perpustakaan kecilku. Beberapa teman yang aku anggap bisa membantu telah aku mintai kesediaannya menjadi donatur. Aku meminta buku bekas pakai dan bacaan lain yang tak terpakai lagi. Aku harus menambah koleksi buku. Anak-anak butuh bahan bacaan lain, yang baru dan belum pernah dibaca. Mereka akan jenuh jika yang dibaca hanya buku itu-itu saja. Aku pun memutar otak.

Di sela kesibukan mengajar, dengan bersepeda aku berkeliling kampung membawa buku-buku cerita koleksi perpustakaan kecilku. Aku paham. Anak kampung rata-rata pemalu. Aku tahu benar hal ini, karena aku pun pernah merasa hal yang sama. Mereka segan datang ke rumah, hingga aku yang harus berinisiatif mendatangi mereka. Rutinitas ini akulakukan jika ada waktu luang dan tidak kelelahan setelah pulang mengajar. Respon mereka membuat senyumku bertambah lebar.

Inisiatifku membuka perpustakaan kecil direspon tetangga dengan cukup baik. Satu dua ada yang rajin mengunjungi perpustakaanku. Dari membaca, meminjam bahkan sekadar membahas segala hal. Mungkin guru dalam pandangannya seperti ensiklopedia.  Tahu segalanya. Di lain hal, aktivitas keliling ini juga mulai mendapat bantuan dari beberapa teman kecilku dulu. Aku dibantu mulai dari menyiapkan buku yang akan dibawa keliling hingga menemaniku meladeni anak-anak yang akan meminjam buku.

Sementara di rumah, Bapak dan Emak sering aku lihat turut merapikan buku-buku yang berserak setelah dibaca anak-anak. Anak-anak memang begitu. Satu dua ada yang memang bandel, tak mau merapihkan kembali buku yang telah dibacanya.

Di sekolah. Siang itu tepat tengah hari. Teriknya matahari memaksa burung Pycnonotus yang berwarna hitam kelabu dan kelompok burung Passeridae berteduh di rimbunnya Swietenia yang tertanam rapi di pinggir halaman sekolah.  Angin semilir mengusik daunnyayang hijau pekat dan menimbulkan bunyi gemerisik. Suara burung sesekali terdengar. Lalu senyap.

Seorang muridku, anak kerabat, menemuiku di ruang guru. Dia menyampaikan pesan dari Bapak bahwa aku harus pulang, pukul dua tepat nanti. Aku heran, tak biasanya Bapak mengirim pesan seperti itu. Tapi, aku mengiyakan. Lagi pula masih ada waktu. Sebelum jam dua, aku ada janji makan siang bersama dengan teman-teman guru di sekolah. Hari ini aku ulang tahun.

Pukul dua kurang tiga puluh menit. Aku bergegas pulang. Bapak menungguku di rumah. Dengan sedikit terburu-buru aku ambil tas dan melangkah keluar gerbang sekolah. Menyeberang jalan. Ingin segera mengetahui ada apa, sehingga Bapak harus mengirim pesan dan memintaku datang tepat pukul dua.

Aku akhirnya tiba di rumah. Tepat pukul dua siang sesuai dengan permintaannya. Sebelum memasuki halaman rumah, aku sibuk menyiapkan senyum terbaik, merapikan pakaian dan hijab yang akukenakan, sebelum bertemu dengannya.  Dia bilang ada surprise sedikit buatku. Dan, hei… mengapa rumahku ramai? Banyak tetangga, saudara dan kerabat di dalamnya. Aku bergegas memasuki rumah namun tak seorang pun yang menegurku. Aneh. Ah, ini mungkin kejutannya, pikirku sambil tetap tersenyum.

Aku lihat Bapak dan Emak berpelukan di sudut ruangan tempat yang akujadikan perpustakaan. Mereka menangis. Adik-adikku pun sama. Ada kerabat dan tetangga yang juga menangis. Ada rak, kursi dan buku- buku baru di sana. Dihias pita warna warni. Ada juga secarik kertas, berisi ucapan selamat dan rangkaian doa untukku yang berulang tahun.

Aku duduk di samping Bapak, menanyakan apa gerangan terjadi. Bapak tak menjawab, demikian juga Emak. Mereka tetap saja menangis seolah tak melihat kehadiranku di sampingnya. Tiba-tiba, suara ambulan memecah keheningan. Aku bergegas keluar. Ya Tuhan…di brankar itu…di brankar yang diangkat dan didorong beramai-ramai itu, aku melihat diriku seperti orang tidur. Kulihat diriku tersenyum. 

Ingatanku melayang ke beberapa menit yang lalu. Aku keluar ruangan dan bergegas ke gerbang sekolah. Menyeberangi jalan, langkah dengan mantap. Tapi braak…! Aku dengar suara, sepertinya sesuatu tertabrak. Lalu, semuanya gelap. Dan, kembali terang seketika. Badanku terasa ringan. Aku terus melangkah. ingin segera sampai di rumah. Namun, sesampainya di rumah, yang akujumpai pemandangan Bapak, Emak dan adik-adikku menangis di sudut ruangan, di perpustakaan kecilku.

Aku menutup mulut, menyaksikan prosesi pemakaman diriku sendiri. Bapak dan Emak tak henti-hentinya menangis.

Matahari tergelincir. Siang berawan. Beberapa bunga plumeria berwarna kuning jatuh. Angin tak berhembus. Aku masih tak percaya. Tanah merah ada di depan mata. Nisan dari kayu. Ada namaku yang tertulis di nisan itu. Juga, sehelai kertas bertuliskan ucapan selamat ulang tahun dan pesan bahwa buku-buku itu hadiah untukku. Tidak itu saja, perpustakaan kecilku juga sudah diubah menjadi taman baca. Itulah sebabnya mengapa ada rak dan kursi-kursi baru disana. []

  • Pemenang pertama Lomba Menulis Antara Aku, Buku, dan Lamban Baca yang diselenggarakan Tim Gerakan Literasi Daerah (GLD) Lampung Barat, 2020.
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top