Cerita Pendek

Ginjor Semayam Ratu Pesagi

Cerpen Novan Saliwa

SUARA gemericik air mengalir Hilian[1] Warkuk yang bermuara di sebuah danau lebar. Remang malam di Tapaksiring, Bumi Sekala Brak terasa begitu  dingin. Embun tebal membuat basah buluh-buluh tipis. Hewan- hewan malam pun seakan berhenti bersuara. Entah ada apa gerangan malam itu. Hanya sepi dan dingin yang bersimpul menghiasi setiap dinding resi.

Di sepertiga malam yang dingin menusuk ke tulang, orang-orang lebih memilih tidur, memeluk erat hangatnya tubuh yang tak kan dilepaskan hingga dibatas fajar. Tapi, tidak demikian bagi Batin Suwarga, hulubalang nan setia yang terjaga sejak malam bermula.

Rapal-rapal bagai memmang[2] terdengar sayup. Bunyinya yang kadang lirih, kadang seperti gumam, juga kadang iramanya meninggi seperti semangat menggebu, rasanya menghujam ke dalam jantung. Terkadang pula bunyinya miris seperti suara tangisan mendayu-dayu, membuat yang mendengarnya ikut tersentuh. Irama dari hati seorang hamba yang mengharap ampun dan mengiba pada tuannya. 

Bebunyian itu melintas ke bilik serudu milik Batin Suwarga. Apa yang didengarnya itu bukanlah rapal memmang layaknya komat-kamit dukun-dukun pekon saat mengobati penyakit beliasan[3]. Tapi itu, adalah zikir sepertiga malam yang senantiasa terdengar dari dalam bilik kebik Gedung Dalom Pekuwon, sebuah bilik sederhana, tetapi paling utama di Negara Sukung itu. Sebab ia diisi Yang Mulia Sai Batin Paksi, sosok yang disebut orang Waliyulloh yang zuhud,  yang tegas pada penjajah, tetapi lunak di hadapan Penciptanya. Ali Akbar[4] nama disemat, Sultan Nyerupa yang berzuriat.

Batin Suwarga bertanya-tanya dalam hati, mengapa semua binatang malam seolah berhenti bersuara. Bahkan jangrik pun enggan keluar dari liangnya. Apa karena dinginnya Bumi Sekala Brak malam itu begitu menjadi-jadi? Atau, semua makhluk, bahkan malaikat ikut bersyahada dengan zikir Waliyulloh ini sebagaimana aku yang tak dapat lelap tidur sejak permulaan malam hingga permulaan fajar ini? Apakah yang sedang disedihkan Dudungan hingga tangisnya terdengar begitu pilu? Apakah kegundahan hatinya? Atau, apakah karena lisanku tadi sore menyakiti hatinya lantaran aku membantah perintahnya untuk diam saat ada yang meludah ke hadapannya? Bagaimana tidak darahku mendidih, emosiku memuncak, keluar dari mulutku umpatan untuk si penjudi. 

“Dasar binatang, tak tahu diri. Kau meludahi  Sai Batinnya Buay Nyerupa.“

Tapi saat kucabut pedangku hendak memotong lidah si penjudi itu, Dudunganku menahan “Cukup Batin. Diamlah!”  ujarnya.

Tapi karena panas di kepalaku tak tertahan, aku berkata, “Tidak Dudungan. Kali ini aku tak akan diam melihat Puniakan dihinakan.“

Mendengar gertakku, si penjudi itu lari tunggang langgang.

Segala tanya muncul di benak Batin Suwarga. Ia  begitu gundah memikirkan tangisan Dudungannya, mengingat ingat kekhilafan dirinya sendiri. Ia larut dalam tangis penyesalan. Sampai malam berakhir, kedua hamba Allah itu masih tenggelam tangisan. Di permulaan fajar, beduk pun berbunyi  ditabuh bertalu-talu menghantar  azan subuh berkumandang.

Di surau kayu dekat Gedung Dalom Pekuwon itu, setelah tunai sembahyang fardu, zikir, dan taklimat telah menentramkan kalbu. Jamaah  tiga shof bersalaman satu-persatu, mencium tangan sang imam lalu kembali ke rumah mereka untuk menyambut hajat hari ini yang telah menunggu.

Dari tempat duduknya bergegaslah batin suwarga menuju ke hadapan imam. Ia bersimpuh dan mencium tangan Dudungannya itu.

“Tabik, Puniakan Dalom. Sekindua[5] memohon ampun atas khilaf dan salah. Jika ada perkataan dan berbuatan yang menyinggung hati, sekindua berserah diri. Malam ini tak biasanya, kudengar tangisan Puniakan Dalom begitu dalam. Apakah ada salah dari diri hamba ini?“ Sang hulubalang terus tertunduk di hadapan Sultannya.

Sultan Ali Akbar memegang pundak hulubalang kepercayaannya itu.

“Jangan gundah, Batin. Aku tidak marah padamu. Engkau adalah orang terbaikku. Yang setia bahkan senantiasa ikut terjaga dan mendengarkan zikir malamku. Aku justru marah pada diriku sendiri yang belum mampu mengajak semua masyarakat Buay Nyerupa ini untuk meninggalkan perbuatan syirik, judi, dan perbuatan tercela.  Selain itu pula bujuk rayu Kompeni untuk memurtadkan rakyatku dari agama kita ini. Dengan biadab kompeni memecah belah persatuan kita agar mereka menguasai bumi kita ini. Perang gerilya kita pun belum bisa membuat Kompeni berhenti dan angkat kaki dari tanah ini. Itulah kelemahanku, itulah kedhoifanku,“  panjang-lebar Sultan Ali Akbar mengutarakan perasaannya.

Tak terasa jatuh air mata ke pipi Sultan Ali Akbar membasahi janggutnya yang lebat itu. Ia mengusapnya sembari menghela nafas panjang. Lalu, terdengar lirih lafaz Istighfar dari mulutnya.

Kokok ayam kencang terdengar dari luar surau. Matahari mulai muncul menerangi bumi Sekala Brak yang masih tebal berselimut kabut. Masih terasa dingin, tetapi terasa segar dalam setiap hela nafas. Sang Sultan dan Hulubalang masih duduk berhadapan di dalam surau.

“Kali ini ada tugas untukmu wahai Batin Suwarga. Siapkan kudaku. Bawalah pakaian suci di badan dan gula aren untuk bekal kita,“ perintah Sultan Ali Akbar pada hulubalangnya.

Sekindua, Puniakan Dalom. Akan segera hamba siapkan. Namun, akan ke manakah kita wahai Dudungan?“ Hulubalang penasaran.

Sultan Ali Akbar menjawab. “Lepas duha ini, aku ingin kau mengiringiku menuju Bahway. Aku ingin bertemu Sang Ratu di tempat tertinggi tanah bumi Pesagi. Di puncak itulah leluhurku Umpu Nyerupa bersama saudara-saudaranya, Umpu Pernong, Umpu Belunguh, dan Umpu Lapah di Way menancapkan ghiroh juang I’lai kalimatillah di Sekala Brak ini. Akan kuziarahi tempat karomah itu. Aku ingin terbang meraih makrifat tertinggi.“ 

Mendengar jawaban tersebut hulubalang terdiam sejenak. Ia tak paham apa yang dimaksud Dudungannya itu, yang ingin bertemu Sang Ratu dan ingin terbang setinggi-tingginya. Dua kalimat  yang membuatnya begitu bingung.

Ia pun cuma bisa menyambut, “Sekindua, Puniakan Dalom.“

Saat matahari masih sepenggalah, perjalanan dimulai menyusuri tebing pasir dari ibu negeri Buay Nyerupa menuju gerbang Pesagi. Sultan Ali Akbar memakai jubah abu-abu dengan surban putih melilit di kepalanya. Sedangkan Batin Suwarga mengenakan pakaian serbahitam dan kain sarung gantung. Tangan kiri Batin Suwarga mencengkram pedang panjang sehasta, sedangkan tangan kanannya memegang tali dari kuda yang dinaiki Sultannya.

Sebelum habis waktu duha mereka melintasi Pemangku[6] Bahway dan sampailah di gerbang rimba. Kuda ditambat di Pulau Dewa, sebuah tempat memasang niat dan hajat bagi orang-orang yang ingin mendaki Pesagi.

“Pesagi hanya didaki dengan langkah setapak demi setapak membawa jiwa yang bersih dan jasad yang suci. Jika niat tak baik dan teguh, maka puncak itu akan semakin jauh,” ucap Sang Sultan kepada hulubalangnya.

Selanjutnya  keduanya bergegas memasuki rimba dan mulai mendaki.

Langkah panjang mereka berhenti di sebuah titik tertinggi di sebuah tanah datar berbentuk empat persegi. Sultan Ali Akbar berdiri menghadap matahari yang meganya mulai temaram. Warnanya merekah indah. Ia menengadahkan tangan ke atas langit. Seuntai doa dipanjatkan di dalam hatinya. Perjalanan telah sampai di tempat tujuan.

Hulubalang menyiapkan gubuk buatan yang disusun dari ranting-ranting dan dedaunan. Setelah siap masuklah Sultan Ali Akbar diikuti hulubalang ke dalam gubuk kecil itu. Matahari telah terbenam. Tiga rakaat berjamaah telah ditunaikan. Sang Sultan pun memulai dzikirnya. Tasbih dari kayu bahuta menjuntai di jemarinya. Zikir itu begitu panjang dan hanya dijeda sembahyang.

Senja berganti senja. Telah sehari Sang Sultan tak beranjak dari zikirnya. Duduk silanya masih terlihat kokoh. Hulubalang terkadang hanya bisa memperhatikan dari luar dan sesekali memeriksa sekeliling puncak Pesagi mencari buah-buah yang dapat dimakan.

Dua hari dilewati. Semua masih sama. Kondisi Sang Sultan tak berubah dari yang semula. Tasbihnya masih terus berputar. Butir demi butir tasbihnya masih bergerak. Hulubalang mulai khawatir. Telah dua hari lamanya dudungannya itu tidak makan apa pun. Seingatnya hanya gula aren yang dimakan saat akan mendaki dan ketika setelah sampai di puncak Pesagi. Tapi hulubalang tak berani bahkan hanya untuk sekadar bertanya. Ia takut mengganggu zikir Sultannya.

Saat hari ketiga ketika tepat di tengah malam yang sangat dingin, langit terlihat terang dengan bintang-bintang yang berkelipan, sesuatu yang aneh terjadi. Hulubalang tiba-tiba tersentak dan terbangun. Getaran tanah ia rasakan. Semakin kencang bagaikan gempa bumi. Segera hulubalang mengambil pedangnya dan mendekati sultannya. Tapi, dilihatnya kondisi Sang Sultan masih saja tak berubah dari semula. Gubuk sederhana itu terlihat terguncang dan hampir rubuh. Tiba-tiba dari tubuh sang sultan terpancar cahaya. Hulubalang terperanjat menyaksikan keanehan. Ia terduduk di dekat sultannya. Tanah masih saja berguncang.

“Duhai Dudungan, ada apakah ini? Bumi berguncang keras. Tubuhmu mengeluarkan cahaya. Pertanda apakah ini?” suara Hulubalang lirih dan terbata-bata.

Tubuhnya gemetar mengalami kejadian tak biasa itu.

Datanglah angin dari arah barat, tepat dari arah depan Sultan Ali Akbar. Ujung sorban dan janggut Sang Sultan bergerak dihembus angin. Lalu, seketika goncangan itu terhenti. Cahaya dari tubuh dudungannya itu masih tampak jelas di matanya. Tak dinyana sekelebat cahaya merah muncul dari dalam tanah. Awalnya terlihat kecil, tetapi kemudian membesar. Cahaya merah ini berbentuk seperti manusia tetapi tak nampak wajahnya. Warnanya merah membara bagaikan api. Sosok itu mendekati Sultan Ali Akbar. Perlahan mata Sang Sultan terbuka.

Melihat dudungannya membuka mata, Hulubalang  tampak mulai tenang.

Kedua makhluk yang bercahaya itu saling berhadapan.

Suara menggema terdengar dari sosok berwarna merah, “Wahai zuriat Umpu Nyerupa, mengapa kau goncang semayamku dengan zikir-zikirmu itu. Seluruh makhluk penghuni tanah suci pesagi ini berhamburan dan ketakutan. Aku Ratu Pesagi yang kau cari.“

Suara itu terdengar lantang tetapi segera terhenti.

Sultan Ali Akbar bangkit dari silanya dan mulai berkata, “Ya, aku zuriat Umpu Nyerupa. Tak ada lain niatku ke mari, hanya berharap pada Sang Pencipta. Kalaulah zikirku ini bisa mengetuk pintu langit, menggetarkan isi bumi, maka itu wujud tekad kuatku, agar Sang Pencipta mengabulkan permohonanku, untuk mengambil ilmumu, aku ingin terbang,” tegas sultan Ali Akbar.

“Ha..ha..ha…. bukankah kau diciptakan lebih sempurna dariku wahai manusia serakah. Kini akan kau ambil pula ilmu terbangku. Akulah yang telah bersemayam di sini ribuan tahun lamanya. Jauh sebelum leluhurmu Umpu Nyerupa menginjakkan kakinya sini. Setelah empat bersaudara itu merenggut kebesaranku dari manusia-manusia bodoh penyembahku, kini kau datang ingin merenggut kekuatanku. Ha…ha…haa…. Dasar manusia serakah…, “  gelak tawa terdengar kencang di telinga.

Mendengar hujatan terhadap Dudungannya, hulubalangpun mencabut pedangnya dan berniat untuk maju menghujam sosok itu. Namun, tangan kiri Sultan Ali Akbar menahan hulubalangnya.

Sultan Ali Akbar enjawab dengan tenang cemoohan itu, “Mungkin benar engkau yang telah lebih lama bersemayam di sini. Tapi, kamilah manusia yang diciptakan untuk menjadi Khalifah di muka bumi ini. Permintaanku kepada Tuhanku hanya ingin dapat terbang melalui zikir-zikirku, agar aku bisa menjaga rakyatku dari segala kejahatan,“ jelas  Sultan Ali Akbar.

Tanpa disadari Sang Sultan, hulubalang nyisippi[7] menuju ke belakang cahaya merah itu. Maksud di hatinya untuk mendekap sosok merah, menahan dan memaksanya memberikan apa yang diinginkan Dudungannya itu.

“ Allahu akbar!” teriak hulubalang sembari mendekap sosok tersebut.

Tak disangka sosok itu meledak dan seketika menghilang ditelan kegelapan malam.

Batin Suwarga tepat di hadapan sultannya. Ia merasakan perih di wajah dan badannya. Sebagian tubuhnya menghitam bagai mutung terkena api.

Sang Sultan menatap hulubalangnya yang tertunduk lesu, “Batin,, mengapa kau lakukan itu? Bukankan perbincangan kami belum mencapai titik terangnya. Janganlah dalam sikap kita terburu nafsu tanpa perhitungan dan tanpa perintah dariku. Lihatlah apa yang kita dapatkan.“

Pernyataan Sultan Ali Akbar itu semakin membuat hulubalang terduduk layu. Kemudian semua terdiam. Sultan Ali Akbar pun melanjutkan munajatnya kepada Tuhan.

Saat sang fajar mulai terbit, Sultan Ali Akbar terlihat berdiri menghadap ke arah Danau Ranau yang tampak dari puncak Pesagi. Ia melihat tanah bumi wilayah kekuasaannya yang telah dinukilkan di dalam tambo[8]. Disapukannya pandangan dari Gunung Seminung hingga batas pantai di pesisir. Kemudian dilihatnya ibu negeri Buay Nyerupa Tapak Siring yang berkilap kilap.

Hulubalang memberanikan diri untuk memulai pembicaraan menyampaikan rasa penyesalannya, “Tabik Puniakan Dalom, sekindua memohon ampun atas kekhilafan semalam yang menimbulkan bala pada diri hamba. Kini, hamba tak kuasa melihat raut sendu dari wajah Dudungan. Jikalah nyawa ini pertaruhannya hamba memang selalu rela.”

“Tidak mengapa, Batin. Kau bukanlah budakku. Hidupmu ada di tanganmu sepenuhnya. Berserah dirilah hanya kepada Dia Sang Maha Pencipta. Begitu pun aku sebagai Sultanmu. Kini, hanya mampu berserah diri atas ketentuannya. Jika di puncak Pesagi ini adalah tempat akhir hidupku, maka kabarkan kepada segenap masyarakat Kepaksian bahwa aku tak lebih pantas dari Ratu Pesagi untuk memiliki ilmu terbang itu. Bahwa aku masih belum layak menjadi penjaga rakyatku. Mintakan maaf kepada seluruh rakyatku, sudilah kiranya kalian mengirimiku Fatihah dan doa di setiap sembahyang di surau kita,“ pungkas Sultan.

Mendengar kata-kata itu, Batin Suwarga tak mampu menahan tangis. Iya, tertunduk dan terkulai lemas bertumpu pada lututnya yang menapak tanah. Ia merasa bersalah lantaran mengambil keputusan tanpa restu sultannya.

Sultan Ali Akbar melangkahkan kakinya perlahan ke pinggir jurang. Tujuh belas kaki jaraknya dari tempat  Batin Suwarga berlutut. Hulubalangnya khawatir jika Dudungannya yang dikenal dengan ahli zikir dan zuhud itu akan mengambil jalan salah untuk bunuh diri.

Saat sampai di bibir jurang, Sultan Ali Akbar memekikkan takbir sebanyak tiga kali. Kemudian dia meloncat ke jurang itu sembari mengucapkan kalimah thoyyibah La ila ha illalloh…. Tiba tiba datang cahaya putih yang menyilaukan mata. Hulubalang tak kuasa melihat cahaya itu. Ia memalingkan pandangannya. Seketika hilang cahaya itu bersama hilangnya tubuh Sultan Ali Akbar.

Hulubalang berlari untuk melihat ke arah jurang yang begitu dalam. Ia begitu sedih dan bingung sepeninggalan Sultannya yang mati bunuh diri terjun dari tebing tinggi.  Ia mencari ke sana ke mari. Namun, tak kunjung ia jumpai. Kemudian, terlintas di pikirannya tentang pesan Dudungannya tadi, segeralah ia turun dari Pesagi menuju Gedung Dalom Pekuwon untuk menyampaikan duka hati.

Sesampainya di Tampak Siring, hulubalang segera menaiki tangga Gedung Dalom Pekuwon. Ia bergegas untuk mengabari keluarga besar atas apa yang telah terjadi di Puncak Pesagi.

Tepat di depan di pintu yang tertutup, ia mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum. Sekindua Batin Suwarga.“

Suara dari hulubang terdengar lesu.

Terdengar balasan dari dalam, “Wa’alaikum salam waroh matullohiwabarokaatuh….“

Pintu Gedung Dalom Pekuwon pun terbuka. Tapi ada yang aneh. Hulubalang kaget luar biasa. Nafasnya seakan terdesak dan degub jantungnya seakan berhenti melihat sosok yang ada di hadapannya itu begitu nyata. Batin Suwarga terbelalak. Mukanya memerah matanya berkaca-kaca. Ia tak percaya walau itu kejadian nyata. Tidak terasa jatuh air matanya. Ia pun disambut dengan pelukan hangat dan erat.

Hanya suara lirih yang keluar dari mulut Sang Hulubalang, “Allahu akbal! Pusekam dija, Puniakan Dalomku[9]!”

Keduanya pun larut dalam tangis bahagia. []

Catatan Udo Z Karzi:
Cerpen ini dikirim Novan Saliwa (1988—2019) ke email saya tertanggal 15 Maret 2018. Sayang sekali, saya tidak memiliki ruang untuk memublikasikannya kala itu. Tapi, saya tetap menyimpan cerpen, mungkin cerpen yang pertama dan terakhir dari almarhum ini. “Ya, saya baca. Nanti saya komentari dan dimuat di mana gitu,” janji saya kepada Novan yang belum pernah saya tepati sampai ia dipanggil menghadap Ilahi, 26 Januari 2019. Maka, begitu saya ingat, dimuatlah cerpen Novan Saliwa ini di Labrak.co. Tabik.

————

Novan Saliwa, lahir di Liwa, 29 November 1988–meninggal di Bandar Lampung, 26 Januari 2019. Terakhir, pria bernama lengkap Novan Adi Putra ini adalah pelatih tari di Diklat Seni Tari Anjungan Lampung Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Di sela-sela itu, ia sempatkan menulis artikel seni-budaya Lampung di berbagai media, dari blog hingga koran, termasuk mengirim rilis berita seni ke berbagai media.


[1] sungai kecil, kali

[2] mantera

[3] cacar

[4] Puniakan Dalom Merah Hakim adok Sultan Ali Akbar Waliyulloh Khalifatulloh Ahmadsyah, Sai Batin Raja Adat Kepaksian Nyerupa Sekala Brak. Lantaran ia memimpin masyarakat Paksi Buay Nyerupa untuk melawan penjajah dengan perang gerilya, maka tahun 1850 ia tertangkap oleh Belanda dan dibuang ke Muko-muko, Bengkulu. Pergolakan masyarakat Sukau semakin menjadi menuntut Sultannya dibebaskan. Akhirnya Belanda melepas Sultan Ali Akbar yang sudah sakit-sakitan di dalam penjara. Setelah bebas Sang Sultan berangkat haji melalui Pelabuhan Menggala. Di pelabuhan ia dilepas oleh Pangeran di Menggala yang masih ada pertalian saudara dengannya. Tapi tak lama kemudian didapat kabar bahwa Sang Sultan telah meninggal dunia dalam ibadah hajinya itu, “Terbang Burung Terbang Sangkarnya“.

[5] berarti “saya” dalam bahasa Lampung halus sebagai bentuk penghormatan kepada yang lebih tinggi kedudukannya dalam adat.

[6] Dusun

[7] mengendap-endap

[8] silsilah, kitab riwayat keturunan

[9] “Anda di sini, Puniakan Dalomku.” “Pusekam” berarti kamu atau Anda dalam bahasa Lampung  halus sebagai bentuk penghormatan kepada yang lebih tua atau lebih tinggi status keadatannya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top